Merah Merona

Merah Merona
03.


__ADS_3

15-11-995


Sore itu, setelah pulang dari panti asuhan. Di Sebuah ruangan yang cukup luas, terlihat Gotzen sedang duduk di sebuah kursi dengan sebuah meja di depannya. Tidak jauh dari tempat ia duduk, terlihat juga seorang penjaga di meja kasir. Selain mereka, di tempat itu hanya ada beberapa meja bundar dengan empat kursi, meja makan panjang dan kursi panjang.


Bangunan yang berbahan dasar kayu itu tidak lain dan tidak bukan adalah kantin markas militer tempat Gotzen dan para bawahannya.


Di sana Gotzen sedang melamun sambil memegang benda berbentuk silinder yang ia temukan sebelumnya.  


"Siapa sebenarnya pelaku dibalik pembantaian di panti asuhan." dalam hati ia tidak bisa tidak memikirkan akan hal itu.


Tidak hanya sampai disitu, setelah pulang dari panti Gotzen juga mulai mengkhawatirkan keberadaan teman lamanya Izkandar dan adik Izkandar yang bernama Rea. Selain kedua orang tersebut, Gotzen juga mulai berharap ingin segera bertemu dengan adiknya yang bernama Lia.


Setelah beberapa tahun bergabung dengan militer, sampai ia menjadi seorang kapten, Gotzen tidak pernah sekalipun bertemu dengan Izkandar dan Rea, Namun, jauh sebelum perpisahan itu, ia sudah lama tidak melihat adiknya, Lia. 


[


[


[


*************


Flash back Gotzen :


Di suatu pagi yang bersalju, terlihat tiga orang dewasa dan empat remaja berkumpul di depan panti asuhan. Keempat remaja itu adalah Izkandar(16), Gotzen(16, dengan rambut yang lebih panjang dibanding saat usia 20) dan seorang gadis berambut panjang bergelombang (14, Rea). Sementara yang terakhir, berdiri berhadapan dengan ketiganya. Seorang anak perempuan berwajah cerah dengan rambut panjang merah merona, ia bernama Lia(14). Iya betul! dia adalah adik perempuan Gotzen.


" Lia apakah kamu akan benar-benar yakin akan meninggalkan kami?" tanya Rea. Sambil menahan kesedihan, ia menatap tajam mata Lia, kesepuluh jarinya terkepal di bawah dagu.


"Iya, maafkan aku, aku akan pergi, ini kesempatan untuk mengejar mimpiku menjadi seorang dokter." jawab Lia, sambil memasang sebuah senyum di wajah polosnya. Ia kemudian berjongkok untuk mengambil sebuah barang dari salah satu tasnya. Setelah barang yang ia cari ditemukan, ia pun kembali berdiri, lalu berjalan mendekati Rea. 


"Ini, kuberikan untuk kalian, barangku yang paling berharga, agar kalian tidak melupakanku. Dan tentu saja aku juga tidak akan melupakan kalian, aku akan belajar dengan giat dan bekerja keras agar secepatnya bisa bertemu kalian lagi." ucap Lia, sambil mengulurkan kedua tangan, memberikan sebuah lampu tidur bermotif bunga mawar, berwarna kuning, kepada Rea. 


Dengan kesepuluh jari tangannya, Rea mengambil benda tersebut sambil menahan air mata yang semakin lama terasa semakin berat. 


Setelah itu, Lia mengalihkan senyumannya ke arah wajah datar Izkandar, yang berdiri di sebelah kanan belakang Rea, tepatnya berada di sebelah kanan Gotzen. Hanya saling memandang tanpa berkata-kata, seakan sudah saling mengerti tanpa harus bicara. Sebentar ia mengalihkannya lagi ke arah Gotzen. 


"Kakak, jaga dirimu baik-baik, tolong jaga juga mereka untukku," pinta Lia. Ia kemudian terdiam sejenak. 


"Saat kita bertemu lagi, kau harus jadi seorang kakak yang bisa selalu ku andalkan." lanjutnya, sambil menatap mata Gotzen. Senyuman, ketegasan, dan kesedihan, bercampur bagai bubur ayam yang diaduk di wajah manja gadis itu.


Gotzen lalu mengambil beberapa langkah melewati sebelah kiri Rea, ia memeluk dan mengusap-usap kepala adik kesayangannya itu dengan tangan kanannya. Dagu yang menyampai di pundak sebelah kanan Gotzen dan tumit Lia yang di angkat, membuat jelas terlihat perbedaan tinggi badan mereka.


"Tentu saja, jaga dirimu juga." ucap Gotzen


"Semoga ketika kita bertemu lagi, kau sudah menjadi orang yang bisa aku bangga-banggakan kepada semua orang." lanjutnya.


Lia menutup erat kedua mata yang mulai terasa hangat, dagu dan keningnya mengerut. Namun, ia terus menguatkan diri agar tidak menangis. Setelah itu, ia pun melepaskan pelukannya.


Lia kemudian menaiki kereta kuda, diikuti satu orang dewasa bersamanya. Sebuah tas yang berisi barang miliknya diangkat dan diletakkan di dalam oleh ajudan pembawa kereta tersebut. 


Lia yang sebelumnya selalu tersenyum, kini mulai menangis. Setelah kereta kuda mulai berjalan, terlihat kepala dan setengah badan Lia keluar dari lubang jendela sebelah kiri. Ia mengangkat tangan kanannya sebagai tanda perpisahan mereka.

__ADS_1


"Sampai jumpa lagi, jaga diri kalian baik-baik!!" ucap Lia. Mereka pun saling melambaikan tangan. Setelah cukup jauh, Gotzen yang hanya bisa merelakan kepergian adiknya perlahan mulai memalingkan badan. Pada akhirnya ia berlari menjauh, karena tidak ingin adiknya melihat dia menangis. Setelah perpisahan itu, Gotzen tidak pernah melihat lagi adik kesayangannya itu.


selesai


************


]


]


]


Karena rasa rindu ingin bertemu adik kesayangannya, setelah sekian lama, Gotzen akhirnya kembali meneteskan air mata. Apalagi ia tidak tahu dimana, sedang apa dan bagaimana nasib Lia saat ini.


"Eeheumm."


Ayam yang duduk di kursi dekat meja yang sama dengan Gotzen, sepertinya sudah memperhatikannya dari tadi.


Sontak hal itu membuat Gotzen kaget sampai terjungkal ke belakang.


"Adudududuh." lirih Gotzen sambil memegangi bagian belakang kepalanya.


"Kapten, apa kau tidak apa-apa?" tanya pria dengan tinggi badan di bawah rata-rata itu, sambil berdiri mendongkak menggunakan kedua telapak tangan di atas meja.


"Sejak kapan kau ada di sini?" balas Gotzen, yang terlihat kesakitan. Ia pun buru-buru berdiri sambil mengusap air mata di pipinya.


"Kau tau, baru saja aku hampir mati gara-gara melihatmu tiba-tiba ada di depan ku." Gotzen  kembali duduk setelah meraih kembali kursi yang ia jatuhkan.


"Maafkan aku kapten, lagi pula itu salahmu sendiri. Kenapa kau tidak menyadari kedatanganku? Apa karena dadaku tidak sebesar dada Emi?" sambung Ayam.


Gotzen yang tidak biasa melayani candaan temannya itu hanya bisa mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Oh iya, apa kemarin kau menemukan petunjuk atau sesuatu yang mencurigakan?" Tanya Gotzen, sambil menatap ke arah wajah Ayam. Wajah yang selalu tertutup oleh topeng bermotif senyuman.


"Semua yang aku tau sudah kukatakan kepada Emi. Apa kapten sudah membaca laporannya?" Jawab Ayam, balik bertanya. 


mendengar hal itu, Gotzen hanya memalingkan wajah ke arah meja. 


"Sudah ku baca, tapi aku masih berharap kamu menemukan hal lain yang tidak belum ketahui." ucap Gotzen.


"Aku juga berharap menemukan sebuah petunjuk. Namun, sepertinya orang-orang disekitar tempat itu tidak tahu apa-apa," papar Ayam "melihat reaksi mereka, aku malah merasa khawatir." lanjutnya.


"Apa yang kamu khawatirkan?" Tanya Gotzen, menatap kembali ke arah Ayam.


"Kapten tahu sendiri kan, bagaimana reaksi mereka," ucap Ayam.


Mendengar hal itu, Gotzen mencoba mengingat kembali bagaimana dan apa yang dimaksud Ayam. Yang terlihat dalam ingatannya hanya wajah-wajah orang yang ketakutan.


"Aku takut mereka berpikir kalau kita yang telah melakukan pembunuhan itu." lanjut Ayam, mencoba menerangkan.


Gotzen membenarkan hal itu dalam hatinya, ia juga mulai merasakan kekhawatiran yang sama dengan Ayam.

__ADS_1


Tak lama kemudian suara dari arah pintu mengalihkan pandangan mereka. Ternyata itu adalah Bayu, ia kemudian berjalan menghampiri meja mereka.


"Kapten, apa anda tidak merasa lelah?" tanya Fogex sambil meraih sebuah kursi kemudian duduk di antara keduanya "sepertinya kau belum tidur, bukankah besok ada rapat penting yang harus anda hadiri," sambungnya.


"Itu hanya sebuah rapat, sepertinya kapten tidak perlu berlari dan mengayun-ayunkan pedangnya. Hahaha!" sahut Ayam, di ikuti suara tawa yang cukup keras.


"Aku takut jika kapten tertidur saat rapat. Jika seorang pemimpin tertidur ketika ia sedang rapat, bagaimana dengan nasib bawahannya," sindir Bayu.


"Baiklah, aku akan tidur, lagi pula aku memang sedikit mengantuk." Gotzen mengambil benda silinder di depannya, lalu beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.


Namun, Ayam tiba-tiba berdiri, membuat langkah kaki Gotzen terhenti dan membalikan badannya.


"Oh iya kapten, aku lupa. Untuk malam ini aku ijin pulang, aku sudah lama tidak menginap dan membersihkan rumahku." ucap Ayam. 


"Ya sudah, lagipula kita tidak ada tugas untuk hari ini. Tapi ingat! besok jangan sampai terlambat datang." ucap Gotzen, kemudian melanjutkan langkahnya.


"Baik kapten!" jawab Ayam, lalu ia kembali duduk.


Kini hanya ada Bayu dan Ayam di meja mereka.


"Apa kau melihat kapten tidak seperti biasa. Apa kau tahu apa penyebabnya?" tanya Ayam, membuka percakapan di antara mereka.


"Apa yang kau maksud?"  Bayu balik bertanya.


Ayam : "Tadi aku melihat kapten seperti sedang menangis, ia juga kelihatan sering melamun, tidak biasanya kapten seperti itu."


Bayu : "Entahlah, mungkin karena kejadian kemarin malam.  Kau tahu sendiri, tempat itu adalah tempat dia sebelum bergabung dengan tentara Divisi Kesatu. Pantas saja jika hal itu sangat mengganggu pikirannya."


"Benar juga. Seandainya itu aku, mungkin akan seperti itu juga." ucap Ayam dengan nada lirih. 


"Hahaha." mendengar hal itu Bayu tertawa kegirangan, sampai kepalanya terlentang. Tangan kanannya menggebrak-gebrak meja tanpa henti. "Kau? Seperti itu? Aku tidak bisa membayangkan kau bersedih seperti itu. Jika memang terjadi mungkin aku akan ikut menangis kalau sampai melewatkannya. Hahaha!" ucap Bayu dengan nada mengejek. Sambil memegang perut, ia menekan kepalanya ke atas meja sambil berusaha menahan tawa. Sementara tangan kanannya tidak bisa berhenti menyakiti meja.


Hal itu membuat Ayam sedikit kesal.


"Benar juga, hal itu memang tidak pantas untuk ku. Lagi pula aku tidak punya keluarga, tidak punya saudara dan tidak punya hal berharga yang harus aku tangisi ketika kehilangannya. Hahaha!" Jawab Ayam, ia mulai mengikuti gelagat Bayu. Memegang perut, menekan kepala ke atas meja, sambil menggebrak-gebrak tangan kanannya.


Sontak Bayu berhenti tertawa, lalu mengangkat wajahnya.


"Hey itu tidak lucu. Aku hanya bercanda, kenapa kau berkata seperti itu!" ucap Bayu, sambil memandang ke arah Ayam yang masih belum berhenti tertawa.


Tak lama kemudian Ayam menghentikan tawanya lalu mengambil nafas panjang.


Sejenak suasana di antara mereka menjadi sunyi.


Ayam mengangkat kepalanya dari atas meja.


"Baiklah, aku pergi dulu kawan, jaga tempat ini sampai aku kembali, oke!" ucap Ayam sembari menjauhkan bokong dari tempat duduknya. Ia pun pergi meninggalkan Bayu sendirian di meja itu.


Bagian 3 :


Karakter : Gotzen, Fogex, Ayam, Gotzen(16thn), Izkandar(16thn), Rea(14thn) Lia(14thn),

__ADS_1


Karakter pendukung : Penjaga kantin dan 3 orang dewasa.


__ADS_2