
Rafania POV
Siapa yang tidak menginginkan pernikahan yang bahagia seperti drama-drama romantis yang begitu menginspirasiku menjadi istri yang baik. Meskipun aku menggantikan posisi Tania sebagai istri dari Mas Gino, tapi aku benar-benar mencintai Mas Gino seperti seorang istri yang mencintai suaminya.
Setiap pagi aku menyiapkan sarapan Mas Gino seperti biasa aku tidak pernah mendongkol aku tidak pernah mendumel meskipun Mas Gino terkadang berubah. Bahkan terkadang kasar padaku. Tidak masalah, ini semua proses menuju kebahagiaan karena tak mudah menjalani pernikahan yang tak ia inginkan.
Meskipun aku menggantikan posisi Tania tapi aku menikmati posisiku sebagai istrinya tidak pernah sekalipun terlintas di pikiranku bahwa kami menikah hanya karena terpaksa sebagai istri yang baik aku akan selalu melayani Mas Gino seperti istri pada umumnya.
Aku juga menyayangi keluarga Mas Gino. Aku tidak pernah membedakannya dengan orang lain aku menganggap orang tua mas Gino juga keluarga Mas Gino adalah keluargaku juga yang memang harus aku bahagiakan, selama ini aku selalu tidak memikirkan diri sendiri meskipun aku memiliki banyak uang tapi aku tidak pernah memanjakan diri untuk sekedar holiday atau bahkan berbelanja kebutuhan yang tidak berfaedah bukan karena aku pelit aku hanya berpikir semua itu hanya membuang-buang waktu.
Beberapa hari yang lalu aku mendengar arahan ustadzah Hana yang mengatakan bahwa aku bisa menguji suamiku dengan cuek kepadanya, jadi aku tidak pernah menyiapkannya sarapan ataupun makan malam. Namun ternyata itu melukai harga diri Mas Gino, dia bahkan dengan lantang menanyakan mengapa aku nggak membuat sarapan. Hal itulah yang aku inginkan setiap aku memasak aku ingin suamiku mencicipinya enak tidak enak, aku ingin selalu menjadi koki untuk suamiku meskipun itu sulit.
Meskipun aku cuek pada suamiku beberapa hari ini, aku tidak pernah berhenti untuk mengucap istighfar di dalam hati karena aku melukai harga dirinya dengan mencuekinya.
Ku raih mukena dan sajadah diatas nakas, ku kenakan mukena dan menggelar sajadah menghadap kiblat, sudah waktunya untuk sholat subuh. Kutatap wajah suamiku lagi biasanya aku akan membangunkannya dan mengajaknya untuk salat subuh bersama-sama. Aku sangat ingin suamiku menjadi imamku namun aku tahu aku pasti akan kena tolak jadi hari ini aku akan membiarkan Mas Gino untuk beristirahat dan tidak mengganggunya.
Aku hanya merasa sebagai istri yang baik aku harus mengajak suamiku untuk mencari surga sama-sama yang harusnya itu adalah tugas suami yang mengajakku tapi karena suamiku cuek dan dingin padaku aku hanya bisa melakukan sesuatu yang bukan tugasku. Meskipun aku juga mendapatkan pahala jika aku terus-menerus mengajak suamiku shalat lima waktu.
Setelah beberapa menit aku membuka mukena dan melipat kembali sajadah lalu menaruhnya di atas nakas yang biasanya memang aku taruh di situ. Aku menoleh lagi melihat Mas Dino apakah memang ini adalah takdir dan nasib yang harus aku terima menjadi pengantin pengganti sepupuku?
__ADS_1
Aku tahu Mas Gino masih sangat mencintai Tania sesekali aku melihatnya terdiam dan membayangkan bagaimana kenangannya bersama Tania aku memang tak akan pernah bisa masuk ke dalam hati Mas Gino dan menyingkirkan Tania sejak awal tempatku memang bukan di sini semua kesalahan ada padaku aku yang menyetujui permintaan Tania menjadi pengantin Mas Gino.
Setelah selesai salat Subuh aku bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan suamiku, kali ini aku akan membuat menu berbeda. Aku tetap akan membuat nasi goreng namun lauknya akan berbeda aku akan menggoreng ayam dan mengolahnya dengan cara lain kali ini aku akan memberi bumbu sedikit di atasnya aku juga akan menggoreng kerupuk aku juga akan menyiapkan susu hangat dan beberapa menu lainnya.
Sesaat kemudian ponselku berbunyi, kulihat nama Winda tumben dia meneleponku subuh begini.
'Assalamu'alaikum, Winda,' jawabku.
'Waalaikumsalam,' jawab Winda dari seberang telepon.
'Tumben kamu telepon. Ada apa? Kamu ada masalah?' tanyaku.
'Masya Allah Alhamdulillah ya Allah semoga dengan hijrahnya kamu akan membawa kebahagiaan yang benar-benar Allah berikan. Aku sangat kagum dan bangga padamu. Kamu bisa mengajak suamimu untuk mencari surga bersama-sama karena Allah sangat suka dengan pasangan suami istri yang mengutamakan kewajibannya sebagai umat muslim aku turut senang.' Aku tentu ikut senang.
'Aku juga yakin suatu saat nanti suamimu pasti akan sayang dan cinta sama kamu. Jangan pernah berhenti berdoa. Jangan pernah putus untuk mendoakan yang terbaik buat keluargamu.'
'Amin allahumma Amin. Terima kasih atas doanya ya aku juga mendoakan yang terbaik buat kamu semua hal yang Allah gariskan untuk kita bukan berarti itu yang tidak terbaik buat kita, awalnya memang akan sangat tidak menyenangkan namun aku yakin semakin kita jalanin semuanya semakin akan mendapatkan ridho dan berkah dari Allah subhanahu wa ta'ala.'
'Amin Ya Allah. Kamu udah salat subuh?'
__ADS_1
'Alhamdulillah udah. Aku lagi siap-siap mau buat sarapan.'
'Aku juga mulai sekarang akan memasak untuk suamiku. Bukankah suami kita itu akan sangat doyan jika istrinya yang masak sendiri?'
'Tapi kan kamu ada ART.'
'ART kan tugasnya bukan berarti hanya masak, aku yang akan masak buat suamiku mulai sekarang sesekali juga ART yang akan melakukan tugasnya, banyak tugas lain kan? Ya udah pagi ini aku akan menemuimu.'
'Iya, Nda, semangat ya,' kataku.
'Kamu juga semangat. Assalamualaikum.'
'Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.'
Aku tersenyum bangga pada diriku sendiri karena ada seseorang yang menyadari tentang apa yang aku katakan aku senang jika Tauziah yang aku berikan bisa merubah banyak orang untuk menjadi lebih baik. Winda sudah hijrah bahkan suaminya bersama-sama dirinya untuk mencari surga bersama-sama. Aku senang Winda bahagia atas itu aku juga harus bekerja lebih keras untuk membuat Mas Gino mau menjadi imam ku.
Aku membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan makanan setelah itu aku menaruhnya di atas meja dapur, setelah itu aku juga mengeluarkan beberapa telur dan daging ayam yang sudah aku awetkan di freezer. Setelah itu ayam aku rendam di atas wadah.
Aku mendesah nafas panjang dan aku tak berhenti tersenyum ketika mendengar perkataan Winda biasanya memindahkan bangun pagi namun akhirnya dia berjuang untuk bangun salat subuh bersama suaminya sebagai umat muslim sudah waktunya untuk hijrah ke arah yang benar.
__ADS_1