
...Setelahmu mungkin akan ada cerita lain dengan orang yang baru, ...
...Namun bukan berarti sakitku sudah sepenuhnya pulih darimu. ...
Jika melupakanmu adalah pengorbanan. Aku rasa tidak bisa berkorban untuk hal sebesar itu.
Yang benar saja. Kita sudah saling bahagia. Bersama. Meniti anak tangga yang lapuk, berdiri pada satu tiang yang menjulang tinggi. Masa iya, cukup berakhir seperti ini?
Kemarin siang kau mengubungiku. Membicarakan rencana kedepannya setelah tidak lagi bersamaku. Kau bilang di sana baik-baik saja. Makanmu teratur, tidurmu tepat waktu, dan happy. Justru di sini aku berpikir keras. Itu memang beneran terjadi atau hanya sekadar caramu menutup diri?
Kau ingin terlihat baik-baik saja atau gimana?
Sementara aku di sini sedang merana. Kerja tidak nyaman, bersosial tidak tertata. Aku seperti kehilangan arah setelah kau pergi. Meski aku tetap tersenyum di akhir pembicaraan siang lalu.
Sebenarnya aku ingin loh seperti kebanyakan orang. Berusaha move on dengan cara yang tak wajar. Cara yang bisa membuatku bahagia meski sesaat. Menghabiskan waktu dengan banyak wanita dan menertawakan perpisahan kita. AKU BISA!
Hanya saja, jika itu kulakukan. Harga hubungan kita selama ini akan terlihat murah!
...Kau mungkin bisa memecahkan kaca dengan kata-katamu,...
...Tapi apa iya kau bisa membuatnya kembali utuh hanya dengan seulas senyummu? ...
Mengertilah! Tidak semudah itu aku melupakanmu.
"Kau pasti bisa mencari yang lebih dariku."
Halah. Bulshit!
Jika kau yang kumau, mengapa aku harus mencari yang lebih baik darimu.
__ADS_1
Kita memang sudah berakhir,
Padahal, menjelang senja berlabuh aku selalu menganggap kita masih utuh. Punya banyak waktu dan tempat-tempat keren yang akan kita datangi berdua.
Padahal, ketika gelap malam datang. Aku masih suka berharap kau menelponku atau setidaknya mengabariku. Kau mengirimkan emoticon kiss atau peluk online. Aku akan tersenyum bahagia melihatnya.
Padahal, dalam lelapku. Mimpiku masih terus seputarmu. Kenangan hari-hari yang kita lewati. Menyaksikan orang memancing di tepi sungai. Makan cilok di bangku taman. Apa iya, kau sudah benar-benar lupa?
...Jika kau bisa mudah berpaling dariku. ...
...Mungkin aku akan bertanya, Bagaimana resep melupakanku? ...
Setelah kamu, aku tidak baik-baik saja.
Tidak kujumpa perempuan seperti kamu dalam duniaku.
Hah! Kenapa sih kau memutuskan untuk pergi?
Kau tahu?
Aku berdiskusi dengan burung berjam-jam untuk menemukan jawaban. Di mana letak kesalahanku dalam hubungan ini.
Aku juga pernah bertanya pada angin. Tidak bisakah waktu mengembalikan kehangatan sikapmu kepadaku?
pelukan mesramu. Kerecehanmu. Tidak bisakah untuk yang kedua kalinya???
Ah sudahlah!
Aku terlalu menaruh harapan besar kepadamu. Bahwa kau adalah Ainunku. Tanpa kusadar, aku belum bisa menjadi Habibi yang kau inginkan.
__ADS_1
Mungkin tidak untuk hari ini,
Tapi pasti kau akan membacanya.
catatanku.
Atau kau akan membacanya ketika aku sudah tak ingat lagi siapa kau.
Atau bisa juga saat kau membaca catatan ini, kau sedang mencariku dan ingin kembali padaku.
Apapun itu,
Aku menuliskannya dengan penuh kesadaran hati.
Bahwa hubungan ini sudah cukup membuatku merasa tenang, damai, dan membawaku bertemu dengan diriku yang sesungguhnya.
Dan setelah kau memutuskan untuk pergi,
aku sendirian.
Meski begitu mencoba untuk bangkit walau tertatih.
Merangkak dengan luka hati yang kau sisakan.
Percayalah!
Aku tak pernah marah atau benci padamu.
Hanya sedikit menyayangkan sikapmu. Mengapa mengambil keputusan bisa segagabah itu?
__ADS_1