
Monica tersenyum melihat Gabriel, terlelap dalam dekapannya. Meskipun beberapa waktu yang lalu bocah tampan itu masih merasa asing bersama Monica.
Karena sudah lama terpisah dari ibunya.
"Kak, sebaiknya Gabriel biar tidur bersama ku saja. Biarkan ia beradaptasi dengan kakak. Gabriel merasa asing dengan mu", ujar Erinka ketika keponakannya itu sudah tertidur.
"Iya", jawab Monica sambil mengecup lembut wajah mengemaskan anak itu.
Monica harus bersabar, meskipun ia sangat ingin mendekap Gabriel semalaman, namun ia menyaksikan sendiri bagaimana Gabriel ketika hendak tidur ia rewel dan meminta Erin di dekatnya. Hingga Monica harus bersabar.
Bahkan Gabriel tidak mau lagi ketika Monica memberikan asi padanya. Meskipun Monica merasakan ASI-nya masih keluar walau tidak sebanyak waktu ia rutin memberikannya pada Gabriel.
*
Monica hendak kembali ke kamarnya di lantai dua, sementara Gabriel dan Erinka menempati kamar di lantai satu. Bersebelahan dengan kamar Allegri.
Ketika hendak menaiki tangga, pelayan memberi tahu Monica, Luigi meminta ia ke kamarnya sekarang.
Monica menganggukkan kepalanya dan memilih menggunakan lift menuju kamar Luigi di lantai empat.
"Ting..
Monica segera keluar lift. Ini yang kedua kalinya ia menginjakkan kaki di lantai itu. Lantai yang hanya menjadi milik Luigi saja tidak ada ruang lainnya selain kamar laki-laki itu.
Monica melihat jam tangannya menunjukkan pukul sebelas malam. Ia mengeratkan jubah tidurnya sebelum mengetuk pintu.
Tidak lama pintu di depan Monica terbuka. Luigi langsung menarik tangan Monica dan membingkai wajah cantiknya yang tampak semakin segar di bandingkan pagi tadi.
Tidak tampak lagi gurat kesedihan di wajah itu.
Luigi me*umat bibir ranum Monica. "Aku merindukanmu", bisiknya.
__ADS_1
Monica mengeratkan kedua tangannya pada pinggang laki-laki itu. Membalas ciuman panas Luigi.
Cukup lama keduanya berciuman mesra di balik pintu.
"Aku akan memeriksa luka mu sekarang", ucap Monica menatap manik biru laki-laki itu.
"Well. Sepertinya aku harus rebahan", bisik Luigi terdengar intim di telinga Monica. Membuat gadis itu menelan saliva-nya berulang kali.
Luigi menarik pinggang Monica menuju tempat tidur. Laki-laki itu langsung membuka kaos oblong yang membalut tubuhnya.
Monica menatap tanpa berkedip Luigi, ketika laki-laki itu langsung melompat ke tempat tidur.
Jemari lentik Monica mengusap lima luka tusuk yang ia lakukan. Luka-luka itu terlihat membaik dan sudah mengering. Hanya ada dua luka yang masih perlu perawatan. Luka itu belum terlalu kering benar, masih tampak merah. Sepertinya Monica begitu dalam menancapkan pisau pada bagian itu.
Luigi yang tertelungkup di atas pembaringan bisa merasakan sentuhan hangat jemari-jemari Monica. Bahkan ia merasakan bibir hangat Monica mengecup punggungnya.
"Siapa yang merawat luka mu?", tanya Monica penuh perhatian sambil menyandarkan wajahnya pada pundak Luigi. Kini posisi keduanya begitu intim.
"Teman ku. Dokter Valentino", jawab Luigi pelan.
Tiba-tiba Luigi merubah posisinya. Kini Monica di bawah tubuhnya. Laki-laki itu menautkan kedua tangannya pada tangan Monica. Meremasnya perlahan.
"Jauh lebih sakit ketika tidak bisa menyentuh mu. Dan melihat mu tidak mau makan dan minum. Kau membuat ku kuatir, Monic", jawab Luigi secara mendalam seraya menyelami netra coklat terang yang kembali berbinar cerah milik Monica.
"Ah ... Monica, sepertinya aku tidak bisa menahan diri ku menunggu mu terlalu lama", bisik Luigi terdengar begitu lembut sambil mengecup leher Monica. "Aku ingin kau berada di sini, di kamar ku. Forever!", ucapnya penuh perasaan.
Monica memejamkan matanya, mulai terbuai dengan sentuhan laki-laki itu.
Keduanya bergumul dengan liar di atas tempat tidur. Saling me*umat hingga de*ahan lolos dari bibir Monica menahan sensasi sentuhan Luigi. Ia pun mendambakan buaian lembut laki-laki itu.
Hingga terdengar ketukan di pintu.
__ADS_1
Seakan menulikan pendengarannya Luigi enggan untuk mengakhiri aktivitasnya.
Ketukan kembali terdengar cukup keras.
"Lui, ada orang. Lihatlah mungkin penting", ujar Monica sambil mendorong tubuh laki-laki itu dari atas tubuhnya.
"Shittt. Siapa yang mengganggu ku.."
"Bukalah pintu", ucap Monica sambil merapikan rambutnya dan pakaiannya akibat pergumulan nya dengan Luigi beberapa saat yang lalu.
Monica tersenyum melihat laki-laki itu kesal ketika hendak melihat siapa di depan pintu kamarnya. Ia masih bertelanjang dada.
Ketika pintu terbuka, nampak pengasuh berdiri di depan pintu bersama Allegri yang sedang menangis.
"Sayang ada apa denganmu. Kenapa menangis, hem?", ujar Luigi penuh kasih sayang segera mengangkat tubuh bocah tampan itu ke dalam dekapannya. Allegri langsung memeluk leher Luigi menyandarkan wajahnya.
"Daddy, aku ingin tidur bersama mu. Bolehkah? Aku janji tidak akan menangis lagi, dad".
"Kau pergilah. Malam ini anak ku tidur bersama ku", perintah Luigi pada baby sitter.
"Iya tuan", jawabnya dengan hormat seraya membalikkan badannya.
Monica menyaksikan semuanya. Ia juga mendengar perkataan Allegri pada Luigi.
Ketika Luigi melangkah masuk, Monica menatapnya. "Sebaiknya aku kembali ke kamar ku", ucapnya pelan sambil mengusap lembut punggung Allegri yang sudah memejamkan matanya. Usia anak itu, Monica perkirakan sekitar lima tahunan.
"Luigi menahan lengan Monica. Kau tetaplah di sini. Aku akan menidurkan Allegri. Ada yang ingin aku sampaikan pada mu Monica", pinta Luigi.
Sesaat Monica tercenung. Kemudian tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Ia bersedia menemani Luigi menidurkan Allegri. Monica pun ingin bertanya pada Luigi, kemana istrinya. Wanita yang melahirkan Allegri..
...***...
__ADS_1
To be continue
Bagi vote ya teman-teman 🙏