
Kenyataan pahit ini ternyata bukanlah sebuah mimpi buruk, yang bisa menghilang setelah ia terbangun. Vania sungguh tak pernah menduga sama sekali, jika hal gila ini akan terjadi pada dirinya.
Yang lebih mencengangkannya lagi, ternyata Vania akan dijodohkan dengan gurunya sendiri. Jengkel, muak, marah, emosi, benci dan jijik bercampur menjadi satu.
Bagaimana tidak? Reiza adalah guru olahraga sekaligus guru BP di sekolahnya. Vania sudah pernah berurusan dengannya, beberapa kali saat di sekolah.
Pertama, Vania main HP di kelas, saat jam pelajaran berlangsung. Hingga ponselnya disita oleh guru, dan Vania dihukum oleh guru BP, yaitu Reiza. Kedua, teman-temannya begitu menggilai Reiza, sehingga hal ini sangat membuatnya muak.
Setiap momen apapun, yang dibahas selalu Reiza. Apalagi saat jam pelajaran olahraga, teman-temannya selalu menggosipkan Reiza, hingga Vania muak rasanya.
Perjodohan dan pertemuannya dengan Reiza, membuat Vania bungkam seribu bahasa. Vania enggan berbicara setelah mereka dipertemukan.
Keluarga Reiza, memohoh-mohon, dan meminta dengan sangat, agar Vania mau menerima perjodohan ini. Begitu juga dengan kedua orang tuanya, mereka pun turut berusaha untuk meluluhkan hati Vania.
Namun tak semudah itu bagi Vania untuk menerimanya. Ada banyak hal yang membuatnya membenci perjodohan ini. Apalagi, Vania sangat membenci dan tak menyukai Reiza.
.
Hari ini, Vania tetap bersekolah, karena beberapa bulan lagi, ia akan menghadapi ujian kelulusan. Semua siswa harus hadir, untuk melakukan pemantapan soal-soal ujian.
Vania sama sekali tak fokus belajar. Ketika guru sedang menerangkan, ia malah memainkan ponselnya. Entah apa yang ada di benak Vania. Namun, hal ini sepertinya adalah berontakan pada diri Vania, yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Vania Aldara!" teriak Bu Gina, guru bahasa indonesia.
Rupanya, sang guru sudah memerhatikan Vania yang malah asyik bermain HP. Sejak tadi, memang Vania tak memerhatikan gurunya, ia malah sibuk scroll ke sana ke mari di ponselnya.
"I-iya, Bu," Vania kaget, dan langsung menyembunyikan ponselnya ke kolong meja.
Bu Gina berjalan mendekati meja Vania. Vania sudah kaget setengah mati. Mengingat, jika Bu Gina adalah guru killer yang ditakuti oleh siswa-siswi SMA Harapan.
"Berikan padaku!" ujar Bu Gina begitu tegas.
__ADS_1
"Apa Bu?" Vania pura-pura.
"Jangan pura-pura! Berikan padaku ponsel yang kau sembunyikan di kolong mejamu! Cepat!" teriaknya lagi.
"Ga ada, Bu. Vania gak pegang ponsel, kok,"
"Berdiri kamu!" Bu Gina memegang tangan Vania, dan menyuruhnya untuk berdiri.
Akhirnya Vania berdiri, dan Bu Gina berhasil mendapatkan ponsel milik Vania yang disembunyikan di kolong meja.
"Ibu akan sita ponselmu ini! Kamu harus menghadap guru BP nanti jam istirahat!"
"Waduh, Vania, Vania, udah kedua kalinya niyee kena Razia. Makanya, jangan pacaran terooos. Kena lagi kan akhirnya," celetuk Belva, musuh bebuyutan Vania.
"Ya ampun, udah dua kali? Bener-bener kamu ini Vania! Kamu harus diskors! Dua minggu kamu tidak boleh sekolah! Ibu akan laporkan ini pada guru BP, agar kamu diskors hari ini juga!"
"Bu, Bu, jangan Bu! Astaga! Aarrgghh!" Vania mendelik kasar pada Belva, yang turut mengomporinya pada Bu Gina.
.
.
Reiza menjadi guru BP untuk sementara, dikarenakan ada salah satu guru BP yang tengah menjalani cuti melahirkan. Hal inilah yang membuat Vania malas berurusan dengan guru BP. Itu tandanya, Vania juga harus berurusan dengan Reiza.
Tok, tok, tok … Vania mengetuk pintu.
"Silakan masuk," terdengar suara Reiza yang ada di dalam ruangan.
Deg. Jantung Vania semakin berdebar tak karuan. Reiza adalah orang yang tak ingin Vania temui. Padahal, ia terus berdoa, agar bukan Reiza yang ada di ruang BP ini.
"Kamu," Reiza sedikit kaget.
__ADS_1
"Pak, saya mau ambil ponsel saya, yang disita Bu Gina," ucap Vania to the point.
"Ponsel? Oh, yang Bu Gina laporkan tadi. Duduklah, masuk dulu. Kamu diskors, kamu gak boleh sekolah selama dua minggu. Kamu terlalu banyak melakukan kesalahan."
Vania pun duduk, "jangan banyak basa-basi. Terserah, mau diskors mau enggak. Yang penting, kembaliin HP-ku sekarang!" tutur Vania memaksa.
"Tidak bisa semudah itu, Vania. Maaf, jika aku akan mencampuri urusan pribadi dan urusan sekolah. Aku telah mengecek ponselmu, dan kulihat ada beberapa hal negatif yang kamu lakukan. Untuk apa kamu melihat barang-barang haram? Kamu juga merokok, iya kan? Bagaimana jika aku laporkan hal ini pada kedua orang tuamu?"
"Heh! Jangan sembarangan! Memangnya Bapak siapa, ikut campur urusan pribadiku!"
"Kamu adalah muridku. Aku bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan di sekolah ini. Vania, kamu berbahaya, kamu sudah hilang arah. Kurasa, aku harus mengambil jalan tengah. Aku akan bungkam, dan tak akan memberitahu orang tuamu. Aku yang akan merubahmu dengan kedua tanganku sendiri! Asalkan, menikahlah denganku! Aku bisa merubahmu, asal kau bersamaku! Aku melakukan semua ini demi permintaan terakhir ayahku. Kumohon, bekerja samalah denganku! Aku akan menutupi perlakuan burukmu ini, asal kau setujui perjodohan kita! Sampai ayahku melihat kita, Vania!"
"Astaga! Nggak! Nggak mau! Cuih, aku gak mau!"
"Vania, berisik! Kamu tak boleh berteriak di sini!"
"Enak sekali ya Bapak, menyelam sambil minum air, dengan memanfaatkan situasi seperti ini!" Vania mendelik kesal.
"Ya terserah. Sekalipun kau menghindar, kau akan tetap dijodohkan denganku. Daripada kucing-kucingan seperti ini terus, lebih baik kau terima dengan kesadaranmu. Aku akan tutup mulut dengan semua ulahmu di ponsel ini, jika kau menikah denganku! Tapi jika kau tetap bersikeras, maka aku akan melaporkannya pada Om Andi!"
"Pak Reiza! Jangan!!! Aarrgghh, kurang ajar!"
.
Perdebatan itu, akhirnya berakhir pada sebuah akad nikah sederhana yang dilakukan di rumah sakit. Akad nikah antara Reiza dan Vania, yang mereka lakukan dengan sebuah keterpaksaan, demi kebahagiaan ayahanda Reiza.
Vania terpaksa menerima perjodohan ini, karena ancaman Reiza benar-benar membuatnya takut. Vania lebih takut dicoret dari kartu keluarga, daripada menikah dengan Reiza. Akhirnya, Vania tak memiliki pilihan lain, selain rela menikah siri dengan Reiza.
"Aku menikah denganmu karena terpaksa! Semua hanya sebatas status saja. Suatu hari nanti, aku akan menyelesaikan pernikahan gila ini! Aku akan pergi meninggalkanmu, dan tak akan pernah kembali, sedikitpun!"
"Silakan, jika pernikahan ini hanyalah sebatas waktu saja, lakukan apapun yang kau inginkan. Karena perlu kau tahu, aku menikahimu bukan karena aku mencintaimu, tapi karena aku mencintai ayahku!"
__ADS_1
Deg. Tatapan mata Vania begitu tajam pada Reiza, begitu Reiza mengucapkan kata-kata terakhirnya.