Menikah Tapi Sendiri

Menikah Tapi Sendiri
Konflik


__ADS_3

Setelah selesai mandi Arkan langsung tertidur pulas.


"Ternyata suamiku pekerja keras ya, lembur sampai larut demi keluarga" memeluk dari samping


Dinda memandangi wajah suaminya yang lelah setelah bekerja.


Dia tidak tahu bahwa suaminya telah mengkhianati dirinya dan lelahnya itu karena menghabiskan waktu bersenang-senang dengan perempuan lain.


Keesokan harinya Dinda menyiapkan segala keperluan Arkan. Mulai dari menyiapkan sarapan, meletakkan baju yang akan di pakai dan semua kelengkapan kerja suaminya.


Saat dia sedang meletakkan baju di atas kasur, ponsel Arkan berbunyi dan Dinda tidak sengaja melihat pesan di ponsel tersebut.


"Jangan lupa sarapan ya sayang" terkejut dengan pesan itu


Melihat ponselnya di pegang istrinya yang terkejut membuat Arkan berlari merebutnya.


"Apaan sih?" ucap Arkan yang masih basah setelah mandi


"Apaan? kamu yang apaan? siapa lagi ini? kenapa dia panggil kamu, sayang? apa kamu selingkuh? jawab Arkan!"


"Kamu cerewet banget ya jadi perempuan, dia cuma teman, dia memang suka iseng"


"Apa? teman? mana ada teman yang panggil, sayang"


Dinda sangat marah dan tidak bisa mengontrol emosinya.


"Aku nggak bohong sama kamu kalau nggak percaya tanya aja sama dia" terus mengelak


"Kamu jahat sama aku Arkan, kamu melarang aku berhubungan dengan teman laki-laki bahkan semua kontaknya sudah kamu hapus di ponselku tapi kamu apa? kamu justru bersenang-senang dengan teman wanita kamu"


"Jangan sembarangan ya, maksud kamu apa? bersenang-senang? dia cuma kirim pesan tapi kamu bilang apa? segitunya kamu nggak percaya sama suami sendiri, hah?"


Arkan bergegas mengenakan pakaian yang sudah di siapkan oleh Dinda.


"Terus maksudnya apa?" Dinda terus melontarkan pertanyaan


"Berisik banget sih, kalau kamu kayak gini terus mending kamu pulang ke rumah orang tua kamu"


Langsung pergi menuju tempat kerjanya tanpa memikirkan perasaan Dinda sama sekali.


"Dasar perempuan cerewet" bergumam setelah sudah di luar rumah karena kesal


Arkan berangkat bekerja dengan suasana hati yang kesal.

__ADS_1


Dinda masih belum mengerti sifat asli Arkan seperti apa. Bahkan sebelumnya Dinda tidak pernah berfikir bahwa Arkan tega melukai perasaan dan pergi begitu saja tanpa penjelasan yang jelas.


Makanan yang sudah di sediakan susah payah oleh Dinda tidak di sentuh sama sekali.


"Hiks.. hiks.."


"Kenapa Arkan sekarang berubah?"


Menurut Dinda mungkin ini cobaan setelah pernikahan sehingga dia berusaha menguatkan dirinya kembali dan bersabar mungkin ini memang hanya kesalahpahaman.


Sesampainya di kantor Arkan sangat kesal dengan sikap Putri yang seenaknya padahal dia sudah berjanji akan lebih bersabar karena posisi Arkan sekarang tinggal dengan istrinya.


"Sayang" memanggil Arkan yang sedang sarapan di kantin


Putri duduk disamping Arkan dan menemaninya sarapan pagi.


"Istri kamu nggak buatin kamu sarapan? buat apa punya istri tapi sarapan masih beli" mencoba menghasut Arkan


"Kamu bisa diam nggak? apa nggak lihat aku lagi sarapan?" kesal karena di ganggu saat sedang makan


"Lho, jangan marah sayang nanti gantengnya berkurang" tidak memperdulikan ucapan Arkan


"Hemm.." melanjutkan makan


"Sini!" menarik tangan Putri ke sebuah tempat yang sepi sambil menengok ke kanan kiri memastikan tidak ada orang lain


"Kenapa sayang kamu mau berbuat apa sama aku, eum" mencoba menggoda Arkan


"Jangan mikir yang aneh-aneh, sekarang kita lagi di tempat kerja" menjawab dengan tegas


"Sekarang aku tanya, apa maksud kamu pagi-pagi kirim pesan ke aku. Bukannya sebelumnya kamu paham posisiku gimana? kalau kamu terus seperti ini, bisa jadi hubungan kita berakhir"


"Oh itu, kan aku cuma mau ngasih perhatian ke kamu sayang" menjawab dengan santai


"Cukup! kamu pikir ini main-main ya? sekarang aku sudah menikah kalau kamu masih mau hubungan kita baik-baik aja seharusnya kamu diam bukan ceroboh seperti ini" menggenggam pundak Putri dengan kedua tangannya dengan penuh emosi


"Tapi aku nggak bisa jauh dari kamu Arkan, aku mau kamu cuma sama aku" memasang wajah sedih


"Jangan sedih sayang, maaf ya aku terbawa emosi. Tolong kali ini kamu ngerti ya, kamu masih mau kan berhubungan sama aku? kamu tahu kan aku cintanya sama kamu" meyakinkan Putri


"Baiklah tapi kamu bisa kan pulang ke tempatku hari ini,sayang?" sambil menyentuh pipi Arkan


"Iya sayangku" mencium telapak tangan Putri yang menyentuh pipinya

__ADS_1


Mereka berdua sangat menikmati hubungan terlarang tanpa memikirkan perasaan Dinda sama sekali.


Sebagai seorang suami, Arkan sudah sangat keterlaluan. Sudah mempunyai istri yang baik dan cantik tapi masih menjalani hubungan dengan wanita lain.


Dia bisa menjalani hubungan leluasa dengan Putri karena di kantornya belum ada yang tahu kalau Arkan sudah menikah.


Rencananya Arkan akan berhenti setelah 3 bulan bekerja di sana karena dia mendapatkan tawaran di kantornya yang lama.


Di rumah, Dinda memikirkan Arkan yang belum menghubungi setelah kejadian sebelumnya.


"Sayang, maaf aku hari ini lembur lagi. Kamu nggak usah nungguin aku ya, aku sayang kamu" isi pesan Arkan kepada Dinda


Satu-satunya pesan yang di tunggu ternyata hanya memberitahu kalau dia lembur.


Dia merasa pusing karena terus memikirkan Arkan, dia juga tidak mungkin kembali ke rumah orang tuanya.


Belum ada seminggu tinggal bersama tapi Arkan tega berkata seperti itu ke Dinda.


Padahal dia ingin mendengar penjelasan Arkan tapi nyatanya dia lembur dan tidak ada kesempatan untuk berbicara.


Sepulang kerja Arkan dan Putri langsung menuju ke tempat Putri.


"Sayang, kamu mau makan apa?" ucap Arkan yang sedang membawa Putri bersamanya


"Aku maunya makan kamu" membisikkan ke telinga Arkan


Mendengar ucapan Putri membuat Arkan bersemangat dan ingin cepat sampai.


"Kamu bisa aja sih sayang" mengelus tangan Putri yang sedang memeluknya dari belakang dengan menaiki sepeda motornya


Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai karena jarak tempat Putri ke kantor itu cukup dekat jadi tidak membutuhkan waktu yang lama.


Putri membuka pintu rumahnya yang kosong dan Arkan langsung memeluknya dari belakang.


Mereka terus melanjutkannya hingga tidak terasa langit sudah gelap.


Mereka sudah melewati batas tanpa memikirkan seseorang yang menunggu dengan setia kapan suaminya itu pulang.


Berharap dengan kecemasan dan kekhawatiran.


Dinda melakukan berbagai aktivitas untuk mengisi waktu sambil menunggu Arkan dan sesekali dia tertidur dan bangun lagi tapi suaminya masih belum pulang hingga sudah larut.


Hampir setiap hari Arkan lembur sehingga tidak ada waktu bersama. Sekalinya pulang pasti Arkan langsung tidur padahal Dinda ingin menanyakan banyak hal.

__ADS_1


Sekedar mengobrol sebentar saja tidak bisa, meskipun di sampingnya ada Arkan tapi dia merasa kesepian.


__ADS_2