
Sejak Nenek Jiang mengetahui kisah pahit dari Aaron Liu, ia menjadi semakin penasaran atas kehidupan pribadinya. Entah mengapa, rasanya sangat menarik dan juga memunculkan rasa ingin tahu yang kian memuncak.
"Apakah kamu baik-baik saja, Aaron?" Nenek Jiang sedikit cemas karena pria itu mendadak tampak sangat sedih setelah menjawab pertanyaannya.
"Aku baik-baik saja, Nek. Apakah kita akan langsung pulang?" tanya Aaron sebelum ia menyalakan mesin mobilnya.
"Kita langsung pulang saja. Sepertinya akan ada hujan deras." Nenek Jiang berpikir jika sebentar lagi akan turun hujan.
Langit sudah begitu gelap dan tampak suram. Tak baik jika mereka berada di luar rumah.
Saat itu juga, mobil melaju sangat cepat menuju ke sebuah mansion mewah milik Keluarga Jiang.
Dalam beberapa menit saja, mereka sudah sampai di depan halaman luas yang dikelilingi pagar tinggi itu.
Aaron langsung bergegas keluar dan membuka pintu untuk Nenek Jiang. Begitu keluar dari mobil, ada sebuah pemandangan yang cukup mengusik wanita tua itu.
"Wen Ziyi? Untuk apa wanita itu ada di sini?
"Bukankah baru beberapa jam lalu bertemu di kantor?" gumam Nenek Jiang saat melihat sebuah mobil yang diyakininya sebagai milik dari adik iparnya.
Aaron Liu hanya mendengar samar-samar ucapan Nenek Jiang. Dia sendiri juga tak terlalu mengetahui seseorang yang baru saja disebutkan oleh wanita tua itu.
__ADS_1
Mereka berdua langsung berjalan masuk menuju ke pintu utama. Seperti dugaan Nenek Jiang, adik iparnya tampak sudah menunggu sendirian di ruang tamu.
Seolah ada sesuatu yang sangat penting. "Apa yang membawamu ke sini?" ketus Nenek Jiang dengan wajah tak senang.
Ada sebuah keyakinan jika Wen Ziyi hanya akan membawa masalah bagi Keluarga Jiang.
"Aku ingin berbicara sebentar dengan Kakak ipar.
Mengapa Kakak ipar tampak tak senang dengan kedatanganku? Dengan bodohnya Wen Ziyi menanyakan hal itu.
Wanita itu benar-benar terlalu banyak drama yang membuat hubungan keduanya tak berjalan baik.
"Bukankah tadi kita sudah berbicara di kantor? Untuk apa kamu juga datang ke sini? Jika untuk membahas sebuah fashion store yang kamu rekomendasikan itu, keputusanku sudah final!" tegas
Tak peduli dengan keberadaan dari adik iparnya itu, Nenek Jiang justru bergegas menuju ke ruang kerjanya. Dia langsung masuk disusul oleh seorang tamu yang tak diundang itu.
Hubungan kedua wanita itu tak benar-benar baik. Apalagi sejak kematian dari suaminya, Wen
Ziyi semakin bertidak tak terkendali. la selalu mengambil keuntungan dari kakak iparnya saja.
Selalu berusaha melakukan tindakan curang di belakang Nenek Jiang.
__ADS_1
Sebenarnya Nenek Jiang sudah mengetahui tindak kejahatan dari Wen Ziyi.
Dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk melemparkan perempuan itu sejauh mungkin.
Sejak kematian anak dan menantunya dalam sebuah kecelakaan, mau tak mau Nenek Jiarng memberikan sebuah posisi pada adik iparnya itu.
Mengingat Wen Ziyi juga harus menghidupi dua orang anaknya sendirian. Suaminya sudah lama meninggal dunia karena serangan jantung, di saat anak-anak mereka masih sekolah.
"Beri aku kesempatan, Kakak ipar! Aku akan buktikan jika semua fashion store yang aku rekomendasi pasti benar-benar menjual produk original bujuk Wen Ziyi dengan sangat memohon. Besar harapannya agar Nenek Jiang mau menyetujui beberapa toko yang dipilihnya secara khusus.
"Jika kamu ingin berkunjung ke sini, aku tak masalah. Jangan membicarakan bisnis di rumabhku!" tegas Nenek Jiang pada adik iparnya itu.
Wen Ziyi tersenyum kecut mendengar jawaban itu. la merasa jika Nenek Jiang tak pernah menghargai pendapatnya. Seolah keberadaannya di perusahaan sama sekali tak berarti apa-apa.
Hal itu benar-benar sangat melukai harga dirinya. Sayangnya ... Wen Ziyi dan kedua anaknya masih bergantung dengan perusahaan milik Keluarga Jiang.
Segala bisnis yang ditinggalkan oleh suaminya telah bangkrut. Mereka tak memiliki pilihan selain bergantung pada kakak iparnya.
"Kudengar ... kedua anakmu membangun sebuah perusahaan baru di pinggiran kota" celetuk
Nenek Jiang pada adik iparnya itu.
__ADS_1
"Dari mana Kakak ipar tahu? Mereka terlalu bodoh dan tak bisa memahami bisnis.
" Bagaimana bisa membangun perusahaan di area terpencil seperti itu?" Wen Ziyi mendadak kesal mengingat kedua anaknya yang tak bisa berbisnis. Hanya bisa menghabiskan uang tanpa menghasilkan apapun.