Menuju Hari H

Menuju Hari H
Pernah Ada di Zona Cuma Temen


__ADS_3

...Ketika aku terbangun dari mimpi buruk dalam hidupku maka kau adalah orang pertama kali yang kucari untuk menenangkanku....


Lucu ya suka sama seseorang tapi tak berani mengungkapkan. Lucunya lagi jika kita selalu barengan hampir setiap hari tapi sayangnya hanya sebatas teman. Hidup ini memang lucu. Penuh komedi. Aku harus terpaksa memberikan senyum termanisku saat kau katakan mendapat perhatian kecil darinya. Aku juga harus pura-pura sedih ketika tahu hubunganmu dengannya sedang tak baik-baik saja. Sepertinya aku sudah sukses memainkan sandiwara batin yang tak kunjung tahu kapan semua ini akan berakhir.


Kita ini sepasang. Meski aku mengerti kau menganggapku seperti kakakmu sendiri.


Kau adalah orang yang sangat berharga di hidupku.


Aku selalu berdoa pada Tuhan supaya kau hidup selamanya karena kau malaikatku.

__ADS_1


Bahkan kau selalu mengucapkannya hampir setiap saat bersamaku. Seandainya kita tidak terjebak dalam lingkaran pertemanan ini. Aku menanggungnya sendirian. Mencintaimu dalam diam.


Mungkin kesalahanku adalah menaruh ekspektasi yang berlebihan kepadamu. Mengakui jika kebersamaan selama ini juga kau rasakan. Benih rasa yang tumbuh itu aku rawat dengan baik. Sialnya semakin hari semakin tumbuh subur. Kau memupuknya secara tak sengaja. Bahkan kau tidak pernah tahu apa-apa.


Sebenarnya aku ingin terus terang. Biar gamblang. Kita sudah bukan anak kecil lagi untuk main-main dan saling sembunyi dalam perasaan. Hanya saja aku takut kamu marah. Dan ketakutanku merambat jika kau tak ingin menemuiku lagi. Suatu hal yang tak akan pernah bisa kulakukan. Hingga kuputuskan untuk memangkas semua rasa yang ada sampai akar-akarnya.


Kita adalah doa yang dipeluk semesta. Hanya saja, kita terjebak di zona pertemanan. Meskipun tak pernah kupungkiri bahwa aku merasa kau pun juga menyukaiku. Kita terlanjur nyaman dengan keadaan. Bersama-sama saling melempar senyuman, tapi selalu ragu untuk memulai lebih dulu. Sampai suatu hari aku memutuskan untuk menghapus rasa yang ada secara paksa. Supaya tak ada lagi canggung diantara kita. Hubungan kita akan aman, masih seputar pertemanan. Kau bebas melanjutkan perjalanan dan aku pun juga akan tetap berjalan meski tidak lagi sekuat yang dulu. Kita masih akan tetap bersama sampai masing-masing dari kita melepas status pengelana dan memulai awal yang baru.


Tuhan tidak pernah membuat kesalahan termasuk salah satunya menghadirkan sebuah rasa diantara kita. Itu skenarionya dan kuakui indah. Mungkin ini ujian semesta. Sampai batas mana kebersamaan kita dipertaruhkan demi sesuatu yang baik.

__ADS_1


...Aku tak akan pernah pergi namun memilih untuk menyudahi. Pertemanan ini akan tetap ada meski aku memilih untuk tak lagi bermain rasa....


...Karena bersamamu itu adalah kenyamanan yang tak pernah bisa kudapatkan di tempat lain....


Rinduku terlalu tajam untuk dipahami olehmu. Kau tidak akan pernah mencium aromanya. Aku terlalu pandai menyembunyikannya. Di sudut matamu kutemukan kebahagian sekaligus racun yang mematikan. Bertahun-tahun ini aku berjuang di dalam lingkaran pertemanan.


Satu yang perlu kau tahu, aku tidak pernah merencanakan untuk mencintaimu. Tiba-tiba entah dengan alasan apa hatiku bergetar setiap kali beradu muka dan saling melempar tawa bersamamu. Pernah suatu hari keberanianku muncul menggebu-gebu, meronta supaya aku berkata apa adanya. Namun akal sehatku kembali menguasai. Kita ini adalah teman. Teman berdiskusi dalam segala situasi. Mana mungkin aku harus mengakui jika tenggelam lebih jauh dalam kisah pertemanan ini?


...Pada akhirnya aku memilih melanjutkan perjalanan menuju ke suatu hari....

__ADS_1


__ADS_2