Menuju Hari H

Menuju Hari H
Kamu Prioritas Bukan Sebatas untuk Mencari Popularitas


__ADS_3

...Sesuatu yang tumbuh dari luka pasti tidak akan bertahan lama....


    Dalam perjalananku menuju ke suatu hari akan banyak cerita yang kulalui. Dari awal pun aku sudah menjelaskan. Masing-masing dari kita harus mempunyai target yang harus dicapai untuk sepuluh tahun ke depan. Untuk itu aku tidak pernah mengekang seseorang yang hadir dalam hidupku. Ia bebas menentukan jalan pikirannya. Bebas mau berbuat apa dan dengan cara yang seperti apa. Karena belum tentu sepuluh tahun yang akan datang aku akan duduk di beranda rumah sambil menikmati secangkir teh dengan orang yang saat ini sedang bersamaku.


...   Untuk pertama kalinya aku jatuh dan bahagia....


... Harusnya jatuh itu sakit, tapi kali ini aku menikmati jatuh cinta kepadamu....


    Aku tahu posisiku saat ini. Kau pun pasti sedang dihadapkan dengan keadaan yang tak mudah dalam berpikir jernih. Setiap orang punya impian dan aku tahu impianmu begitu besar. Luasnya samudera saja masih kalah dengan banyaknya daftar impianmu. Aku juga tahu kau mencintaiku. Kau memilihku bukan karena lagi kasihan, tapi karena kau punya ketulusan. Hanya saja kau sedang disuguhi dua pilihan yang tak mengenakkan.


...    Bagiku kau adalah prioritas...

__ADS_1


...Sementara bagimu hal yang paling penting adalah popularitas...


    Tidak sewajarnya memang aku cemburu pada duniamu. Sifat kekanakanku mungkin yang membuatmu sedikit jengah denganku. Padahal kau harus tahu, perjalananku masih akan panjang lagi. Dan setiap singgah di satu hati aku harus rela menelan pil kecewa. Entah karena jarak, kebebasan dalam hubungan yang tak tahu batas, dan kini aku harus kembali resah dengan alasanmu yang tak ada waktu untukku karena kau terlalu sibuk mengurusi impianmu. Seakan kau ingin mengatakan bahwa aku ini hama dalam hidupmu. Parasit yang hanya numpang nyaman dan titip kebahagiaan sekaligus sebagai penghalang terbesar bagi kesuksesanmu.


    Ingin rasanya aku duduk empat mata denganmu dan melontarkan beberapa pertanyaan. Apakah Pekerjaanmu benar-benar akan hancur jika ada aku di sampingmu? atau dikenal banyak orang dengan segudang pencapaian akan membuatmu bahagia meski kau kehilanganku?


    Aku tahu kau harus mewujudkan banyak hal dalam hidupmu. Kau boleh sekali melakukannya. Tapi ada satu hal yang harus kau ingat, ketika kau menjadi orang baru dalam duniamu maka kau juga kau bersiap kehilangan yang-orang yang menyayangi dirimu yang dulu.


...Bagian mana diskusi-diskusi panjang kita yang sudah bisa kau lupakan?...


... Sampai kau mudah sekali pergi dengan alasan yang ringan....

__ADS_1


...Senyummu masih belum bisa luntur dari ingatanku...


...Makanya sampai detik ini aku masih enggan mengiyakan keputusanmu ...


    Kecil sekali kesempataku di sini. Jikalau aku memilih untuk ngotot mempertahankan semuanya, apa iya hatimu akan tetap keras dan memintaku untuk pergi. Sementara pelukan ini bukan semata konten atau hanya sensasi melainkan murni dari hati. Rindu yang kupunya juga bukan racun yang bisa mematikan karir dan pekerjaanmu. Rinduku hanya ingin kau sentuh dan kau akui keberadaannya. Meski kau selalu mengartikan keberadaanku sebagai bagian kecil dalam hidupmu. Tidak bisakah kita berjuang berdua bukan aku sendiri saja?


    Ketakutanmu yang begitu besar justru semakin membuatku sakit hati. Bukannya apa-apa. Dengan sikapmu yang seperti itu, aku merasa tertuduh akan mengancammu dengan senjata tajam jika masih membiarkanmu mencapai mimpi-mimpimu. Padahal dengan senang hati aku menerimanya. Setidaknya bebanku sedikit ringan. Tidak akan ada kencan setiap hari karena kau sibuk upgrade diri. Tenang, hari minggu bukannya kita bisa jalan-jalan dan melengkapi kebahagiaan. Sesederhana itu inginku. Tapi kau memilih untuk menyudahi dengan alasan ingin fokus dalam pencapaian diri.


    Sebenarnya aku tidak sepenuhnya ingin tetapi bagiku bahagiamu yang terpenting. Semoga kau bahagia di sana dan tidak pernah merana. Keputusanmu untuk meninggalkanku jujur membuatku kecewa. Impianmu banyak, ambisimu juga besar. Kau pasti takut jika kau tak bisa menjadi apa-apa ketika aku bersamamu. Dan sialnya aku juga takut jika terus-terusan memaksamu akan mengikis kebahagianmu. Asal kau bahagia maka aku rela terluka. Sebab kau kucinta dengan segala macam prioritas meski hubungan kita berakhir kandas.


Aku pamit.....

__ADS_1


Melanjutkan perjalananku menuju ke suatu hari.


__ADS_2