
Beberapa hari berselang setelah suaminya pergi, Dinda merasa sangat merindukannya. Meskipun terkadang masih saling berkomunikasi tapi Dinda berharap suaminya cepat pulang dan membawanya pergi bersamanya.
Di sela waktu bersantai setelah membantu membersihkan rumah orangtuanya, Dinda sesekali membuka akun sosial media nya.
Ada sebuah notifikasi di salah satu postingan suaminya dan itu adalah komentar dari seorang wanita.
Di situ tertulis bahwa suaminya adalah orang yang pernah menghamili seseorang tapi tidak bertanggungjawab.
Deg..
Lagi dan lagi, Dinda merasakan sesuatu yang mengejutkannya dan menusuk hatinya.
"Nggak mungkin...ini pasti salah"
Badan Dinda panas gemetar, jantungnya berdetak kencang disertai dengan amarah yang tak tertahan.
Meski dalam pikiran yang kacau dia berusaha bersikap tenang dan mencoba screenshot komentar dari orang tersebut untuk di konfirmasikan ke suaminya.
Herannya komentar itu tidak ada seolah tidak pernah ada, dicari bagaimanapun tetap tidak ketemu.
"Hah? bukannya tadi ada? kenapa sekarang gak ada?"
Dinda yang masih ingat jelas semua isi komentar tersebut akhirnya langsung menghubungi suaminya detik itu juga tanpa memikirkan waktu.
Karena itu benar-benar mengganjal di hatinya dan dia sangat marah.
"Halo, sayang"
"Gak perlu basa-basi, sekarang aku mau tanya!"
Dinda gemetar seakan tidak bertenaga karena amarahnya
"Sayang, kamu kenapa kok ketus banget?"
"Sekarang kamu jawab jujur! Apa benar kamu pernah menghamili anak orang?"
"Hah?! maksud kamu apa sayang? bentar.. bentar.. sayang nanti kau telfon kamu lagi, sekarang aku ada kerjaan penting"
"Tunggu..!"
Arkan langsung mematikan telfon dari Dinda.
Dinda semakin kesal, bukannya mendapat jawaban justru malah di abaikan.
Pikiran Dinda berkecamuk, setelah kesalahpahaman sebelumnya saja belum jelas sekarang di tambah lagi kabar yang tidak mengenakkan.
Dinda mengunci kamarnya dan menangis kencang dan menutupi kepalanya dengan bantal agar tidak ada seorang pun yang mendengar.
Hanya mendengar kabar yang belum jelas kebenarannya saja membuat Dinda serasa hancur, bagaimana jika itu memang kenyataan.
Beberapa jam kemudian Arkan menghubungi istrinya.
Dinda masih menangis dan tidak mendengar handphonenya berbunyi.
"Kenapa tidak di angkat"
Arkan mencoba beberapa kali dan akhirnya tersambung dengan Dinda.
"Sayang, kenapa baru di angkat?"
"Hiks.. hiks.."
"Loh kenapa kamu nangis? sayang jangan sedih, semua itu gak bener. Besok aku pulang dan jelasin semuanya,oke"
__ADS_1
"Istriku sayang yang paling cantik, sudah ya. Sebentar lagi kita ketemu jadi jangan sedih lagi ya! "
"I.. iya"
Meski hanya kata-kata yang menyangkal hal itu tidak benar, Dinda merasa sedikit lega karena yakin suaminya tidak mungkin berbuat hal yang kejam seperti itu.
Dia meyakinkan dirinya untuk tetap percaya dengan perkataan suaminya.
Dinda menantikan kedatangan suaminya dan tidak sabar untuk bertemu melepaskan kerinduan.
Keesokan harinya Dinda sibuk berdandan dan menyambut suaminya pulang. Dia mengenakan pakaian yang seksi di balik dress yang dia kenakan untuk membuat suaminya senang.
Kebetulan hari itu orang tua Dinda sedang pergi selama 3 hari ke luar kota.
Tok.. Tok..Tok
"Sayang ini aku"
Dinda langsung bergegas membukakan pintu untuk suaminya.
Arkan langsung memeluk Dinda dan menutup pintu rumah.
Dia mencium bibir istrinya dan mendorongnya ke arah dinding ruang tamu yang kosong itu.
"Ah.. sayang..aku kangen banget sama kamu"
Arkan terus mencium dengan menggerakkan lidahnya yang beradu dengan lidah istrinya sambil meraba dada Dinda.
"Tunggu dulu, sayang jangan disini"
"Gak ada orang lain disini sayang, aku tidak bisa menahan lebih lama lagi"
"Eum"
"Buka bajumu sayang"
Dinda pun menurutinya meski malu karena dia menyiapkan sesuatu yang lain dibalik pakaiannya itu.
Dress selutut yang Dinda pakai pun terlepas dan yang tersisa lingerie berwarna merah transparan sehingga terlihat lekuk tubuh Dinda yang semakin seksi.
"Sayang..."
"Kamu cantik dan seksi"
Arkan sangat senang melihat istrinya yang menyambut dirinya dengan penampilan yang menggoda.
Dia mendekap istrinya yang tersipu malu. Tangannya menyusuri setiap jengkal tubuh Dinda yang berdiri didepannya.
"Berbalik lah"
"Seperti ini?"
"Iya sayang, kamu pintar" ucap Arkan berbisik di telinga Dinda sambil melepaskan celananya
Arkan memasukkan miliknya dari arah belakang, hal itu membuat Dinda terkejut. Kedua telapak tangannya meraih dinding di depannya untuk menahan gerakan keras yang di lakukan suaminya.
"Aahhh"
"Kamu sangat sempit, istriku"
"Pelan, pelan sayang"
"Ahh.."
__ADS_1
Ucapan istrinya tidak di dengar karena nafsu yang sudah tertahan lama. Kedua tangan Arkan meremas dada istrinya sambil mempercepat gerakannya untuk memuaskan hasrat yang menumpuk itu.
"Cium aku istriku"
Dinda menoleh kebelakang dan mencium suaminya dengan nafas yang tidak beraturan menikmati sentuhan suaminya.
Arkan terus menggerakkan miliknya dengan cepat dan semakin cepat. Dia mendekap istrinya dengan erat.
"Aarghhh.."
Akhirnya Arkan mencapai puncak kenikmatannya. Dinda merasa lemas meski belum merasakan hal yang sama.
Melihat istrinya lemas terduduk di lantai, Arkan menggendong istrinya menuju kamar mereka.
Arkan ingin membuat istrinya merasakan kenikmatan yang sama dan membuka lingerie yang masih melekat di tubuh istrinya.
Tetapi dia merasa lelah dan mengurungkan niatnya kemudian menutupi tubuh istrinya dengan selimut dan tertidur disampingnya.
Dinda merasa kecewa karena suaminya tidak melakukannya lagi dan malah tertidur pulas.
Dia memandang wajah suaminya dan menyayangkan sesuatu yang tidak berlanjut itu.
Tidak seperti saat malam pertama, Arkan mampu melakukannya beberapa kali.
"Sayang, kamu lelah ya?" Dinda memandangi wajah suaminya sambil menyentuh pipinya kemudian mengecup bibirnya
Dinda memeluk suaminya dan tertidur disampingnya.
Keesokan harinya Dinda bangun lebih awal sebelum suaminya dan menyiapkan sarapan di dapur.
Arkan terbangun karena sinar matahari yang masuk dari jendela kamar. Dia melihat di sampingnya tidak terlihat sosok istrinya.
Dia beranjak dari kamar dan mencari istrinya dengan mata yang masih sedikit mengantuk. Dia akhirnya melihat istrinya di dapur dan memeluknya dari belakang.
"Sayang, kamu lagi buat apa?" sambil mengecup pipi,dia menggelitik pinggang istrinya
"Ah geli..sayang.."
"Kamu mandi dulu ya, baru sarapan"
"Gak mau ah..aku mau nya peluk kamu terus"
"Jangan bercanda...sayang"
"Iya.. iya...aku mandi sekarang"
Masih terus memeluk istrinya.
"Plak"
Arkan menepuk pantat Dinda untuk menggodanya dan langsung berlari ke kamar mandi.
"Ah.. Jail banget sih"
"Hahaha.." Arkan tertawa puas melihat ekspresi lucu dari istrinya
Dinda senang karena sikap suaminya masih sama seperti sebelum menikah. Meski masih ada hal yang harus siap dia dengar dari suaminya yang berencana menjelaskan tentang hal yang Dinda tanyakan kemarin.
Dia menunggu suaminya selesai mandi sambil mengepel lantai dimana dia terduduk lemas semalam.
Melihat lantai itu membuat Dinda teringat hal yang mereka lakukan di sana.
"Ternyata seperti ini rasanya setelah menikah?"
__ADS_1
"Ppftt"
Dinda tersenyum dan melanjutkan membersihkan ruangan itu.