
Sampai di rumah, Rafania hendak masuk ke kamarnya, namun deheman Regino menghentikan langkah kakinya, Rafania berbalik dan menatap wajah suaminya. Seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan, namun ragu mengeluarkannya.
"Ada apa, Mas?" tanya Rafania.
Regino menggaruk tengkuknya dan menghampiri istrinya.
"Mas, kamu mau ngomong apa?" tanya Rafania lagi. Jantungnya berdetak kencang, karena untuk pertama kali, tatapan mata Regino, membuatnya luluh.
"Aku cuma mau bilang, jangan sok baik pada keluargaku," tunjuk Regino lalu melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.
Rafania tersenyum, ia tahu Regino ingin mengajaknya berbicara, karena tatapan mata Regino tak seperti biasa ketika sedang marah.
***
Esok paginya, Rafania seperti biasa menyiapkan sarapan untuk Regino, di makan atau tidak, namun Rafania tetap menyiapkannya.
Rafania sibuk dengan alat masak, hari ini dia akan membuat sandwich dan nasi goreng untuk suaminya, entabh dimakan atau tidak.
Suara ponsel Rafania terdengar, ia melihat nama Tamara dilayar ponselnya.
'Assalamualaikum.'
'Wa'alaikumssalan. Jadi ke masjid nggak?' tanya Tamara.
'Jadi, dari rumah, aku akan langsung ke sana, kita ketemu di sana saja.'
'Baiklah. Kamu nggak ke cafe?'
'Pulang dari masjid, aku langsung ke cafe.'
'Baiklah. Ku tutup dulu telponnya. Assalamu'alaikum.'
'Wa'alaikumssalam.'
Rafania lalu kembali menaruh ponselnya dimeja dapur. Dan, menata makanan yang ia buat di atas meja. Rafania tersenyum, karena lega akhirnya ia bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga suaminya.
Sesaat kemudian, Rafania menoleh dan melihat suaminya menuruni tangga dekat meja makan.
"Mas," panggil Rafania, membuat Regino menoleh.
Regino menatap wajah istrinya, entah mengapa istrinya jadi lebih cantik kelihatannya, apalagi mengenakan celemek seperti itu, dengan rambut yang di urai, karena di rumah hanya ia dan suaminya jadi Rafania tak mengenakan hijab.
"Kamu nggak pakai tutupan kepala?" tanya Regino, membuat Rafania terkekeh.
"Namanya hijab, Mas," jawab Rafania.
"Ya itu lah namanya," kata Regino.
__ADS_1
"Kamu itu mahramku, Mas, jadi nggak apa-apa nggak dikenakan," jawab Rafania.
Regino menganggukkan kepala. Rafania memang cantik, mengenakan atau tidak hijabnya. Penampilannya juga modis, seperti perempuan yang berasal dari keluarga kaya raya.
"Seperti pertanyaan salah satu Ibu jamaah di masjid, dia bertanya. Siapa orang yang dibolehkan wanita muslimah melepas jilbab di depannya?"
Regino hanya mendengarkan.
"Lalu Ibu Ustadzah menjawab, seorang wanita dibolehkan melepas hijabnya di depan mahramnya.
Mahram dari nasab (keturunan). Mereka itu yang disebutkan dalam surat an-Nur dalam firman-Nya.
“Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka.” (QS. An-Nur: 31)
Rafania menjelaskan.
"Tapi selama ini, aku tidak pernah melihatmu melepas hijabmu," kata Regino.
"Hem. Aku hanya menghargaimu, Mas," jawab Rafania.
"Oke lah, aku harus pergi," kata Regino, namun tetap di tempatnya, tepat didekat tangga.
"Mas, kamu nggak sarapan?" tanya Rafania.
Regino menatap meja dapur dimeja di atas meja itu sudah ada makanan yang tersaji, semuanya terlihat enak dan berhasil menggugah seleranya.
"Tapi—"
"Mas sekali saja, aku minta sama kamu, untuk sarapan, ya, jika kamu nggak suka, aku nggak akan memaksamu lagi, hem," kata Rafania, membuat Regino menghela napas panjang.
"Mas," ucap Rafania. "Kalu gitu nggak apa-apa, Mas bisa makan lain kali."
"Ya udah. Aku makan," jawab Regino, membuat Rafania sumringah, dan menatap ke arah suaminya.
Untuk pertama kalinya, Regino mau menerima ajakannya untuk sarapan.
"Ini piringnya, Mas," kata Rafania memberikan piring juga sendok pada suaminya.
Regino menganggukkan kepala. Rafania lalu melayani suaminya, memuat nasi goreng dipiring suaminya juga telur ceplok.
Rafania sumringah ketika melihat suaminya itu berselera, menikmati makanannya dengan kunyahan yang lembut, lalu menambah nasi yang dibuatnya.
Hati Rafania bersorak gembira, ia senang sekali melihat suaminya sangat lahap memakan makanan yang ia masak, bahkan menambah makanan itu.
Aldi benar, masakan Rafania sangat lah enak, bahkan Aldi bisa langsung menghabiskannya. Begini ternyata rasanya. Regino membenarkan perkataan Aldi. Bahwa Rafania memang koki yang hebat.
Regino mendongak menatap istrinya yang tengah berdiri didepannya.
"Kenapa kamu berdiri saja?" tanya Regino, menautkan alis.
"Aku tidak akan membuat seleramu hilang, Mas, makan saja, aku akan sarapan ketika kamu selesai," jawab Rafania, tersenyum.
"Melihatmu berdiri didepanku yang membuatku tak berselera," kata Regino.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan ke kamar," kata Rafania.
"Duduk di sini, dan sarapan lah bersamaku," ajak Regino, membuat Refania membulatkan matanya karena tak menyangka bisa mendapatkan izin untuk sarapan bersama. "Kenapa nggak duduk?"
Rafania menganggukkan kepala penuh semangat, lalu duduk dihadapan suaminya, Rafania terus saja tersenyum, membuat Regino memalingkan wajah sesaat dan tersenyum.
"Mas, terima kasih atas kesempatan yang Mas berikan," kata Rafania.
Regino menganggukkan kepala.
"Mas, hari ini aku akan ke masjid, ada pengajian Ibu-ibu."
"Kenapa bilang padaku?"
"Karena itu wajib, Mas," jawab Rafania. "Istri meninggalkan suami atau pergi tanpa izin suami bukanlah termasuk golongan wanita yang baik karena isteri yang baik akan menghormati pemimpinnya (suaminya)."
Regino menganggukkan kepala, dan berkata, "Jika itu kebaikan, pergi saja."
Rafania tersenyum, sarapan pun berlangsung sepi.
Regino merogoh kantung jasnya dan mengeluarkan amplop kecil berwarna coklat, yang isinya adalah uang.
"Ini," kata Regino memberikan amplop itu kepada istrinya.
"Apa ini, Mas?" tanya Rafania.
"Itu uang untuk kamu," jawab Regino.
"Uang untuk aku? Nggak usah, Mas, aku kan ada uang juga," tolak Rafania.
"Uang kamu dan uang aku itu beda, uang kamu ya hak kamu, namun uang aku adalah hak kamu juga, ini gajiku, jadi terima saja, atur dengan baik, bagikan pada siapa pun yang menurutmu benar-benar membutuhkannya," jawab Regino, membuat Rafania menitikkan air mata. "Bukankah kewajiban suami adalah menafkahi istrinya?"
Regino beranjak dari duduknya, dan kembali berkata, "Aku kerja dulu."
Rafania menganggukkan kepala dan mengambil tangan suaminya, lalu di ciuminya, ia bersyukur sekali suaminya mulai menunjukkan pedulinya.
"Hati-hati, Mas," ucap Rafania.
Regino mengangguk. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumssalam."
Usaha yang sedang di geluti Rafania, memang sudah sukses, bahkan profitnya sangat besar. Uang tabungannya pun sudah banyak, karena itu ia menaikkan haji untuk kedua mertuanya, namun benar kata Regino, uang dia adalah hak istrinya, jadi tak ada yang salah dari itu.
Rafania tersneyum, dan menyeka air matanya.
.
.
***Bersambung.
Maaf banget nih, aku baru lanjutin lagi, baru hiatus dan ngerjain proyek, semoga bisa tiap hari ya updatenya.
__ADS_1
Wassalam***.