
2017. Banyuwangi\, Jawa timur\, Indonesia .
Hiruk pikuk siang hari kota banyuwangi. Di dalam warung kopi, terdapat banyak sekali pelanggan yang
sedang berbincang-bincang. Pemandangan tersebut sangat normal terlihat saat istirahat kantor.
Terdapat sesosok pria umur sekitar 27 tahun sedang bermain hp di temani dengan rokok dan juga kopi. Pria tersebut menggunakan setelan sales kantoran yang norman. Di sebalah kanan dan kirinya juga terdapat beberapa pria yang memiliki setelan yang sama.
“oy…gimana penjualan hari ini?” tanya pria sebelah kiri
“oh.. normal seperti biasanya. Gimana denganmu?” jawabku
“sama saja untukku”jawabnya balik
Pria di sebelah kanan melihatku dan teman sebelah kiriku dengan serius. Tiba tiba dia bertanya kepadaku
“sudah 2 tahun kamu bekerja di sini, tujuanmu dulu untuk berbisnis setelah mendapatkan modal kan?”
Aku melihatnya balik dengan heran “kau mengejekku hah?” jawabku dengan sinis
Stelah mengenal 2 tahun dengan meraka. Aku menjadi akrab dan tidak tersinggung dengan candaan candaan
meraka.
Disebalah kananku pria dengan badan besar dan muka biasa saja bernama Bagus. Dan di sebelah kiri pria tinggi yang cukup tampan bernama Zidan. Aku sendiri dengan tinggi yang normal dan wajah yang cukup tampan bernama Pratama Bima. Biasa di panggil Bima.
Aku berumur 27 tahun ini. Aku yang merupakan sarjana manajemen sedang berkerja sebagai sales di
salah satu bank di banyuwangi. Kami bertiga dalam satu tim penjualan yang bertugas menawarkan produk-produk yang di sediakan bank untuk memperoleh nasabah baru.
Kebiasan kami di istirahat siang adalah mengisi tenaga di warung kopi.
“hahahah…. Kenapa? Sudah tidak memikirkannya lagi?” saut bagus lagu
Aku terdiam beberapa saat setalah Bagus menanyakan itu.
Aku dulu bercita-cita ingin membuat suatu bisnis sendiri. Aku berencana bekerja sementara untuk mendapatkan modal usaha.
Tetapi sekarang aku merasa aku tidak bisa melakukannya. Ada ketakutan dalam melakukan bisnis. Meski umurku masih 27 tahun tetapi aku sudah menikah dan memiliki putri kecil yang masih berumur 5 bulan.
__ADS_1
Aku sudah merasa nyaman dengan pengahasilan tetap ini. Jika aku keluar untuk berbisnis aku takut tidak berjalan baik. Akan berakibat menyeret keluargaku kejurang.
Dengan diamku itu. Bagus melihat ekspresiku yang tidak baik. Dia tidak meneruskan untuk
menggodaku.
Hari itu pun berlalu.
.
Pulang kerja menggunakan sepedah motor meticku. Antara rumah dan kantor hanya cukup 10 menit menaiki sepedah motor.
Rumahku berada di suatu perumahan biasa. Rumah dengan tipe 36. Rumah dengan 2 kamar, 1 dapur,1 kamar
mandi dan 1 ruang tamu. Rumah yang cukup bagi keluarga kecil ini.
Sesampainya di rumah aku di sambut dengan istiku yang cantik. Dia sedang menggendong putri kecilnya. Ini merupakan suatu kebiasan keluarga kami. Dia selalu menungguku pulang.
Kebiasan kecil ini membuatku yang lelah setelah bekerja kembali tersenyum. Aku selalu bahagia dengan hal-hal seperti itu.
Aku bertemu istriku pada saat di universitas. Aku yang merupakan mahasiswa ekonomi selalu hidup santai tidak terlalu terbebani oleh tugas. Jadi aku dan temen-temen mahasiswa ekonomi lainya hampir setiap malam nongkrong di café.
Pada suatu saat kami nongkrong. Selalu biasa ada banyak mahasiswa dari fakultas lain untuk nongkrong
Mereka masuk dengan formasi 5 orang. 2 laki-laki dan 3 wanita. Aku melihat meraka masuk lalu tidak mempedulikan mereka. tetapi pada saat mereka melewatiku aku sempat melihatnya lagi. Aku tertegun sejenak setelah melihatnya lagi, karna salah satu dari wanita itu membuat jantungku berdetak capat.
Aku tidak pernah percaya cinta pandangan pertama. Aku selalu percaya cinta itu tumbuh bukan muncul. Jadi yang aku percaya bahwa cinta harus di tumbuhkan perlahan bersama. Tetapi saat itu aku tiba-tiba menghilangkan kepercaanku itu.
Wanita yang telah melawatiku itu sangat membuatku terpana. Dia tidak secantik wanita-wanita yang sering kulihat di café. Tetapi dia sangat menawan, tinggi badan sekitar 165, rambut panjang terurai anggun.
Teman-temanku yang melihat aku focus pada hal lain akhirnya penasaran dan melihat apa yang sedang kulihat. Mereka lalu menggodaku untuk berkenal dengannya. Aku yang umunya pemalu sangat tidak ingin teman-temanku ikut campur dengan hal ini.
Malam semakin larut. Kami biasa berkumpul sampai café hampir tutup. Pelanggan lain biasa sudah pulang lebih dahulu. Malam itu aku tidak bisa focus dengan pembicaraan teman-temanku. Aku selalu mengintip ke wanita tadi.
Lalu pada saat mahasiswa music tadi keluar café aku pun melihatnya. Aku berharap dapat menemukan di social media pada saat aku mencarinya nanti. Lalu aku mulai focus dengan pembicaran karna dia sudah pergi.
Tetapi 10 menit setelah mereka pergi. Pada saat aku keluar dari kamar mandi. kebetulan aku melihat wanita itu berdiri di luar seperti menunggu seseorang. Aku berfikir mungkin dia tidak mendapatkan ojek atau emang lagi menunggu seseorang.
Lalu aku berfikir berani. Aku berfikir untuk berbicara padanya. Paling tidak berkenalan dan mengetahui namanya. Aku berfikri sebentar. Lalu aku memutuskan aku melupakan rasa Maluku dan menjadi berani sekali ini.
__ADS_1
Akhirnya aku pamit dengan temanku dengan alasan yang tidak jelas. Lalu aku keluar dari café, mencari sepedah motorku. Saat aku ingin berbicara dengannya. Tiba-tiba aku gugup, tetapi setelah mengambil nafas panjang akhirnya aku berani.
“permisi” aku menyapanya
Setelah mendengar sapaanku dia menoleh ke arahku. Lalu melihatku dari atas sampai bawah dengan tatapan penasaran. Dengan perasaan melindungi diri sendiri.
“hmm….anu…” dengan tetapan menelitinya tersebut aku merasa kurang nyaman
“ah…maaf” dia meminta maaf setelah sadar dia tidak sopan.
Setelah mendengar suaranya aku merasa nyaman. Semakin aku menyukainya.
“maaf… ada perlu apa ya?” tanyanya dengan penasaran
Aku tersadar dari lamunanku.
“uh…sebenernya aku malu mengatakan ini. Aku melihatmu masuk café tadi dengan teman-temanmu.” Aku mengatakan itu kepadanya
Lalu tiba-tiba hening beberapa saat. Wanita tersebut heran dengan kata-kataku.
Lalu aku memgatakan secara langsung “kamu sangat cantik”
Aku mengatakannya dengan senyum bahagia. Wanita tersebut terkejut, dan sampat mundur sedikit.
Mungkin dia perpikir aku aneh.
Sebelum dia mengatakan sesuatu. “ kalo boleh aku mau kenalan aja?”
“namaku Bima” lanjutku
Wanita itu belum menjawab apapun setelah itu. dia masih melihatku dengan heran.
“namamu?” aku menanyainya
“oh.. maaf aku sedikit terkejut. Kamu sangat aneh. Namaku Putri. Salam kenal” jawabnya
“Aneh??” Aku heran dengan kata ‘aneh’. Apakah aku aneh…..
“ah maaf kalau aku mengatakannya” wanita itu tanpa sadar meminta maaf
__ADS_1
Aku tidak mempermasalahkan itu. lalu aku menanyakan apa yang sedang dia lakukan disini. Ternyata dia sedang menjari ojek di online tetapi belum mendapatkannya. Akhirnya aku menawarinya tumpangan. Ternyata dia menerima tawaranku.
Akhirnya kami saling kenal. Berjalannya waktu kami menjadi pasangan. Hingga saat ini kami memiliki putri kecil bernama Fanny.