
Di sebuah dunia fantasi yang penuh dengan sihir, kontrak, roh, peri, mahluk halus, mahluk tak berguna, beban keluarga dan hal-hal tidak masuk akal lainnya.
Ehmm,, mohon maaf sebelumnya para pembaca sekalian.
Sebelum memasuki cerita, sebagai sebuah pembuka, ijinkan saya untuk mengutip sebuah kata-kata atau sebuah istilah yang sering digunakan oleh kalangan gue banget, yaitu kata-kata :
"Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti,"
Istilah tersebut cukup populer, bukan??
Namun, menurut saya istilah itu kurang tepat, meskipun memang semua orang dilahirkan dalam keadaan yang baik, tetapi menurut saya ada istilah yang lebih tepat daripada istilah tersebut. Yaitu :
"Orang jahat adalah orang jelek yang tersakiti,"
kenapa begitu?
Karena kebanyakan orang yang sering merasa tersakiti dan mengalami diskriminasi adalah orang jelek.
Meskipun memang ada sebagian kecil orang berparas di atas rata-rata yang mengalami diskriminasi. Namun, dalam kebanyakan kasus di lapangan kehidupan, jika dibanding orang berparas jelek, orang berparas rupawan biasanya akan lebih mudah mendapatkan sesuatu bahkan tanpa pernah berusaha sama sekali(terutama jika dia seorang wanita), apakah anda setuju?
Mengenai perbedaan tersebut, bahkan ada yang membuat istilah
"Berusaha untuk orang jelek hanya buang-buang waktu,"
Apakah anda pernah mendengar itu sebelumnya?
Mohon maaf untuk keempat kalinya, jika saya malah membahas istilah di luar topik. "Kalau itu di luar topik kenapa di bahas?" Entahlah, mungkin itu hanya kata pengantar yang nggak nyambung wkwk
Sebenarnya yang menjadi inti dalam cerita ini bukan istilah-istilah tersebut, tetapi istilah
"Orang jahat adalah orang lemah yang merasa tersakiti."
Baru dengar??
"Kalo mau bikin cerita tentang orang jahat, nggak usah pakai embel-embel orang anu, orang ini, orang itu tersakiti. Toh mau jadi orang jahat atau baik itu pilihan, apalagi kalo orang lemah, mana bisa berbuat jahat!!!". Setelah membaca prolog saya yang tidak jelas, mungkin juga ada yang bilang seperti itu wkwk.
Emang bener juga sih, mau anda jadi orang baik atau orang jahat, tidak perlu menunggu sebuah alasan, itu tergantung keinginan dan pilihan anda sendiri. Dan bener juga kalo orang lemah itu sangat tidak logis untuk bisa berbuat jahat. Karena orang yang kuat dan punya kedudukan lah yang sebenarnya paling tinggi potensinya untuk menjadi orang jahat.
Misalkan, saya orang biasa, mungkin saya bisa menyakiti satu atau dua orang. Namun, seandainya saya jadi presiden, mungkin saya bisa menyakiti, dan mencelakai seluruh rakyat Indonesia, bahkan, mungkin saya bisa menghancurkan dunia dan segala isinya.
Tapi, saya juga bingung. Intinya seperti itu wkwk
"Ini apa sih maksudnya? Ko nggak jelas." setelah saya mencoba menjelaskan dan hasilnya tetap nggak jelas, mungkin dalam hati sebagian orang akan berkata seperti itu.
Ya sudah, nggak usah pakai prolog, lebih jelasnya kita langsung saja ke dalam ceritanya.
*
Selasa, Tgl 14 bulan 11 tahun 995.
Langit mendung berwarna merah menyelimuti benua selatan sore itu.
__ADS_1
Bukan saya berpikir orang yang membaca cerita ini kurang pintar, tapi tetap akan saya jelaskan, bahwa benua selatan dalam cerita ini terletak di belahan bumi bagian selatan. Namun, masih terlihat berada di utara, kalau dilihat dari kutub selatan.
Di benua selatan bagian utara, terdapat sebuah negara bernama Zibeert. Negeri yang subur, indah, kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia.
Namun, karena kekayaan itulah di negeri tersebut terus terjadi peperangan.
Di Negeri Zibeert bagian paling utara, terdapat sebuah tempat bernama Triops. Letaknya tidak jauh dari bibir pantai dan memiliki pemandangan cukup indah.
Di sekitar daerah tersebut terdapat sebuah panti asuhan, tempat penampungan anak yatim piatu yang kebanyakan merupakan korban perang. Panti tersebut berada di bawah kekuasaan Divisi Ketiga.
Yayasan Tiga Siput namanya, terdengar konyol bukan? Namun, di sanalah tempat anak-anak tanpa orang tua dan tanpa tujuan dapat menyandarkan hidup mereka.
Bangunannya berbahan utama kayu, terlihat sudah cukup tua, tetapi masih berdiri kokoh.
Salah satu di antara penghuni panti asuhan itu, adalah seorang laki-laki berambut putih dengan gaya comma hair, ia memiliki mata berwarna hitam dengan tatapan tanpa perasaan. Memiliki paras yang tampan, rupawan, elegan, kesepian dan menyedihkan.(ngomong apaan, gak jelas, wkwk).
Sore itu ia sedang duduk di kursi dekat sebuah jendela kusam ruangan asrama miliknya. Dengan pipi yang disangga oleh tangan kanan, ia menolehkan wajah putih pucatnya ke luar jendela. Pemandangan langit mendung berwarna merah terlihat sangat indah dari sana. Hembusan angin laut yang meniup pelan memasuki ruangan tersebut, membuat ia semakin terlelap dalam lamunan.
Menikmati situasi tenang seperti itu adalah salah satu kebiasaannya.
Selang beberapa waktu, suara gemuruh langkah kaki di dekat gerbang mengalihkan pandangannya. Di sana terlihat tentara Divisi Kesatu berseragam Hijau tua mulai memasuki kawasan panti tersebut.
Laki-laki di dekat jendela itu kemudian memfokuskan lingkaran hitam di tengah bola matanya ke arah pria berambut merah undercut, pria itu tidak lain adalah teman masa kecilnya, yang bernama Gotzen(20).
Gotzen adalah anak dari seorang kaisar mantan penguasa negeri tersebut, tetapi karena kematian ayahnya dan kehancuran kekaisaran, ia harus menghabiskan masa kecil di panti asuhan. Namun, setelah cukup mandiri ia memutuskan untuk bergabung dengan militer Divisi Ketiga.
Gotzen berdiri dengan sebuah senyuman lebar di wajah, ia memutar pandangan ke sekeliling tempat itu. Gotzen sudah menganggap panti tersebut seperti rumah tempat ia untuk kembali, dan orang-orang di sana adalah keluarga kedua bagi dirinya. Gotzen sangat bahagia, setelah sekian lama tidak pulang, akhirnya ia bisa mengunjungi tempat itu.
"Aneh sekali, kenapa tidak ada orang." pikirnya dalam hati.
Ia kemudian mengalihkan pandangan ke sebuah bangunan di sebelah kanan. Gotzen sedikit mengangkat dagunya, melihat ke arah sebuah asrama tingkat kedua, tempat dia menghabiskan masa kecil.
Di balik sebuah jendela, terlihat seseorang yang tidak asing bagi Gotzen.
"Izk," secara tidak sadar dengan pelan mulutnya memanggil nama teman lamanya itu, tidak lupa ia juga melambaikan tangan dan senyuman.
Hal itu membuat tiga orang yang berdiri tepat di belakang Gotzen saling memandang.
"Kapten, kau sedang apa?" tiba-tiba seorang laki-laki berambut hitam ivy league dengan perawakan yang tinggi kurus melangkah mendekati Gotzen. Bayu(22) namanya, ia merupakan wakil kapten, sekaligus salah satu orang kepercayaan Gotzen.
" Aku sedang menyapa teman lamaku." sahut Gotzen, sambil tersenyum ke arah Bayu.
"Di mana?" tanya Bayu, sambil memperhatikan sekeliling bangunan di depan mereka "Aneh sekali, aku tidak melihat siapa-siapa selain kita." lanjutnya.
Gotzen lalu memalingkan pandangan dari Bayu sambil menunjuk ke arah teman lamanya.
"Itu di,,?" ia sejenak memotong ucapannya.
"Lah? Kenapa tidak ada? Tadi aku benar-benar melihat dia memperhatikan kita dari jendela itu." lanjutnya.
Setelah beberapa saat terdiam dan kebingungan.
__ADS_1
"Kapten, kenapa tempat ini begitu sepi?" satu-satunya wanita diantara bawahan Gotzen mulai mendekat sambil melihat sekeliling mereka.
"Entahlah akupun tidak tahu." jawab Gotzen, sambil memalingkan pandangan ke arah wanita berambut ikal sebahu tersebut. "Biasanya dulu tempat ini tidak pernah sepi." pikirnya dalam hati.
"Ooohhh? Apa kapten tidak merasakan ada sesuatu yang aneh?" tanya wanita bernama Emi(17) tersebut. "Atau mungkin, mereka sedang pergi ke suatu tempat?" lanjutnya.
"Bisa juga, tapi biasanya selalu ada orang yang ditinggalkan untuk menjaga di tempat ini." jawab Gotzen. Ia sedikit menunduk dengan tatapan kosong, terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Kalau begitu, mungkin orang itu sedang berada di dalam." sahut Emi, berharap. Sedikit senyuman terlihat di raut wajahnya.
"Mungkin." jawab Gotzen, kemudian mengangkat dan mengedipkan kelopak matanya, seolah sudah mendapatkan jawaban.
"Atau bisa juga mereka bersembunyi untuk memberikan kejutan atas kedatanganmu kapten!" gurau pria bertopeng yang perlahan berjalan dari belakang, kemudian ia memegang pundak Bayu.
"Setelah sekian lama tidak memberi kabar, akhirnya mereka bisa melihat kembali saudaranya pulang dengan segudang prestasi dan pencapaian." sambung pria dengan rambut gondrong berantakan itu.
"Tidak tidak. Seharusnya tidak ada yang tahu kalau kita akan kesini." tampik Gotzen, sambil memejamkan kedua mata dan melipat kedua tangan. Wajahnya terlihat malu-malu.
Gotzen kemudian membalikan badan dari ketiga orang itu.
"Ayo kita masuk saja." ajak Gotzen sambil melangkah mendekati sebuah bangunan di depan mereka. Bayu, Emi dan Ayam(21) mengikutinya dari belakang, sementara yang lain tetap berdiri di tempat mereka.
Setelah Gotzen berada di depan pintu, ia pun mengetuk dengan tangan kanannya "Tok, tok, tok."
"Permisi, apa ada orang?" tanya Gotzen.
Namun, tidak ada jawaban yang terdengar dari dalam.
Ia pun mengulanginya berkali-kali, sambil sesekali memalingkan pandangan ke arah orang-orang di belakangnya, tetapi masih sama, tidak ada jawaban. Hal tersebut membuat mereka yang berada di dekat pintu semakin penasaran dan kebingungan.
Setelah beberapa saat Gotzen perlahan mendorong pintu tersebut dengan kedua tangannya.
"Hallo, apa ada orang di dalam?" lalu Gotzen berjalan memasuki ruangan utama, di ikuti orang-orang di belakangnya.
Namun, begitu terkejut, situasi tidak seperti yang mereka bayangkan.
Emi langsung menutup mulut dengan jari-jari kecilnya, dalam hati ia bertanya "Apa yang sebenarnya terjadi?".
Bau amis darah dari ruangan itu menusuk tajam ke dalam hidung mereka.
Gotzen dengan wajah terkejut perlahan-lahan mulai berjalan di antara beberapa mayat, dan meja yang berserakan di lantai merah yang sudah mengering. Ia tidak pernah menyangka akan mendapat sambutan seperti itu, membuka lebar-lebar keempat kelopak matanya, setengah tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Sementara itu, para prajurit yang samar-samar melihat dari belakang, perlahan mendekat karena rasa penasaran mereka.
Dengan situasi yang seperti ini, Bayu, Emi, dan Ayam hanya bisa saling memandang. Saat mereka sadar, Gotzen sudah berjalan cukup jauh dari mereka. Ketiganya kemudian perlahan-lahan mengikuti dari belakang, diikuti beberapa prajurit yang juga sama-sama ingin mengetahui situasi dan keadaan sebenarnya di tempat itu.
Mereka terus berjalan memeriksa ke setiap ruangan, membuka setiap pintu dan menyusuri setiap sudut bangunan. Berharap menemukan orang yang masih bernyawa, agar bisa mendapat kejelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, tidak ada petunjuk yang mereka temukan selain lantai merah dengan genangan darah dan mayat yang berserakan di atasnya.
*
__ADS_1
Bagian 1 : Selamat datang di Karpet Merah