
Vania duduk di taman belakang rumah Reiza. Ia meratapi nasibnya yang sungguh-sungguh tak adil baginya. Ingin menangis, tetapi Vania malu. Ingin berteriak, tapi ia sayang pada pita suaranya.
Ingin memberontak sekalipun, semua sudah terlambat, karena pernikahan terlah terjadi, dan kini Vania pun sudah berada di rumah Reiza.
Kedua orang tua Vania masih sibuk membereskan barang-barang milik Vania ke kamar barunya. Mereka membiarkan Vania seorang diri, agar ia bisa rileks dan mengatur emosinya.
Saat Vania tengah melamun sendirian, tiba-tiba Reiza datang mengagetkan Vania. Hal ini tentu membuat Vania semakin marah lagi. Sudah ia benci pada Reiza, kini pun dikagetkan lagi.
"Jangan melamun, nanti kesurupan!"
"Kurang ajar kamu! Ngagetin aja!" celetuk Livia.
"Kok gak manggil 'Pak' lagi?"
"Suka-suka aku ya! Bapak itu berlaku kalau kita lagi ada di sekolah! Kalau di luar sekolah, terserah aku mau manggil kamu dengan sebutan apapun! Masih bagus aku ngomong kamu, daripada aku nyebut nama binatang? Mau kamu?"
"Kenapa sih wanita itu sensitif sekali? Hal sepele aja bisa jadi panjang lebar. Heran aku, ada aja bahasannya. Udah dong, gak usah juga marah-marah. Coba berdamai dengan keadaan, itu akan membuatmu menjadi lebih baik," Reiza memberi saran.
"Berdamai dengan keadaan katamu? Hah? Berdamai? Mana bisa? Ngomong doang mah gampang! Tapi mempraktekannya? Gak semudah itu! Apalagi, hidup gue tuh udah hancur kayak gini!"
"Enggak, gak hancur, kok. Gak ada yang berubah dengan kehidupanmu, atau kehidupanku. Kita jalani kehidupan seperti biasa. Hanya saja, dengan keadaan yang sedikit berbeda. Meskipun kamu tinggal di rumah ini, anggap saja kamu mengontrak, iya kan? Anggap saja kamu seolah pindah dari rumah, dan tinggal tanpa orang tuamu. Jika kamu tak menghendaki aku, jangan anggap aku di rumah ini. Anggap saja aku tak ada, karena aku juga sadar, perjodohan ini akan sangat menyakitkan untukmu,"
"Kau benar-benar sok bijak! Muka dua sekali! Cih, jangan sok baik padaku, aku tahu kamu itu sedang bermain drama. Dihadapanku begini, dibelakangku begitu! Sudahlah, cari cara saja agar aku bisa cepat keluar dari rumahmu ini! Baru aku bisa percaya, bahwa kamu memang baik!" pekik Vania.
"Baru saja sampai di rumahku, sudah berkata cari cara keluar. Ya tenang saja, Vania, semoga semua ini bisa kita lewati. Jika sudah waktunya, kamu juga pasti bisa pergi dari rumahku. Untuk saat ini, terima kasih telah bersedia memenuhi permintaan ayahku. Terima kasih kamu telah menyetujui pernikahan ini, walau aku tahu, ini tak mudah untukmu, ini pasti menyakitkan bagimu. Maafkan aku, ya, Vania,"
"Aarrgghhh, udahlah berisik! Muak aku dengar kata-kata seperti itu. Jujur aja ya, kalau aja mati itu gak sakit, aku lebih baik milih mati aja deh!" Vania emosi.
"Hush, Vania! Jaga ucapanmu!" tiba-tiba kedua orang tua Vania datang, dan menasehati Vania.
__ADS_1
"Zdgvsfttwryjnnmkjhhg …" Vania menggerutu dalam hatinya.
Andi dan Yuniar turut duduk disamping Vania. Sepertinya, ada sesuatu hal yang penting yang akan mereka katakan pada Vania
Reza pun mundur beberapa langkah karena membiarkan kedua orang tua Vania duduk mendekati anaknya Reza sudah merasa, jika kedua orang tua Vania akan mengatakan sesuatu yang tadi ia katakan kepada Ibu Vania
"Vania! Kamu benar-benar kelewatan ya!" Yuniar sepertinya marah kepada Vania.
"Kelewatan? Kelewatan apa lagi sih? Kenapa sih kalian ini benar-benar menyebalkan sekali. aku tidak melakukan apapun, aku malah dikatain kelewatan. Aku bisa-bisa stres lama-lama, kalau kayak gini terus!"
"Kamu jujur saja kepada mama dan papa! Kamu diskors kan Vania? Diskors dua minggu lagi! Iya kan?" Mata Yuniar serasa akan melotot keluar menatap Vania.
Vania kaget, kenapa orang tuanya bisa tahu? Bukankah ia sudah mengatakan pada Reiza, jika hal itu harus disembunyikan? Kenapa sekarang Mama dan papanya bisa tahu tentang hal itu?
Vania menatap sinis pada Reiza. Vania memicingkan matanya, ia berpikir dalam hatinya, pasti Reiza yang membocorkannya pada kedua orang tuanya. Memangnya siapa lagi?
"K-kau!" Vania melotot tajam pada Reiza.
Vania cemberut, ia seakan tak terima dinasehati oleh ayahnya sendiri. Kemarahan Vania pada Reiza tentunya tak bisa dibendung lagi. Semua ini pasti gara-gara Reiza yang membocorkan masalah tersebut.
"Kamu keterlaluan Vania, Mama tak menyangka, kamu tak serius di sekolah. Ada bagusnya kamu menikah dengan Reiza, biar dia pantau kamu dan beri kamu pelajaran kalau kamu kayak gitu lagi! Malu-maluin banget, pake di skors segala! Dua minggu lagi? Kamu ini ya!" Yuniar geleng-geleng kepala.
"Karena dua minggu ini kamu di skors dan tak boleh pergi ke sekolah, jadi sudah sewajarnya kamu belajar menjadi istri yang baik untuk suamimu! Kamu harus bisa bersikap baik padanya! Kamu harus bisa belajar menjadi istri yang baik untuk suamimu!"
"Papaaaaaaa!" Vania berteriak kesal.
Tiba-Tiba, asisten rumah tangga Reiza, Bik Asih, datang dan mengalihkan perhatian mereka berempat. Bik Asih memberi tahu sesuatu, jika ada tamu yang datang ke rumah ini.
"Den, Tuan, dan Nyonya, maaf mengganggu waktunya. Itu di depan ada tamu, sepertinya adik Tuan besar dari luar negeri, telah tiba. Apakah Den Reiza tahu, jika akan ada yang datang?"
__ADS_1
"Apa? Adik Ayah? Om Frans maksud Bibi? Gak ada kabar apapun, kok. Dia kan sibuk bekerja di luar negeri, gak mungkin dia datang ke sini!"
"Coba Aden ke depan dulu aja, Den. Pastikan dulu oleh Aden, Bibik takut salah," jawab Bik Asih.
Akhirnya Reiza menemui tamu yang dikatakan oleh Bik Asih. Dan benar saja, ternyata itu adalah Om Frans, adik ayahnya Reiza, namun bukan adik kandung.
Reiza kaget, kenapa om-nya tiba-tiba datang? Bahkan, dia tak mengabari Reiza sedikitpun. Tentu saja Reiza kaget bukan main.
"Wow, Om Frans! Bukankah kau sibuk bekerja? Kenapa tak mengabariku jika kau mau datang?"
"Aku sengaja memberi kejutan padamu, karena ibumu bilang, aku tak usah memberi tahu dirimu! Aku ke sini akan menengok kakak, kudengar keadaannya semakin memburuk saja. Tapi sebelum itu, aku ingin menemuimu dulu, dan Mengucapkan selamat atas pernikahanmu ya!"
"J-jadi, Om tahu, aku sudah menikah?"
"Tentu saja aku tahu, ibumu memberitahuku, dan aku harus mengucapkan selamat sebagai gantinya!"
Tak lama, Yuniar dan Andi pun datang ke ruang tamu untuk menyambut tamu yang datang. Yuniar juga menyeret Vania, untuk melihat siapa tamu tersebut.
"Halo, selamat siang. Wah ada tamu, perkenalkan, kami keluarga baru di sini, baru saja tiba juga untuk pindahan anak kami," sapa Yuniar dengan hangat.
"Oh, halo, Tante, dan Om. Apakah kalian adalah besanku? Ah, sepertinya iya. Senang bertemu dengan kalian. Wah, jadi ini istrimu ya Reiz? Cantik sekali, kau memang pandai memilih istri! Reiz, aku lapar, bolehkah aku makan di sini?" ucap Frans to the point.
"Oh, tentu saja, Om. Kita bisa makan siang bersama. Kebetulan, aku dan keluarga istriku juga belum makan siang. Mari, kita makan siang bersama," ajak Reiza pada semuanya.
"Uhuk-uhuk," Vania refleks tersedak, begitu Reiza mengatakan keluarga istri pada Frans.
"Oh iya, sebelum itu, aku akan berikan kalian hadiah, sebagai rasa bahagiaku atas pernikahan kalian! Reiza, ini adalah dia tiket liburan untuk bulan madu ke Singapore! Kau dan istrimu bisa berlibur dan semuanya gratis, karena telah aku bayar, ya! Secepatnya, kalian harus segera pergi berbulan madu, karena hadiah ini khusus aku berikan untuk kau dan istrimu!" Frans pun mengeluarkan dua lembar tiket liburan ke Singapore.
"Uhuk-uhuk, astaga," Vania lagi-lagi tersedak, melihat Om Reiza mengeluarkan tiket liburan untuknya.
__ADS_1
"Ha? Apa? Tiket bulan madu?" Glek, Reiza menelan ludahnya saking ia tak percaya.