
Sepulangnya dari rumah Putri, dia bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apapun sebelumnya.
"Sayang, kamu belum tidur?" ucap Arkan sambil meletakkan tas miliknya
"Aku nggak bisa tidur" jawab Dinda dengan ketus
"Tidur ya, sudah malam. aku mandi dulu" berjalan menuju kamar mandi
Merasa sangat diabaikan, membuat Dinda mulai mengerti sifat Arkan yang sebenarnya.
Sifat yang membiarkan permasalahan itu tidak diselesaikan dengan benar dan setelahnya menganggap semua itu tidak pernah terjadi.
Padahal hal itu menumpuk di pikiran Dinda, yang membuatnya berspekulasi tentang suaminya yang sudah tidak setia.
Kerena lelah menunggu suaminya pulang, dia akhirnya merebahkan tubuhnya dan memiringkannya ke arah dinding dan meringkuk ditutupi selimut yang tidak terlalu tebal itu.
"Sudah tidur ya, bagus lah" sambil mengelap rambut yang basah dengan handuk
Setelah selesai mandi, Arkan melihat istrinya sudah tertidur dan membuatnya lega.
Dia menuju ke ranjang dan tidur di sebelahnya tanpa dia tahu bahwa Dinda sebenarnya belum tidur.
"Kenapa Arkan tega, aku menunggunya pulang tapi dia.. hemm" ucap dalam hati
Dinda menangis mengetahui suaminya seperti sedang menghindarinya sehingga dia masih dalam posisi yang sama.
Sudah hampir seminggu Arkan tidak menyentuh Dinda dengan dalih dia lelah karena bekerja dan sering lembur juga.
Merasa suaminya berubah yang biasanya tidak bisa mengendalikan hasratnya berubah menjadi dingin.
Tapi dia tetap melayaninya dengan baik, menyiapkan segala kebutuhannya dengan baik.
Dia meyakinkan dirinya bahwa suaminya memang kelelahan.
Tanpa dia tahu bahwa suaminya selalu ke tempat Putri untuk bersenang-senang. Sekarang Putri merasa berada si atas angin. Dia merasa bahwa dirinya lah yang paling di sayangi ketimbang Dinda yang sudah menjadi istri Arkan.
Bahkan di kantor saja Arkan menutupi statusnya yang sudah menikah.
Keyakinan itu membuat Putri yakin bahwa dirinya pasti lebih di prioritaskan. Sehingga dia nekat menghubungi Dinda dan memberikan tahu siapa dirinya tanpa sepengetahuan Arkan.
Dia menyimpan nomor Dinda saat Arkan sedang tertidur di sampingnya.
"Apa kabar?"
"Oh, ya kenalin, aku Putri pacarnya Arkan"
"Aku juga akan menikah dengan Arkan"
__ADS_1
Isi pesan Putri yang di kirim ke nomor Dinda.
Saat itu Dinda sedang duduk bersama Arkan karena hari libur.
"Apa?" Dinda terkejut dan menatap tajam ke arah Arkan
"Jelasin, maksudnya apa?" sambil menunjukkan isi chat itu
"Apa lagi si sayang" membaca pesan itu dan tersentak
Padahal sebelumnya Putri sepakat untuk menjalani hubungan secara diam-diam tapi kenapa dia mulai mengusik Dinda. Arkan bingung mencari alasan lagi dan mengakui hubungannya.
"Sayang, aku bisa jelasin, ini nggak seperti yang kamu bayangkan" sambil memikirkan alasan yang tepat
Dinda menahan emosinya yang sudah lama tertahan.
"Sebentar aku telfon perempuan ini" Dinda langsung menghubungi perempuan itu karena tidak terima
"Jangan sayang" Arkan menarik tangan Dinda dan melarangnya menghubungi Putri
Sepertinya Putri sudah mempersiapkan diri bahwa Dinda pasti menghubunginya.
"Halo" langsung tersambung
"Maksud kamu apa? kalau berani ayo ketemu" ucap Dinda yang gemetar karena emosi
"Dasar kamu perempuan nggak punya hati, kamu tahu Arkan sudah menikah tapi kamu masih mau"
"Aku nggak peduli, yang pasti Arkan cintanya sama aku. Dia menikah sama kamu karena terpaksa aja"
"Jaga mulut kamu ya, dimana kamu tinggal?"
Arkan langsung merebut ponsel Dinda dan menutup telfonnya.
"Sayang, sayang aku bisa jelasin"
"Maksudnya apa? kamu benar mau nikah sama dia?" masih emosi
Di saat sedang berdebat Putri menelfon Arkan.
"Sayang sebentar aku angkat telfon dulu" hendak keluar rumah
"Tunggu, jawab di sini" menarik tangan Arkan dan memintanya mengangkat telfon di sana karena Dinda sempat melihat namanya
Situasinya kacau, Arkan marah terhadap sikap Putri. Entah apa yang di bicarakan di antara mereka berdua tapi Dinda semakin emosi.
Setelah selesai dan menutup telfon dari Putri seketika itu Dinda menampar Arkan.
__ADS_1
"Slap.." menampar dengan kencang
"Tega kamu ya, selama ini kamu sudah berbohong" mengepalkan tangannya dan sangat ingin memukul Arkan
"Sayang aku minta maaf, aku bisa jelasin. Dia yang ngejar aku tapi aku tidak meresponnya sama sekali. kalau aku selingkuh sama dia, nggak mungkin dia berani chat kamu pasti kami diam-diam di belakang kamu"
"Kamu pasti cuma beralasan aja kan?" masih tidak percaya
"Dia itu terkenal nakal di kantor, banyak yang di godanya tapi aku nggak tertarik sama sekali karena aku cuma sayang sama kamu. percaya sama aku"
"Dia bilang katanya kamu lebih sayang dia sampai mau nikah sama dia. apa benar kamu terpaksa nikah sama aku?"
"I.. itu nggak benar sayang, dia mengarang itu semua supaya aku berantem sama kamu"
Dinda memasukkan pakaiannya ke koper dan Arkan mencoba membujuknya agar tidak pergi.
"Sayang, tunggu kamu nggak boleh pergi seperti ini" menahan lengan Dinda
"Lepas" sambil memasukan pakaiannya
"Sayang aku mohon, apa kamu mau buat orang tua kamu sedih kalau kamu pulang kesana dalam keadaan seperti ini? ini ujian buat kita sayang"
Dinda mengabaikan ucapan Arkan karena sangat kecewa dan mulai melangkahkan kaki menuju pintu.
Sesampainya di pintu, Arkan menarik dan memeluk kaki Dinda dan bersujud memohon maaf.
"Sayang, tolong maafin aku. jangan pergi! aku sayang sama kamu" mencium kaki Dinda dan menahannya dengan kencang sambil menangis
Melihat suaminya memohon sampai seperti itu membuat hati Dinda tidak tega dan mengurungkan niatnya pergi dari sana.
Kemudian mereka duduk bersama dan Arkan menceritakan bahwa dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Putri justru dia menolak dengan tegas hanya saja Putri berusaha terus menggoda Arkan.
"Terus dari mana dia tahu nomor aku?"
"Itu dari aku sayang, aku bilang kalau aku sudah menikah dan bisa telfon kamu biar dia percaya" Arkan memberi alasan yang masuk akal
"Jadi kamu benar nggak ada apa-apa sama dia?" Dinda mulai percaya
"Iya sayang, kamu tahu kan kalau aku cintanya cuma sama kamu, apalagi kamu sangat cantik dan di mataku nggak ada yang lebih cantik dibanding kamu dan 1 hal yang perlu kamu tahu, aku tidak berhasrat melihat perempuan lain di luar sana kecuali saat dengan kamu, istriku yang paling cantik" sambil mencium pipi Dinda
"Tolong beri aku kesempatan memperbaiki hubungan kita dan mengakhiri kesalahpahaman ini sayang" menyentuh tangan Dinda dan menggenggamnya
"Baiklah, tapi aku nggak mau ada hal seperti ini lagi dan aku nggak mau kamu berhubungan sama dia"
"Iya aku janji sayang, makasih ya" memeluk istrinya dengan erat
Memberikan kesempatan untuk memperbaiki hubungan pernikahan mereka yang belum lama mungkin adalah langkah terbaik yang Dinda yakini dan itupun karena Dinda sangat mempercayai suaminya.
__ADS_1