
"Sebelum masuk ke ruang ICU ini, Ayah menuliskan sebuah surat khusus untukmu, Reiz. Dan juga, ada sebuah surat lusuh, belasan tahun lalu, yang ayahmu buat dengan sahabatnya. Mama harap, kamu mau membaca semuanya. Karena ini, adalah keinginan terakhirnya, yang harus kamu turuti, Nak," ucap Mirna, ibunda Reiza.
"Apa? Surat khusus untukku?" Pria itu mengernyitkan dahinya.
Reiza Baskara, itulah namanya. Dia adalah anak sulung dari pasangan Bambang dan Mirna. Usianya kini sudah 26 tahun. Dia adalah seorang sarjana pendidikan, namun nasib membawanya menjadi seorang guru olahraga.
Ayahnya, Bambang Utama, mengalami sakit jantung dan komplikasi. Kini, ayahnya tengah dirawat di ruang ICU. Hidupnya tergantung pada mesin dan alat yang berada di ruangan tersebut.
Ternyata, ada sebuah pesan terakhir, yang Bambang berikan pada Reiza. Reiza mengernyitkan dahinya, selama hidupnya, ia sama sekali tak pernah mengetahui jika ayahnya melakukan hal seperti itu.
"Astaga, apa ini? Gila! Apa-apaan perjanjian ini?" Reza mulai emosi, ketika melihat isi surat dan perjanjian milik ayahnya.
Mirna menyadari, jika Reiza pasti akan marah dan tak terima. Bukan tidak mungkin, karena ketika Reiza membaca isi surat tersebut, wajahnya nampak kesal dan penuh emosi. Mirna sudah memahami sifat Reiza, karena itulah, ia harus bisa menjadi penenang atas permasalahan ini.
“Rei, tenanglah. Ayah hanya menginginkan yang terbaik untukmu. Ayah ingin kau hidup bahagia, bersama dengan orang yang tepat! Jangan berpikiran negatif, kau masih bisa berkenalan dan dekat dengan gadis pilihan Papa. Sampai kau benar-benar merasa nyaman dan cocok bersamanya,” rayu Mirna.
“Aku tak suka, jika kehidupan pribadiku diatur oleh kalian! Aku ingin menemukan wanitaku sendiri, Ma. Aku tak ingin menikah dengan anak sahabat Ayah! Memangnya Ayah bisa menjamin, jika wanita pilihannya adalah wanita baik-baik? Memangnya Ayah tahu apa, tentang anak sahabatnya itu, ha?” Reiza mencoba membela diri.
“Ayahmu sudah memantau gadis itu selama dia sembuh. Dia adalah anak yang cantik dan periang. Anaknya baik, tak banyak bicara. Kau harus berkenalan dengannya, sebelum menilai dia negatif. Ayah tahu yang terbaik untukmu, Rei. Apakah kau tega, tak mengabulkan permintaan terakhirnya, Rei? Lihatlah ayahmu, apa kau tega membiarkan harapannya pupus karena keegoisanmu?” Mirna menatap suaminya, yang tengah tak berdaya di ranjang ICU tersebut.
Reiza menghela napas panjangnya. Emosinya seketika surut, ketika melihat Bambang terkapar lemah tak berdaya. Sepertinya hanya tinggal menunggu waktu, untuk menghembuskan napas terakhirnya. Reiza adalah anak yang penurut dan kalem sebenarnya. Namun karena hal ini, ia jadi sedikit emosi dan kecewa.
“Tak bisakah aku menentang permintaan Ayah kali ini?”
__ADS_1
“Apakah kau ingin menyesal seumur hidup, karena tak mengikuti permintaan terakhir ayahmu?” ucapan Mirna begitu tenang, namun begitu mengena di hati Reiza.
“Ah, sudahlah. Kita bahas hal ini di lain waktu. Aku harus mengajar, aku harus fokus dulu pada pekerjaanku. Mama, aku berangkat, aku ke sekolah dulu. Kabari aku, jika terjadi sesuatu. Semoga Ayah kuat, dan bisa kembali seperti sedia kala. Ayah, doaku selalu menyertaimu, di manapun aku berada,” mata Reiza berkaca-kaca, begitu ia mengucapkannya.
“Baik, Rei. Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siang, ya,”
“Baik, Ma,”
Reiza memang anak yang tenang dan kalem. Sekalipun ia marah dan emosi, ia tetap bisa mengontrol amarahnya, karena Reiza sadar betul, jika lawan bicaranya adalah orang yang harus ia hormati.
Walaupun hati dan pikirannya tengah kacau, Reiza berusaha untuk tetap tenang, dan melupakan masalahnya. Ia harus fokus mengajar, karena Reiza kini sudah menjadi guru. Reiza bukan lagi mahasiswa yang hanya bisanya nongkrong-nongkrong gak jelas.
Reiza kini menjadi guru olahraga, yang tentu saja, ia memiliki tanggung jawab untuk mendidik murid-muridnya di lapangan. Serasa menjadi guru olahraga itu hal yang mudah, akan tetapi jelas saja lebih melelahkan daripada guru yang mengajar di kelas. Namun Reiza melakukannya dengan enjoy dan senang hati, karena ia bersyukur, bisa bekerja di sekolah bonafit.
Kelas XII IPS 5, kelas yang kini akan Reiza ajak untuk melaksanakan mata pelajaran PJOK. Seperti biasa, jika jam pelajaran olahraga, mereka akan berkumpul di lapangan, dan menunggu instruksi dari Reiza.
"Baik, Pak,"
Anak didik Reiza nampak sekali bersemangat, karena kebanyakan anak cewek di sekolah ini, begitu mengagumi ketampanan Reiza.
Hanya Vania Aldara, si gadis cuek yang sama sekali tak tertarik dengan Reiza. Vania terkesan datar dan enggan seperti teman-temannya, yang terkesan begitu memuji Reiza.
"Ya ampun, Pak Rei pakai kaos warna Abu, kenapa makin bersinar gitu sih? Bisa-bisa, ketampanan dia ngalahin Suga deh!" bisik Alya.
__ADS_1
"Bener banget! Coba liat deh senyumnya, ya ampun menggoda banget kan! Ih, kenapa sih, Pak Rei itu gemesin bangeeeet!" tambah Dela, begitu kegirangan.
Saat pemanasan olahraga, mereka malah bisik-bisik membicarakan ketampanan Reiza. Tentu saja hal ini sangat mengganggu di telinga Vania.
Mengingat, jika Vania yang tidak mengagumi Reiza, seperti teman-temannya. Vania malah terganggu dengan perbuatan teman-temannya yang seperti itu.
"Hish, norak banget deh lu berdua! Perasaan, Pak Reiza itu gak cakep cakep banget menurut gue. Apalagi, dibandingin sama Suga BTS. Gila lu pada, jauh banget anjir!" geruti Vania, yang tak rela idolanya disamakan dengan Reiza.
"Ih, dasar buta lu! Lu gak tahu aja, kalau Pak Rei itu berkharisma banget! Sekarang lu bilang gini, entar juga lu bakalan kayak kita-kita, klepek-klepek sama dia!" Dela dan Alya cengengesan.
"Dih, amit-amit tujuh turunan deh guemah! Sorry ye, gak akan pernah terjadi hal kayak gitu! Pak Reiza itu bukan tipe gue! Di mata gue, dia itu malah biasa-biasa aja! Gak lebay kayak pandangan lo pada!" Vania mendelikkan matanya.
"Hati-Hati kena tula lo, Van! Jangan terlalu membenci seseorang, bisa berbalik tuh ucapan lo nantinya," akhirnya Riana menambahkan.
"Bener tuh kata Riana! Pak Rei cakep gitu, malah dijelek-jelekin! Awas aja, kalo lu entar jatuh cinta ama dia, gua acak-acak lu!" pekik Dela.
"HEH, AMIT-AMIT! SEMBARANGAN AJA KALO NGOMONG!" Vania refleks berbicara keras, karena ia kesal atas ucapan Dela barusan.
Sontak saja semua mata tertuju pada Vania yang berbicara begitu keras. Hal ini pun tentu saja mengundang perhatian Reiza. Reiza berjalan mendekati keributan yang dilakukan oleh Vania.
"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali? Kalian tahu gak, ini sedang apa? Masih dalam proses pembelajaran kok berisik. Kamu, Vania! Kenapa berisik sekali?" tegur Reiza pada Vania.
"Aku berisik karena Bapak! Semua karena Bapak! Kalau bukan karena Bapak, aku gak bakal heboh kayak barusan! Argh, emang dasar Bapak tu yah, pembuat masalah!" gerutu Vania marah-marah.
__ADS_1
"Eh, kok saya? Apa maksudnya ini? Kenapa saya dibawa-bawa? Kenapa juga kamu marah-marah sama saya?" Reiza heran bukan main, kenapa dengan beraninya, Vania berkata bahwa Reiza adalah pembawa masalah.
Anak satu ini, kenapa berani sekali? Sabar, Rei, sabar … kau harus menjadi guru yang tenang. Tarik napas, buang lagi, dan selesaikan dengan baik. Batin Reiza dalam hati.