Menikah Tapi Sendiri

Menikah Tapi Sendiri
Hanya kesalahpahaman


__ADS_3

"Sayang kamu baik-baik aja kan di sini?" Arkan menyentuh punggung tangan Dinda


"Iya, kamu di sana gimana sayang? aku mau ikut kamu,boleh ya?"


Dinda memandang Arkan yang ada di sampingnya sambil menyenderkan ke bahunya.


"Untuk sekarang masih belum bisa, sebenarnya aku lagi ada masalah sayang"


"Hah? kenapa?


" Ibuku butuh uang dan seperti yang kamu tahu sekarang aku belum gajian, aku bingung mau bantu gimana"


"Yasudah pakai uangku dulu aja sayang sama uang yang kita dapat dari pernikahan kita"


Dinda tidak tega melihat suaminya kesusahan dan menawarkan bantuan.


"Gak boleh sayang, itu semua kan buat pegangan kamu" Arkan langsung menolak


"Aku nggak masalah, yang penting bisa bantu ibu kamu kan sekarang jadi ibuku juga"


"Baiklah kalau kamu gak keberatan, makasih ya sayang, kamu memang istriku yang paling baik"


Dinda menyerahkan sejumlah uang yang di butuhkan untuk membantu ibu mertuanya. Dia tidak menyangka bahwa nominal yang di maksud sangat banyak sehingga sisa uang yang Dinda punya hanya tinggal sedikit.


"Oh.. ya sayang, katanya kamu mau jelasin masalah yang waktu itu"


"Ah.. iya"


"Jadi gini, sebelum kenal kamu, aku sempat dekat dengan seseorang yang lebih muda. Aku kenal dia saat aku ikut kakak kerja di luar kota, itupun aku cuma sebatas ketemu 2 kali. Pertemuan pertama kita hanya duduk di taman dan ngobrol tapi tiba-tiba dia cium bibirku, aku kaget karena dia seperti itu. Kemudian setelah itu kita saling komunikasi lewat telfon dan dia minta ketemu lagi dirumahnya. Aku pun kesana dan di sana ada keluarganya yang menyambut baik kedatangan ku, tapi perempuan itu tiba-tiba mengaku di depan orang tuanya bahwa dia hamil anakku."


"Hah? Kenapa bisa begitu? jadi kamu pernah tidur dengan perempuan itu? Hah?"


"Sayang.. dengerin aku dulu, ini belum selesai"


Dinda kesal mendengar penjelasan suaminya yang terdengar sangat aneh.


"Aku kaget dengan ucapannya yang gak masuk akal, apalagi sikap keluarganya yang aneh bukannya marah justru mereka baik ke aku tapi mereka meminta ku untuk bertanggungjawab dan menikahi perempuan itu. Padahal kami gak pernah berhubungan seperti itu. Aku bingung tapi aku sudah menaruh hati dengan perempuan itu. Aku akhirnya menghubungi keluargaku untuk datang ke rumah perempuan itu. Keluarga ku menentang pernikahan itu karena itu gak masuk akal tapi aku tetap meminta keluarga ku mengurus dokumen yang di butuhkan."


"Berarti kamu sudah pernah menikah? Hah?! tega kamu"


Dinda sangat terpukul mendengar semua hal yang sangat tidak masuk akal itu.


"Sayang,jangan marah dulu ini belum selesai"


Arkan menjelaskan kembali sambil menggenggam tangan Dinda yang sedang emosi.


"Saat semua persiapan sudah selesai, aku dan keluargaku ke rumah perempuan itu untuk kelangsungan pernikahan tapi nyatanya semua batal karena perempuan itu akhirnya mengaku bahwa anak yang di kandung itu bukan anakku. Makanya aku gak jadi menikah dengannya, itu yang terjadi sebenarnya sayang"


"Hemm.. tapi kenapa kamu gak pernah cerita ke aku"


Dinda masih merasa tidak percaya.


"Itu semua masa laluku sayang, aku gak mau kamu terluka dan yang penting sekarang cuma kamu yang aku cinta"


Semua cerita yang terdengar terasa janggal meski sudah mendengar sendiri dari mulut suaminya.


"Hemm.." Dinda melamun dan menerka informasi yang dia terima itu

__ADS_1


"Sayang kamu kenapa? masih gak percaya? kalau gak percaya kamu tanya aja ke ibu"


"Gak perlu, aku percaya kok"


Tiba-tiba handphone Arkan berdering.


"Halo"


"Ada apa bu?"


"Kamu kapan kesini nak?" ucap Ibu Arkan


"Nanti aku kesana sama Dinda, Oh.. ya bu kebetulan. Bu soal yang dulu aku pernah hampir nikah sama Sonia, apa ibu bisa bicara sama Dinda? dia kaya ya masih gak percaya"


Dinda berbicara dengan ibunya Arkan dan mendengarkan kenyataan bahwa memang yang di cerita kan Arkan itu benar.


Setelah mendengar penjelasan itu akhirnya Dinda percaya sepenuhnya kepada Arkan.


Semua itu masa lalu dan Dinda harus menerima dan melanjutkan hidup di masa sekarang seperti Arkan yang tidak pernah menanyakan masa lalu istrinya dan mempercayai apa yang terjadi di kehidupan yang sekarang.


"Nah, sekarang sudah percaya kan?" ucap Arkan sambil memeluk istrinya


"Hemm.. tapi kamu sudah lupain dia kan?"


"Aku sudah lupain dia sayang, lagian dia gak bisa di bandingkan dengan kamu. Kamu satu-satunya yang aku cinta"


"Yakin?"


"Iya istriku sayang"


Arkan mengecup pipi Dinda.


"Ahh.. sayang kamu gak bisa diam ya"


Dinda meraih tangan suaminya dan berusaha menurunkannya agar berhenti.


"Kan kamu yang godain aku"


"Hah? kapan? aku dari tadi diam aja"


Arkan menggoda istrinya dengan kata-kata nakal.


Dia mengecup leher belakang istrinya dengan tangan yang meremas lagi dadanya.


"Sayang, berhenti! ini masih siang, ahh.."


Dinda merasa geli dengan sentuhan bibir suaminya dan gerakan tangan yang memeras dadanya.


"Hanya ada kita berdua disini sayang, aku mau kita seharian melakukannya di semua sudut rumah, Ahh.." mengecup bibir Dinda


"Aku membayangkan istriku yang sedang di dapur, lalu aku memasukkan punyaku kedalam dirimu"


Arkan terus merayu istrinya dan membuatnya mulai berhasrat dan merespon keinginan suaminya.


Arkan mengangkat tubuh istrinya ke arah dapur dan menurunkan dengan pelan.


"Sayang buka baju kamu dan pakai ini" Arkan mengambil sesuatu untuk dipakai oleh istrinya

__ADS_1


Arkan meminta Dinda menanggalkan pakaiannya dan hanya memakai celemek yang dia berikan tanpa mengenakan sehelai pakaian apapun.


Dinda menuruti keinginan suaminya dan mengenakan celemek berwarna biru yang tidak dapat menutupi tubuh bagian belakang.


Sekarang yang tertutup hanya bagian tubuh depannya saja. Arkan menjadi semakin bergairah, dia mendekatkan tubuhnya dan mendorong Dinda hingga terpojok.


Arkan mengangkat tubuh Dinda agar duduk di atas area yang kosong bagian dari kitchen set rumah itu.


"Istriku memang paling cantik"


"Eum"


Kain yang menutupi Dinda sedikit terangkat ke atas hingga terlihat miliknya.


Arkan mencium Dinda dari bibirnya turun ke leher dan sampai kebawah hingga dia terdiam melihat milik istrinya yang sudah basah karena sentuhan yang dia berikan.


Arkan mengeluarkan lidahnya, menikmatinya dan sesekali mendongak melihat ekspresi wajah istrinya.


"Aahhh..sa..sayang..eum.."


Dinda mengerang dengan keras merasa nikmat dibawah sana dan secara tidak sadar tangannya menarik rambut Arkan dan mendorong kepala suaminya yang berada dibawahnya lebih dalam.


"Aahhhh.." Dinda terus mendesah menikmati apapun yang sedang suaminya lakukan pada tubuhnya.


Pikirannya terasa kosong, jantungnya berdebar kencang.


"Sayang.."


"Eum.." Arkan menatap dan melihat sisi Dinda yang sudah tidak bisa menahan gairah yang semakin memuncak membuatnya semakin bergejolak.


"Cepat masukan milikmu sayang, aahhh"


"Baiklah istriku, ini yang sudah kamu tunggu"


"Aahhh.."


Arkan memasukkan miliknya kedalam milik Dinda, dia menggerakkan dengan keras untuk bisa memuaskan istrinya.


Dinda sudah tidak berfikir bagaimana penampilannya yang berantakan karena ulah suaminya yang sangat bersemangat.


Arkan berhenti sejenak dan membalikan tubuh istrinya dan melanjutkan kembali permainan yang nikmat itu.


Suasana semakin panas, gerakan arkan semakin cepat dan mereka sudah tidak bisa menahan lagi hingga akhirnya keluar secara bersamaan.


Entah sudah menjadi kebiasaan atau apa, setiap mereka selesai menuntaskan hasratnya, Arkan selalu mencium kening Dinda.


"Sayang..ayo kita mandi bareng" sambil memeluk istrinya


"Baiklah"


Dinda berfikir hanya akan mandi bersama tapi kenyataannya berbeda, Arkan malah melakukannya lagi di kamar mandi.


Mungkin ini yang sebagian pengantin baru rasakan, itulah yang ada di pikiran Dinda.


Beruntung di rumahnya hanya ada mereka berdua jadi mereka bebas melakukan apapun tanpa merasa khawatir.


"Aku lelah dan pinggangku pegal" Dinda terbaring di kasur setelah melakukannya lagi di kamar mandi

__ADS_1


Dia melihat badannya penuh dengan tanda merah yang cukup banyak hampir di seluruh bagian dari tubuhnya.


Tapi saat menatap tubuh suaminya bersih tidak ada tanda apapun karena Arkan sebelumnya menolak saat Dinda ingin melakukannya dengan alasan takut masih ada bekasnya dan terlihat saat dia bekerja.


__ADS_2