Merah Merona

Merah Merona
02


__ADS_3

Tidak lama kemudian langkah kaki Gotzen sudah sampai di asrama laki-laki. Ia berjalan mendekati kamar tempat dimana ia sempat melihat temannya.


Didapatinya pintu sudah terbuka. Ia lalu memasuki ruangan tersebut, terlihat satu buah lemari di sebelah kiri dan satu di depan pintu, lalu sebuah meja menghadap ke tembok di samping lemari itu, terlihat juga sebuah kursi di dekat jendela, membelakangi meja tersebut.


Di ruangan itu, ada juga satu mayat dengan tusukan di dada kiri dan dua mayat dengan kepala yang terpenggal. Gotzen berjongkok lalu mengepal sebagian rambut merahnya dengan kedua tangan.


"Ahhhhh sial, apa yang sebenarnya terjadi." gumamnya.


Lalu Gotzen teringat dengan seseorang, ia pun segera meninggalkan tempat itu. Gotzen berjalan melewati bangunan utama menuju asrama wanita di sebelah utara. Ruangan yang ia tuju kali ini adalah ruangan tempat adiknya Izk, yang bernama Rea.


Di tengah perjalanan, di sebuah koridor, ia bertemu dengan Bayu dan Ayam.


"Kapten, apa yang sebaiknya kita lakukan?" Tanya Bayu.


"Untuk sementara, kumpulkan semua mayat di lapangan, aku ingin memeriksa mereka satu-persatu." jawab Gotzen, kemudian berlalu meninggalkan kedua orang itu.


"Siap kapten!" Jawab mereka sembari menempelkan jari tangan kanan di ujung alis mata mereka.


Sesampainya di ruangan yang ia tuju. Sebuah mayat dengan kepala yang terpenggal terbujur kaku di tengah-tengah pintu masuk. Meski tanpa kepala,   dari baju, bentuk tubuh dan ukuran dada, terlihat jelas bahwa ia adalah perempuan. Gotzen kemudian melangkahi mayat itu dan memasuki kamar tersebut. 


Terlihat sebuah kepala tanpa badan berada di dekat kaki sebuah mayat gadis berambut hitam panjang dengan sebuah tusukan tepat di dada kiri. Terlihat juga sebuah lemari baju dan ranjang dengan kasur tipis di sebelah kiri, tiga buah bantal dan sebuah selimut tertata rapi di atasnya. Selain itu ada juga sebuah kursi dan sebuah meja di sebelah kanan.


Gotzen berjalan mendekati meja di ruangan tersebut. Ada rak buku, beberapa buku dan beberapa pena lengkap dengan sebuah kotak tinta. Matanya kini tertuju pada sebuah benda berbentuk silinder, benda itu tidak asing baginya, karena dulu benda tersebut adalah milik adik perempuan Gotzen yang bernama Lia.


Setelah mengambil benda tersebut, Gotzen segera meninggalkan kamar itu. sementara beberapa prajurit terlihat masih sibuk memboyong mayat keluar, di bawah komando Bayu, Emi dan Ayam.


Di tengah lapangan, Gotzen memeriksa satu persatu wajah dari mayat yang mereka temukan.


Namun, dari puluhan mayat yang terkumpul, orang yang Gotzen cari tidak ada. Ia kemudian berbalik, berjalan mendekati ketiga bawahannya. Matanya menatap ke arah dua orang di belakang Bayu.


"Emi, Ayam, bawa beberapa prajurit bersama kalian, cari petunjuk dan informasi dari orang-orang di sekitar sini." ucap Gotzen.

__ADS_1


"Siap kapten!" Jawab mereka berdua, tak lupa dengan sebuah hormat, setelah itu mereka pun berlalu.


Gotzen kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Bayu.


"Bayu, kau dan para prajurit segera ke gudang belakang untuk mengambil perkakas yang bisa digunakan untuk menggali tanah, kita harus menguburkan dulu mayat-mayat ini sebelum kembali ke markas!" Ucap Gotzen.


"Siap kapten!" jawab Bayu.


Tidak terasa, sore itu sudah berganti menjadi malam. Namun, cahaya penuh dari pantulan benda bulat di malam tanggal 15 menerangi tanah lapang di belakang panti tersebut.


Terlihat Gotzen sedang termenung di belakang bangunan utama, ia duduk di sebuah anak tangga dengan siku di kedua paha dan jari-jari yang bersilangan di depan dagunya. Beberapa meter di depan Gotzen terlihat Bayu dan prajurit lainnya sedang menggali tanah dengan alat seadanya.


Tak lama kemudian Emi, Ayam dan beberapa prajurit sudah kembali, bersama mereka ada juga beberapa orang sekitar datang untuk membantu. Menyadari hal itu, Gotzen segera berdiri dan menghampiri Emi.


"Bagaimana, apakah ada petunjuk?" tanya Gotzen, dengan raut wajah sangat berharap.


"Maaf kapten, walaupun sudah berusaha, tidak ada petunjuk yang bisa kami dapatkan, sepertinya sebelum kita, tidak ada orang yang mengetahui hal ini." jawab Emi.


"Tidak mungkin, pembantaian seperti ini seharusnya meninggalkan sebuah petunjuk, tidak mungkin ada yang bisa melakukan hal ini tanpa diketahui siapapun," pikir Gotzen. Hatinya merasa tidak puas, ia ingin menusuk Emi dengan beberapa pertanyaan yang meluap di dalam kepalanya. Namun, ia mengurungkan hal itu.


"Baiklah kalau begitu, mau bagaimana lagi, kamu istirahat saja." ucap Gotzen lalu mengalihkan pandangannya dari Emi. Ia kembali duduk di sebuah kursi, sesekali menatap langit yang terlihat cukup tenang malam itu.


Dengan terangnya sinar bulan di malam itu, Bayu, Ayam, para prajurit dan beberapa orang dari sekitar terus bergiliran menggali tanah di lahan kosong sekeliling panti asuhan itu. 


Perlu waktu sampai pagi hari hingga mereka bisa menguburkan seluruh mayat yang tidak mereka ketahui siapa dan bagaimana cerita semasa hidupnya.


Mentari yang terbit di pagi hari kala itu terlihat sangat cerah dan menyilaukan.


Ayam terlihat duduk di pintu belakang bangunan paling belakang panti, ia seperti tertidur pulas, bersandar ke tiang pintu sebelah kiri. Di samping kanan Ayam, terlihat juga Emi yang juga tidur dan bersandar ke sebelah kanan tiang pintu. Mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan hal itu adalah satu pintu berdua.


Tidak jauh di depan mereka, Gotzen duduk di sebuah kursi sambil memperhatikan bawahannya yang tengah kelelahan.

__ADS_1


Sementara tidak jauh di sebelah kiri Gotzen terlihat Bayu yang sedang menundukkan kepala dan badannya.


"Terima kasih atas bantuannya," Ucap Bayu, kepada beberapa orang yang membantu.


"Sama-sama tuan," jawab mereka, lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Bayu berbalik dan berjalan mendekati Gotzen.


"Kapten, Bagaimana selanjutnya? Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Bayu, ia berdiri tegak di sebelah kiri Gotzen.


"Sekarang lebih baik kita pulang saja, lagi pula tidak ada petunjuk yang kita dapatkan, kita juga sudah cukup kelelahan." jawab Gotzen, kemudian berbalik, berjalan mendekati Emi dan Ayam untuk membangunkan mereka. 


Gotzen, Ayam, Bayu, Emi, dan para prajurit pun segera pergi meninggalkan tempat itu. Jarak antara markas mereka dan panti asuhan cukup jauh, melewati jalan berbatu, perkampungan, persawahan dan hutan.


Di tengah perjalanan, setelah berada di sebuah perkampungan yang jaraknya tidak jauh dari markas.


"Kapten," ucap Emi menghentikan langkah mereka. Gotzen yang berada paling depan segera memalingkan pandangannya ke arah Emi.


"Ada apa Emi?" Tanya Gotzen


"Itu, kapten. Apa hari ini saya boleh langsung pulang?" pinta Emi dengan sedikit ragu-ragu.


"Iya, kau boleh pulang." jawab Gotzen tanpa banyak bertanya.


"Terima kasih kapten!" sahut Emi, sambil menundukkan kepala dan badannya. Kemudian ia menyerahkan buku catatan yang selalu ia bawa kepada Bayu, lalu segera pergi sambil melambaikan tangan.


"Sampai jumpa besok." ucap Emi, dengan sebuah senyum manis di wajah cantiknya.


*


Bagian 2 : Karpet Merah

__ADS_1


Karakter : Gotzen, Emi, Fogex, Ayam, 


Karakter pendukung : Para prajurit, Orang-orang mati dan Orang


__ADS_2