
Kedua mata Monica terbelalak tak percaya. Setelah melihat dari ketinggian, rawa-rawa tempatnya melarikan diri berjam-jam lamanya. Tak lain pekarangan mansion Luigi.
"Jadi pekerjaan ku sia-sia saja", gumam Monica hendak terduduk di tanah dengan batuan tajam.
Carlo mencengkram kuat bahu gadis itu. "Seharusnya kau tidak mengkhianati tuan Luigi Salvatore, dokter. Tuan sudah sangat baik pada anda. Ia terlalu lunak pada mu. Hal yang tidak akan pernah berlaku untuk orang lain", tegas Carlo sambil menyeret tubuh Monica.
"Kau pikir penjaga tidak mengetahui celah itu? Celah itu sengaja di buat sebagai jebakan bagi orang-orang yang ingin melarikan diri".
"Lihatlah yang terjadi pada mu, kau berputar-putar di lahan mansion. Hahaaa", ucap Carlo mengejek Monica yang terlihat bodoh di matanya.
Jiwa raga Monica sudah sangat lelah sekarang. Gadis itu terisak. "T-olong bantu aku Carlo. A-ku hanya ingin bertemu anak ku. Kasihan Gabriel masih bayi. Hanya aku yang ia punya, ayahnya sudah meninggal dunia", ucap Monica terisak dengan langkah kaki terseok-seok kerena harus mengikuti langkah Carlo.
"Itu bukan keputusan ku. Tapi tuan Luigi lah yang punya kuasa", jawab Carlo.
Carlo memberi isyarat pada anak buahnya yang sudah menunggu di dekat mobil Jeep yang semalam Monica lihat di pakai Luigi.
Monica duduk di bangku belakang, tangannya tidak di ikat. Namun ia tidak bisa melakukan apa-apa karena di apit dua pria berbadan besar. Yang pasti Monica tidak kuat lagi jika harus melarikan diri sekarang ini. Tenaganya habis setelah menyusuri rawa beberapa jam, berakhir bertemu dengan Carlo yang mengejarnya. Membuat Monica berjibaku menguras tenaganya untuk menghindari Carlo.
Namun laki-laki berwajah bengis itu berhasil menangkap Monica yang memberi perlawanan sekuat tenaga.
*
Monica menatap sebuah bangunan besar seperti gudang. Ketika mobil yang membawanya berhenti.
Monika benar-benar tidak perduli mau di bawa kemana ia sekarang.
Carlo lagi-lagi menyeret tubuh Monica. Membawanya masuk ke dalam gudang yang di seputaran nya di kelilingi tumbuhan liar, semak belukar.
__ADS_1
Monica menangkap suara aneh dari dalam gudang. Semakin lama suara itu semakin jelas. Jeritan bercampur de*ahan yang tertahan.
Ketika anak buah Carlo membuka pintu dengan lebar kedua mata Monica terbelalak melihat ketengah gudang. Seorang wanita sedang di perkosa ramai-ramai di atas meja seadanya.
Sementara dari jauh duduk seorang pria di sofa sambil menyilangkan kaki melihat apa yang di lakukan empat orang laki-laki yang sedang menggauli wanita yang sudah begitu lemah itu.
Kedua mata Monica mendadak memerah.
"Hentikannn!"
"Apa yang kalian lakukan pada Gretta! Ya Tuhan.."
Monica hendak lari membantu gadis malang itu, yang sudah begitu lemah. Bahkan tak terdengar lagi suaranya lagi.
Namun Carlo menahan Monica di tempatnya.
"Cukupp!", perintah Luigi dengan suara lantang. "Lempar tubuh gadis itu ke kandang harimau!"
Seketika keempat laki-laki itu menghentikan kegiatannya.
Kedua mata Monica kian terbelalak tak percaya mendengar perintah Luigi.
Sekuat tenaga Monica memberontak dari cengkraman Carlo dan di belakangnya ada dua pria yang berjaga-jaga.
Kali ini Monica berhasil lolos dari cengkraman Carlo, ia berlari sekencang mungkin hendak membantu Gretta.
"Gretta, bangun. Gretta..."
__ADS_1
"Demi Tuhan, Grettaa bangunn!", teriak Monica panik dan menjerit.
Sungguh keadaan Gretta sangat memprihatinkan. Gadis itu bukan hanya di perkosa saja namun di siksa, sepertinya di cambuk hingga memiliki luka memanjang di tubuhnya.
Kedua tangan Monica terkepal, sementara air mata membasahi wajahnya. Gadis itu berlari dan memukuli punggung Luigi yang hendak keluar gudang itu.
"Kau pembunuh! Kau bajingan! Seharusnya kau yang mati. Aku menyesal pernah menyelamatkan nyawa mu! Brengsek!!", teriak Monica berapi-api.
Luigi membalikkan badannya menatap dingin Monica yang berurai airmata dan penuh kebencian melihatnya.
"Aku sudah mengingatkan mu jangan pernah main-main dengan ku. Atau kau mau berakhir seperti gadis itu. Hah?!
"Kau jahat! Kau pembunuh!", hardik Monica tepat di hadapan laki-laki itu. "K-au tidak memiliki hati nurani! K-au tahu Luigi Salvatore...Kamu tidak layak untuk bahagia, tak seorangpun mencintaimu di dunia ini. Kau pikir hebat dengan memiliki kekuasaan seperti ini hah?"
Monica menggelengkan kepalanya. "Kau tak lebih dari seorang yang pengecut! Kau tak lebih seperti banci dan pecundang!"
Luigi tersenyum tipis mendengar umpatan Monica tepat di hadapannya. Tak ada sepatah katapun keluar bibirnya. Tak ada kata-kata balasan. Namun kedua mata laki-laki itu menggelap dengan rahang kian mengeras.
"Bawah dia, Carlo! Persiapkan dirinya malam ini!"
Dengan langkah tegap laki-laki itu pergi.
"A-pa mau mu, Carlo. Tidakk. Aku tidak mau kembali ke rumah itu. Kalian jahat. Kalian semua akan hancur!", teriak Monica.
Luigi masih bisa mendengar semua ucapan gadis itu. Seringai terlukis di wajahnya.
...***...
__ADS_1
To be continue