Menikah Demi Anakku

Menikah Demi Anakku
Menikah siri


__ADS_3

Satria kebingungan harus bicara apa dengan gadis kecil yang ada dipangkuan Fakhira. Mengerti akan kegugupan sang putra, Bu Ismayan pun mengambil alih untuk berbicara dengan gadis kecil yang wajahnya sama persis dengan Fakhira itu.


"Maaf saya mengambil alih sebentar," ucap bu Ismayan dan dipersilakan.


"Anak cantik, boleh nenek menjawab pertanyaan kamu yang tadi sempat tertunda?" ucap bu Ismayan pada Alesa.


Alesa menganguk meskipun sudah tidak penasaran lagi.


"Jadi gini, om ini adalah anaknya nenek, om datang kesini untuk mengajak mama kamu menikah. Kalau alesa Tanya menikah itu apa? jawabannya adalah ibu kamu dan om hidup bersama dan ada kamu juga, kamu bisa menjadikan om ini ayah kamu asal ibu dan om satria harus menikah dan hidup bersama,"


"Oh sepelti ayah dan bundana Dila ya nek, meleka belsama setiap hali? kesekolah belsama, ke mol belsama, telus kata Dila meleka juga seling tidul bertiga,"


"Iya seperti itu sayang, apa Alesa mau?,"


Alesa pun menganguk dengan polosnya, hal itu membuat Fakhira sedikit terkejut. Meskipun tidak aneh lagi kalau dia menginginkan kehadiran seorang ayah, jika sudah begini Fakhira bisa apa?


"Jadi beneran kamu mau?" Tanya ulang bu Ismayan, dan Alesa lagi-lagi menganguk seolah yakin dengan jawabannya.


"Alhamdulillah, " ucap semua keluarga merasa lega.


"Fakhira, Alesa sudah bersedia, jadi apa jawaban kamu sama seperti anak mu?" Tanya bu Ismayan berpindah pada Fakhira.


"Bismillah, atas restu keluarga dan juga Alesa, aku menerima lamaran Mas Satria, " sahut Fakhira gugup.

__ADS_1


"Alhamdulillah, " ucap syukur yang kedua kalinya terucap dari orang-orang yang ada di ruangan itu karena bahagia dengan jawaban Fakhira.


"Jadi kapan kalian akan meresmikan kejenjang pernikahan?," Tanya mantan mertua laki-laki Fakhira, Pak Amin namanya. Laki-laki paruh baya itu sangat menyayangi Fakhira dan cucunya, terlebih saat Fakhira mendampingi almarhum Putranya yang sakit. Ia menyadari hanya sedikit kebahagiaan yang diberikan Putranya, dan berharap suatu saat nanti ada laki-laki yang bisa membahagiakan cucunya terutama Fakhira.


"Pak, maafkan Fakhira yang tidak bisa setia dengan Mas Hafiz selamanya," ucap Fakhira menunduk sambil menahan lelehan airmatanya. Pak Amin tersenyum.


"Nak, sejak awal kami sudah meridhoi kamu untuk menikah lagi, perjuangan kamu tidak mudah jika hanya seorang diri apalagi usia mu masih muda. Berbahagialah nak, dan untuk mas Satria bapak titip mantu dan cucu bapak, bahagiakan mereka karena sebelumnya anak bapak tidak maksimal melakukannya. Fakhira gadis yang baik, dia tidak pernah mengeluh sedikit pun saat anak saya sakit, bahkan dia merawat dan mengurusnya sampai anak bapak menyerah pada takdir Allah. Sekali lagi jangan sia-siakan mereka,"


Keadaan menjadi haru biru, dilubuk hati yang terdalam Satria merasa kagum dengan perjuangan Fakhira, namun untuk saat ini ia belum bisa menjanjikan apapun, Satria hanya akan berusaha melawan rasa takut dan hidup senormal mungkin dengan kehidupannya nanti.


"In syaa Allah, Pak. Saya tidak bisa menjanjikan apapun namun saya akan berusaha melakukannya, " ucap Satria terus terang.


Pak Amin menganguk dan tersenyum " Jadi kapan pernikahan kalian akan dilangsungkan? lebih cepat lebih baik, jangan sampai menunda terlalu lama,"


Saat pertanyaan itu kembali terlontar, Satria bingung harus menjawab apa sedangkan semua rencana ada pada ibunya. Saat Satria sedang merasa bingung tiba-tiba Pak Ustadz menyarankan hal yang tak terduga.


ucapan Pak Ustadz bagaikan angin segar bagi keluarga dan tanpa lama mereka mengiyan ucapan pak Ustadz yang pekerjaan utamanya sebagai Amil di KUA Kabupaten Bogor. Sedang Fakhira dan satria hanya bisa pasrah


"Kami setuju pak Ustadz, " ucap keluarga yang mengharap kan terlaksananya pernikahan ini, tak lama Fikri datang dengan motor legenda nya, ia pun sama menatap heran keadaan rumahnya yang cukup ramai tidak seperti biasanya.


" Assalamualaikum, " ucap salam Fikri.


"Waalaikumsallam, " sahut semuanya.

__ADS_1


"Wah wali nikahnya sudah datang ni," ucap Pak Ustadz yang sedang mengisi biodata sepasang calon pengantin dam beberapa saksi, pernyataan diri yang sudah ditulis tinggal ditandatangani.


Fikri yang baru datang pun sedikit kaget karena ucapan pak Ustadz, wali nikah? siapa yang akan menikah? setaunya sang kakak masih ogah untuk menikah.


Mengerti akan keterkejutan Fikri sang ibu memberikan penjelasan.


"Teteh mu akan menikah dengan Mas Satria hari ini," ucap ibu


"Hah?" sahut Fikri singkat karena benar-benar kaget.


"Sudah duduk Fik, nanti kamu pingsan ," ucap salah satu warga yang menjadi saksi hari itu, semua orang tertawa dan Fikri hanya menuruti lalu duduk di samping kakaknya.


Dia menyenggol bahu sang kakak.


"Teteh serius akan menikah?," ucap Fikri berbisik dan Fakhira hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban dia pun tidak mengerti dengan situasi saat ini.


Mendapatkan respon seperti itu membuat Fikri menyadari bahwa ini bukan kehendak sang kakak, namun meskipun begitu Fikri mendukung rencana keluarganya. Fikri tahu kesulitan kakaknya selama ini, dia harus pergi bekerja menjaga toko sembako milik orang lain setiap hari, bahkan tak jarang ia selalu melupakan kebahagiaan diri hanya untuk membahagiakan anak dan keluarganya.


Fikri tahu keadaan keluarganya dan keluarga Satria sangat berbeda, untuk itu mungkin ini sebuah takdir bagi mereka bertemu kembali dengan keluarga angkatnya bahkan sebentar lagi akan menjadi keluarga sesungguhnya bagi fakhira.


Setelah melaksanakan shalat Juhur, surat pernyataan sudah selesai diisi dan ditandatangani, maskawin berupa kalung berlian milik bu Ismayan pun sudah dilepas untuk dijadikan mahar, maklum saja persiapan mereka serba mendadak jadi tidak sempat membeli cincin.


Dalam suasana sederhana tanpa baju pengantin dan riasan apalagi dekorasi yang mewah pernikahan itu pun terlaksana dengan penuh kehikmatan. Para tetangga yang hadir dan menyaksikan pun turut mendoakan kebahagiaan Fakhira, karena mereka mengenal baik Fakhira, seorang perempuan yang tidak banyak tingkah meskipun situasi dan kondisi memungkinkan.

__ADS_1


"Sah..." ucap para saksi


"Alhamdulillah, " seperti bernafas lega bahkan semua keluarga menangis haru. Doa doa pun dipanjatkan oleh Pak Ustadz sebagai penutup dari rangkaian acara hari ini sekaligus mendoakan kebahagiaan pengantin baru, doa pun di Aamiinkan oleh keluarga dan para tamu.


__ADS_2