
Sore itu, jam dinding menunjukan pukul 05:00. Pembahasan semua masalah selesai, akhirnya rapat pun ditutup.
Komandan High berdiri.
Dengan kedua tangan bertumpu di atas meja, ia memutar pandangan, bergiliran menatap wajah semua bawahannya.
"Karena tidak ada hal yang perlu kita bahas lagi, sepertinya rapat kali ini cukup sampai disini saja. Dan juga, kalian jangan sampai lupa! Nasib perdamaian kita saat ini berada di tangan kalian. Jadi kalian harus menjaganya walau nyawa kalian jadi taruhannya!" ucap Komandan High.
Orang-orang yang duduk mengelilingi meja persegi panjang segera berdiri, tidak terkecuali Gotzen. Kemudian memberikan hormat, menempelkan jari tangan kanan di dekat alis kanan mata mereka.
"Siap Komandan!" teriak mereka serentak.
"Baiklah, sekarang kalian boleh pulang." ucap Komandan High.
Para kapten yang menghadiri rapat itu satu persatu mulai beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut, tidak terkecuali Gotzen.
"Emi, ayo kita pulang," ajak Gotzen.
Emi segera berdiri, kemudian mengikuti langkah kaptennya itu.
Sesampainya di luar, Emi dan Gotzen segera menghampiri kereta kuda mereka, lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
Di perjalanan, Gotzen yang duduk menghadap ke belakang, seperti biasa menjulurkan siku kanan ke lubang jendela. Ia kemudian melipatkan tangan untuk menyangga pipi, setelah itu melemparkan pandangan ke arah luar, seolah sedang menikmati pemandangan sekitarnya. Namun, dari sorot kedua matanya terlihat jelas bahwa itu hanya sebuah tatapan kosong.
Emi yang duduk berhadapan selalu memperhatikan kebiasaan tersebut, tetapi Gotzen tidak menyadari kalau wanita yang selalu menyembunyikan tatapan dibalik kacamata itu, sangat peduli padanya.
Apakah karena adanya rasa cinta atau hanya sebatas perhatian biasa.
Entahlah, yang jelas Emi adalah wanita yang selalu berbuat baik bukan karena atas dasar perasaan saja, jadi sangat sulit menebak isi hatinya.
Sebelum puas menatap wajah Gotzen, Emi memalingkan wajahnya keluar jendela. Tanpa ia sadari, dia mulai mengikuti kebiasaan Gotzen.
Tidak banyak hal yang bisa Emi lihat sore itu, karena rupanya hari sudah mulai gelap. Namun, langit merah merona, karena pantulan dari sinar matahari yang mulai tenggelam, masih terlihat jelas.
Menyadari hal itu, Emi pun kembali memalingkan pandangannya ke arah Gotzen.
"Kapten, hari sudah mulai gelap, apa sebaiknya kita menginap saja malam ini?" ucap Emi.
Namun Gotzen masih terlelap dalam lamunannya, suara lembut dari sang asisten tidak cukup untuk memecahkan kesunyian di antara mereka.
"Kapten, Kapten!" Emi pun mulai menaikan volume suaranya.
"Iya, ada apa Emi? Maaf, sepertinya tadi aku melamun." jawab Gotzen, sambil mengalihkan pandangannya ke arah Emi.
"Kapten, apa sebaiknya kita mencari tempat untuk menginap saja malam ini?" Emi mencoba memberikan sebuah saran dalam bentuk pertanyaan.
__ADS_1
"Memangnya ada apa? Apa yang membuatmu khawatir?" Gotzen balik bertanya.
"Hari sudah mulai gelap. Aku khawatir dengan apa yang dibahas dalam rapat tadi siang. Bukankah katanya Divisi Ketiga sedang melakukan pergerakan? Jadi sepertinya untuk sekarang perjalanan di malam hari akan lebih berbahaya." papar Emi.
"Baiklah. Jika memang menurutmu seperti itu." jawab Gotzen. Ia berbalik, kemudian sedikit membuka jendela bagian depan.
"Tolong cari penginapan terdekat yang memiliki penjaga!" pinta Gotzen kepada sang ajudan.
"Baik kapten." jawab ajudan tersebut. Gotzen pun kembali duduk.
Tak lama kemudian mereka berhenti di sebuah penginapan. Terlihat beberapa prajurit divisi ke satu menjaga tempat itu.
Tidak berlama-lama, masuklah Gotzen dan Emi ke ruangan yang memiliki banyak meja bundar dengan empat kursi. Kemudian Gotzen duduk di kursi paling sudut. Sementara Emi pergi ke tempat kasir "Bu, pesan dua kamar dan tiga porsi makan malam. Kalau bisa, tolong dibuatkan yang masih hangat." setelah itu, Emi kemudian menyusul, duduk di kursi yang berseberangan di depan Gotzen. Tak jauh dari sana satu ajudan mereka duduk di kursi dengan meja yang berbeda.
Emi tersenyum sambil menatap wajah Gotzen yang acuh, tidak peduli dengan keberadaan ia di depannya.
"Kapten, ada apa? Kenapa kau melamun?" tanya Emi, berharap Gotzen mau sedikit bercerita.
"Bukan apa-apa." Gotzen sebentar memalingkan wajahnya kepada Emi, seperti tidak ada niat mengatakan apapun.
"Apa kapten masih memikirkan tentang kejadian kemarin? Atau karena kejadian tadi siang?" ucap Emi, masih dengan senyum manis di wajahnya.
"Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan, jadi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan." gerutu Gotzen, kesal.
"Jangan bilang begitu kapten, setidaknya, pasti ada satu hal yang membebani pikiranmu saat ini, coba katakan padaku sedikiiiiit saja." pinta Emi, berusaha meyakinkan, senyuman di wajahnya semakin ia jadi-jadikan, walau tak kunjung ada balasan.
"Maafkan aku kapten." sahut Emi. Senyumnya perlahan memudar. Ia memalingkan wajah yang penuh dengan kesedihan dan penyesalan. Mengingat kebaikan Gotzen selama ini, tidak pernah terpikirkan dia akan mengatakan hal seperti itu.
Emi merasa akan lebih baik jika Gotzen terus mengeluarkan kekesalan kepadanya saat ini. Karena suasana canggung di antara mereka tidak lebih baik, itu membuat ia ingin menghilang.
Sebuah kesunyian yang mungkin akan memperlebar jarak diantara mereka.
Namun, Gotzen hanya terdiam seakan tidak memperdulikan perasaan lawan bicaranya itu.
Menghadapi situasi seperti ini, Emi hanya bisa tertunduk sambil menahan rasa hangat di kedua matanya.
"Mungkin kau tidak tau kapten, selama ini aku selalu berusaha keras agar aku dibutuhkan oleh orang lain, agar aku juga bisa berguna untuk orang lain. Tapi kenapa kapten mengatakan hal itu?" ucap Emi.
Dug!! jantungnya berdenyut kencang.
Eeeeeh!!
Gotzen memalingkan pandangan ke wajah Emi.
Apa yang selama ini selalu membebani pikirannya lenyap seketika, ia mulai tersadar dan melihat kembali situasi di sekitarnya.
__ADS_1
"Aku tau, aku bukan laki-laki, aku lemah dan tidak akan bisa menolong siapapun. Ketika berhadapan dengan musuh, aku bahkan tidak mungkin untuk menolong diriku sendiri. Yang bisa aku lakukan hanya mengikuti orang lain dari belakang."
lanjut Emi, mulai mengusap air yang mengalir dari kedua bola matanya.
Gotzen menyadari kalau ia telah mengatakan sesuatu yang tidak pantas untuk diucapkan.Selama ini ia terus berlarut-larut dalam kesedihan hingga melupakan orang di sekitarnya.
"Walaupun aku sadar kalau aku tidak berguna sebagai prajurit, walaupun aku tidak bisa mengalahkan musuh, tapi aku berharap suatu saat akan ada orang yang mengatakan bahwa aku berguna, bahwa mereka membutuhkanku." ucap Emi, sambil meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua pipinya.
Mendengar Emi dan melihatnya menangis, Gotzen sangat terpukul.
Ia tau, saat ini, jika terus mempertahankan ego dan harga diri, maka ia akan kehilangan hal berharga lainnya.
"Anu,"
"Itu,"
"Eemi,"
Gotzen berusaha untuk mengatakan sesuatu, tetapi mulutnya seakan terkunci rapat. Sesekali ia melihat ke arah Emi yang masih tersedu-sedu. Kini hatinya penuh dengan penyesalan.
"Emi." ucap Gotzen, ia menundukkan kepala, kedua tangannya terkepal erat di atas meja
"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku minta maaf."
"Aku salah, karena terus memikirkan perasaanku sendiri tanpa memperdulikan perasaanmu. Aku sungguh menyesal karena telah mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaanmu." lanjut Gotzen, memalingkan pandang ke arah Emi.
Emi yang mendengar hal itu segera membuka celah di antara jari-jari kecilnya. Ia mencoba mengintip raut wajah Gotzen, membuat tatapan kedua orang itu bertabrakan.
Emi yang semula terlihat menangis, kini mengeluarkan suara kecil karena tak kuat menahan tawa. Menyadari hal itu, tekanan berat di hati Gotzen hilang seketika. Raut di wajahnya kembali tenang seperti semula.
"Baiklah kapten! Aku memaafkanmu!" ucap Emi, mengagetkan Gotzen. Ia menegakan kembali kepalanya sambil mengusap sisa air mata dengan kedua tangannya. Emi kembali tersenyum, tetapi mata dan pipi masih terlihat merah dan basah, membuat Gotzen merasa malu dan sedih.
"Tapi!" ucap Emi, sambil menegakan jari telunjuk kanannya.
"Kapten jangan mengulanginya lagi."
"Jika kita kehilangan sesuatu yang berharga, kita tidak boleh terus bersedih atau terpuruk. Karena jika kita melakukan itu, kita hanya akan kehilangan hal berharga lainnya." lanjut Emi.
"Terimakasih." jawab Gotzen, dengan sebuah senyuman. Ia merasa sangat malu dan sangat bersyukur.
Tak lama kemudian pelayan datang mengantarkan makan malam untuk mereka, hal itu sedikit menghilangkan rasa canggung diantara keduanya.
Setelah Gotzen dan Emi selesai makan malam, mereka pun pergi ke kamarnya masing-masing.
ketika Gotzen membuka pintu, terdengar suara Emi dari pintu kamar sebelah
__ADS_1
"Selamat malam kapten!"
Meski hanya tidur di atas sebuah ranjang beralaskan tikar dengan satu bantal tanpa sebuah guling, Gotzen bisa tidur nyenyak malam itu, mungkin karena dia kelelahan.