
Satria terdiam mendengar ucapan ibunya, dia tidak tahu harus merespon apa, belum lama saat perkumpulan bersama teman-temannya Satria menjadi bahan obrolan mengenai kapan akan menikah.
"Sat, kenapa bengong?," Tanya Mama membuyarkan lamunan Satria.
"Enggak bengong, Ma. Cuma Satria bingung bagaimana merespon permintaan Mama, apa harus Satria mengiyakan permintaan Mama, lalu bagaimana kalau Satria tidak bisa membahagiakan Fakhira? pada akhirnya aku akan mengecewakan Mama dan keluarga lainnya," sahut satria
"Apa kamu sama sekali tidak berminat untuk menikah? kalau kamu tidak menyukai Fakhira setidaknya kamu perkenalkan wanita lain yang menjadi pilihan kamu. Satria, kamu harus berusaha melawan ketakutan kamu, karena hal yang kamu khawatiran belum tentu terjadi. Mama hanya ingin melihat kamu bahagia, membina rumah tangga seperti teman-teman seumuran kamu,"
"Apa yang Mama kamu katakan benar Sat, Bapak tidak pernah meminta banyak hal pada kalian setidaknya kali ini kamu mau menerima usulan kami untuk menikah, meskipun tidak dengan Fakhira, " ucap Bapak menimpali ucapan sang istri.
"Mas, Satya juga berharap kalau Mas memiliki keluarga yang akan mendukung Mas selain kami, jika memang Mas takut dengan kemungkinan tentang keturunan, menikahi Fakhira adalah pilihan yang tepat. Dian pernah menikah dan memiliki seorang anak, Mas bisa menganggapnya sebagai anak sendiri, terlebih dia seorang anak yatim yang telah kehilangan sosok ayah sejak kecil, bukankah hal itu menjadi nilai plus untuk masuk dalam kehidupan mereka?,"
Satria mencerna ucapan ketiganya, merasa memiliki banyak kekurangan dan tidak bisa menjadi manusia normal seperti sebelumnya adalah situasi yang ia hadapi beberapa tahun ini. Bersyukur punya keluarga dan lingkungan yang sangat mendukung membuat Satria melupakan sebagian kekhawatirannya.
"Apa kalian yakin dengan ucapan kalian? apa Fakhira tidak akan menuntut banyak hal dari aku yang memiliki banyak kekurangan ini?,'
"Kami yakin Sat, bukankah manusia tidak ada yang sempurna begitu juga kamu dan Fakhira. Kalian bisa saling menyempurnakan dengan kekurangan yang kalian miliki, doa Mama dan yang lainnya akan selalu menyertai kebahagiaan kamu."
"Seandainya aku menyetujui permintaan Mama, apakah Fakhira dan keluarganya setuju?,"
"Mama yakin mereka akan menyetujui rencana ini, karena keluarga Fakhira pun merasakan kekhawatiran pada putri mereka yang tak kunjung membina rumah tangga kembali, sedangkan anaknya masih membutuhkan sosok seorang ayah,"
"Beri aku waktu untuk memikirkan kembali hal ini, dan aku juga ingin meminta petunjuk dari Allah,"
"Lakukanlah Mas, kami akan menunggu jawaban mu secepatnya, " ucap Mama mengakhiri percakapan.
__ADS_1
***
Obrolan malam itu memberi secerca harapan, Mama melangitkan pintanya agar semua yang ia harapkan menjadi kenyataan.
"Mama harap keinginan kita memiliki menantu lagi terpenuhi, bapak jangan lupa bantu doa agar hati anak bapak dibukakan dan dilembutkan "
"Tanpa diminta pun bapak selalu berdoa untuk kebahagiaan anak-anak dan keluarga, bukankah upaya terakhir kita adalah berdoa sebanyak mungkin, setelah semua usaha sudah dilakukan?,"
"Iya Mama tahu, tapi Mama sangat berharap kalau Fakhira akan menjadi menantu kita, "
"Jangan terlalu memaksakan Ma, takutnya kedepannya tidak akan baik. Kita lihat dan tunggu saja apa yang akan terjadi, tugas kita hanya berdoa, "
"Iya Pak,"
***
Semua keluarga sudah berkumpul dan duduk ditempat nya masing-masing, kedatangan keluarga bapak Jatmika tanpa memberi tahu lebih dulu membuat keluarga Fakhira kebingungan apalagi mereka datang dengan menggunakan pakaian formal, seperti akan pergi ke suatu acara. Meskipun begitu mereka tetap menyambut dengan baik.
"Assalamualaikum ibu Atikah, maaf atas kedatangan keluarga kami yang sangat mendadak ini. Kami ingin bersilaturahmi dan selain itu kami juga punya maksud dan tujuan datang ke sini," ucap bu Ismayan.
"Waalaikumsallam, Bu Ismayan. Iya saya kaget sekali tiba-tiba kedatangan tamu dari jauh, silakan masuk, Bu, pak, Mas semuanya, " ucap bu atikah
"Terima kasih, " sahut mereka yang datang.
Ditempat sederhana tanpa sofa atau bangku yang nyaman, mereka duduk lesehan diatas tikar yang sudah gelar oleh pemilik rumah. Rumah sederhana yang hanya memiliki 3 kamar, ruang tamu, ruang tengah dapur yang tidak terlalu besar dan satu kamar mandi yang digunakan bersamasama. Jauh berbeda dengan keadaan bu Ismayan dan keluarga, mereka memiliki rumah yang lumayan besar, kamar yang cukup banyak dengan masing-masing kamar mandi di dalamnya, belum lagi area dapur yang menyatu dengan taman belakang, ah seperti langit dan bumi keadaan mereka.
__ADS_1
Bu atikah membawa beberapa cangkir teh hangat dan cemilan ala kampung yang kebetulan dibuat oleh bu atikah.
" Bu, ko rumah sepi pada kemana?"
"Iya bu, mereka sedang keluar. Fikri sedang kuliah, lalu Fakhira sedang mengantar Alesa sekolah, mungkin sebentar lagi pulang, "
Setelah mendapat jawaban dari bu atikah kemudian bu Ismayan menyenggol bahu sang anak sulung namun satria nampak acuh, kedatangannya kesini pun karena di paksa oleh Mama nya yang mau tidak mau menyetujui semua rencana yang diinginkan termasuk menikah dengan Fakhira. Setelah mendapat respon yang tidak baik dari sang putra akhirnya bu Ismayan memberi kode pada suaminya untuk bicara dan pak jatmika memahaminya.
"Jadi gini bu, kedatangan saya dan keluarga ke sini untuk membahas perihal rencana lalu untuk menjodohkan anak-anak kita.." ucap Pak jatmika belum selesai.
Bu atikah mengernyitkan dahinya rencana perjodohan yang mana yang di maksud, dia pikir itu hanya candaan saja untuk menghidupkan suasana.
"Saya pikir waktu itu hanya bercanda saja pak, soalnya kita melakukannya dengan canda tawa, ternyata ini serius toh?,"
"Kami serius bu, toh Satria dan Fakhira sama-sama sendiri jadi tidak masalah kalau kita menyatukan mereka," sahut bu Ismayan.
"Kalau begitu saya panggil mamang dari Fakhira dan uwa nya saja. Saya juga akan menelepon Fakhira untuk pulang lebih awal,"
"Silakan bu atikah, "
Awal yang dipikir hanya silaturahmi biasa menjadi acara keluarga yang serius, karena ini hubungannya dengan pernikahan. Fakhira sendiri belum tahu kalau dia dijodohkan karena memang sejak awal anak itu begitu sulit menerima ajakan untuk menikah lagi, alasannya ingin membesarkan Alesa sendiri, padahal dari keluarga mendiang suaminya pun sudah menyuruh Fakhira untuk menikah lagi.
Semua keluarga sudah berkumpul termasuk saudara dan tetangga, tak lama Fakhira dan Putranya datang sambil menatap ke arah rumah dengan heran karena suasana rumah yang tidak biasa.
"Bu, napa lumah kita lamai cekali, apa ada acala ulang tahun sepeti di lumah Dila?" ucap Alesa masih dengan wajah bertanya-tanya .
__ADS_1
"Ibu juga tidak tahu, sebaiknya kita masuk,"