Menikah Demi Anakku

Menikah Demi Anakku
Keluarga baru


__ADS_3

Semua tetangga dan keluarga sudah pulang ke rumah masing-masing dengan membawa bingkisan yang serba dadakan sebagai ganti perasmanan yang tidak tersedia, kini tinggal tersisa keluarga inti dari Fakhira dan satria.


"Mama senang akhirnya setelah 15 tahun berlalu Fakhira pun jadi anak mama juga. Takdir memang semisterius ini ya? Mama harap kalian bisa saling menerima dan menjaga satu sama lain. Doa Mama selalu yang terbaik untuk kehidupan anak-anak mama, " ucap bu Ismayan


"Ibu juga bahagia akhirnya Fakhira menikah juga setelah sekian tahun membujuk dan merayu agar anak perempuan ibu ini bisa memulai hidup baru dan mencari kebahagiaan untuk diri." sambung Bu atikah.


Fakhira dan satria hanya duduk sambil mendengarkan wejangan orangtuanya tanpa berniat menjawab atau sekedar memprotes.


Alesa yang sejak tadi duduk dipangkuan pamannya kini beralih pada pangkuan Fakhira, ia terus menatap laki-laki yang saat ini sudah menjadi ayahnya, namun Satria masih terlalu canggung untuk berbasa-basi atau sekadar beramahtamah pada gadis yang usianya hampir seumuran dengan Ruby sang keponakan.


"Ibu sama om danteng ini syudah menikah kan? belalti sekalang om ini ayahnya echa? tanya Alesa yang sejak tadi hanya menyimak obrolan orang tua dan kini ia ingin menuntaskan rasa penasarannya.


Fakhira yang sedang memangku Alesa bingung harus menjawab apa, karena laki-laki yang beberapa saat lalu menjadi suaminya itu masih bersikap dingin atau sebenarnya dia pun canggung seperti dirinya.


"Tentu sayang, mulai saat ini kamu bisa memanggil om ganteng ini dengan sebutan ayah," sahut bu Ismayan


"Benalkah?" sahutnya antusias.


"Tentu saja, dan mulai saat ini kamu juga adalah cucu uti, "


"Uti? apa itu nek?," sebutan uti yang masih asing ditelingan gadis cilik itu.


"Uti itu sebutan untuk nenek sayang. Uti ini orang jawa tengah jadi mengikuti kebiasaan dikampung, nah kalo yang ini kamu bisa panggil abah atau kakek dia sama-sama orang sunda seperti ibu mu hehe," ucap bu Ismayan sambil merangkul sang suami, sedangkan pak jatmika hanya tersenyum ramah pada gadis cilik itu.


"oh ditu, jadi aku panggil nenek Uti dan kakek ? cudahlah aku panggil kakek saja libet ganti ganti,"

__ADS_1


"Iya senyamannya kamu saja, Uti juga ingin memperkenalkan keluarga lain sama kamu sayang. Lihat tiga orang yang ada di sebelah kakek, mereka anak uti juga adik dari ayah satria, namanya Om Satya, dan sèbelahnya ada tante Salma terus yang dipangku tante salma namanya Ruby dia satu tahun dibawah kamu, jadi kamu bisa panggil dia adik Ruby, " Bu Ismayan memperkenalkan keluarga lain kepada Alesa meskipun sedikit bingung tapi dia gadis yang cepat tanggap setidaknya dia tahu kalau mereka keluarga ayahnya yang baru.


"Assalamualaikum anak cantik, nanti kamu bisa jadi teman anak om pas di bandung. Adik ruby punya banyak mainan loh apalagi di rumah uti, " ucap Satya sedang Salma hanya tersenyum manis pada Alesa, lalu bagaimana dengan Ruby? gadis itu tidak paham dengan situasi saat ini, yang ia mengerti Alesa akan jadi temannya bermain, namun karena gadis itu tidak mudah akrab dengan orang lain jadi dia hanya diam saja.


"Tapi kan echa tinggal sini, jauh sekali kalau kelumah om sana," ucap Alesa.


"Kamu juga akan tinggal di bandung bareng sama kita," ucap bu Ismayan, kali ini bukan hanya alesa ,tapi Fakhira pun terkejut, apa harus secepat itu berpisah dengan keluarganya?


"Jadi echa akan tinggal sana duga bareng Uti, kakek dan semua?,"


Bu Ismayan hanya menganguk, lalu tak lama Fakhira bicara.


"Apa harus secepat itu bu? saya belum izin kepemilik toko tempat saya bekerja, soalnya semua serba mendadak jadi saya tidak mungkin begitu saja pergi tanpa berpamitan, " ucap Fakhira


"Hmmh seperti itu ya padahal Mama sudah tidak sabar dengan kedatangan mereka ditempat kita, tapi Yasudah mau bagaimana lagi,"


"Sat, berarti malam ini kamu menginap di sini, kami akan pulang lebih dulu, besok setelah berpamitan pada pemilik toko tempat Fakhira bekerja dan keluarga yang lain tolong secepatnya bawa pulang cucu dan mantu ibu,"


Kali ini Satria yang sedikit terkejut, bagaimana bisa ia ditinggalkan bersama keluarga Fakhira yang masih baru bagi dirinya, meskipun sudah mengenal tapi mereka tidak sedekat itu juga untuk menjadi keluarga. Tapi laki-laki itu pun tidak bisa menolak karena statusnya yang sudah menjadi suami bahkan ayah dari seorang anak gadis.


Setelah shalat magrib semua keluarga Satria pamit untuk pulang ke bandung, mereka tidak bisa menginap di rumah bu atikah karena keterbatasan tempat, untuk mencari hotel pun cukup jauh harus pergi ke kota . Jadi mereka memutuskan untuk pulang dan menghabiskan beberapa jam di jalan untuk sampai tujuan.


Kecanggungan mulai terasa saat jam tidur malam tiba, kini Fakhira tidak bersama putrinya karena sang ibu sudah mengambil gadis cilik itu untuk tidur di kamarnya. Sedangkan Satria bingung harus melakukan apa bersama seorang perempuan dalam satu ruangan, begitu juga dengan Fakhira.


"Mas sudah mau tidur?," ucap Fakhira membuyarkan lamunan Satria.

__ADS_1


"Ya? kenapa?,"


Fakhira menghela nafasnya karena Satria sedang tidak fokus.


"Mas Satria mau langsung tidur?,"


"Saya sangat lelah sekali, tapi saya tidur di mana? kasur ini cuma satu, apa ada sejenis tikar atau kasur lantai? saya bisa tidur di bawah dan kamu diatas tempat tidur,"


"Kenapa harus di bawah, Mas bisa tidur di kasur ini bersama ku, kita kan sudah sah secara agama sebagai suami istri, jadi apa salahnya berbagi tempat tidur,"


"Apa kamu tidak keberatan? kamu tidur dengan saya yang baru beberapa jam menjadi suami mu, apa tidak takut?," ucap Satria konyol.


"Apa yang harus aku takutkan? Mas sudah menjadi suamiku, lagi pula Mas tidak akan melakukan apapun kan terhadap aku?,"


Pertanyaan itu berhasil membuat satria kaget, Memangnya apa yang akan dia lakukan ? meskipun dia laki-laki normal namun ia masih bisa menahan hal itu bahkan sudah 35 tahun lamanya, masa semalam saja sudah kalah tinggal satu ruangan bersama perempuan.


"Tentu saja, tapi saya tidak terbiasa tidur dengan orang lain, " ucap Satria yang masih menganggap Fakhira orang lain.


Meskipun ada sedikit rasa kecewa terhadap jawaban satria, Fakhira pun menghargai itu.


"Yasudah kamu tidur di kasur ini biar aku ke kamar ibu saja. Dan ini baju ganti yang sebelumnya Aku pinjam dari Fikri, "


Setelah menyerahkan pakaian milik Fikri, Fakhira pun segera pergi dari kamarnya, namun baru beberapa langkah Satria menahan nya.


"Jangan pergi!"

__ADS_1


__ADS_2