Memulai Kembali

Memulai Kembali
chapter 4


__ADS_3

Di musim gugur, di tahun kedua SMP-ku, malam sebelum festival budaya, saat kelas menyelesaikan semua persiapan presentasi mereka,aku ingat bahwa hari ini sangat penting dalam hidupku.Kami diizinkan untuk tinggal di sekolah sampai jam 9 malam khusus hari itu, jadi semua murid segera menyelesaikan pekerjaannya lebih awal agar kami bisa bersenang-senang.Mungkin beberapa menit setelah jam 6 sore. Saat aku menerobos ke beranda luar, aku melihat teman sekelasku membuat properti dan berlatih di kelas.Tiba-tiba, tak ada angin maupun hujan, hatiku dipenuhi dengan perasaan bahagia.Saat aku memikirkan penyebabnya, aku menyadari bahwa itu karena seorang gadis yang tidak akan tergantikan di hatiku.Aku ingat bahwa ini adalah harinya. Sepertinya hari ini adalah saat aku mulai jatuh cinta.


Seperti biasa, aku tidak tahu siapa gadis pilihan itu, tapi aku sangat bersemangat karena aku telah merasakan cinta pada seseorang yang akan menjadi kekasihku.Dengan begitu, aku berdiam diri di kelas sampai semalam mungkin untuk menemukan kesempatan bertemu dengannya.Tepat jam sembilan, saat aku tidak tahan menunggu lebih lama lagi, teman sekelasku angkat bicara.


"Hei, bisakah seseorang membawa ini ke gedung olahraga?"


Aku secara intuitif menerimanya saat itu juga, kemudian kubawa beberapa properti tersebut. Di antara properti itu ada sebuah topi merah Santa.Aku sungguh bersedia membawanya sendiri, tapi dari sudut ruangan terdengar suara: "Tunggu, aku akan membantumu!"

__ADS_1


Aku melihat ke arah pemilik suara tersebut. Orang itu adalah Sumi yang sedang berlari ke arahku.


"Seperti dugaanku," pikirku.


Mata mengantuk, bulu mata panjang, dan selalu berpikir. Seperti yang aku katakan, aku selalu mencari seorang gadis dengan karakteristik itu, dan aku menemukan beberapa orang,tapi Sumi lah yang paling cocok dengan tipeku.Beberapa waktu yang lalu, aku bahkan sudah menandainya sebagai orang yang akan menjadi pacar masa depanku. Dan aku menyadari kalau dugaanku tepat.Dengan pacar masa depan yang berada di hadapanku, aku hampir menari-nari di lorong ketika aku bercanda dengan Sumi.


"Hei, kalau kita kembali ke kelas sekarang, kita pasti harus lebih banyak bekerja. Jadi ayo kita istirahat sebentar. "

__ADS_1


Tentu saja aku setuju.Kami akhirnya pulang bersama malam itu.Kami berdua tampak sedih saat saling berpisah, jadi kami pun ngobrol sekitar satu jam lebih di bangku taman.Di sinilah bagian terbaik dari hidupku dimulai, pikirku. Aku pusing karena saking senangnya.


Aku akan mengulang semuanya sama seperti dalam kehidupan pertamaku. Itulah yang kupikirkan.Kecuali, yah ... apa yang terjadi di musim semi, di tahun ketiga SMP-ku.Seperti dalam kehidupan pertamaku, sepulang sekolah, saat hanya kami yang tertinggal di kelas, aku menembak Sumi.Aku siap untuk merasa bahagia, dan agar dia bahagia, dan untuk semua itu.Tapi dia hanya terlihat khawatir dan berkata "Umm ...", seolah berusaha tersenyum. Beberapa hari kemudian, akhirnya dia menolakku.Tapi mungkin masalahnya adalah aku terlalu percaya diri.Pengakuan cintaku, di kehidupan pertamaku, bisa dibilang terlalu tergesa-gesa dan teralu tegang.Mungkin ketegangan itulah yang membuatnya jadi terenyuh, kemudian dia pun menerimaku dengan terpaksa. Dalam keadaan normal, aku pasti sudah ditolak.Yang kedua, aku bertingkah lebih seperti: "Hei, kamu sudah lama menungguku, kan? Kalau begitu, kutembak saja sekarang." Tidak mengherankan jika hal itu membuat dia merasa kecewa.Tentu saja, aku bisa memikirkan sejumlah penyebab lain. Tapi intinya, aku gagal menjadikannya pacarku. Itulah yang paling penting.


Setelah itu,oh,sungguh mengerikan.Aku tidak akan pernah membayangkan betapa besar pengaruh pacar pada kehidupan pertamaku. Setelah kehilangan "dewi kebahagiaan"-ku untuk kehidupan kedua, aku sama tidak berdayanya seperti kantung plastik yang terombang-ambing dalam badai.Untuk bulan pertama, aku ingin percaya bahwa ini adalah semacam kesalahan.Sumi pasti punya alasan untuk berbohong padaku.Aku sungguh percaya bahwa kelak, dia datang untuk memberitahuku: "Aku minta maaf karena sudah berbohong. Ada suatu hal yang membuatku tidak bisa menerima perasaanmu hari itu, tapi sebenarnya, aku mencintaimu. " Tapi lima puluh hari berlalu sejak aku menembaknya, dan bahkan aku pun tidak bisa mempercayainya lagi. Sudah terlambat bagi dia untuk menarik ucapannya kembali.Sepertinya tidak peduli seberapa keras aku mencoba, menciptakan masa lalu yang sama bukanlah hal yang mungkin terjadi.Kenapa? Jika aku tahu ini akan terjadi, seharusnya aku sudah menjadi seorang Saint.Tapi semuanya sudah terlambat sekarang. Lima tahun telah berlalu sejak aku berenang melawan arus, dan usia mental dan fisikku sudah banyak berubah.Kehidupan tanpa Sumi begitu sulit dijalani, sehingga aku pun tidak lagi konsen mendengar pelajaran sejak saat itu, sehingga nilai akademisku anjlok. Jangan pernah meremehkan efek seseorang yang berharga dalam hidupmu.


Kau mungkin berpikir itu konyol jika seseorang dengan kecerdasan pria berusia 20 tahun mengalami kesulitan ketika mengerjakan soal ujian akhir sekolah menengah. Tapi, hei, kamu coba kosongkan kepalamu, dan kau terjebak kembali di SD selama beberapa tahun. Aku pikir kau akan mengerti apa maksudku. Otak itu fleksibel, jadi setiap informasi yang kita anggap tidak perlu pasti tanpa ampun akan dilempar keluar.

__ADS_1


__ADS_2