Mencintai CEO Arogan

Mencintai CEO Arogan
BAB 1


__ADS_3

Hari ini langit sedang tidak bersahabat, ia menangis tanpa henti dari pagi hingga sore hari. Beruntungnya hari ini adalah hari Minggu, membuat hari ini terlihat lebih santai.


Di dalam sebuah kamar yang bernuansa nude dengan barang-barang tertata rapi. Hanya tempat tidur yang sangat berantakan sekali.


Kamar itu di tempati dengan wanita dewasa yang masih single . Dengan parasnya yang cantik, dengan gaya pakaian sangat fashionable. Dia sangat terkenal angkuh didepan semua pria.


Dia merasa laki-laki yang mendekatinya hanya untuk bermain dengan dirinya dan menikmati tubuhnya.


Karena trauma dengan kisah cintanya sewaktu ia duduk di bangku sekolah, membuat ia mendirikan benteng tertinggi dihatinya. Sulit untuk merobohkan benteng itu. Sudah banyak pria yang mencoba untuk mendekatinya, ya tapi mau bagaimana lagi, benteng itu terlalu tinggi. Belum sampai di depan gerbang benteng itu sudah ditolak mentah-mentah.


"Hoammmmm" ia menguap dengan merenggangkan sendi-sendi ditumbuh.


"Astaga,, sudah jam segini. Apa ini, berantakan sekali." ucapnya berdialog sendiri


Ia keluar dari bilik kamarnya untuk memanggil asisten rumah tangga untuk membersihkan kamarnya.


Setelah itu ia berlalu untuk membersihkan diri dan turun ke bawah untuk makan paginya. Bukan pagi lagi, tapi ini sudah sore. Tapi tak apa, ia akan merangkap makannya. Cacing diperutnya sudah tidak bisa dikendalikan lagi.


Ia memanggil seorang asisten rumah tangganya untuk mempersiapkan makanan untuknya.


Jika ditanya ia bisa masak atau tidak, tentu saja bisa. Masak adalah hobinya. Tapi hari ini ia sungguh sangat malas. Ia hanya ingin rebahan dan rebahan.


"Bi, kemana semua orang?" tanyanya


"Ada di gajebo taman belakang non, sedang duduk santai." Ucap bibi, ia hanya mengangguk sebagai jawaban.


Ia lalu melanjutkan makannya, rasanya sudah lapar sekali.


Setelah ia selesai makan, ia pergi ke taman belakang untuk menemui keluarganya.


Disana ia melihat 3 orang yang sedang bercengkrama satu sama lain. Seperti pembicaraan mereka sangat serius.


"Enak tidurnya? Uda jam segini baru turun!" Ucap pria tampan dengan senyum yang irit

__ADS_1


"Biar, aku lagi nikmati hari libur aku." ia duduk dekat pria tampan itu dan bergelayut manja di lengan pria tersebut


" Ca, ada yang ingin Ayah bicarakan tentang perusahaan denganmu." ucap Ayah nya.


"Yah, ini hari libur, aku nggak mau bahas kerjaan!" ucapnya kesal. Suaranya terdengar ketus.


"Caca Meira, dimana sopan santun mu!!!" ucapnya Geram pada adiknya yang sedang bergelayut manja di lengan adik laki-lakinya


"Ok, maaf yah. " ucapnya jengah melihat Ayahnya.


"Begini nak, Ayah ingin kamu pindah tugas di cabang perusahaan yang berada di kota Jakarta. Disana sedang ada masalah, Ayah yakin kamu bisa untuk menyelesaikannya." ucapnya sang Ayah


" Kenapa harus aku! Kak Bima dan kak Evan kan ada! Apa kamu sengaja ngusir aku dari rumah ini!! Dan membawa istri muda mu kesini, iya????" teriak Caca. Ia sudah melepas lengan kakak keduanya dan menatap nyalang pada ayahnya sendiri.


"Caca!!!!" ucap Evan dengan penekanan


"Apa? Kak Evan mau bela dia? Bela saja, silahkan! " ucapnya teriak dan bersiap beranjak dari duduknya untuk pergi,


" Duduk kakak bilang, tidak ada sopan santun mu!" geramnya menggenggam tangan adiknya.


"Aku nggak mau!!!!" ucapnya marah menyentak tangannya dari genggaman Evan


" Kamu!!!" Evan menampar adik perempuannya yang sangat ia sayangi


"Terus tampar aku! Cepat tampar lagi!!! Kalian terus bela diakan? Dia yang buat ibu aku meninggal , DIA!!!" Teriak Caca menampar pipinya sendiri dengan tangan Evan yang sudah sangat geram pada adiknya.


Saat tangan Evan ingin menyeret adiknya, Bima dan sang ayah langsung mencegahnya.


"Van, sudah nak sudah, kita bisa bicarakan baik-baik. Kasihani adikmu Van," ucap sang Ayah


" Jangan kasihani aku, aku membencimu! " teriak Caca pada ayahnya. Evan yang mendengar itu semakin emosi.


Dan Caca tidak peduli emosinya sudah tidak terkontrol. Kalau sudah begini Bima mengambil ahli tangan adik perempuannya, dan membawanya menuju kamar Caca, sebelum Evan melakukan hal yang tidak-tidak pada adiknya.

__ADS_1


"Lepas!" teriak Caca menyentak genggaman bima tapi tidak bisa


"Ca, tolong!!" ucap Bima pelan penuh penekanan, ia terus menggenggam tangan Caca, lalu membawa ke dalam pelukannya.


Bima mengatur nafas yang sudah sangat memburu, ia juga marah jika sang ayah dibenci oleh adiknya. Ayahnya tidak bersalah, bukan karna ayah ibu meninggal. Semua itu sudah takdir. Ayah juga tidak ingin menikah lagi. Tapi.....


Sudah lah!!!


Mereka saling diam, Bima terus memeluk adiknya dengan lembut, dengan tubuh yang lebih tinggi dari Caca, membuat Caca tenggelam dalam dekapannya.


Terlihat Caca jauh lebih tenang, Bima melepas pelukannya. Kedua tangannya berada di kedua pipi Caca, ia menatap sendu wajah Caca yang masih penuh dengan emosi.


"Ca, tenanglah. " Ucap Bima lembut.


"Aku mau istirahat" Ucap Caca berjalan menuju ranjangnya. Caca memejamkan matanya dan ia tidak ingin diganggu.


Bima hanya menatap nanar adiknya. Ia tau Caca sedang menangis, bahu Caca bergetar hebat tapi tanpa suara.


Bima berlalu dari kamar Caca, dan melihat Evan menaiki tangga menuju kearahnya.


" Kita harus mengirim Caca kesana, aku tidak mau cabang disana bangkrut. Itu punya ibu, karena


Keserakahan Tante Mala membuat perusahaan itu bangkrut. Caca yang akan gantikan direktur disana." ucap Evan


"Baik kak, nanti akan ku coba untuk membujuk Caca." ucapnya


Setelah pembicaraan itu, mereka berlalu kembali ke kamar mereka masing-masing.


...----------------...


Setelah hari itu, Caca lebih banyak diam. Besok ia akan pindah ke Jakarta mengurus kekacauan di perusahaan ibunya. Saat ini mereka sedang berada di meja makan untuk makan malam bersama. Semua orang berat melepaskan Caca sendiri hidup di Jakarta. Tapi tidak ada pilihan lain, istri Evan sedang hamil besar, ia tidak mungkin membawa istrinya bepergian jauh lagi dan perusahaannya sendiri juga sangat membutuhkannya, Sedangkan Bima tidak bisa meninggalkan ayahnya mengelola sendiri perusahaan keluarga mereka. Evan juga ikut andil untuk mengelola perusahaan keluarga mereka.


Sedangkan Caca mereka akan kirim ke perusahaan ibu mereka. Caca yang sudah banyak pengalaman dalam perusahaan mereka akan mampu menjalankan perusahaan ibu mereka di Jakarta. Semua tugas sudah sesuai porsinya masing-masing. Caca yang memang terkenal sedikit angkuh dan sombong diluar rumah. Tapi sebenarnya tidak. Dia hanya ingin membuat benteng tinggi untuk dirinya. Ia tidak ingin tersakiti lagi. Ia akan mencari sosok pria yang benar-benar mencintainya dengan tulus.

__ADS_1


Caca yang masih mode marah pada semua orang, ia langsung beranjak dari duduknya. Tanpa basa-basi ia langsung berlalu. Saat Evan ingin menegur ketidaksopanan adiknya, Mira langsung menyentuh tangan suaminya agar tidak bersuara.


__ADS_2