MENCINTAIMU KARENA ALLAH

MENCINTAIMU KARENA ALLAH
MEMULAI


__ADS_3

Setelah selesai memberi tauziah dan beberapa arahan lainnya, Rafania duduk diam di dekat mimbar masjid, membereskan al'quran yang di pakai para Ibu-ibu.


Rafania menghela napas, ketika waktunya pulang. Karena, pernikahannya bukan pernikahan pada umumnya, Rafania selalu merasa jenuh untuk pulang ke rumah dan menghadapi sifat suaminya yang selalu mengabaikannya.


Suara riuh terdengar dari luar masjid, Rafania memilih mengabaikannya dan tetap fokus pada bacaannya.


"As'salamualaikum, Nak." suara Ustadzah Hazanah membuat Rafania berbalik.


"Wa'alaikumssalam, Bu Ustadzah."


"Ada suara riuh di luar sana, Ibu-ibu mendapatkan beberapa bingkisan besar dari seseorang tanpa nama."


"Tanpa nama?"


"Iya, Nak. Dia menaruh banyak bingkisan di depan masjid."


"Baik sekali orang itu, Ustadzah, semoga kebaikannya di balas Allah." ucap Rafania, membuat Ustadzah mengangguk.


"Kamu belum mau pulang?" tanya Ustadzah. "Ini sudah hampir jam lima. Biasanya kamu pulang sebelum jam lima."


Rafania menggeleng. "Saya sedang ingin di sini dulu, Ustadzah. Sampai waktunya magrib."


"Apa pernikahanmu masih seperti biasanya?" Ustadzah Hana memang tahu permasalahan apa yang di hadapi Rafania.


Rafania menggeleng, lalu menunduk.


"Sabar, selalu hadapi semuanya dengan sabar, Allah pasti memiliki rencana yang indah untuk kamu dan suami kamu, Nak. Semua yang sudah kamu lalui, yakinlah bahwa Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan, tawa saja bisa berubah jadi tangis, begitupun tangis akan berubah menjadi tawa." Ustadzah Hana memberi nasihat.


"Ustadzah, saya kadang lelah menghadapi sikap suamiku, saya juga terkadang lelah untuk berharap." Rafania menundukkan kepala. Rasanya berat dan air matanya hampir saja kering karena setiap hari harus menangis diam-diam.


"Beberapa hari yang lalu kamu memberikan tauziah tentang kesabaran seorang istri. Itu cukup membuatmu sangat tahu bagaimana istri di mata suami." Ustadzah memberi jeda. "Berubah lah untuk sementara waktu."


Rafania mendongak menatap Ustadzah dan mencoba memahami maksud dari perkataan Ustadzah. "Berubah?"


Ustadzah mengangguk. "Iya, berubah. Untuk melihat bagaimana reaksi suamimu."


"Bagaimana caranya, Ustadzah?"


"Berhenti untuk menyiapkan makanan, berusaha cuek dan mengabaikannya. Apa kamu bisa?" Ustadzah memberi jeda. "Lihat bagaimana perubahan suamimu setelah kamu berubah, jika memang tetap seperti itu, pikirkan kembali pernikahanmu."

__ADS_1


Rafania sejenak berpikir, kata Ustadzah Hana memang benar. Ia harus bersikap cuek untuk menguji suaminya. "Apa tidak apa-apa, Ustadzah? Saya melakukan hal itu?"


"Tidak apa-apa, Nak. Allah tahu, bahwa kamu sedang berusaha mengambil hati suamimu." Ustadzah mengangguk.


****


Rafania pulang ke rumahnya, mengucapkan salam seperti biasanya. Namun, tidak ada jawaban seperti biasanya, ada atau tak ada suaminya di rumah.


Rafania melihat suaminya duduk di ruang keluarga sembari menonton TV, Rafania menautkan alis, biasanya suaminya tidak pernah menonton TV di ruang keluarga, jika menonton pasti akan di lakukannya di dalam kamarnya.


Rafania mengingat saran dari Ustadzah Hana lalu melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya.


Setelah mendengar suara pintu kamar tertutup, Regino menoleh melihat kamar istrinya, ada yang beda dari istrinya, tidak ada makanan atau pun basa-basi yang biasa di lakukan Rafania padanya selama setahun ini.


Regino mematikan TV dan kembali ke kamarnya.


"Ya Allah... maafkan hamba harus bersikap cuek kepada suamiku, bukan maksud hamba melalaikan tugas sebagai istri. Namun, hamba ingin membuat suamiku datang kepadaku hamba. Mudahkanlah ya Allah." ucap Rafania dalam shalatnya.


****


Beberapa hari telah berlalu, Rafania tidak lagi menyiapkan makanan untuk suaminya, tidak lagi menyiapkan teh ataupun kopi juga cemilan seperti biasanya.


Rafania juga selalu menghabiskan waktu di masjid untuk menunggu waktu sampai shalat magrib dan pulang selalu menemukan suaminya sedang menonton TV.


Rafania membuat segelas teh hangat dan mengambil cemilan dari dalam kulkas.


Suara deheman terdengar dari belakang sana, Rafania berbalik dan melihat suaminya tengah berdiri hendak melangkah ke dapur.


"Maaf, Mas." kata Rafania. Lalu, berjalan meninggalkan suaminya agar Regino merasa nyaman jika mengambil sesuatu di dapur, karena Regino selalu merasa terganggu jika istrinya itu ada di depannya.


"Tunggu." kata Regino. Membuat Rafania menghentikan langkahnya.


Rafania berbalik lalu menautkan alis, karena selama ini, suaminya tidak pernah mau melihatnya atau pun mengajaknya berbicara.


Rafania sengaja menunggu Regino berbicara.


"Mama menyuruh kita ke rumah besok pagi." kata Regino.


Rafania bahagia sekali, meski hanya ajakan biasa. Namun, itu sudah membuktikan sedikit perubahan pada sosok suaminya yang selama ini tidak pernah mau melihat dirinya.

__ADS_1


Selama ini, ketika Rafania di rumah kedua mertuanya, Regino memilih pergi. Namun, kali ini Regino sendiri yang mengajaknya.


Regino tidak berbalik menatap istrinya karena rasa gengsinya yang begitu tinggi.


Sedangkan di belakang sana, Rafania tengah sujud syukur mensyukuri perubahan suaminya yang baru saja membuat hatinya merasakan kedamaian.


"Kenapa kamu diam saja? Kalau nggak mau ikut ya udah." kata Regino.


"Iya, Mas, aku mau." jawab Rafania.


"Ya udah." Regino melangkahkan kakinya menaiki tangga.


Rafania merasakan damai yang begitu melembutkan hatinya. Rafania tersenyum, benar kata Ustadzah, melakukan cara yang sama untuk melihat reaksi suaminya dan reaksi itu membuat Rafania bahagia sekali.


****


Esok paginya, Rafania tidak menyiapkan sarapan, seperti biasanya membuat Regino mulai jengkel dengan perubahan sikap istrinya.


"Cepetan!" teriak Regino.


Rafania keluar dari kamarnya dengan memakai gamis seperti biasanya. Regino sejenak melihat istrinya dan terpana. Namun, dengan cepat memalingkan wajahnya kembali.


"Kenapa nggak buat sarapan?" tanya Regino.


Rafania menautkan alis, tidak seperti biasanya suaminya menanyakan sarapan. "Mas mau sarapan?"


"Tentu saja. Aku lapar, sejak semalam hanya ngemil aja, nggak makan nasi." Regino begitu kasar mengatakannya. Namun, malah membuat Rafania bahagia.


"Kamu nggak pernah menyentuh masakan yang aku masak, Mas, karena itu aku nggak menyiapkannya beberapa hari ini, daripada Mubazir." kata Rafania.


"Ya udah. Ayo pergi."


Rafania mengikuti langkah kaki suaminya dan mengunci pintu rumah, Regino sudah masuk ke mobil di susul Rafania.


Di dalam perjalanan, Rafania merasakan jantungnya berdetak kencang, karena baru kali pertamanya naik ke mobil yang sama bersama suaminya. Selama ini, mereka selalu pergi masing-masing, tanpa saling pamit bahkan tak pernah saling menatap.


Rafania menoleh sejenak, namun dengan cepat kembali menyusuri jalan dengan tatapannya. Lalu ia tersenyum tanpa di sadari Regino, meski masih sulit menerima Rafania, namun tak ada salahnya mencoba.


Rafania berusaha menenangkan hatinya agar tak sampai membuat pergerakan yang bisa membuat suaminya tak suka.

__ADS_1


Mendengar Regino mengajaknya berbicara, lebih dari cukup bagi Rafania yang menginginkan hal itu selama ini. Entah mengapa sulit sekali masuk ke hati Regino, hati yang dikuasai sosok lain didalamnya.


Bersambung.


__ADS_2