Mendadak Kaya

Mendadak Kaya
Bitcoin


__ADS_3

Setelah memasuki rumah dengan istriku. Sudah tersedia kopi hangat yang disiapkan istriku.


Aku bergegas mandi untuk menghilangkan penat. Lalu menonton tv bersama istri di ruang keluarga.


“bagaimana dengan pekerjaan hari ini?” dia bertanya padaku


Aku mendengar dia bertanya sambil meminum kopi yang sudah di siapkan.


“hari ini ya seperti biasanya, berkeliling mencari pelanggan”


Putri melihatku sambil tersenyum.


“pasti melelahkan” jawabnya


Aku lalu melihatnya. Aku selalu berharap bisa membahagiakannya. Tinggal di rumah luas berhalaman, membelikannya perhiasan, mengajaknya berlibur. Tetapi keadaan keuangan yang selalu berkecukupan membuat kehidupan keluarga yang biasa-biasa saja.


“aku pasti bekerja keras” gumamku tanpa sadar.


Dia terkejut dengan gumamanku. Lalu dia tersenyum.


Aku melihat senyuman nya menjadi lega dan sedikit malu dengan gumamanku sendiri.


Lalu kami hanya membicarakan kejadian-kejadian yang kami alami hari ini.


Bayi kecilku sudah tertidur di kamarnya. Sehingaa saat menjadi dunia kita berdua.


Berdiskusi, berhayal dengan harapan kita sendiri.


Lalu terdengar suara berita di TV yang sangat mncengankan.


Di beritakan bahwa nilai Bitcoin mencapai Rp. 300 juta perkepingnya.


Hal itu membuatku terkejut. Di karenakan pertama. Aku terkejut ada nilai luar biasa hanya dengan 1 electronic coin. Yang kedua sepertinya aku pernah mendengar tentang Bitcoin ini.


Aku berusaha mengingat ingat lagi tentang bitcoin ini.


Istriku di sebelah heran dengan keadaanku yang tiba-tiba mengerutkan kening di saat mendengarkan berita di TV.


“ada apa? kamu mengerutkan keningmu?” tanyanya


Aku tidak menjawabnya karna aku lagi serius mengingat lagi.


Lalu dia menepuk bahuku. Saat itu aku sadar.


“ oh tidak. Aku hanya terkejut dengan nilai koin tadi dan aku lagi mengingat sepertinya aku pernah berhubungan dengan koin tersebut saat awal kuliah” jawabku


Lalu dia membiarkanku mengingat-ingat. Beberapa menit berselang terdengar tangisan dari dalam kamar.

__ADS_1


Kami bergegas ke kamar untuk melihat bayi kecil itu. sepertinya bayi itu lapar. Putri memberikannya


ASI.


Malampun kami makan malam dan bersantai sambil menonton TV.


Sampai jam 9 malam akupun tiba-tiba teringat tentang bitcoin tadi.


Aku yang penasaranpun membuka laptop untuk menelusuri tentang bitcoin tersebut.


Sehingga aku memiliki ide untuk membuka akun perdagangan bitcoin. Aku mencoba mendaftar akun.


Tetapi tidak bisa. Ternyata aku sudah memiliki akun perdangan bitcoin.


Aku terkejut, masih belum ingat kapan aku mendaftarkan akun ini. Sekali lagi aku termenung beberapa saat untuk mengingat lagi.


Istriku mendatangiku karna melihat aku termenung lagi. Aku menceritakannya bahwa aku penasaran dengan bitcoin dan tentang aku memiliki akun.


Lalu dia menyarankan untuk membuka saja akun tersebut.


Aku menurutinya, login menggunakan emailku dan memasukan password. Ternyata bener bisa untuk login.


Aku hanya memiliki 1 email tidak pernah membuat yang lain. Sehingga semua akses internet menggunakan email yang sama.


Dengan masuknya akun tersebut aku melihat istriku lagi sambil tersenyum. Istriku pun balas


tersenyum.


Hingga aku mengklik bagian portopolio. Terbukalah portopolio yang seharusnya bagian transaksi yang


masih tersimpan.


Aku tidak mengharapkan apapun tentang bitcoin. Sehingga aku mengkliknya tanpa berfikir.


Kami terkejut dan saling melihat dengan tatapan heran. Aku melihat di layar laptopku lagi lalu melihat istriku lagi. Hal tersebut terjadi beberapa kali. Istrikupun melakukan hal yang sama.


Aku merefresh halaman tersebut dan hal yang sama masih muncul, tidak ada perubahan.


Dihalam tersebut tertulis bahwa aku masih memiliki 100 bitcoin dengan harga $19.000 percoin sehinga nilai 100 bitcoin sebesar $1.900.000. jika di rupiahkan sekitar Rp. 26,6 milyar.


Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Beberapa kali ku refersh halaman tersebut, angkanya


tidak berubah.


Aku berdiri dari kursi, mengambil rokok lalu menyalahkannya sambil berfikir.


Istriku menggantikanku duduk di kursi sambil terus merefresh halaman tersebut. Lalu dia melihatku dengan tatapan penasaran. Dia seperti menyakan bagaimana ini terjadi,

__ADS_1


Akupun melihatnya dengan tatapan bahwa aku masih berusaha mengingatnya.


Setengah jam berlalu aku tiba-tiba menghembuskan nafas berat. Sekarang aku mengingatnya.


Awal masuk kuliah dulu pada tahun 2010. Aku mengenal seorang teman yang sangat antusias tentang bitcoin. Bahkan aku lupa dengan namanya saat ini.


Aku mengenalnya di saat ospek sehingaa kami bercampur dengan mahasiswa fakultas lain. Dia membicarakan


bitcoin setiap kami kumpul sehingga akupun ikut terjerumus dalam hasutan untuk membelinya.


Aku ikut membelinya yang pada saat itu aku menghabiskan setengah tabunganku yang kukumpukan dari uang saku SMA. Aku menghabiskan Rp. 1.500.000 untuk membelinya.


Aku dulu merasa tertekan dan menyesal membeli itu. tetapi aku masih tegoda dengan kata-katanya bahwa nilai bitocin akan melonjak tinggi.


Setahun berlalu kamipun jarang berkempul dan terbentuknya jarak. Di karenakan kesibukan masing-masing dan mendapatkan teman-teman baru di fakultas masing-masing. Sehingga aku tidak mengingatnya lagi. Bahkan aku melupakan tentang 1,5 jutaku yang kumasukan di bitcoin.


Tetapi sekarang aku merasa bersyukur dengan hasutannya.


Istriku melihatku menghela nafas. Dia bertanya bagaimana. Akupun menceritakannya asal usul hal tersebut.


Setelah mencertiakan kami saling menghelakan nafas berat.


Tiba-tiba istriku menangis. Akupun membiarkannya. Karna aku merasakan perasaan bersyukur yang sama. Tetapi aku menahannya.


“lalu bagaimana sekarang?” tanyanya tiba-tiba


Aku berfikir lagi dengan pertanyaannya. Aku berfikir sabaiknya aku uangkan saja ini. Karna aku tidak yakin bahwa nilai ini akan bertahan.


Aku berdiskusi dengan istriku dan dia setuju. Karna dia berfikir bahwa nilai 26,6 milyar rupiah merupakan uang yang sangat banyak. Bahkan dia mungkin berfikir sampai dia tua uang tersebut tidak akan habis.


Tetapi aku berfikir berbeda dengannya. Aku akan menghabiskan uang tersebut untuk berbisnis. Aku akan membuat bisnis yang menjanjikan untuk masa tua dan anak-anakku. Sehingga hidup tenang.


Lalu kami menjual 100 bitcoin tersebut. Mungkin di karenakan berita tadi 100 yang aku taruh langsung terjual habis.


Aku merasakan kebahagiaan yang sangat besar. Sekarang aku bisa melanjutkan ide bisnisku di masa lalu.


Lalu kami menelusuri cara menguangkan ke bank Indonesia.


Ternyata menjualnya bisa langsung di konversikan ke rupiah. Aku hanya perlu meningkatkan kartu atmku sehingga mampu memasukan milyaran rupiah.


Aku tidak bisa membayangkan hanya dengan satu malam hidupku berubah. Nilaiku sekarang adalah


milyaran. Aku dan istriku di takdirkan untuk tidak tidur nyenyak malam ini. Masih belum percaya akan apa yang terjadi.


Aku meminta ijin kepada istriku untuk keluar dari pekerjaanku untuk melakukan bisnis. Pertama kali mendengarnya, istriku tidak yakin.


Lalu aku memberitahunya rencanaku. Pertama aku akan membeli  rumah kos. 2 di Surabaya dan 2 di jember. Rumah kos tersebut menjadi jaminan kita dalam penghasilan bulanan. Aku meyakinkannya bahwa rumah kos

__ADS_1


dengan 20 kamar di Surabaya akan menghasilkan banyak uang perbulan. Jika dimisalkan harga sewa 1 kamar kos 600rb perbulan maka penghasilan rumah kos sebesar 12juta perbulan. Sehingga  rumah kos di harapkan dapat menghasilkan 48 juta perbulan. Hasil tersebut akan menjadi penghasilan tetap keluarga kami.


Dengan penjelasan tersebut istrikupun menjadi tercerahkan. Dengan hasil tersebut keluarga kami tidak masalah dengan uang. Akhirnya dia setuju dan akupun bilang padanya bahwa masing masing keluarga kita akan aku beri 500jt. Uang sebesar itu bisa menenangkan masing-masing orang tua kita.


__ADS_2