
Regino kini sedang berolahraga pagi untuk meregangkan otot-ototnya karena beberapa hari ini harus menghabiskan waktu dua puluh jam untuk bekerja setiap hari dan hanya memiliki empat jam sisanya ia tidur.
Rasanya tubuhnya kaku, jika tak di bawa santai pagi ini, apalagi cuaca pun mendukung.
"As'salamualaikum, Pak Regino." sapa pasutri yang kini berpapasan dengan Regino. Dokter Anita dan suaminya Pak Tora yang juga sedang lari pagi.
"Wa'alaikumssalam, Pak Tora, Dokter Anita." jawab Regino.
"Bapak sendirian saja? Ibu Rafania. mana?" tanya Pak Tora, namun di tanggapi Regino dengan senyuman. Ia malas membicarakan perempuan itu.
"Pak Tora sama istri lagi olahraga juga?" tanya Regino, meski sudah tahu persis bahwa pasutri ini memang sedang berolahraga. Namun, karena ingin menghindari pertanyaan Pak Tora, Regino pun basa-basi.
"Iya, Pak." jawab Pak Tora.
"Pak Regino, Bapak beruntung sekali loh mendapatkan istri sebaik dan se shaleha Ibu Rafania, meski usianya masih sangat muda, beliau sangat tekun dalam beragama." Dokter Anita memberi jeda. "Dia sudah banyak membawa perubahan di kompleks kita ini, meski saya seorang dokter dengan kesibukan melayani pasien yang menggunung, tapi saya selalu berusaha hadir tepat waktu karena hanya ingin mendengarkan tauziah Ibu Rafania."
"Papa kenal, kan, sama Ibu Rafania?" tanya Dokter Anita, pada suaminya.
"Iya, Ma. Papa tentu mengenalnya, siapa yang tidak mengenalnya, satu kompleks kita ini membicarakan istri Pak Regino ini. Bagaimana sikap dan paras indahnya." jawab Pak Tora.
"Dia juga bukan hanya meluangkan waktu ke masjid untuk memberikan kami ajaran-ajaran islam, namun beliau juga seorang wirausaha sukses loh, Pa. Usaha cafenya udah tiga." seru Dokter Anita, sedangkan Regino hanya menjadi pendengar yang baik, karena orang lain saja sangat tahu kehidupan istrinya sedangkan dia baru mendengar jika istrinya itu seorang wirausaha.
"Papa tahu, Ma. Semua warga di kompleks kita ini membicarakannya. Papa juga menonton siaran yang menayangkan tauziah Ibu Rafania itu. Sangat mendalami, sangat mengagumkan. Ternyata masih ada wanita muda yang mengetahui agama sedalam dan seluas itu." puji Pak Tora.
"Pak Regino kenapa diam saja?" tanya Dokter Anita.
"Saya—"
"Tentu saja Pak Regino ini terkagum-kagum sampai tak bisa berbicara, memiliki istri shaleha, cantik, menawan, baik hati dan seorang wirausaha sukses." kata Pak Tora.
Dokter Anita menyikut suaminya. "Ish. Papa ini, muji Ibu Rafania segitunya, suaminya ada di sini loh, Pa."
Pak Tora tertawa kecil. "Maaf, Pak Regino, saya jadi terbawa suasana."
Regino mengangguk. "Iya, Pak, tidak apa-apa. Kalau begitu saya lanjut lari pagi, Pak."
__ADS_1
"Baiklah, Pak Regino, salam sama istri Bapak." jawab Dokter Anita.
Regino menganggukkan kepala. "As'salamualaikum."
"Wa'alaikumssalam." jawab pasutri itu.
"Semenjak Ibu Rafania tinggal di kompleks kita ini, Ibu-ibu jadi lebih banyak menghabiskan wkatu di masjid daripada bergosip, Pa." kata Dokter Anita.
Pak Tora mengangguk kagum. "Karena itu, rasanya Mama juga sudah berubah."
"Berubah menjadi lebih baik, kan, Pa?"
"Iya, Ma. Papa suka." puji Pak Tora pada istrinya.
****
Regino berjalan menuju pulang, sejak tadi perkataan Dokter Anita dan Pak Tora mengganggunya. Ada perasaan senang ketika tetangga menyapanya dan memuji dirinya sebagai suami yang sudah berhasil membimbing istrinya ke jalan yang benar dan berhasil menjadi imam bagi istrinya. Meski itu hanya kebohongan.
Regino sampai di rumah setelah lari pagi, banyak tetangga yang juga melakukan aktifitas yang sama setiap hari, Regino membuka kulkas dan mengambil satu botol air mineral untuk di teguknya.
Regino melihat dengan seksama, sungguh menggugah seleranya.
Regino mendekati meja makan dan melihat memo di samping meja.
—Mas, sudah ku siapkan sarapan, semoga kamu makan, ya, meski aku tahu kamu akan menolaknya. Aku sudah berangkat kerja, lagi ada pekerjaan mendadak. Wassalam—
Regino tidak pernah tahu apa kegiatan istrinya dan bagaimana istrinya menjalani hari. Namun, yang pasti selama ini Regino berpikir bahwa istrinya itu hanya menghabiskan waktu di rumah dan bersantai menikmati waktu yang harusnya milik Tania.
Regino berjalan meninggalkan dapur dan mengabaikan makanan yang sudah tertata rapi di atas meja, sungguh Regino terlalu keras kepada Rafania yang kini sudah menjadi istrinya selama setahun. Dia tidak pernah sekalipun memberikan kesempatan kepada Rafania untuk menjadi istri yang baik untuknya. Hatinya seakan tertutup untuk menerima orang lain termaksud istrinya.
****
Sepulangnya dari cafe, Rafania kembali menghadiri pengajian yang di selenggarakan seminggu tiga kali, dari hari rabu, jumat dan minggu.
"Rafania, kamu bisa kan memberikan tauziah?" tanya Ustadzah Hana.
__ADS_1
"Iya, Ustadzah, dengan senang hati." jawab Rafania lalu menutup Al'quran.
"Bisakah saya bertanya, Bu Rafania?" tanya Ibu Delima yang merupakan tetangga kompleks sebelah.
"Silahkan, Bu."
"Sebelumnya saya minta maaf karena harus mengatakan ini, yang ingin saya tanyakan mengenai kewajiban nafkah suami, apakah ia harus mendahulukan istrinya atau ibunya ketika memberi nafkah. Suami saya sangat rutin memberikan uang kepada ibunya, saya tidak melarang suami saya untuk memberi nafkah kepada ibunya karena saya menyetujui hal ini sebelum kami menikah. Namun, saat ini kami sedang kekurangan, apalagi beberapa bulan ini saya tidak di berikan uang dan suami saya lebih mengutamakan ibunya, saya juga bekerja dan memiliki gaji, namun bukankah wajib bagi suami memberi nafkah istrinya dari hasil jeripayahnya?"
"Manakah yang harus didahulukan oleh seorang anak laki-laki, memberikan nafkah kepada ibunya atau istrinya, jika si anak laki-laki ini tidak mampu menafkahi keduanya?" Rafania memberi jeda beberapa detik.
Lalu melanjutkan. "Perlu diketahui ya Ibu-ibu, bahwa para ulama telah bersepakat bulat atau ber-ijma sebagaimana telah dinukil oleh Ibnul Munzir, bahwa nafkah untuk kedua orang tua yang miskin dan tidak mampu mencukupi kebutuhan pokok keduanya, maka nafkah kedua orang tua ini menjadi kewajiban anak-anaknya. Baik anak laki-laki maupun perempuan."
"Kemudian, jika anak laki-laki ini telah menikah dan telah memiliki anak, maka dia punya dua kewajiban: kewajiban menafkahi orang tuanya yang miskin yang tidak mampu mencukupi kebutuhan pokoknya dan menafkahi istri dan anak-anaknya sendiri. Jika seorang anak laki-laki mampu melakukan dua kewajiban ini, maka inilah yang wajib atas dirinya. Tapi jika dia tidak mampu memadukan dua kewajiban tersebut, karena penghasilannya yang pas-pasan misalnya, maka yang harus didahulukan adalah menafkahi istri dan anak-anaknya."
Rosululloh shalallohu ‘alaihi wasalam bersabda:
“Jika Allah ta’ala memberikan kepada salah seorang di antara kalian kebaikan – nikmat atau rezeki, maka hendaknya dia memulai dengan dirinya dahulu dan keluarganya” (HR. Muslim)
“Nafkah yang paling besar pahalanya adalah nafkah yang dikeluarkan oleh seseorang kepada keluarganya” (HR. Muslim)
"Dalam islam, memang wajib bagi suami menafkahi istri dan anak-anaknya. Meskipun kondisi istri mampu, berkecukupan, bahkan kaya, kewajiban untuk memberikan nafkah keluarga tetap menjadi tanggung jawab suami, kecuali kalau istri ridho dengan keadaan yang ada. Namun jika tidak, dan suami tetap tidak mau memberikan nafkah kepada isteri dan anak, maka sang suami berdosa.
Rasul saw bersabda, “Cukuplah seseorang mendapat dosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.”
Selanjutnya seorang suami memang dituntut untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak, serta kepada kedua orang tuanya jika mereka berada dalam kondisi membutuhkan dan kekurangan. Kalau suami bisa memenuhi kebutuhan mereka semua, maka wajib baginya untuk memenuhi. Namun, jika penghasilan atau hartanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, maka harus ada prioritas. Yaitu yang harus didahulukan adalah istri dan anak yang memang berada dalam tanggung jawab utamanya sebagai seorang suami.
Hal ini berdasarkan sabda Rasul saw, “Mulailah dari dirimu dengan bersedekah (memberikan nafkah) untuknya. Lalu jika ada yang tersisa maka untuk keluargamu (isteri dan anakmu). Jika masih ada yang tersisa, maka untuk karib kerabatmu (orang tua, saudara dst), dan begitu seterusnya.”
"Apa sekarang Ibu-ibu paham? Khususnya Ibu Delima?" tanya Rafania.
"Sekarang saya paham, Bu." jawab Ibu Delima.
.
.
__ADS_1
Bersambung