MENJADI TAWANAN MAFIA

MENJADI TAWANAN MAFIA
TAMU TAK DI UNDANG


__ADS_3

Monica dan Erinka masih menyusun obat-obatan di lemari khusus ruang praktek Monic.


Hari sudah malam dan gelap. Sementara di luar hujan sangat deras membasahi bumi.


Lolongan serigala beberapa kali terdengar. Hal biasa di desa Castelmola. Bukan suatu keanehan mengingat desa itu terpencil dan berada di pegunungan yang memiliki hutan lebat.


Namun kian lama lolongan binatang buas itu semakin keras terdengar bersahutan. Membuat bulu kuduk berdiri dengan sendirinya.


"Kenapa malam ini serigala-serigala itu tak henti melolong, apa ada sesuatu yang mengusik mereka", ucap Erinka bergidik.


"Mungkin mereka kedinginan dan kelaparan", jawab Monica berbarengan dengan gedoran kuat di pintu tempat prakteknya.


Gedoran kuat membuat keduanya begitu kaget. Tubuh Erinka melonjak. Kedua matanya melebar menoleh kearah pintu yang berulang kali di gedor.


"Kak...


Monica bersikap setenang mungkin meskipun sebenarnya ia pun ketakutan. Karena sekarang sudah pukul satu lewat. Ia tidak tahu siapa di luar sana. Tidak mungkin tetangga mereka.


Perasaannya mendadak tidak enak.


"Buka pintuu atau kami dobrakk!"


Suara keras terdengar jelas tepat berada di depan pintu.


Spontan Erin memadamkan lampu ruangan. Namun tangannya menyenggol tempat alat tulis di meja hingga jatuh.


"Buka pintu, atau kalian matiii!", teriak orang di luar.


Ancaman kali ini membuat Monic panik. "Segera ke kamar Gabriel, dan kunci pintu! Aku merasa hal buruk akan terjadi".


Lagi-lagi gedoran di pintu terdengar keras.


"Erinka, cepattt sembunyi di kamar Gabriel. Jaga anak ku!!", ucap Monica dengan suara bergetar sambil mendorong tubuh adiknya.


"Kakk ..


"Cepattt. Kunci pintu kamar itu!!!"


Terdengar handle pintu di tembak dengan senjata api yang di redam suara letusan nya sehingga orang-orang tidak akan mendengar suara tembakan itu.


Tubuh Monica seketika bergidik. Otak nya berpikir apa yang harus ia lakukan kala keadaan mencekam seperti ini. Ia hanya bisa pasrah sambil berdoa memohon perlindungan ia dan keluarga nya.


"Brakkk!!


Pintu terbuka paksa. Sinar dari senter pelaku tepat menerangi wajah Monica yang berdiri dengan tubuh gemetaran di depan lemari penyimpanan obat.

__ADS_1


Tiga orang berdiri di hadapannya. Yang satu terlihat terluka parah. Sepertinya tertembak di bagian perut. Sementara yang satu lagi memegangi tubuh laki-laki yang terluka parah. Dan yang lainnya menodongkan senjata pada Monica.


"Obati bos kami sekarang juga!", hentak laki-laki berwajah mengerikan itu.


Monica tidak bergeming dari tempatnya.


"Cepatttt! Atau kepala mu aku letuskan dengan timah panas ini!", bentak laki-laki itu.


Sementara terdengar kata-kata tidak jelas dari laki-laki yang terluka.


Monica tersadar. Ia segera menghidupkan lampu dan tergesa-gesa mencari beberapa obat yang di butuhkan.


"Zoar...kau jaga pintu! Tembak saja siapapun yang mendekat!"


"Baik Carlo".


Sekilas Monica menatap wajah laki-laki yang berada di atas tempat tidur pasien. Monica menggunting kemeja berlumur darah itu.


Laki-laki itu bergumam tidak jelas. Kepalanya saja yang bergerak. "Adelle... Adelle", ucapnya di bawah alam sadar.


"Lukanya dalam. Aku harus mengeluarkan proyektil, untuk menghentikan pendarahan".


"Lakukan sekarang! Jangan sampai bos ku mati. Atau nyawamu taruhannya", ujar laki-laki yang mengawasi Monica sedari tadi.


*


Sementara laki-laki terluka sudah di bawa orangnya ke mobil.


"Huhh, ternyata mereka hanya ingin mengobati laki-laki yang mendapatkan luka tembak itu", batin Monica lega. Ia hendak menutup pintu. Namun terhalang dari luar.


"Apa yang kau inginkan, bos mu sudah aku obati. Ia akan segera pulih", ketus Monica sekuat tenaga menahan pintu. Ia tidak mau berurusan dengan mereka lagi. Ia tidak mengenal orang-orang itu. Bisa saja mereka penjahat.


"Oek...Oekkk!"


Terdengar tangisan Gabriel. Membuat laki-laki di luar sekali hentakan masuk. Kepalanya melongok ke dalam rumah melalui pintu ruang praktek yang langsung terhubung ke dalam rumah Monica.


"Ada orang lain di rumah ini, hah?", ucap Carlo melangkah masuk mendekat sumber tangisan.


"Apa mau mu. Pergi dari rumah ku, sekarang juga!", teriak Monica panik ketakutan. Mendadak wajah nya pucat pasi.


Tanpa perduli dengan larangan Monica laki-laki berwajah mengerikan itu langsung mendobrak pintu.


Di sudut kamar Erinka mendekap tubuh Gabriel. Wanita muda itu menangis dengan tubuh gemetaran.


Terdengar bunyi tulang leher Carlo ketika laki-laki itu menggerakkan lehernya dengan kuat.

__ADS_1


"Kau dan anak itu ikut dengan ku, sekarang", perintah Carlo pada Erinka dengan tatapan nyalang mengintimidasi.


Erinka menggelengkan kepalanya ketakutan. Gadis itu menangis ngeri sambil memeluk erat keponakannya.


"Apa mau k-alian, aku sudah melakukan tugas ku", teriak Monica.


Wanita itu mendadak terdiam ketika pistol Carlo mengarah padanya.


"Sstt... Carlo kita harus segera pergi. Orang-orang itu pasti mengejar kita!"


Carlo memberi isyarat pada Zoar. Mata tajamnya kembali tertuju pada Monica. "Kau ikut kami sebagai jaminan kalian menjaga mulut tidak bicara pada siapapun tentang kejadian ini!!"


"Kami janji tidak akan membuka mulut, tuan. Pergilah dari sini!"


"Aku bilang kau ikut kami, atau gadis dan anak itu aku bawa! Silahkan pilih!", ancam Carlo menarik keras tangan Monica.


"K-akak!


"J-angan bawa kak Monic", teriak Erinka sambil menangis ketakutan mengejar Monica yang di seret Carlo.


Monica tidak tinggal diam ia memberontak sekuat tenaga. Namun tentu saja tenaganya tak sebanding dengan Carlo.


 Sekeras apapun pekikan Erinka tidak akan ada yang mendengarkan karena letak rumah mereka yang jauh dari tetangga dan di luar sedang hujan deras.


"A-ku mohon. Izinkan aku bicara pada adikku!"


"Satu menit!", tegas Carlo melepaskan cengkraman tangannya.


Monica memeluk Erinka. Tenanglah kakak pasti kembali. Jaga Gabriel", ucap Monica mengurai pelukannya dan membalikkan badannya.


"K-akak..


Monica tidak menoleh lagi. Ia menangis ketika Carlo mendorong tubuhnya masuk ke dalam mobil.


Carlo mengikat tangan Monica. Laki-laki itu juga menutup mata Monic dengan kain hitam.


Monica memberontak namun tidak akan berhasil. Sementara Carlo menyandarkan kepala Luigi pada paha Monica.


Mobil yang di kendarai Zoar melaju dengan kencang membelah kesunyian malam desa Castelmola. Di saat semua penghuni rumah terlelap tidur namun tidak halnya dengan Monica serta adiknya. Suasana sangat mencekam.


Erinka berdiri menatap mobil yang membawa Monica kian menjauh menebus gelapnya malam.


"Aku mohon lindungi kakak ku dari orang-orang jahat itu, Tuhan. Semoga kakak segera kembali..."


...***...

__ADS_1


To be continue


Tinggalkan komentar di setiap bab jika kalian menginginkan karya ini panjang umurnya hehe🙏


__ADS_2