Menikah Tapi Sendiri

Menikah Tapi Sendiri
Berpisah lagi


__ADS_3

Setelah melewati aktivitas yang panas, Dinda harus bisa menerima kenyataan berpisah kembali dengan suaminya.


Arkan pulang hanya 2 hari saja dan itupun untuk memuaskan hasratnya saja dan pergi lagi tanpa membawa Dinda.


Dinda merasa kecewa tapi tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menunggu saja.


Dinda merasa bosan karena aktivitas yang dia lakukan monoton. Dia merindukan suaminya meski hanya berapa hari berselang.


Mereka melepaskan kerinduan dengan saling berkirim pesan, video call dan berkirim foto.


Karena waktu Dinda senggang dia selalu membuka akun sosial medianya dan terkadang membuka akun suaminya.


Terakhir kali dia membuka akun suaminya saat sebelum menikah. Hari ini dia mencoba membukanya kembali.


"Bisa kirim foto punyamu? aku penasaran karena kamu cantik" isi pesan di akun suaminya


Dinda merasakan lagi, sakit di hatinya melihat pesan itu.


Kali ini Dinda berhasil mengumpulkan buktinya karena belum terhapus oleh suaminya.


Dinda mengirim screenshot pesan itu dan menanyakan maksud dari pesan itu.


"Tolong jelaskan maksudnya apa?" isi pesan Dinda


Pesan dari Dinda langsung terbaca tapi tidak langsung di balas oleh Arkan.


Di saat jam istirahat Arkan langsung menghubungi Dinda.


"Sayang, kenapa lagi? ucap Arkan


" Kamu itu yang kenapa? maksudnya apa?" Dinda sangat marah


"Aku gak punya maksud apa-apa sayang, itu aku sengaja kirim pesan ke perempuan itu cuma buat ngetes aja, apa benar dia perempuan baik-baik? soalnya dia sedang butuh bantuan makanya aku ngetes dia, gak ada maksud apapun. kalau kamu gak percaya kamu boleh tanya dia"


"Ngetes macam apa? mana ada hal kayak gitu kalau gak ada motif lain" Dinda tidak percaya alasan seperti itu


"Sudah lah, aku capek kayak gini terus" Dinda menutup telfon dari suaminya


Dinda merasa Arkan berubah dan dia selalu berurusan dengan wanita lain padahal sudah menikah.


"Apa ini alasannya dia gak mau tinggal bareng?"


Emosi Dinda tidak bisa terkendali, Arkan mencoba menghubungi tapi tidak di respon sama sekali.


Sampai akhirnya Dinda melihat pesan di akunya sendiri dari perempuan yang di kirimi pesan oleh suaminya.


"Kak maaf sebelumnya, aku disini cuma mau bilang kalau kakak sudah salah paham, aku sama suami kakak gak punya hubungan apapun. semua yang di ucapkan suami kakak itu benar" isi pesan perempuan itu


Semakin Dinda pikir semua ini semakin tidak masuk akal.


Dinda mengabaikan pesan maupun telfon dari suaminya karena kesal dan kecewa.


Tok..Tok.. Tok


Suara ketukan pintu kamar Dinda


"Dinda, ayo makan dulu nak" ucap ibu Dinda yang mengajaknya makan siang


"Iya bu, sebentar lagi aku keluar"

__ADS_1


Dinda menyembunyikan semua yang dia alami dari keluarganya agar tidak khawatir dengan kehidupan pernikahannya.


Dia mematikan ponselnya dan keluar menemui orang tuanya untuk makan bersama.


Dinda tidak bisa makan banyak karena memikirkan apa yang telah suaminya lakukan.


Dia beralasan ke orangtuanya bahwa sedang tidak enak badan makanya dia makan sedikit saja


Dia langsung bergegas menaruh piring ke dapur dan langsung kembali ke kamarnya dan menangis.


Mengambil ponsel dan menyalakan kembali, ada banyak panggilan yang tidak terjawab dan pesan yang ia terima.


Ponsel itu berbunyi lagi dan ternyata itu telfon dari ibu mertuanya.


"Nak, ibu minta maaf ya atas kelakuan Arkan yang masih kekanakan"


"Kenapa minta maaf bu? kan ibu tidak bersalah"


"Dia memang sering berbuat hal tanpa berfikir resikonya, ibu cuma berpesan kamu harap maklum ya atas sifatnya yang seperti itu, tapi Arkan itu tulus sama kamu nak"


"Baiklah bu"


Rupanya Arkan meminta bantuan pada ibunya untuk menghubungi Dinda karena jika yang menghubungi Arkan tidak di respon sama sekali.


Beberapa saat kemudian Arkan menghubungi Dinda kembali dan akhirnya di respon Dinda.


"Ya, halo"


"Sayang, jangan tadi ibu sudah telfon kamu?"


"Iya" menjawab dengan ketus


"Tapi kenapa kamu selalu nyakitin perasaan aku? apa benar kita sudah menikah?" Dinda menangis tak bisa menahan emosi yang terpendam


"Aku janji, gak akan pernah ulangi kesalahan ini lagi sayang, tolong maafin aku,ya?"


"Hmm" Dinda tidak menjawab permintaan maaf suaminya karena masih kecewa


"Jangan sedih lagi ya sayang, sebentar lagi aku pulang" mencoba menghibur istrinya


"Kamu kangen kan sama aku, makanya kamu marah-marah? tunggu ya sayangku"


"Ya" malas menjawab


Mereka sepakat menutup telfon meski Dinda masih tidak terima dengan sikap suaminya yang terkesan menggampangkan setiap ada permasalahan dan setelahnya terkesan tidak terjadi apa-apa.


Sampai saat suaminya akhirnya pulang tapi Dinda masih dalam posisi marah dan menyambut seadanya tidak seperti sebelumnya.


"Sayang, aku pulang" ucap Arkan sambil mengecup kening istrinya


"Iya" menerima bawaan dari suaminya dan meletakkannya di kamar


Setelah menyapa orang tua Dinda dan menghabiskan waktu berbincang sekedarnya. Arkan mandi dan kembali ke kamar Dinda.


Arkan tertidur karena merasa lelah setelah menempuh perjalanan cukup lama.


Meski dalam keadaan masih marah tetap saja Dinda merasa tidak tega melihat wajah suaminya yang sedang tidur itu.


Dinda membiarkan suaminya tertidur dan keluar kamar untuk menyiapkan makan malam.

__ADS_1


"Sayang bangun" Dinda membangun suaminya dengan lembut


"Hem..." Arkan merasa masih mengantuk


"Makanan sudah siap, ayo makan dulu kan dari tadi belum makan"


"Eum.. iya sayang"


Mereka berdua makan malam bersama dengan orang tua Dinda.


Suasana nya sangat nyaman dan Arkan di sambut dengan baik di perlakuan seperti anak sendiri.


Setelah makan dan berbincang waktu ternyata sudah cukup malam sehingga mereka memutuskan untuk kembali ke kamar.


"Sayang, kamu gak kangen sama aku?" memeluk Dinda dari depan


"Kangen kok" menjawab dengan ketus


"Tapi jawabnya ketus banget"


"Kamu jahat Arkan" memukul dada Arkan karena kesal


Arkan menahan tangan Dinda dan mencium bibir Dinda dengan lidahnya.


"Aku salah, kamu boleh marah sama aku, istriku" mencium kembali bibir Dinda dan mendorongnya ke ranjang


Dinda sebenarnya tidak mau melakukannya hari itu karena masih dalam keadaan yang kecewa tetapi Arkan terus menekannya.


"Sayang kamu kenapa?" berhenti mencium Dinda


Dinda menangis tanpa menjawab Arkan.


Melihat istrinya menangis bukannya berhenti justru Arkan melanjutkan menjamah istrinya.


Kedua tangan Dinda di tahan oleh salah satu tangan Arkan dan salah satu tangannya membuka pakaian yang ia kenakan.


Dinda tidak bisa menggerakkan tangannya yang tertahan itu dan mencoba memberontak.


"Lepas.. Arkan lepasin"


"Hiks.. hiks"


"Semakin kamu menangis, semakin membuatku bergairah sayang" Arkan menciumi istrinya, menghisap dadanya dan langsung memasukkan miliknya.


"Ahh.." Arkan mencengkram kedua tangan istrinya dengan kedua tangannya dan menggerakkan dengan keras miliknya


"Sayang, bayangkan kalau sekarang kamu sedang di paksa" Arkan membisikkan ke telinga Dinda


Mendengar bisikan dari suaminya membuat Dinda menangis lagi tapi karena takut terdengar Dinda menahan suaranya agar tidak terlalu kencang.


"Cukup, Arkan hentikan!"


"Hiks..hiks" Dinda mencoba melepaskan tangannya tapi tidak bisa.


"Semakin kamu menangis dibawah ini semakin ketat, istriku. Ahh"


Arkan semakin mempercepat gerakannya dan menyelesaikannya lebih cepat.


Dinda tidak percaya suaminya memperlakukan dirinya dengan seenaknya tanpa memikirkan perasaannya sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2