
...Kita memang sudah usai, tapi apa iya melupakanmu semudah ini....
Pagi yang sedikit cerah sejak berhari-hari hujan mengguyur. Seakan ia tahu redupnya hatiku setelah kau memutuskan untuk pergi. Tak ada pelangi. Padahal biasanya akan muncul warna warninya yang menyejukkan mata setelah mendung terkikis hujan. Sama halnya dengan hatiku yang tak ada bunga-bunganya setelah kejadian kemarin malam. Di tengah gerimis yang harusnya membuat kita semakin menghangatkan satu sama lain, kau malah minta usai. Perlu kau tahu, ucapanmu itu bagai peluru yang melecut dari senapan dengan kecepatan tinggi. Pas kena ulu hati. Sakit banget rasanya.
"Mending kita udahan aja ya?"
ungkapmu singkat dan terasa ringan dibibir.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kenapa harus aku yang kau tinggalkan. Bukannya kita sudah sepakat untuk bareng-bareng terus."
"Keadaannya aja yang udah beda."
"Kamu yang beda."
Aku diam. Wajahmu putih bersinar diterpa lampu rumah makan yang sengaja di desain romantis itu. Harusnya aku dan kamu bahagia. Duduk berdua di meja pojokan yang langsung berhadapan dengan jalan raya. Di jalanan gerimis masih tak mau berhenti mengencani bumi. Rumah makannya juga tidak begitu ramai. Jadi sangat pas dengan diriku. Seakan semua sudah disetting dengan sangat baik untuk mendramatisir kejadian malam itu.
"Kamu itu tidak pernah tahu jika diposisi aku. Berat. Aku harus mengejar semua target-target dalam hidupku. Harus. Dan waktu dua puluh empat jam itu masih kurang bagiku."
"Maksudnya aku akan jadi penghalang karir kamu?"
__ADS_1
"Udah deh.. kamu gak bakalan ngerti."
Suaramu agak meninggi. Aku kaget saat kau dikuasai oleh sisi dirimu yang lain dan berbicara begitu di depanku.
"Iya. Aku memang tidak pernah bisa mengerti jalan pikiranmu. Kamu itu terlalu ambis."
"Bagus dong aku ambis jadi punya semangat hidup."
"Jadi kamu pikir aku lemah? tak punya tujuan yang jelas?"
"Sudahlah. Kenapa jadi melebar ke mana-mana?"
"Ya kamu yang memperpanjang. Banyak drama."
Kau pergi begitu saja. Menerobos gerimis yang masih riang membasahi bumi. Aku ingin marah. Ingin membanting semua benda yang ada di situ tapi tatapan sinis para pelayan membuatku diam. Diam dengan wajah memerah menahan kekesalan. Semudah itu kau mengakhiri hubungan yang sudah terjalin hampir tujuh bulan. Di tempat umum dengan banyak penonton. Tidak bisakah kita bicara saling tenang, berdua di tempat yang lebih nyaman?
...Jika diberi kesempatan hidup sekali lagi, aku berharap tidak pernah bertemu denganmu dalam daftar perjalanan hidupku. ...
Tujuh bulan yang membuatku cukup merasa senang. Mengingat pertemuan kita yang tak disengaja di toko buku dan berlanjut obrolan-obrolan ringan yang membuatku semakin nyaman. Aku yang memang harus bolak-balik hampir tiga kali dalam seminggu berkunjung ke perpus. Mencari referensi yang tepat untuk bahan penelitianku. Masa-masa yang sulit sekaligus bikin kangen kalau diingat. Dan dibarisan paling ujung, di pojok kiri aku tertawan oleh sepasang mata kebiruan yang sangat jeli mengamati kalimat-kalimat dalam buku yang dibacanya. Entah mendapat dorongan dari mana, langkah kakiku terayun begitu saja mendekatimu dan minta berkenalan. Kau sangat baik, ramah dan memiliki lensung pipit yang membuatku tak pernah bosan menatapmu.
Kau suka membaca buku dan aku juga. Kau suka melihat keindahan senja namun sangat anti difoto dengan background senja. Katamu senja itu salah satu bentuk rahmat Allah yang harus dinikmati. Dan dengan mengambil foto bersamanya hanya akan menjadikan kita berlaku tidak adil untuk hari-hari yang akan datang.
"Maksudnya? Bukannya orang-orang suka berfoto dengan senja. Katanya indah lalu diposting di sosial media mereka."
__ADS_1
Tanyaku bingung. Suatu sore beberapa bulan yang lalu aku menemanimu melihat senja.
"Karena saking indahnya aku tak mau mengambil gambarnya. Kan esok hari kita masih kita menyaksikannya."
Jawabmu ringan.
"Memang kamu yakin besok masih ada senja yang sama dan melihatnya dengan orang yang sama?"
Kau mengangguk pasti. Saat itulah hatiku telah yakin dan mantab bersamamu. Aku percaya kau adalah bagian dari senja yang menjelma jadi manusia untuk membuat hidupku penuh warna. Ternyata aku terlalu berekspektasi tinggi kepadamu.
...Kukira kau akhir dari cerita, ...
...nyatanya kau justru yang paling banyak membuat luka. ...
Tahun ini tertutup oleh kabut pilu bagiku. Desember yang membawaku untuk kembali sadar dari jurang kecewa. Tidak selamanya yang kita anggap baik akan memberi kita bahagia. Dan tidak selamanya sakit hati bisa membunuh secara perlahan. Nyatanya tak perlu pembicaraan panjang kau memilih untuk meninggalkan. Tanpa pelukan atau hanya sekadar seulas senyuman.
Berpisah itu memang menyakitkan. Dan aku membencinya. Tanpa kusadari semakin aku membenci semakin banyak kejadian yang terulang kembali. Kau memilih untuk menghancurkan harapanku. Padahal banyak waktu yang sudah ku persiapkan untukmu di tahun depan. Banyak rencana yang akan kita wujudkan. Pada akhirnya yang mengukir luka akan hanyut dalam derai air mata nantinya.
"Mengapa kita harus mencintai luka sementara ia terus-terusan menyiksaku tanpa kuminta?"
"Bukannya kita sangat boleh membencinya? untuk apa tetap diam dan tidak melawan. Sementara ada ia luncurkan serangan untuk mematikan hati dan napas kita? untuk apa?"
...Aku cukup menguatkan diri di bulan terakhir ini dengan kata-kata, "Aku baik-baik saja" dan "Semua akan indah pada waktunya."...
__ADS_1