Menikah Tapi Sendiri

Menikah Tapi Sendiri
Hari Pernikahan


__ADS_3

Setelah semua persiapan selesai, akhirnya besok adalah hari dimana Dinda akan memasuki kehidupan yang baru.


"Sayang...aku kangen"


Betapa terkejutnya Dinda melihat isi pesan seorang wanita di akun calon suaminya yang akan menikah dengannya.


"Putri?"


"Siapa perempuan ini?"


"Ada hubungan apa dengan calon suamiku?"


Dia tidak pernah menaruh kecurigaan sedikitpun karena selama ini tunangannya terlihat tulus dan setia kepadanya.


Entah karena dorongan apa, malam itu Dinda yang tidak pernah mengecek akun tunangannya tiba-tiba merasa penasaran.


"Aku juga kangen kamu"


Deg..


Seketika jantungnya terasa berhenti melihat balasan pesan itu.


Dinda tidak menyangka di balik sosok tunangan yang terlihat sangat mencintainya ternyata menyimpan rahasia dibalik sikapnya yang lugu.


Calon suaminya bernama Arkan, dia adalah seorang pria yang mempunyai sisi yang baik, perhatian dan penuh kasih sayang.


Alis yang tebal, mata yang besar dengan bulu mata yang panjang serta bentuk bibir yang tipis dan terkadang dia juga terlihat berbeda saat menumbuhkan kumis dan brewoknya.


Dia tidak terlalu tinggi sekitar 170cm dan perawakan yang tidak terlalu kurus,sedikit berotot dengan punggung yang lebar.


Dinda tidak tahu lagi harus berbuat apa, tapi ini semua menyangkut masa depannya.


Undangan sudah terlanjur di sebar, segalanya sudah di persiapkan dan pernikahan itu sudah di depan mata.


Dia tidak ingin membuat keluarganya malu jika dia harus membatalkan pernikahan sehari sebelumnya.


Dia memutuskan untuk menghubungi tunangannya dan menanyakan tentang hubungannya dengan putri.


"Halo, sayang"


"Iya.. ada apa sayang? sudah malam kenapa belum tidur? besok kan kita akan menikah"


"Tolong kamu jujur, siapa putri?"


"Putri? siapa itu, aku tidak kenal"


Arkan berpura-pura tidak mengenal perempuan itu.


"Jangan bohong, buktinya kamu balas dia di akunmu"


"Oh... itu, kamu salah paham sayang...putri itu saudara jauh aku"


"Selama ini aku tidak pernah tahu kamu punya saudara bernama putri"


"I..itu karena dia kan jauh jadi tidak mungkin kita bertemu makanya aku tidak mengenalkan ke kamu, sayang"


Arkan berdalih dan membuat kebohongan yang rapi.


"Aku tidak percaya, kamu pasti selingkuh kan?"


"Padahal aku sudah jelaskan semuanya tapi kamu tidak percaya. Terserah kamu saja, yang penting aku sudah jujur. kalau kamu tetap tidak percaya,aku tidak tahu besok datang atau tidak. Sudah ya aku lelah"


Arkan menutup telfon dari Dinda dan menyisakan tanda tanya.


Dalam hati dinda sangat terluka dan dia tahu bahwa tunangannya membohongi dirinya tapi dia menolak kenyataan itu dan tidak mau kehilangan Arkan.


Dia terus mencoba menghubungi Arkan tetapi tidak ada jawaban, dia takut besok Arkan benar-benar tidak hadir di pernikahan mereka.


Dinda mengirim banyak pesan meski dalam posisi hati yang terluka tapi dia meminta maaf karena tidak mempercayai tunangannya.

__ADS_1


Dia tidak bisa tidur sama sekali, dia menangis, takut dan khawatir tapi tunangannya tidak menghubungi sama sekali.


Dia akhirnya menghubungi sahabatnya Martin sambil menangis.


"Hiks.. hiks.."


"Halo?"


"Dinda kamu kenapa?"


Dinda menceritakan semuanya dan Martin sangat marah dan tidak terima.


Setiap ada masalah apapun Dinda memang hanya menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu.


"Kamu tidak perlu khawatir Dinda, aku pastikan dia pasti datang ke pernikahan"


"Ta.. tapi kalau dia tidak datang bagaimana?"


"Sudah jangan di ambil pusing, lebih baik kamu tidur dan kompres mata kamu biar tidak bengkak"


"Iya.. Makasih ya kamu selalu ada saat aku sedang ada masalah"


Mendengar penghiburan dari sahabatnya itu setidaknya membuat Dinda tidak terlalu memikirkan meskipun masih takut akan kenyataannya.


Dia memandangi terus handphonenya dan menanti kabar dari tunangannya hingga akhirnya dia tertidur dan berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi.


Keesokan harinya.


Dinda terbangun dalam tidur yang singkat itu sehingga membuat tubuhnya lemas dan mata yang sembab.


Apalagi dia dalam kondisi diet ketat dan belum memakan apapun dari kemarin.


Dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja dan tersenyum ceria meskipun dalam hati dia menyimpan kekhawatiran.


Hari itu semua orang dirumahnya sibuk menyiapkan pernikahan tak terkecuali Dinda yang menjadi peran utama di hari itu.


Mulai dari di rias wajahnya dan di perlakukan layaknya ratu serta mengenakan gaun yang sangat indah.


Banyak yang memuji kecantikan Dinda dan mengaguminya. Beberapa sahabat mulai berdatangan dan memberi ucapan selamat kepadanya.


Meskipun dia tersenyum tetapi jantungnya berdebar sangat kencang, dia sangat ketakutan ucapan tunangannya akan menjadi kenyataan.


Bahkan sampai hari pernikahan mereka tidak ada pesan darinya sejak terakhir Dinda menghubunginya.


"Aku sudah tidak tahu hari ini akan berakhir bagaimana"


Dinda hanya bisa menunggu dan berharap tunangannya datang.


Setelah beberapa saat akhirnya Arkan dan keluarganya hadir di pernikahan.


Rasa gelisah dan kekhawatiran itu akhirnya pecah, Dinda lega karena Arkan datang di pernikahan mereka.


Meskipun Dinda merasa kesal karena Arkan sama sekali tidak merasa bersalah telah membuat Dinda pusing setengah mati.


Dengan mudahnya dia tersenyum seperti tidak ada masalah apapun di antara mereka.


"Sayang, maaf sudah buat kamu menunggu lama"


Dinda tidak menjawab dan menangis menatap Arkan.


"Kenapa nangis sayang? kamu hari ini sangat cantik, sudah ya jangan nangis lagi"


Mendengar pujian dari Arkan membuat Dinda senang tapi masih merajuk karena sikap Arkan yang tidak memikirkan perasaannya semalaman.


Pernikahan mereka hari itu akhirnya berjalan lancar tanpa kendala apapun. Arkan terlihat sangat bahagia tapi berbeda dengan Dinda yang masih merasa belum selesai permasalahan diantara mereka.


Dinda berniat menanyakan kembali permasalahannya dengan Arkan setelah semua tamu undangan sudah tidak ada dan acara mereka selesai.


"Sayang, aku bahagia bisa menikah dengan kamu"

__ADS_1


Arkan mencium kening Dinda.


"A..aku juga bahagia" tersenyum tipis dan menunduk


Melihat reaksi Dinda yang tidak seperti biasanya membuat Arkan sedikit kesal. Tapi karena itu hari bahagia mereka, Arkan tidak ingin membuat suasana menjadi kacau hanya karena emosi sesaat sehingga dia menahannya.


Acara pun selesai dan mereka berdua memasuki kamar pengantin yang di hiasi kain berwarna putih dengan berbagai bunga serta ranjang yang di hias dengan kelopak bunga mawar berbentuk hati.


Suasana di kamar itu melengkapi kebahagiaan sepasang pengantin yang menantikan hari tersebut.


Arkan sudah tidak bisa menahan gairah yang sudah dia pendam selama ini. Saat kedua nya masuk,Arkan langsung mengunci pintu dan tiba-tiba memeluk Dinda dari belakang.


"Sayang.. kamu sangat cantik hari ini"


Arkan membisikan pujian di telinga Dinda dan sesekali mencium telinganya untuk menggoda Dinda.


Dinda tersentak dan tubuhnya tergelitik karena sentuhan bibir Arkan.


"Tu..tunggu dulu"


Dinda menengok ke arah Arkan dan sedikit mendorong tubuh Arkan dengan kedua tangannya.


Arkan kesal dengan respon Dinda yang seakan tidak mau dengan sentuhannya.


"Sayang, kamu tidak mau? kita kan sudah menikah?"


"Sebentar sayang aku belum siap"


Arkan mengira Dinda sengaja menggoda dirinya dengan bersikap malu seperti itu.


Sebenarnya Dinda masih ingin berbincang sebelum mereka menghabiskan malam pertama mereka.


Karena permasalahan sebelumnya masih mengganjal dalam benak Dinda.


Tetapi Arkan sudah tidak bisa menahannya lagi. Arkan mendekap Dinda yang sedang berjalan menuju ranjang dan mulai menciumnya.


"Sayang, jangan menolak ku kali ini"


"Eung"


Dinda susah bernafas karena sentuhan bibir Arkan yang sangat bergairah mendesak dan beradu dengan bibirnya.


Tangan Arkan mulai menyusuri tubuh istrinya yang menggoda.


Satu persatu pakaian Dinda di lepas sambil tetap menciumnya.


Arkan melepaskan kemeja putih yang ia kenakan sambil memandangi tubuh istrinya yang sangat indah itu terbaring di kasur yang di penuhi dengan kelopak bunga mawar sehingga membuatnya semakin bergairah.


Dinda memang cantik, mata yang tidak terlalu besar,bibir yang tebal dan mempunyai tubuh yang langsing, rambut hitam panjang dan kulit yang putih membuat Arkan semakin bergairah.


Dinda yang malu karena Arkan memandangi tubuhnya berusaha menutupi tubuh depannya dan bagian sensitif nya dengan tangannya.


"Jangan di tutupi sayang, kamu sangat cantik saat tidak mengenakan sehelai pakaian"


Arkan menarik tangan Dinda yang menutupi dan mulai menciumnya lagi. Dia mengecup lehernya yang indah dengan lembut sehingga membuat tubuh Dinda bergetar.


Perlahan dia semakin kebawah menikmati dada Dinda yang besar dan meremas salah satunya dan menghisap di sisi satunya.


"Ahhhh..."


Dinda mendesah merasakan sentuhan di dadanya.


Arkan semakin tidak bisa menahan lebih lama. Dia mulai menyusuri tubuh Dinda hingga kebagian sensitifnya. Menyentuhnya dengan jarinya dan tidak sabar untuk menyatukannya dengan miliknya.


"Ahhhhh.. tidak.."


"Jangan..jangan disitu"


Dinda berusaha menutupi bagian sensitifnya yang di sentuh dengan mulut suaminya meski usahanya tidak berhasil karena tangannya di tahan suaminya yang sedang menikmatinya.

__ADS_1


Dia merasakan perasaan yang aneh saat di sentuh di bagian itu. Tubuhnya bergetar dan kakinya terasa lemas.


__ADS_2