MENJADI TAWANAN MAFIA

MENJADI TAWANAN MAFIA
PERTEMUAN


__ADS_3

Sontak kedua mata Monica terbuka ketika ada yang menggedor pintu dengan keras. Bahkan kesadaran Monica belum lah sepenuhnya pulih dari tidur lelapnya.


Dengan sempoyongan dan mata terpejam gadis itu beranjak. Hingga ada yang membuka pintu.


"Sekarang periksa keadaan tuan Luigi", ucap Dana yang tiba-tiba menerobos masuk ke kamar Monica.


Monica tak bergeming, rasanya hari masih gelap. Kedua netranya mencari-cari jam. Pukul berapa sekarang.


"Sekarang pukul sepuluh pagi, nona", ucap Dana memberi tahu Monica. Ia tahu apa yang di cari wanita di depannya.


"Owh. HM...Beri aku waktu sepuluh menit membersihkan badanku", ujar Monica.


"Segera lah. Jangan sampai terlambat atau kau akan di habisi Carlo, dokter!".


"Iya aku tahu", jawab Monica berlari mencari kamar mandi. Gadis itu langsung masuk saja ke pintu yang ada di kamar itu.


Tanpa membuang waktu Monica langsung membasuh wajahnya dan mengambil salah sikat gigi yang masih baru.


"Aku harus bersikap sewajar mungkin agar bisa kabur dari sini", batinnya.


Monica mengambil handuk dan mengusap wajahnya. Tubuhnya terasa lengket sekali tanpa mengganti pakaiannya. Gadis itu keluar kamar mandi. Kedua matanya melotot ketika melihat Dana masih ada di kamarnya.


"K-au..


"Cepat. Carlo sudah menunggu mu!", perintah Dana.

__ADS_1


"Oh iya". Monica menaruh handuk kecil. Gadis itu mengikat rambut panjangnya secara acak di atas kepalanya.


Dengan langkah cepat Monica berjalan di samping Dana. Ia hendak menuruni tangga. Namun Dana mencegahnya. Dana menaiki tangga bukan turun.


Monica mengerutkan keningnya, tanda tidak mengerti. Namun ia tidak bertanya apapun, Monica hanya mengikuti saja kemana wanita pelayan itu.


Ternyata ia membawa Monica ke lantai tiga mansion mewah itu. Di lantai itu masih sama, ada beberapa orang berjaga-jaga di depan pintu.


Dana memberi isyarat agar Monica mengikuti nya masuk. Ternyata itu sebuah kamar. Dari aromanya bisa di pastikan pemiliknya adalah laki-laki.


Monica langsung melihat Carlo yang berdiri tegap di samping tempat tidur berukuran luas itu. Di atasnya laki-laki bernama Luigi terbaring tanpa pakaian atas menutupi tubuhnya. Masih seperti semalam ketika Monica membantunya. Luigi hanya menggunakan training panjang.


Namun sekarang kedua mata laki-laki itu terbuka. Ia menatap tajam ke arah Monica. Ada sebuah tatapan misterius di sana, namun Monica tidak bisa mengartikannya.


Tidak ada jawaban apapun dari bibir Luigi. Namun sorot mata laki-laki itu begitu menghunus tajam dan mengintimidasi. Membuat tubuh Monica bergidik ngeri. Netra biru dengan jambang di biar kan tumbuh liar di wajahnya membuat laki-laki itu begitu menakutkan. Meskipun tampilan nya tidak bisa menutupi ketampanan yang ia miliki namun tetap saja menakutkan menatapnya.


"Terimakasih kau menyelamatkan aku!". Tiba-tiba suara bariton keluar dari mulut Luigi. Membuyarkan lamunan Monica.


Monica berusaha setenang mungkin, dengan tersenyum. Gadis itu menganggukkan kepalanya pelan.


"Periksa lah keadaan tuan Luigi, dokter!", perintah Carlo.


Monica tampak mencari sesuatu. "Aku lupa membawa peralatan medis ku", ucapnya bingung.


Namun Monica bernafas lega setelah melihat dana memberikan stetoskop dan tensimeter digital yang ia butuhkan untuk memeriksa pasien.

__ADS_1


Monica langsung mendekati Luigi yang terus saja memperhatikan Monica.


Monica sepenuhnya menyadari tatapan laki-laki tersebut, namun Monica harus bersikap senormal mungkin.


"Aku harus memeriksa mu", ucap Monica pelan, sambil melilit alat tensimeter ke lengan atas Luigi.


"Iya lakukan", jawab Luigi dingin tanpa mengalihkan perhatiannya dari sosok Monica yang terlihat begitu pucat.


Monica menempelkan stetoskop ke dada bidang Luigi. Mendengarkan detak jantung laki-laki itu yang terdengar sangat cepat.


Sesaat kemudian Monica mencatat obat apa saja yang harus di beli pada Carlo. Carlo segera memerintahkan anak buahnya membeli obat-obat itu.


*


"Demi tuhan Carlo...bagaimana bisa kau membawa wanita itu kemari. Bukankah ia wanita yang hampir Zoar tabrak di pasar itu?", tanya Luigi pada orang kepercayaannya Carlo.


"Iya tuan. Saya juga kaget ketika membawa anda semalam untuk mengobati luka tuan ternyata melihat wanita itu. Dan ternyata ia dokternya. Terlihat dari plang yang berada di tepi jalan dr. Monica namanya".


"Apa kau yakin dia tidak bekerja pada siapapun, Carlo? Kau harus bertanggungjawab dengan perbuatan mu ini. Kau tahu aku tidak menyukai ada orang asing berada di sekitar ku!", tegas Luigi kesal pada Carlo.


...***...


To be continue


Tinggalkan komentar kalian ya 🙏

__ADS_1


__ADS_2