Mencintai CEO Arogan

Mencintai CEO Arogan
BAB 4


__ADS_3

Rangga Pratama anak sulung dari pasangan Risa putri dan Abdi Jaya Pratama. Mempunyai 3 orang anak, 2 laki-laki dan satu perempuan. Anak kedua mereka bernama Raditya Pratama dan si bungsu bernama Rara Meirisa putri Pratama. Dan ketiga anak mereka hanya satu yang baru menikah, Radit menikah disaat usianya sangat muda dan masih duduk di bangku kuliah. Akibat suatu skandal membuat Radit dan istrinya harus menikah dan mereka di karuniai satu orang putra yang tampan.


Sedangkan Rangga yang usianya saat ini sudah 29 tahun belum ada niat untuk menikah. Saat mendengar ia ingin dijodohkan dengan putri sahabat Mamanya, ia menolak mentah-mentah. Dengan sifat Arogan dan sombong yang anaknya miliki tidak jauh dari suaminya, itu membuat Risa mampu untuk mengendalikan putranya untuk menuruti keinginannya. Mami Risa dilawan!ckckck


Rara putri kesayangan keluarga besar mereka, karena dari pihak papi dan maminya hanya dia satu-satunya perempuan. Dan itu membuat semua keluarga sangat menyayangi putri kesayangan mereka. Dan itu membuat Rara sangat manja sampai saat ini. Saat ini ia sudah menyelesaikan kuliahnya dan sekarang Rara bekerja di perusahaan keluarganya. Rara yang notabenenya cerdas sangat mudah untuk mengerti pekerjaan yang diberikan oleh manajer perusahaan. Meskipun Rara adalah putri kesayangan mereka, itu tidak menutup jika mereka akan mudah memberikan jabatan tinggi untuk Rara. Rara harus belajar banyak lagi. Sebab itu Rara masih dalam naungan manager operasional perusahaan. Rara mempunyai sikap yang sangat lembut dan ramah seperti maminya. Itu yang membuat orang banyak menyukainya. Saat ini usia Rara 23 tahun dan Radit berusia 27 tahun.


Balik ke sulung yang sombong! ckckck.


Saat ini Rangga sedang marah-marah pada manager bagian operasional. Karena laporan yang mereka susun amburadul.


"Apa kamu tidak bisa memberikan arahan pada karyawan mu pak Tomi!!! Laporan sampah!" Ucap Rangga sarkas membuang berkas tersebut ke lantai. Membuat pak Tomi berjingkrak kaget memegang dadanya. Sungguh malang nasibnya kali ini. Andaikan pak Raditya tidak mengambil cuti, dia tidak akan langsung menghadapi CEO Abdi Jaya Group yang terkenal sangat arogan dan sombong.


"Maaf pak, secepatnya akan kami perbaiki." ucap Pak Tomi dengan perasaan takut


Ketukan pintu terdengar, dan Rangga mempersilahkannya masuk.


"Maaf pak Rangga, saya salah memberikan laporannya pada pak Tomi. Laporan yang bapak terima tadi, laporan yang belum saya revisi. Ini laporan yang benar pak." ucap Rara yang notabenenya adik kandungnya sendiri meletakkan berkas laporan tersebut di meja sang kakak dengan takut

__ADS_1


Rangga langsung menatap adiknya dengan tajam dan mengambil berkas tersebut kemudian memeriksanya. Sedangkan kedua orang yang berdiri didepannya terlihat gugup dan takut akan kemarahan CEO mereka.


"Kamu! Apa kamu tidak bisa bekerja dengan baik? Bagaimana bisa kamu memberikan laporan yang salah? Kamu tidak memperhatikannya terlebih dahulu? Bukan karena kamu saudari kandung saya, kamu mempunyai hak istimewa disini! Untuk kamu pak Tomi, sudah berulang kali saya katakan, jangan memberi perlakuan istimewa pada adik saya! Dia sama saja seperti karyawanmu yang lain. Tolong kerjasamanya. Silahkan kalian keluar! " Ucap Rangga tanpa basa-basi


Rara langsung berlari dari ruangan sang kakak sambil menangis, ia tidak terima dibentak seperti di depan orang lain meskipun ia adalah bawahan kakaknya, kalau mau marah dan membentaknya tunggu ia sendiri tanpa ada orang lain, ia akan jauh lebih terima, ia akan mengadu pada papinya. Lihatlah saja sampai rumah nanti ia akan memberi tau semuanya. Sedangkan pak Tomi melihat adik bos tersebut merasa bersalah, karna ia yang salah mengambil berkas tersebut di meja Rara. Rara sudah mengatakan jika Laporan revisi tersebut berada di dekat kalender mejanya, sedangkan pak Tomi mengambil berkas yang berada tepat di depan komputernya. Itu salahnya dan keteledorannya.


Rangga yang melihat adiknya berlari menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia tau Rara sedang menangis. Tapi biarlah, biar dia tau dunia kerja itu begitu keras. Di rumah nanti akan ia bujuk adik kesayangannya tersebut. Dan ia harus mempersiapkan telinganya dengan omelan papinya. Berani-beraninya putri kesayangannya dibentak seperti itu. Ckck Rangga Rangga cari masalah!


...----------------...


Kembali pada sibungsu yang sedang marah pada kakaknya, ia akan mogok untuk berbicara pada sang kakak. Sampai di rumah, ia berlari menuju taman samping yang dimiliki oleh keluarganya. Ia yakin papi dan maminya berada disana.


"Papi!!!" Teriak Rara berlari menuju papanya yang sedang memberi pada ikan kesayangannya.


Ia memeluk papanya dengan erat mengeluarkan rasa kesalnya dengan membuang nafasnya dengan kasar.


"Ada apa sayang?" ucap papi Abdi

__ADS_1


"Aku marah dengan kak Rangga, dia kelewatan Pi! Bentak-bentak aku di depan manager operasional karena aku salah ngasih laporan ke beliau. Pak Tomi dimarahi habis-habisan sama kak Rangga. Kan bisa ngomong baik-baik tanpa marah-marah gitu!" Ucap Rara mengadu pada papinya.


" kamu kan tau bagaimana sifat kakak kamu yang satu itu. Ia tidak akan pandang bulu meskipun kamu itu adiknya. Kalau salah tetap salah. Papi setuju dengan kakak kamu nak. Kamu harus banyak belajar dan lebih teliti. Makanya kamu papi buat di divisi operasional agar kamu lebih teliti dan cermat mengamati permasalahan. Kalau kecerdasan, papi tidak akan meragukan kamu lagi sayang, tapi bukan kamu tidak harus belajar. Kamu harus tetap terus belajar, mengatasi permasalahan dalam divisimu. " Ucap Papi Abdi menasehati putrinya dengan mengelus lembut atas kepala putrinya. Ia tau Rara ingin membantah ucapannya, makanya itu ia mengeratkan pelukannya. Ia yakin putrinya akan luluh. Dan benar tebakannya , nafas putrinya tidak memburuh seperti awal memeluknya tadi.


"Iya Pi, aku salah. Rara terlalu kekanak-kanakan. Padahal ini hanya masalah sepele tapi aku uda ngeluh ke papi. " ucap Rara merasa sikapnya tidak bijak menghadapi kemarahan sang kakak.


"Tak apa sayang, pergilah ke kamar mandi dan istirahat." ucap papinya dengan lembut.


"Duh si anak gadis, buruan mandi sana! Uda jam segini Ra! " ucap Mami Risa jengah melihat keromantisan anak dan suaminya


"Bilang aja mami cemburu!" ucap Rara mengejek maminya


"Anak ini! Pi!!!!" ucap Mami Risa minta pembelaan suaminya dengan mulut manyun dan itu sangat menggemaskan bagi papi Abdi, Cemburu pada putrinya sendiri, ada-ada saja mami Risa itu!.


"Rara mau mandi dulu ya Pi, Aku takut sama istri papi yang lagi mode cemburu! Hahaha " ucapnya lalu mengecup pipi maminya


"Aku sayang mami " ucap Rara dengan tulus lalu ia pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2