Menikahi Anak SMA

Menikahi Anak SMA
Bab 4. Pakai Pengaman


__ADS_3

Setelah pernikahan berlangsung, akhirnya Vania diboyong menuju ke kediaman Reiza. Ada sebuah alasan, mengapa Vania harus tinggal dengan Reiza.


Pertama, tak ada siapapun di rumah Reiza, karena ibunya selalu standby berada di rumah sakit. Hal ini terpaksa dilakukan Vania, karena ibunda Reiza terus memaksanya agar tinggal di rumah Reiza.


Hari pertama saat Vania berada di rumah Reiza, tentu sangat membuat canggung dan menyebalkan. Kedua orang tua Vania, mengantarkan beberapa perlengkapan Vania ke rumah Reiza.


Andi dan Yuniar tentu saja berusaha sebisa mungkin untuk membuat Vania betah tinggal bersama Reiza. Sebenarnya mereka tahu, jika hal ini adalah hal yang tak mungkin bagi Vania.


Semuanya dilakukan Vania dengan terpaksa, karena merasa tak enak pada Mirna, ibunda Reiza. Sesampainya di rumah Reiza, wajah dan tatapan Vania begitu tak enak dipandang.


Vania benar-benar kesal dan marah, karena kedua orang tuanya terkesan telah membuangnya, dan menyerahkannya pada Reiza.


"Semoga kamu betah ya, tinggal dengan Reiza. Vania, jangan gitu terus dong, mama yakin, lambat laun, kamu pasti akan bisa menerima pernikahan ini, kok," ujar Yuniar, berusaha menenangkan Vania.


"Mamah sama Papa tega ngebuang aku! Bilang aja, kalian emang sengaja ngebuang aku ke rumah Pak Reiza, biar kalian bebas di rumah!"


"Hey, Nak, gak boleh gitu! Kamu ini, kenapa pikiranmu jelek sekali, sih? Papa dan Mama tahu, jika ini adalah yang terbaik untuk kamu, Nak. Kamu harus sadar, jika kami ingin membahagiakanmu, dengan pria yang tepat. Walaupun Papa sadar, ini memang salah, karena terlalu cepat. Tetapi tak apa, karena kamu dan Reiza bisa menyembunyikannya, kan. Toh, sebentar lagi juga kamu akan lulus, dan kalian bisa fokus pada rumah tangga kalian," Andi menambahkan.


"Kalian sama aja! Aku benci Mama dan Papa!"


"Van, tak boleh seperti itu. Keputusan mereka sudah yang terbaik. Kita berusaha untuk lebih baik saja, dan menerima semua ini dengan lapang dada," tambah Reiza, sambil membantu Andi membereskan barang-barang Vania.


"Halah, diam kamu! Sama saja dengan kedua orang tuaku!" Vania masih cemberut, ia benar-benar kesal, karena melihat Reiza seakan senang dengan keberadaannya di rumah ini.

__ADS_1


"Vania, kamu yang sopan dong sama suamimu sendiri. Reiz, maafin Vania, ya. Dia memang masih kekanak-kanakan seperti itu. Semoga kamu bisa sabar menghadapi sifatnya. Jangan lelah, untuk membuat Vania agar menjadi lebih baik. Jika kamu kesulitan, jangan sungkan beritahu Mama dan Papa," Yunia tersenyum pada Reiza.


"Iya, Ma, terima kasih banyak telah percaya pada Reiza," jawab Reiza lembut.


"Aarrgghh, Mama! Kalian sungguh menyebalkan! Aku lebih baik pergi! Hih!" Vania berjalan meninggalkan mereka, saking malasnya mendengarkan ocehan yang membuat telinganya sakit.


"Van, tunggu! Vania!" Yuniar berusaha mencegah Vania.


"Ampun itu anak, sudah besar pun masih saja kekanak-kanakan. Reiz, di mana kamar Vania? Biar terpisah saja dulu, biar dia beradaptasi dengan rumah ini," tanya Andi.


"Di lantai dua, di kamar nomor tiga, Pa. Biar Reiza yang bawakan saja, Papa dan Mama istirahat saja dulu, Mbok Asih sudah buatkan makan, kok," tambah Reiza.


"Ah, sudah, tak perlu. Biar aku saja. Kau berbincang lah dengan mama mertuamu, katanya dia ingin memberikan sedikit wejangan padamu," Andi terkekeh, lalu bergegas membawa barang Vania menuju lantai dua.


"Reiz, sini deh duduk dulu, Mama mau bicara sama kamu," ajak Yuniar.


"B-bicara apa, Ma?" tanya Reiza gugup.


Yuniar tersenyum, seakan matanya mengisyaratkan sesuatu pada Reiza. Reiza pun duduk di sebelah Yuniar, dan siap mendengarkan wejangan, seperti yang barusan dikatakan oleh Andi.


"Reiz, kamu tahu kan, pernikahan ini terjadi karena sebuah keterpaksaan. Jika bisa memilih, kamu pun pasti enggan untuk melakukannya, iya kan?"


"I-iya, Ma. Lalu?"

__ADS_1


"Nah, karena kamu tak memiliki pilihan lain, Mama harap kamu mampu menjaga amanah ayahmu, ya. Jaga pernikahan ini sebaik mungkin. Ini memang sudah waktu yang tepat untukmu menikah, tetapi, untuk Vania, jelas ini bukanlah waktu yang tepat. Vania masih sekolah, dan jika pihak sekolah tahu, bahwa dia sudah menikah, apa jadinya nasib Vania nanti? Mama harap, kamu mampu menjaga rahasia pernikahan ini. Jangan sampai bocor, pada siapapun, termasuk sahabatmu sekalipun. Anggap saja tak terjadi apapun antara kalian, ya. Mama tak ingin masa depan Vania hancur, karena pernikahan ini," tutur Yuniar.


"Tentu saja Reiza mengerti, Ma. Reiza akan menyembunyikan pernikahan ini dari siapapun. Reiza mendapat amanat dari Mama dan Papa. Reiz juga tentu saja akan menjaga Vania dengan baik. Mama tenang saja, tak perlu khawatir, ya,"


"Terima kasih. Mama percaya padamu, Reiz. Sejak kecil, ayahmu begitu membanggakanmu. Kamu adalah anak yang cerdas dan hebat. Tak salah, ayahnya Vania begitu mengagumimu. Hingga ia rela menikahkan Vania denganmu, meskipun dia kini masih sekolah. Semoga kamu bisa menjadi suami yang baik untuk Vania, Reiz," Yuniar tersenyum.


"Ah, biasa saja, Ma. Tak ada yang perlu dibanggakan dariku."


"Kamu ini, malah merendah. Reiza, Mama ada satu pesan penting yang harus kamu perhatikan," tutur Yuniar lagi.


"Pesan penting? Pesan apa itu, Ma?"


"Kamu dan Vania kan secara agama sudah resmi menikah. Itu berarti, tandanya kalian berstatus sebagai suami istri, kan? Masalahnya, Vania itu masih dibawah umur, Reiz. Kamu harus hati-hati, ya,"


"Hati-Hati? Tentu saja, Ma. Aku akan hati-hati menjalani pernikahan ini. Tak akan ada satupun orang yang mengetahui pernikahan kita," jawab Reiza percaya diri.


"Bukan hati-hati tentang hal itu, bukan … tetapi, hati-hati kalau nanti kamu berhasil tidur dengan Vania. Jangan sampai kamu tak pakai pengaman, ya! Kamu harus berjaga-jaga, Reiza! Beli stok pengaman, jangan sampai kamu kebobolan! Pokoknya kamu harus hati-hati untuk urusan yang satu itu ya!"


"Astaga, Mama, tidak, tidak mungkin aku melakukannya. Aku tak akan sejahat itu. Aku juga sadar akan status pernikahan ini, kok. Aku tak akan berjalan sejauh itu. Ya ampun, aku benar-benar kaget," Reiza tak percaya, ibu mertuanya akan membicarakan hal sensitif seperti itu.


"Sstt, kalian itu sudah menikah. Siapa tahu, seiring berjalannya waktu, hal itu akan terjadi. Jadi, Mama ingatkan kamu, untuk selalu memakai pengaman, untuk berjaga-jaga, ya. Mama gak mau lho, punya cucu di usia sekarang. Nanti lah, biarkan Vania kuliah dulu, baru punya cucu. Begitu, ya, Reiza. Semoga kamu paham,"


Glek. Reiza akhirnya menelan ludah. Saking kaget dan tak percaya, dengan apa yang barusan dibicarakan oleh mertuanya sendiri.

__ADS_1


Oh, Tuhan, kenapa hidupku jadi kacau seperti ini? Apakah ini adalah mimpi buruk? Bisakah aku terbangun dan lari dari mimpi buruk ini? Kapan ini semua akan berakhir, Tuhaaaaan? 


__ADS_2