MENCINTAIMU KARENA ALLAH

MENCINTAIMU KARENA ALLAH
ISTRI YANG SABAR


__ADS_3

Winda mendengkus kesal. "Bisa nggak lain kali pertemukan aku dengan suamimu?"


Rafania sekilas menoleh melihat sahabatnya. "Mau ngapain ketemu Mas Gino?"


"Buat ngasitahu bahwa yang di lakukannya itu salah."


"Aku yang salah, Nda, aku yang sudah menggantikan posisi Tania sebagai pengantin wanitanya, Mas Gino pasti terkejut karena aku harus menjadi pengantinnya."


Winda menghela napas. "Selalu saja menyalahkan dirimu. Kamu itu yang sudah menyelamatkan suamimu dari rasa malu."


"Tugasku mengorbankan diri untuk suamiku."


"Tapi saat itu, dia belum menjadi suamimu." kata Winda.


Rafania menghela napas pelan. "Bisa nggak setiap kita bertemu, kita nggak usah bahas masalah pernikahanku?" tanya Rafania. "Soalnya, aku bosan. Ngejalaninnya aja tuh buat aku jenuh, jadi jangan membuatku makin jenuh dengan membahas hal itu, Winda."


****


Esok paginya, Regino mengganti pakaiannya di dalam ruangannya, Regino semalam tidak pulang, bukan karena bekerja lembur. Namun, itu keinginannya sendiri, agar tidak bertemu istrinya


Setiap hari tak ada hari yang indah di mata Regino, semenjak Tania pergi meninggalkannya dan kini yang menjadi istrinya adalah perempuan yang tidak dia sukai. Yang selalu menjadi tempat pelampiasan kemarahannya, membuat hari dan hatinya memburuk.


Suara ketukan pintu terdengar secara bersakaan pintu ruangannya terbuka, membuat Regino berbalik, untung saja ia sudah selesai berganti pakaian.


"Lo nggak pulang semalam?" tanya Aldi, melihat baju yang kemarin di pakai Regino berserakan di sofa.


"Nggak." jawab Regino, memunguti pakaiannya dan menyimpannya di tempat sampah.


"Serius, mau di buang?"


"Iya. Memangnya kenapa?" Regino begitu heran.


"Lebih baik baju kayak gitu mah. Lo jual dan duitnya lo sumbangkan ke panti asuhan atau panti jompo, lumayan buat nambah pahala lo di dunia." kata Aldi.

__ADS_1


Regino menautkan alisnya. "Maksud lo, apaan?"


"Baju-baju lo, kan, mahal-mahal, secara kan ya, buatan designer terkenal, pasti laku jika lo jual."


"Aish... emang gue penjual apa?"


"Tapi, uangnya bisa lo sumbangkan, Gino."


"Lo mau gue nyumbangin duit dari pakaian bekas gue? Ya nggak mungkin lah." cela Regino.


"Ya udah. Di kasitahu juga." geleng Aldi. "Gue kemari bukan bertujuan nyeramahin lo, ya, gue hanya mau memberitahukan lo ada situs dan beberapa chanel youtube yang menayangkan Rafania, lo harus nonton, kalau tayangan di pertelevisian kayaknya kemaren siaran langsung."


"Urusannya sama gue apaan?"


"Ya lo harus nonton, lo nggak penasaran apa?" tanya Aldi, sejenak Regino berpikir, dia tidak pernah tahu istrinya itu artis. "Bini lo itu bukan artis, Gin, dia Ustadzah muda yang banyak di puji masyarakat, lo harus tonton kalau penasaran."


"Nggak. Jika lo kemari pengen ngebahas dia, mending lo pergi kerjain kerjaan lo." usir Regino.


"Ngapain penasaran? Gue aja ogah ngeliat wajah dia." geleng Regino.


"Lo apaan, sih, Gin? Apa hati lo emang udah ketutup? Sampai cahaya dan bidadari surga nggak lo sadari, jika dia adalah istri lo? Lihat dulu ketulusan bini lo. Lihat bagaimana dia bersikap, lihat bagaimana dia menghargai lo, menjaga kehormatan lo, gue sih nggak masalah ya, tapi sosok Rafania di luar sana di idamkan seluruh pria." Aldi menjelaskan.


"Termaksud lo?"


"Gue sadari, gue emang mengagumi sosok Rafania." kata Aldi, membuat Regino menatap sahabatnya itu. "Tapi, perasaan kagum ini membuatku sadar bahwa di dunia ini kita hanya sementara, umur kita bertambah, namun hidup kuta di dunia berkurang."


"Udah, Di, gue udah nggak mau denger tentang perempuan itu." Regino geram.


"Ya udah."


***


Regino masuk ke rumahnya setelah dua malam tidak pulang dan memilih menginap di kantornya, ketika masuk ke dalam rumah, tak ada seorang pun, tak ada Rafania yang biasanya selama setahun ini selalu menyambutnya dengan senyuman atau sekedar basa-basi menawarkan makan malam yang setiap hari selalu ada di atas meja.

__ADS_1


Regino naik ke lantai atas menuju kamarnya.


Regino duduk di ruang kerjanya, mengerjakan beberapa pekerjaannya yang ia bawa dari kantor, ia menyalakan layar laptopnya untuk mengecek sistem perusahaan yang masuk dengan laporan tertulis dari manajer umum. Karena jika laporannya selisih, sama saja kerugian akan perusahaannya alami.


Regino tak sengaja melihat beberapa video yang ada di kanan bawah laptopnya, iseng-iseng ia membukanya dan melihat istrinya tengah membawa dakwah islami tentang pahala istri yang sabar menghadapi suaminya dan beberapa tema lainnya yang berkaitan dengan hal tersebut.


Regino menatap video tersebut dan menghayati setiap kata yang keluar dari mulut sang istri, selama ini, Regino tidak pernah tahu, bahwa istrinya itu selalu ikut pengajian di masjid bersama Ibu-ibu kompleks, Rafania memang bergaul dengan baik di kompleks elit ini. Jangankan tak mengetahui istrinya bergaul dengan baik di kompleks ini, Regino pun tidak tahu jika istrinya itu adalah wirausaha yang sukses.


Rafania mengetuk pintu ruang kerja suaminya, tak apa jika ia kena marah dan selalu di bentak, itu sudah biasa baginya. Namun, melewatkan tawaran makan malam, rasanya Rafania tidak bisa tidur.


Mendengar suara ketukan pintu ruang kerjanya, Regino menutup video yang kini tengah ia tonton sejak tadi yang penontonnya melebihi dua juta dengan komentar yang di penuhi dengan pujian di salah satu chanel youtube.


"Ya?" teriak Regino, ia juga tahu, pasti istrinya yang mengetuk pintu. Regino pikir, Rafania sedang keluar.


Rafania membuka pintu ruangan dan memilih tidak masuk ke ruangan suaminya, ia hanya berdiri di depan pintu. "Mas, aku sudah siapkan makan malam." kata Rafania.


"Sekuat apa pun tenagamu memasak untukku, aku tidak akan pernah menyentuhnya." kata Regino, tanpa menoleh atau pun menatap istrinya.


"Nggak apa-apa, Mas, sudah tugasku sebagai istri menyiapkan makanan untuk suamiku meski tak di makan." Rafania memberi jeda. "Dan, sekeras apa pun usahamu menghindariku, aku masih tetap yakin, hatimu meski sedikit pasti tergerak."


"Aku sudah sering kali mengatakan untuk tidak menggangguku, aku juga sudah sering mengatakan agar tak menampakkan wajahmu di depanku." kata Regino, membuat Rafania mengangguk.


"Baiklah, Mas. As'salamualaikum." Refania menutup pintu ruangan suaminya dan mengelus dadanya. "Aku harus terus bersabar dan lebih bersabar lagi untuk menghadapi sikapmu, Mas." gumam Rafania.


Regino menoleh menatap arah pintu. Rafania selalu saja mengabaikan apa yang di inginkan suaminya. Makanan yang selalu di masak Rafania selalu tidak di sentuh dan di makan suaminya, jangankan di makan atau di sentuh, melihatnya saja Regino enggan.


Regino menghela napas, memang benar kata Rafania, meski sedikit, hatinya sudah tergerak melihat ketulusan Rafania. Rafania terlalu sabar menghadapinya.


Sebagai istri, ia memang harus bersikap lebih baik. Dan, selalu berusaha tidak mengeluh.


Bersambung.


Tinggalkan jejak kalianđź’–

__ADS_1


__ADS_2