
Hadiah yang diberikan oleh Om Frans tentu saja tak dapat ditolak oleh Reiza dan Vania. Siapa sangka, jika Om-nya akan memberikan hadiah aneh seperti itu.
Semakin menjadi saja emosi Vania pada Reiza. Apalagi, mereka berdua harus pergi bulan madu bersama. Tiket liburan yang diberikan Om Frans, tak mungkin mereka sia-siakan begitu saja, mengingat jika Omnya segera menginginkan agar mereka pergi.
Sepertinya Om Reiza itu tak tahu, jika sebenarnya, Vania masih seorang pelajar. Pantas saja ia memberikan hadiah tiket liburan berbulan madu untuk mereka berdua.
Ternyata, karena memang ibunda Reiza tak jujur pada Omnya, seolah jika pernikahan Reiza dan Vania, adalah pernikahan yang memang dikehendaki oleh mereka berdua.
Padahal kenyataannya, Vania pun masih berstatus sebagai pelajar, dan mereka berdua, sama-sama terpaksa melakukan perjodohan ini.
Akhirnya, karena perasaan tak enak pada Om Reiza, Vania dan Reiza memutuskan untuk pergi ke Singapura sesuai dengan tiket liburan yang diberikan oleh Omnya.
Vania benar-benar terpaksa kembali melakukan hal yang sama, hal ini benar-benar sangat membuatnya geram, karena ia harus berada bersama dengan Reza hanya berdua di negara orang lain.
Setelah beberapa jam berada di pesawat, akhirnya mereka tiba juga di Singapura. Wajah Vania benar-benar tak indah dipandang, karena ia masih begitu kesal kepada Reza.
"Kita pergi ke Luxury hotel. Sepertinya ini benar-benar hotel mewah. Bisa-bisanya Om Frans memesan hotel bintang lima seperti ini," ucap Reiza seorang diri.
"Aku tanya padamu, berapa kamar yang telah Om-mu pesan?"
"Ya dia kan mengira kita akan berbulan madu, ya tentu saja dia memesan satu kamar!" jawab Reiza.
"Ha? Satu kamar? Gak! Gak! Aku gak mau satu kamar denganmu! Apa kasurnya ada dua di satu kamar itu?" tanya Vania.
"Sebentar, aku lihat dulu," Reiza membuka lagi ponselnya, sesuai dengan nomor kamar hotel yang telah dipesankan Omnya.
Reiza menggeleng, "enggak, ini cuma satu bed, tapi ukuran besar sepertinya."
"Aku gak mau ya satu kamar sama kamu! Pesankan aku kamar disebelah kamar itu, titik! Sekarang juga, gak pake koma! Titik lagi!" Vania memerintah pada Reiza.
__ADS_1
"Pesan lagi? Ini hotel mewah di Singapore, harga per malamnya gak mungkin cuma sejuta dua juta kayak di Jakarta, Vania. Kamu gila, gak mungkin lah, pesan lagi. Udah, aku tidur di sofa aja! Kamu tidur di kasur. Cukup satu kamar untuk berdua!" Reiza berusaha untuk bersikap logis.
"Gak! Gak mau! Enak aja kamu! Ini semua juga gara-gara kamu, Pak Reiza! Kenapa juga aku harus pergi ke negara ini, dengan tujuan untuk bulan madu! Siapa juga yang mau bulan madu, hah? Pokoknya aku gak mau tahu ya, kamu harus pesankan kamar untukku sendiri!" Vania memaksa.
"Astaga, baiklah, baiklah … aku akan lihat dulu,"
"Cepat! Sebelum sebentar lagi kita sampai ke hotel! Aaarrgghhh, semua ini juga gara-gara kau! Jika saja Om-mu itu tak datang, tak akan ada bulan madu bulan madu memuakkan seperti ini! Sungguh hidupku sudah seperti di neraka saja!"
"Vania, kau ini! Sudah cukup, tak usah mengeluh dan menggerutu seperti itu! Aku sedang melihat kamar kosong dan juga harganya. Bersabarlah, tetap tenang, kita pasti bisa melewati semua ini!"
Vania lagi-lagi marah dan cemberut. Rupanya, Reiza bisa marah juga, meskipun masih tetap lembut dan tidak kasar sama sekali.
Vania hanya bisa menekuk wajahnya, dan mendelikkan matanya saat Reiza menggerutu padanya. Ini bak hari paling sial dalam hidupnya. Bisa-bisanya Vania terjebak di Singapore bersama gurunya sendiri.
"Astaga, yang benar saja Om-ku ini!" teriak Reiza, sepertinya ia benar-benar kaget.
"Apa? Apa?" Vania penasaran.
"Enggak! Pokoknya kita harus pisah kamar! Cuma sepuluh juta aja, kok kamu kayak keberatan gitu sih? Kamu kan udah kerja, jadi guru pula. Pasti punya penghasilan bulanan dong? Bayar sepuluh juta aja ampe ngeluhnya kayak gitu!" sindir Vania.
Andai dia tahu, berapa penghasilan menjadi guru yang bukan PNS … batin Reiza dalam hati.
Akhirnya, terpaksa Reiza menggunakan uang tabungannya, yang ia simpan di rekening pribadinya. Awalnya, tabungan miliknya itu hanya akan ia gunakan untuk nanti jika ia sudah menikah.
Akan tetapi, pernikahannya tak seperti yang ia bayangkan. Kebetulan, uangnya memang lumayan dan Reiza masih bisa membayarkan kamar hotel tambahan untuk Vania.
Sia-sia saja rasanya, ketika Reiza bersusah-susah untuk menabung, hingga kadang ia tak makan, demi menabung untuk masa depannya. Tapi kini, habis dengan percuma, hanya untuk memesan satu kamar hotel saja.
Sakit rasanya … namun apa boleh buat. Menghadapi Vania si keras kepala, tentu saja tak mudah. Reiza lebih memilih untuk mengalah, daripada timbul masalah besar, jika ia terus membantah.
__ADS_1
"Baiklah, sudah aku pesankan satu kamar lagi, tepat di sebelah kamar yang diberikan Om Frans," jawab Reiza sedikit lesu.
"Gak ikhlas ya? Gak rela ya? Dasar pelit!"
"Untuk apa aku pesankan kamar itu, jika aku tak ikhlas melakukannya!"
"Ya karena terpaksa lah, kamu melakukannya karena terpaksa! Aku tahu itu!" Vania mendelik.
"Sudah, kamar hotelnya sudah aku pesankan, dan sudah aku bayar juga. Sebentar lagi juga kita akan sampai di hotelnya, daripada marah-marah terus, mending kamu istirahatkan bibirmu itu. Kasihan, dia berbicara terus. Apa kamu tak lelah, Van?"
"Hish! Kurang ajar!" akhirnya Vania menutup telinganya menggunakan earphone yang menggantung dilehernya. Vania geram, menghadapi sifat menyebalkan Reiza.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Reiza dan Vania telah sampai di hotel mewah yang mereka tuju. Setelah mereka berhasil check in, Vania dan Reiza berjalan menuju nomor kamar hotel mereka.
Saat masih berjalan di sekitar lobby hotel, tiba-tiba saja ada yang memanggil Reiza, dan tentu saja hal itu mengagetkan mereka berdua.
"Hey, Reiz! Reiza! Kau kah itu?" panggilnya dari belakang Reiza.
Reiza pun berbalik dan melihat sumber suara, "astaga, Adit! Kau! Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Wah, ternyata benar kau, Reiza! Senang bertemu denganmu di sini. Waduh, sepertinya ada yang sedang liburan dengan kekasih tercinta nih," Adit melirik Reiza.
Reiza kaget, ia lupa, disampingnya ada Vania, yang tentu saja mengundang teman lamanya untuk menjadikannya bahan pembicaraan. Adit adalah teman SMP Reiza, mereka sudah lama tak bertemu, dan baru dipertemukan kembali kali ini.
"Ya ampun, kau salah menduga, Dit! Ini adalah sepupuku! Dia ini bodoh sekali, tadi malah kesasar pas mau balik ke hotel, jadinya aku jemput dia. Memang menyusahkan dia ini! Kebetulan, aku dan keluarga besarku sedang liburan di sini, Dit. Begitu ceritanya, ngarang aja deh, mana mau aku dengan anak ini? Hih, dia bocil, rese lagi," pekik Reiza.
Vania geram bukan main. Namun cara Reiza yang seperti itu memang benar adanya. Agar pernikahan mereka tak diketahui oleh siapapun.
"Waduh, cakep banget sepupumu. Siapa namanya? Boleh dong Reiz, kuminta nomor ponselnya? Untuk sekedar kenalan, ya ya?" bisik Adit pada Reiza.
__ADS_1
Astaga, kenapa begini jadinya? Batin Reiza dalam hati.