Menuju Hari H

Menuju Hari H
Komitmen


__ADS_3

...Cinta adalah keindahan yang melukai. ...


...(Jalaluddin Rumi) ...


Sudah kupastikan aku ingin bahagia. Bertemu dengan orang-orang baru dan belajar lagi. Hidupku terlalu mengikuti apa kata semesta. Apa yang semestinya iya bisa aku tolak dengan alasan yang cukup rasional. Begitu juga ketika bersamamu. Aku merasakan hubungan yang sehat. Masing-masing dari kita bebas melakukan hal yang disuka. Tak ada larangan ataupun ancaman jika salah satu melakukan kesalahan. Bagiku kesalahan adalah awal dari keberhasilan besar suatu hari nanti.


Aku bersembunyi di balik tameng komitmen. Kita terlalu bebas melakukan apa yang kita suka sampai lupa batas. Sayangnya masing-masing dari kita terjebak dalam cerita yang berbeda namun keduanya jelas salah. Hal itu dipicu oleh kelalaian kita sendiri. Aku terlalu memaksakan hubungan ini baik-baik saja. Dengan tidak pernah menjadikan jarak sebagai alasan untuk tidak lagi saling mencintai. Sementara ketika aku terlalu bebas dengan duniaku, impianku, dan prioritas yang lain. Kenyamanan yang baru datang tanpa kuminta. Bagaimana mungkin akal sehatku tidak bekerja waktu itu. Berduaan menikmati suguhan angin malam ditemani secangkir kopi di dekat pantai. Berawal dari obrolan biasa, lama-lama kita saling terpikat. Membawaku terlalu dalam larut pada uji coba rasa. Sesal kurasakan. Aku menduakanmu secara terang-terangan. Kupikir saat itu, aku adalah satu-satunya lelaki yang kotor ketika menodai komitmen atas dasar kebebasan.


...Jodoh adalah cerminan diri. Tapi aku lupa jika kita bercermin maka pantulan bayangan kita secara kebalikan yang ada terlihat. Begitupun dengan kisah asmaraku. ...


...#######...


...Jika orang baik akan dipertemukan dengan orang baik pula. Aku belum sempat memikirkan bagaimana dengan orang yang tak begitu baik. Apakah akan tetap didatangi orang baik atau justru malah diperlakukan secara tidak sewajarnya. ...


Kemarin malam kita duduk berdua. Diiringi irama gemericik air mancur dan tarian pepohonan. Sebenarnya aku gugup. Setelah apa yang terjadi beberapa waktu lalu. Meski aku memutuskan untuk menyudahi kesalahanku dan memilih kembali pada pelabuhan hatiku, yaitu kamu. Jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya. Telapak tanganku juga sudah terlihat basah menahan degupan alur napas yang tak kira-kira. Rasanya aku tidak lagi pantas duduk di depanmu sebagai kekasihmu.


"Aku melakukan sebuah kesalahan."


Ucapku lirih dan singkat. Namun terdengar begitu jelas di gendang telingaku. Aku mulai menerka-nerka. Apakah tali kasih diantara kita begitu kuat sampai kau sudah lebih dulu berfirasat.


"Kesalahan apa?"

__ADS_1


Tanyaku pelan penuh hati-hati.


"Kesalahan besar."


"Sebesar planet Saturnus lengkap dengan cincin besar yang melingkarinya?"


Kamu diam, menunduk.


"Atau sebesar cintaku kepadamu."


Entah mengapa aku masih saja mengatakannya. Merayumu dengan gombalan-gombalan ringan. Jujur aku masih ingin memperbaiki semuanya dari awal.


"Aku tidak sedang becanda!"


"Komitmen ini terlalu berat bagiku. Dan aku tidak kuat. Dua minggu yang lalu aku memutuskan untuk balikan dengan mantanku. Maaf."


Aku melotot. Kaget.


Dugaanku benar adanya. Jodoh ibarat cermin. Dan cermin itu berbalik. Faktanya kita berdua telah sama-sama menodai sebuah komitmen yang disepakati sejak awal hubungan kita diresmikan.


...Jika kau menjadi api, aku akan mengalah namun tidak akan menjadi air. Sebab air dan api tidak akan pernah bersatu, mereka akan saling memadamkan dan menciptakan luka baru. ...

__ADS_1


"Kita sudah melakukan kesalahan."


"Kita??"


Timpalmu bingung


"Aku selalu membebaskan diri kita untuk tumbuh bersama dalam komitmen ini. Kau bebas menjadi apa yang kau mau dan aku bebas dengan jalanku. Kita terlalu upside. Batas yang kita terobos sudah terlalu jauh. Aku pun sempat terpikat pada pesona baru ketika kau tidak sedang bersamaku."


Kau diam. Mungkin tidak menyangka.


"Sekarang bagaimana?"


"Sekarang kita harus bertindak seperti orang dewasa pada umumnya. Jika berpisah adalah cara terbaik maka jalan yang harus ditempuh dalam komitmen ini adalah sebuah kesepakatan diantara kita berdua."


"Aku mau pisah."


Jawabmu mantab.


"Lebih tepatnya keluar dari lingkaran komitmen ini dan menerima jalan kehidupan baru masing-masing."


"Ok. Aku siap."

__ADS_1


Kau beranjak pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Sementara aku masih diam menatap rerimbunan taman. Lanjut menulis catatan ini.


...Pergilah ke mana kau mau bersama siapa yang kau inginkan. Biar kakiku dipeluk oleh semesta. Melanjutkan perjalanan menuju ke suatu hari setelah singgah sejenak dan bermain hati. ...


__ADS_2