MENANTU DEWA PERANG

MENANTU DEWA PERANG
23. Bahaya


__ADS_3

"kamu mau apa pasti akan saya berikan langsung! satu yang kamu harus tahu, saya tidak pernah kekurangan sosok perempuan dalam hidup saya. jadi, kamu cukup beruntung karena kamu termasuk salah satu yang terpilih! "ujar lelaki itu.


Jelas aja Fania tahu orang terkaya Robi tidak akan pernah kekurangan stok perempuan. tapi dia tidak pernah merasa dirinya pantas dihargai semurah itu!


"Maaf, Pa. saya bisa membuktikan pada mereka dengan kemampuan saya sendiri. jadi terima kasih atas niat nya, tapi saya tidak tertarik. kita lanjutkan saja pembicaraan kita mengenai investasi! "tolak Fania dengan cepat.


senyum Robby banyak dari bibirnya. dengan wajah dingin lelaki itu berkata


"maksud kamu kamu menyampaikan diri saya?".


"tentu saja bukan. saya tahu pak Robi hebat, tapi saya lebih suka membuktikan keberadaan saya dengan kemampuan saya aja sendiri jadi mari kita lanjutkan pada tujuan utama kita! "jawab Fania sambil menahan rasa mual pada lelaki itu.


"wajah lelaki itu terlihat kamera seperti menahan amarah. ia menuangkan segelas alkohol ke dalam gelas dan mengeluarkannya pada Fania,


"boleh saja tapi kamu harus habiskan dulu gelas ini! tunjukkan pada saya niatnya untuk bekerjasama dengan saya!".


Vania begitu ingin menambah wajah lelaki itu dan meninggalkan tempat itu sekarang juga. tapi dia harus menahan semua amarah demi kontrak kerjasama kali ini perempuan itu menerima gelas yang diberikan Robi dan menghabiskannya dalam sekali teguhkan.


"Pak, sudah saya habiskan. mari kita lanjutkan lagi! ".


Robi sedikit tercengang melihat panitia yang menghabiskan alkohol itu dalam sekali teguhkan. bukankah orang-orang bilang perempuan ini sangat lemah? kenapa yang dia lihat malah kebalikannya?


"kamu hebat minum juga. kalau begitu, habiskan ini semuanya! " ujar Robby sambil sibuk menuangkan sama gelas yang ada di meja hingga penuh. melihat itu wajah Fania berubah seketika.


"Pak, saya tidak jago minum. saya sudah menghabiskan satu gelas penuh seperti yang bapak minta barusan. jadi saya harap jangan lagi mempersulit saya! " kata Fania dengan penuh penekanan.


"kok mempersulit sih? ini artinya saya memuji kemampuan kamu loh! gini deh! kamu habiskan semua minuman ini saya langsung setuju untuk bekerjasama dengan perusahaan Surrinder! "ujar Robi dengan tatapannya yang kurang ajar.


"gimana? "tanya lelaki itu lagi.

__ADS_1


Fania jelas tahun ia telah itu yang sesungguhnya kami berencana membuat dirinya mabuk agar niat keinginan lelaki itu untuk memiliki dirinya tercapai! meskipun Fania sangat ingin membantu sang nenek untuk mendapatkan investor baru, tapi dia tidak akan mengorbankan dirinya sendiri untuk itu.


"Pak, minuman ini tidak mungkin saya minum, kalau anda tidak mau bekerja sama dengan kami ya sudah!" kata Fania


"Saya sudah berusaha memenuhi apapun permintaan anda, tapi anda sudah menginjak batas kesabaran yang bisa saya toleransi!"


Setelah selesai mengucapkan kalimat itu, dia mengambil tas tangan miliknya dan berdiri bersiap untuk meninggalkan tempat itu.


Dia tidak peduli dengan perusahaan keluarganya untuk saat ini. kalau bukan karena sang nenek yang dulu berusaha mengatur proses penguburan mamanya, dia juga tidak akan bersedia menyetujui permintaan neneknya ini.


Yang di lakukannya saat ini hanyalah atas dasar ucapan terima kasih untuk perempuan tua itu.


"Berhenti! berani sekali kamu! kamu pikir tempat ini bisa kamu jadikan tempat yang bisa seenak jidatmu untuk datang dan pergi!" Robi menahan lengan Fania.


Perempuan itu berusaha berontak dan melepaskan cengkraman Robi di lengannya sambil berkata,


"Tujuan saya kesini hanya untuk membahas kerja sama saja, kenapa saya tidak boleh pergi? tolong lepaskan tangan anda dari lengan saya!"


"Kerja sama? siapa yang bilang kedatangan mu untuk itu? nenek mu yang bilang pada saya, kalau dia memberikanmu untuk dijadikan pacar saya. Jangan pura-pura polos. sekali murah tetap saja murahan!"


"Bahkan, dia menerima uang muka dari saya sebesar dua puluh juta! jadi, kamu tahu diri dan jangan sok jual mahal!" lanjut Robi yang membuat Fania tercengang seketika.


Matanya memancarkan raut tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Ternyata tujuan sang nenek adalah itu? nenek kandungnya yang tidak pernah mengatakan dirinya anak haram melakukan itu pada dirinya!!


"Enggak mungkin! nenek bilang untuk membicarakan tentang kerja sama! dia nggak mungkin melakukan itu pada saya!" gumam Fania tidak percaya.


Robi mencengkram kedua bahu perempuan itu dan berkata,


"Keja sama? kamu pikir sekarang keluarga Surrinder masih ada proyek? nggak usah sok polos! kamu pikir saya nggak tahu kamu sudah tidur dengan beberapa banyak pria demi uang!"

__ADS_1


Lelaki itu melingkarkan tangannya di pinggul Fania dan memajukan wajahnya hendak mencium perempuan itu. Raut wajah Fania seketika pucat pasi, dengan sekuat tenaga dia menginjak kalau Robi dengan sepatu hak tinggi miliknya hingga menancap di telapak kaki lelaki itu dan mengaduh kesakitan.


Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari sana. Tepat ketika dia hendak membuka pintu ruangan, terlihat beberapa anak buah menghadang jalannya.


"Sialan! Mau kabur?"


"Berani sekali kamu menginjak kaki saya! dasar nggak tahu malu!" seru Robi dengan wajah memerah menahan amarah. Dia menjambak rambut Fania dan melemparkan tubuh perempuan itu hingga jatuh ke atas sofa, punggung belakangnya membentur tepi meja hingga membuatnya merintih kesakitan.


Dengan tatapan penuh ketakutan dia menatap wajah Robi. Dia dapat menangkap tatapan lapar yang terpancar di mata lelaki brengsek itu. Seluruh tubuh Fania getar ketakutan. Bahkan keinginan untuk membunuh dirinya sendiri saat ini sudah terbesit di dalam kepala cantiknya.


"Jangan mendekat! kalau kamu berani menyentuh saya sedikit saja, saya akan melaporkan kamu ke polisi!" ancam Fania


"Lapor saja! tuntut saja saya! kamu pikir diri kamu sanggup menuntut saya! apalagi di tahan, saya ada bukti kalau nenek kamu sudah menerima uang dari saya!" balas Robi seolah tidak takut.


Fania tersadar seketika, benar apa yang dikatakan lelaki itu, tidak akan ada gunanya jika dia menuntut Robi dan mengancamnya melalui jalur hukum. Apalagi hukum di negara ini sangat memandang uang.


Siapa yang kaya maka dialah yang kuat dan menang, apa yang harus dia lakukan? untuk kabur pun dia tidak bisa karena pintu depan sudah di hadang oleh anak buah Robi. Dia juga tidak membawa senjata apapun di tubuhnya saat ini.


Robi mulai meregangkan ban pinggang dari celananya dan berjalan mendekatinya dengan perlahan. Fania yang merasa putus asa hanya bisa menangis putus asa. Mendadak sebuah seruan yang meneriakkan namanya.


"Fania!"...


"Fania!"....


Bersambung......


Hai Hai sobat Reader!!


Maaf yah author baru up lagi, author baru sudah menyelesaikan masalahnya, jadi sekarang author bisa up tiap hari lagi,,,๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


Terus dukung author yah biar tambah semangat๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Jangan lupa LIkE, KOMEN, DAN VOTE NYA.


__ADS_2