Mencintai CEO Arogan

Mencintai CEO Arogan
BAB 2


__ADS_3

Saat ini Caca dan Bima sedang berada di Bandara yang berada di Surabaya. Saat ini Caca masih kesal pada semua orang, ia tidak ada berpamitan dengan siapapun. Pagi-pagi sekali Caca sudah sampai di bandara, sedangkan Bima menyusulnya tadi. Ia sengaja berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari semua orang yang berada di rumahnya.


"Ca, jangan seperti ini. Ayah cemas denganmu pergi tanpa orang rumah tau." Bima menasehati adiknya


"Hmmm" hanya suara itu sebagai jawaban


Bima menghembuskan nafas yang panjang mendengar jawaban Caca seperti itu. Caca hanya diam tanpa ekspresi melihat ke depan.


Caca sangat berat meninggalkan rumahnya, disitu banyak kenangan dengan ibunya. Tapi lagi-lagi ia harus diam saat semua orang mengatur hidupnya. Ia harus mengikuti kemauan mereka, ia melakukan ini karena ibunya, karena perusahaan ibunya. Ia tidak akan menjadi anak manja seperti dulu sewaktu ibunya masih ada. Begitu banyak kekecewaan yang ditorehkan dihatinya oleh ayahnya. Caca sangat menyayangi ayahnya, tapi ia tidak memungkiri ia juga membenci ayahnya.


...----------------...


Saat ini mereka berdua sudah berada di satu unit apartemen mewah di Jakarta. Caca yang bersikeras untuk tinggal di apartemen, alasannya ia lebih dekat dengan perusahaan dari pada rumah mereka yang ada di Jakarta.


Lagi Pun, rumah yang berada Jakarta terlalu besar meskipun banyak ART disana.


"Kak, kapan mobilnya diantar,? Aku mau pergi keluar sebentar." Tanya Caca pada Bima


"Uda dijalan, mungkin sebentar lagi sampai, mau kemana? Istirahat dulu Ca," ucap Bima


"Aku mau ke supermarket sebentar, nggak ada bahan makanan yang mau aku masak." jawab Caca yang sedang menata bajunya di lemarinya


Bima hanya mengangguk kepalanya, saat ini ia sedang berbaring di tempat tidur adiknya.


Di Apartemen Caca hanya ada satu kamar, meskipun tidak terlalu besar, tapi fasilitas dari apartemen tersebut sangat lengkap, ada kolam renang mini berada di Apartemennya, dan ada mini bar juga.


Selesai menata semua bajunya, ia langsung beranjak turun ke bawah, supir yang mengantar mobilnya sudah sampai. Sedangkan Bima sudah terlelap. Sepertinya Bima kelelahan pikir Caca.


Caca turun ke bawah untuk bertemu dengan supir keluarganya, ia meminta diantarkan ke supermarket terdekat saja.


Sesampainya di supermarket, Caca langsung memilih bahan-bahan masakannya dan kebutuhannya. Sudah hampir satu jam, akhirnya semua yang ia butuhkan sudah ia dapatkan. Setelah ia membayar seluruh belanjaannya, tidak sengaja ada anak kecil menabrak kakinya dari belakang, hampir saja ia terjatuh.


"Aksaaaaa!!!" teriak seorang wanita cantik berlari pada bocah laki-laki tampan yang sedang terduduk di lantai akibat ulahnya.


"Kamu nggak pa-pa Nak?" ucap wanita itu, bocah itu menggelengkan kepalanya


"Kan mama uda bilang jangan lari-lari, tapi kamu?" wanita itu menegur anaknya. Wanita itu langsung melihat wanita yang di depannya.

__ADS_1


"Maafin anak saya ya mbak, mbak ada yang luka?" tanya wanita itu


" oh nggak ada kok mbk, " Caca tersenyum manis tersadar dari lamunannya


"Aksa minta maaf ya Tante, Aksa tadi nggak hati-hati." ucap bocah kecil yang bernama Aksa itu


"Tak apa sayang, lain kali Aksa harus berhati-hati ya," Ucap Caca tulus,


"Iya Tante, makasih tante" Ucap bocah itu


"Tante pamit dulu ya, uda ditunggu sama supir Tante, Permisi " ucap nya pada ibu dan anak yang di depannya.


"Cantik ya Ma," Ucap Aksa


" Astaga anak ini, uda ayo balik, Papa Uda nungguin kita di rumah" Ucap wanita itu


...----------------...


Keesokan harinya, Caca sudah disibukkan di dalam ruangannya dengan beberapa berkas yang sudah diberikan Bima dari rumah.


"Kurang ajar Tante Mala, perusahaan rugi besar kalau begini!" Ucap Caca ketus dengan memijit keningnya


"Mel, tolong hubungi pemegang saham untuk rapat siang ini. Tolong untuk hadir semuanya ya Mel tanpa diwakilkan. Saya akan membahas beberapa hal pada mereka terutama mengenai ibu Mala" Ucap Caca tegas


"Baik Bu, akan saya hubungi." Ucap Meli cepat


Caca lalu menghubungi Bima dan memberi tau kerugian yang sudah dibuat oleh adik kandung dari ibu mereka.


Tamak dan serakah! Itu kata yang pantas untuk Tante Mala.


Bima saat ini sudah berada di Surabaya, ia langsung pulang setelah mengantar adiknya ke kantor ibu mereka.


Saat ini Bima sedang bersama ayahnya di kantor, mereka membahas tentang perusahaan mereka yang mengalami kerugian besar yang telah disampaikan oleh Caca tadi.


Setelah percakapan yang serius dengan putranya. Bapak Arif Dermawan adalah nama dari Ayah Evan, Bima dan Caca. Ayah Arif yang hanya ingin memantau perusahaan saja keluar dari perusahaan dan menuju ke suatu tempat setelah setelah pembicaraan serius dengan putranya.


Setelah 30 menit perjalanan, Ayah Arif telah sampai di depan gerbang rumah yang cukup besar dengan ditinggali dengan 2 orang pemiliknya, dan 4 orang ART.

__ADS_1


Satpam yang sudah mengenal mobil Bosnya langsung membuka gerbang.


Ayah Arif langsung masuk ke dalam rumah tersebut, tidak ada ia jumpai satu orang pun. Kemana semua orang?? Pikirnya.


Ia berjalan ke taman belakang melihat dua orang sedang memberikan makanan pada ikan dari atas gajebo.


Ia tau mereka sangat kesepian, tapi ia akui mereka berdua sangat mengerti posisinya saat ini.


Ayah Arif sangat merasa bersalah pada keduanya, memperlakukan mereka berdua dengan tidak adil.


"Seru sekali?" Tanya Ayah Arif dengan lembut


"Ayaaaahhh" Ucap bocah laki-laki dan berlari memeluk ayahnya


"David" Ayah Arif menyambut pelukan putranya dengan hangat dan sangat erat.


"Ayah sehat?" Ucap Bocah itu perhatian


"Sehat sayang, sangat sehat. Kamu sama bunda sehat?" Tanya Ayah Arif pada putranya


"Alhamdulillah sehat Ayah, Aku dan bunda sangat sehat, Aku rindu Ayah" ucap Bocah itu dengan kepolosannya


"Ayah juga rindu David sama bunda. Maaf, Ayah baru bisa datang." Ucap Ayah Arif memberi pengertian pada putranya


David hanya mengangguk tersenyum dan memeluk Ayahnya kembali dengan erat.


"Sebagai gantinya, Ayah mau ngajak kamu pergi ke Taman di tengah kota, disana pasti sangat ramai. Dan disana wahana permainan juga pasti sangat banyak, dan kamu pasti banyak bertemu dengan banyak teman. Bagaimana?Kamu mau?" tanya Ayah Arif


"Mau ayah, David mau! Bunda ikutkan?" tanya David pada Bundanya.


"Iya sayang, Bunda ikut" ucap wanita yang bernama Sari itu dengan lembut


David berteriak sangat riang, ia langsung berlari menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


Ayah Arif menatap punggung putranya dengan nanar.


"Maaf!" Ucap Ayah Arif menatap istrinya

__ADS_1


Bunda Sari langsung memeluk suaminya, suami dari sahabatnya juga. Ia juga sangat merasa bersalah dengan kekhilafan mereka berdua. Tapi itu bukan kesalahan mereka.


__ADS_2