
Sampai di kediaman orang tua Regino, Andini—sang Mama menyambut keduanya dengan bahagia. Andini mengangkat jempolnya pada menantunya Rafania dengan melemparkan senyum.
Pernikahan Rafania dan Regino selama setahun ini memang bukan seperti pernikahan pada umumnya. Rafania terjebak dengan pernikahan ini karena Tania sepupunya memintanya untuk menjadi pengantin penggantinya. Rafania sudah menolak, namun Tania bersikeras dan membahas hutang piutang keluarga Rafania kepada mendiang Ayah Tania.
Meski Rafania masih tidak ingin melakukannya, sang Nenek Regino memintanya dengan membahas kematiannya. Rafania tidak tega menolak permintaan wanita tua itu. Dengan terpaksan pun Rafania mengiyakan dan memberikan dirinya untuk mengabdi kepada suaminya meski sang suami tidak menerimanya.
"Kak, tumben banget bareng sama Kak Rafania, apa Kakak sudah menyukai Kak Rafania?" tanya Saskia pada kakaknya yang kini tengah meneguk secangkir teh hangat yang sudah di siapkan Minu untuknya, Minu adalah ART di kediaman kedua orang tuanya.
"Tidak." jawab Regino.
"Terus? Jangankan bareng Kak Rafania kemari, melihat Kak Rafania saja, Kakak enggan."
Regino menoleh menatap sang Adik, lalu menutup mulut adiknya itu. "Anak kecil diam saja."
"Ish. Saskia bukan anak kecil lagi, Kak." rengek Saskia.
Sesekali Regino menatap sang istri yang tengah membantu sang Mama menyiapkan makan siang, karena hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kedua orang tua Regino.
"Kak, Saskia nonton loh ketika Kak Rafania memberi tauziah, teman-teman Saskia juga jadi muji Saskia sebagai Adik ipar. Aku kagum banget sama Kak Rafania, di umur semuda itu udah nguasain agama banget, aku jadi tertarik untuk belajar tentang islam." seru Saskia.
Regino menggeleng mendengar keseruan sang Adik. "Belajar tentang islam? Jadi, selama ini, kamu bukan islam?"
"Bukan gitu, Kak, Saskia pengen banget belajar lebih dalam lagi."
"Bagus itu, Sayang, agama kita memang mewajibkan kita untuk mengikuti setiap ajarannya." Kakak menimpali, ketika mendengar putrinya mengatakan hal itu.
"Udah. Kamu bantuin Mama saja nyiapin makanan." kata Regino, mengusir adiknya.
"Baiklah." Saskia beranjak dari duduknya dan menghampiri meja makan untuk membantu Rafania menata makanan di atas meja.
"Benar kata Saskia, Nak. Istrimu itu shaleha dan baik hati, selain itu dia juga seorang wirausaha sukses, Papa kagum memiliki menantu seperti itu, mengingat di Negara ini sangat jarang wanita sepertinya." puji Raman- sang Papa.
Beberapa minggu ini, Regino memang selalu mendengar pujian dari orang-orang terdekatnya dan orang-orang yang mengenalnya, sebagai suami siapa yang tidak akan bangga mendengar istrinya di puji seperti itu? Regino pun merasakan hal yang sama meski tak pernah ia tunjukkan.
.
Setelah makan siang, Rafania dan keluarga suaminya itu tengah duduk di ruang keluarga sembari menikmati beberapa cemilan yang sudah di bawa Rafania dari rumah.
"Enak sekali ini, Nak? Kamu beli di mana?" tanya sang Papa,
__ADS_1
"Pa, menantu kita ini, kan, pintar buat kue, jadi Papa jangan tanya kuenya beli di mana." sambung sang Mama.
"Oh, ya? Jadi, kue ini buatan Rafania?"
"Iya, Pa." jawab Rafania, sesekali menoleh ke arah suaminya yang sejak tadi diam saja.
"Bisa jadi nanti kalau Papa ada acara syukuran di kantor baru, bisa nyuruh kamu buat ya?" tanya sang Papa.
"Papa beli saja di luar kalau untuk itu mah." kata sang istri.
"Tapi, ini enak sekali loh, Ma."
"Ini tersedia setiap hari kok, Pa, di cafe saya, jadi bisa Papa pesan nanti." seru Rafania yang larut dalam perbincangan.
"Berapa keuntungan cafemu yang bisa kamu dapatkan tiap bulan?" tanya sang Papa yang sengaja memancing Regino untuk mendengar tentang istrinya.
"Lumayan, Pa." jawab Rafania.
"Lumayannya itu, seratus, juta apa ribu sebulan?" tanya Raman lagi.
"Sampai tiga atau lima ratus juta."
"Profitnya memang besar, Pa, karena Rafania memiliki tiga cafe." timpal Andini.
"Oh, ya? Papa baru tahu kamu memiliki tiga cafe. Di usia muda seperti ini memiliki usaha, luar biasa menurut Papa, kesuksesan di usia dini." kata sang Papa, membuat Regino hanya menyimak saja, meski pendengarannya sangat jelas mendengar bagaimana usaha istrinya itu, patut di banggakan. Pikirnya.
"Saya juga tidak akan seperti ini, Pa, jika tidak ada doa dari keluarga dan bantuan dari Kakak saya." jawab Rafania.
Raman mengangguk. "Oh, iya, bagaimana kabar kakakmu? Dia masih di Bandung?"
Rafania mengangguk. "Iya, Pa. Kak Radit baik-baik saja, dia masih di Bandung."
"Kapan kakakmu itu jalan-jalan ke Jakarta?"
"Katanya dia dan istri juga anaknya mau datang pekan depan, tapi saya belum tahu pasti."
"Suruh kakakmu jalan-jalan kemari, jika dia berkunjung ke Jakarta." kata sang Papa mertua.
Rafania mengangguk. "Iya, Pa. Insya Allah." Rafania merogoh isi tas bawaannya dan mengeluarkan sebuah amplop kecil berwarna coklat dan di taruh di atas meja. "Selamat ulang tahun pernikahan, Ma, Pa, ini hadiah untuk Mama dan Papa dari kami berdua."
__ADS_1
Regino sekilas melihat istrinya, hadiah? Sebagai anak pun dia tidak pernah memikirkan hadiah untuk kedua orangtuanya yang sudah menikah selama 35 tahun.
"Ini apa, Nak? Kalian menyiapkan hadiah? Padahal Mama sama Papa menganggap kedatangan kalian kemari adalah hadiah." kata Andini.
"Saya harap Mama juga Papa menerima hadiah dari kami ini."
"Di buka donk, Ma, Pa. Saskia penasaran apa isinya." seru Saskia.
"Saskia, kamu ini apa-apaan, sih?" sang Nenek menghentikan cucunya itu.
"Papa buka, ya." kata Raman, membuat Rafania mengangguk.
Benar kata orang, istrinya itu baik sekali dan selalu sabar dalam menghadapinya, Regino baru melihat sisi berbeda dari dirinya saat ini, ia lebih banyak memperhatikan Rafania istrinya.
Raman dan istrinya saling bertukar pandangan lalu melihat menantu mereka.
"Ini tiket haji untuk Mama juga Papa?" tanya Raman yang begitu tak menyangka.
"Iya, Pa. Mama juga Papa bisa berangkat bulan depan." jawab Rafania.
"Tapi—"
"Di terima ya, Ma." kata Rafania.
"Kalian menyiapkan tiket haji ini untuk kami? Kalian baik sekali, semoga rezki kalian makin melimpah, ya, Nak." kata Andini, menitikkan air mata melihat tiket haji yang di berikan menantunya.
"Dulu, saya menginginkan kedua orangtua saya bisa saya berangkatkan ke tanah suci." Rafania memberi jeda. "Namun, kedua orangtua saya meninggal sebelum saya memberangkatkan mereka." Rafania merunduk.
"Tapi, saya memiliki niat lain untuk menggantinya dengan memberangkatkan kedua mertua saya kelak."
"Dan, sekarang terkabulkan." kata Saskia. "Kakak baik banget, sih." Saskia memeluk Rafania, membuat Rafania tersenyum karena selama ini tidak pernah sedekat ini dengan Saskia.
Regino tidak pernah tahu jika kedua orangtua istrinya itu telah meninggal dunia, ia tidak pernah tahu bagaimana dan sejak kapan kedua orangtua istrinya meninggal. Regino merasa ibah meski masih berkeras hati untuk tidak menerima Rafania sebagai istrinya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1