
17-11-995
Pagi hari yang cerah, Gotzen dan Emi kembali melanjutkan perjalanan. Meskipun cuaca mendung, kali ini raut wajah Gotzen terlihat lebih baik. Hal itu membuat Emi yang duduk di kursi belakang merasa senang.
"Emi, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?" tanya Gotzen, masih dengan wajah menghadap keluar jendela.
Jarang sekali Gotzen berinisiatif untuk membuka percakapan, apabila tidak ada hal yang penting, ia biasanya lebih suka membiarkan suasana di sekitarnya hening. Hal ini tentu saja membuat Emi sedikit terkejut.
"Iya kapten, boleh, ada apa?" sahut Emi.
"Aku ingin tahu, kenapa kamu berada di pasukan militer? Menurutku, militer sedikit tidak cocok untuk wanita baik sepertimu." ucap Gotzen.
Ekspresi di wajah Emi langsung berubah.
Ia yang biasa murah senyum, kini terlihat cemas dan kebingungan.
"Maksud kapten?"
"Apakah kapten ingin mengatakan kalau aku tidak pantas berada di pasukan militer?" pikirnya dalam hati.
Gotzen tersenyum sambil memalingkan pandangan dari lubang jendela.
"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja, alasan kenapa kamu bergabung dengan militer. Lagi pula jarang sekali ada wanita yang bergabung dengan militer." jawab Gotzen, coba menjelaskan. Ia takut ada kesepahaman setelah kejadian semalam.
"Kalau soal ituuu..?" raut wajah Emi masih terlihat agak kebingungan.
"Mungkin pada awalnya aku hanya ingin bertahan hidup. Kapten tau sendiri bukan, aku sama sepertimu. Karena perang-perang sebelumnya, aku juga tidak punya orang tua." jawab Emi, diikuti sebuah tarikan nafas yang panjang.
"Meskipun gajiku tidak seberapa, setidaknya ketiga adikku bisa sekolah secara gratis. Aku ingin mereka menjalani hidup yang lebih baik." lanjut Emi, menerangkan.
Gotzen tersenyum mendengar hal itu.
"Menurutku itu sedikit aneh. Kau mencoba untuk bertahan hidup, tapi malah mencari pekerjaan yang paling dekat dengan kematian." ucap Gotzen.
"Mau bagaimana lagi, dalam situasi seperti sekarang, sangat sulit mendapatkan pekerjaan, apa lagi untuk seorang wanita sepertiku."
"Lagi pula, aku punya Kapten yang tidak akan membiarkan aku terluka. Jadi aku tidak perlu merasa khawatir." jawab Emi, sambil memandang ke arah Gotzen dengan sebuah senyuman.
"Aku punya kapten, aku punya Ayam, aku punya Bayu. Aku punya banyak lelaki yang akan melindungi ku." lanjut Emi. Senyumnya kian tak terbendung lagi.
Mendengar hal itu membuat Gotzen memalingkan senyum kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
"Tapi, apakah kamu tidak memiliki keinginan untuk hidup layaknya wanita biasa?" tanya Gotzen.
"Andai saja hidup bisa berjalan seperti yang kita inginkan, aku ingin hidup tenang, punya pekerjaan yang pantas untuk seorang wanita, bisa menjalani hidup tanpa rasa takut dan tentu saja aku tidak akan bergabung dengan militer " jawab Emi.
"Tapi kau tahu sendiri kapten. Walau sudah berusaha keras, kita tidak akan pernah bisa hidup seperti yang kita inginkan."
Senyuman mulai pudar di wajah wanita berkacamata itu, Ia pun memalingkan wajah ke arah jendela.
"Apa kamu tau Kapten, apa yang para penguasa pikirkan? Apakah mereka yang berkuasa adalah orang-orang bodxh, sehingga terus terjadi peperangan di mana-mana."
"Entahlah, mungkin bukan karena bodxh, bisa saja karena mereka terlalu rakus." jawab Gotzen.
Setelah perbincangan itu, sepanjang perjalanan suasana di antara mereka pun menjadi hening, seperti tak ada yang bisa kembali menghangatkan suasana. Sampai dimana kereta kuda mereka tiba-tiba berhenti.
Hal itu membuat Gotzen dan Emi terbangun dari lamunan, lalu saling memandang satu sama lain.
Saat Gotzen berbalik dan ingin melihat dari balik kaca bagian depan, tiba-tiba sebuah tombak besar menusuk ajudan pembawa kereta kuda mereka. Ujung tombak yang menembus ke dalam kereta kuda, membuat Emi ketakutan dan hampir berteriak. Namun, Gotzen dengan cepat menutup mulut Emi dengan tangan kanannya.
"Emi, tenanglah." suara pelan berbisik di telinga Emi. Tak lama kemudian Gotzen menjauhkan jari-jarinya dari mulut Emi, ia pun berbalik dan melihat keadaan di luar, dari kaca depan.
Rupanya Gotzen dan Emi sudah berada tidak jauh dari markas mereka. Namun, entah kenapa tentara yang tidak lain adalah pemberontak Divisi Ketiga menghalangi jalan mereka.
Gotzen memegang pundak Emi, dan menatap tajam kedua matanya.
"Emi dengarkan baik-baik, aku akan mencoba menahan mereka, lalu kamu pergi ke markas untuk meminta bantuan!" Emi masih terlihat ketakutan. Namun ia menganggukkan kepala, menyetujui rencana dari kaptennya itu.
__ADS_1
Gotzen lalu keluar dari kereta kuda, kemudian perlahan berjalan menghampiri orang-orang yang menghalangi jalan mereka. Emi pun mengikutinya dari belakang.
Dihadapan mereka terlihat beberapa belas prajurit membawa tombak dan pedang di tangannya.
Mereka terlihat lusuh, kotor, dan berlumuran darah.
Untuk sementara waktu Gotzen merasa kalau dia sendiri bisa menahan mereka.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" tanya Gotzen. Ia berdiri di depan kuda kereta mereka, berusaha untuk mengulur waktu, sementara Emi melepaskan ikatan kuda tersebut.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu!" seorang laki-laki di antara pasukan divisi ketiga maju dari barisan.
"Kenapa anak dari mantan penguasa kekaisaran berada di sini?!" lanjut ia bertanya.
Gotzen hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan itu.
"Oh, iya aku lupa kalau ayahmu adalah penyebab semua ini. Karena kekaisaran runtuh, kita semua terlibat dalam perang ini!" sindir seorang pasukan Divisi Ketiga dengan raut wajah mengejek.
Tanpa menjawab apa-apa, Gotzen mengambil pistol dari pinggang kanannya.
Emi, cepat pergi sekarang." ucap Gotzen.
Dorr!! Dorr!! Dorr!!
Walaupun sempat ingin berusaha menghindar, tiga peluru berhasil melukai tiga orang tentara Divisi Ketiga.
Emi segera menaiki salah satu kuda yang sudah terlepas dari keretanya dan meninggalkan Gotzen sendirian.
Setelah merasa cukup aman, Emi berhenti sejenak
"Aku pasti akan segera kembali membawa bantuan!!." teriak Emi dari kejauhan, lalu ia pun segera pergi.
"Cepatlah kembali, agar aku bisa memenggal kepala kxparat ini di depan matamu!" teriak seorang prajurit divisi Ketiga sambil mengarahkan pedang ke arah Gotzen, diikuti oleh serangan orang-orang di belakangnya.
Dorr!! Dorr!! Dorr!!
Salah satu pasukan Divisi Ketiga langsung menyabetkan pedang ke arah Gotzen. Dengan sebuah pedang yang ia pegang dengan kedua tangannya, Gotzen berhasil menahan serangan itu dan mereka pun saling menekan, menguatkan kuda-kuda mereka.
Orang-orang Divisi Ketiga mulai mengepung Gotzen, seperti sekelompok anjing yang sedang mengepung seekor babi. Salah satu di antara mereka menyerang Gotzen dari belakang dengan sebuah tombak. Gotzen yang masih beradu kekuatan dengan orang di depannya segera menghindar, memutar badan, sehingga kedua orang yang menyerang Gotzen beradu, dan saling melukai satu sama lain. Tidak sampai disitu, Gotzen segera mengayunkan pedangnya, dan membuat kedua orang itu tersungkur.
Orang-orang Divisi Ketiga yang melihat hal itu, bergiliran mencari kesempatan untuk menyerang.
Tidak ada waktu bagi Gotzen untuk bersantai. Tebasan pedang dari sebelah kiri tepat mengarah ke wajah Gotzen, untungnya tangan kiri Gotzen yang selalu memakai sarung tangan besi sesiku dengan sigap bisa menahan serangan itu. Gotzen segera melakukan serangan balik dengan sabetan pedang di tangan kanannya dan berhasil melukai musuh.
Sebuah tombak hampir menusuk perut Gotzen dari arah kanan. Namun, Gotzen berhasil mendorong tubuhnya sedikit ke belakang, kemudian memegang ujung tombak itu dengan tangan kiri, lalu memukul wajah pria yang menyerangnya itu dengan ujung pegangan pedang.
Jika satu lawan satu, itu hal yang mudah bagi Gotzen, tetapi dikarenakan jumlah yang tidak sebanding, membuat Gotzen sangat kesulitan. Ia terus berusaha mengalahkan musuhnya satu persatu.
Setelah pertempuran yang cukup melelahkan, sebagian besar orang-orang Divisi Ketiga akhirnya tersungkur. Namun, Gotzen pun sudah terkapar lesu, tubuhnya penuh dengan Goresan. Sedangkan dua orang musuh yang masih berdiri, sudah siap untuk membunuhnya. Ia menatap langit yang sedikit berwarna merah, karena percikan darah di wajah Gotzen yang mengenai matanya.
Salah satu dari dua pasukan Divisi Ketiga berjalan mendekati kepala Gotzen.
"Aku tidak menyangka, orang pengecut sepertimu ternyata cukup kuat juga." ucap pria tersebut, kemudian mengangkat tombak menggunakan kedua tangannya, dengan sekuat tenaga ia mengarahkannya ke wajah Gotzen. Gotzen menghindari serangan itu dengan memutar tubuhnya ke sebelah kiri, sambil memegang erat pedang di tangan kanan, ia menyabet leher pria tersebut hingga kepala pria itu terputus dan bergelinding di atas tanah.
"Apa kalian tidak merasa lebih pengecut daripada aku. Aku sendirian, dan kalian menyerang ku bergiliran." ucap Gotzen. Ia bertumpu di kedua lutut dan kedua tangan. Dengan nafas yang terengah-engah, dia mencoba untuk berdiri dengan sisa kekuatannya.
"Setidaknya kami bukan orang yang tega membantai anak-anak tak berdosa di sebuah panti asuhan." cemooh pria terakhir, sambil memegang sebuah pedang dengan kedua tangannya.
"Apa yang kau katakan?" balas Gotzen kebingungan.
"Jangan pura-pura! Kami tahu kalau kalian tiga hari yang lalu pergi ke panti untuk mencari informasi tentang kami, dan kalian membantai mereka semua, dasar manusia laknat!" Air mata mulai terlihat di pipi pria itu. Kemudian ia berlari dan menyabetkan pedang ke arah kepala Gotzen, tetapi Gotzen segera memutar tubuhnya dan menebas punggung pria itu hingga tersungkur .
"Sial!" teriak Gotzen, ia baru tahu ternyata alasan kenapa dia di cegat oleh orang-orang Divisi Ketiga, hanya karena kesalahpahaman.
Pada akhirnya, setelah pertempuran yang cukup melelahkan, Gotzen berhasil mengalahkan mereka semua tanpa ada bantuan, meskipun begitu tubuhnya kini sangat kelelahan.
Terlihat pedangnya menancap ke tanah. Kedua tangan berada di ujung pegangan pedang itu dan keningnya pun ikut menumpang di sana, di atas kedua punggung tangannya. Ia belum mampu berdiri dan hanya bisa terdiam dengan kedua lutut sebagai tumpuan.
__ADS_1
Tidak lama kemudian luka di tubuh Gotzen satu persatu mulai menghilang.
Itu hal yang wajar, karena Gotzen adalah anak dari kaisar Atekz yang memiliki kemampuan healing, sehingga Gotzen pun mewarisi kemampuan itu.
"Kenapa Emi dan yang lainnya belum juga datang." pikir Gotzen dalam hati.
Sebenarnya Gotzen merasa sangat bersyukur, Emi dan yang lainnya tidak ikut bertempur, sehingga tidak ada korban di pihaknya.
kini ia hanya mengharapkan sambutan hangat dari mereka.
Ia pun mulai berdiri dan perlahan melangkahkan kakinya ke arah kuda yang masih tersisa, kemudian memacunya secara perlahan.
Sesampainya di depan markas Gotzen sangat terkejut. Tidak ada seorangpun yang menyambut kedatangannya.
Ia pun segera turun dari kuda lalu berjalan perlahan di antara mayat rekan-rekannya dan mayat dari pasukan divisi ke tiga.
"Emi!!"
"Bayu!!"
"Ayam!!"
Sambil memanggil nama mereka, Gotzen terus berjalan mengitari markasnya.
Tidak lama kemudian, Gotzen melihat tubuh yang terlentang di tanah, dengan banyak tombak dan pedang di perutnya.
Mayat itu tidak lain itu adalah Bayu, sepertinya sang wakil kapten mengalami pengeroyokan sebelum kematiannya.
Tidak jauh dari sana terlihat juga mayat dengan kepala yang pecah bersandar di tembok, meskipun begitu Gotzen masih mengenalinya. Dia adalah Ayam, orang yang selalu tertawa lepas seakan tidak punya beban apapun dalam hidupnya. Gotzen tidak percaya bahwa orang bahagia seperti Ayam akan mati mendahuluinya.
Setelah melihat kedua orang tersebut, Gotzen tidak bisa lagi mengontrol akal sehatnya. Meskipun begitu, dia terus berjalan di antara mayat-mayat yang berserakan. Berharap bisa segera bertemu dengan orang yang baru saja menemani perjalanannya.
Tidak lama kemudian, di kejauhan terlihat Emi berdiri tegak membelakangi Gotzen.
Gotzen merasa lega ternyata Emi tidak terluka. Ia takut jika Emi di serang oleh sisa-sisa orang Divisi Ketiga.
"Emii!! Syukurlah kau tidak apa."
Gotzen segera berjalan menghampirinya.
Namun, semakin dekat, semakin terlihat jelas bahwa orang itu bukanlah Emi.
Pria dengan rambut putih, baju putih yang memakai baret hijau khas Divisi Ketiga di lengan kirinya. Ia tidak lain adalah Izk, teman masa kecil Gotzen di panti asuhan.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Gotzen, setelah cukup dekat di belakang pria tersebut.
"Apakah semua ini perbuatan mu!!?" bentaknya. Gotzen seperti sudah kehilangan akal sehat, ia sudah tidak bisa lagi melihat situasi dan pertanyaan yang dia ucapkan.
"Tidak, aku tidak melakukan semua itu." jawab Izk, datar.
"Lalu siapa yang telah membunuh mereka semua!!?" teriak Gotzen.
"Bukankah kau bisa melihatnya sendiri? Kenapa masih bertanya padaku? Apakah aku terlihat seperti orang yang mampuh melakukan ini semua." jawab Izk, sambil menunjuk sebuah mayat di depannya, kemudian ia membalikan badan, menatap ke arah Gotzen.
Gotzen mengalihkan pandang dari teman lamanya itu.
Ternyata orang yang sedang ia cari sudah terbaring di tanah. Kepala dan sebagian tubuhnya bersandar di tembok.
Leher yang teriris, mulut dan hidung yang penuh dengan darah. Pipi dan mata yang basah dengan air mata menghiasi wajah cantik itu.
"Emii!!"
Entah bagaimana, Gotzen yang sudah lelah berjalan itu, tiba-tiba bisa berlari dan merangkul tubuh Emi yang sudah terbujur kaku.
Gotzen menangis sambil mengangkat tubuh Emi ke pangkuannya. Namun naas, kepala Emi terlepas dari badannya.
Rupanya sayatan di leher telah memenggal terpisah kepalanya.
__ADS_1
Gotzen sebentar menatap kearah dua mata Emi yang masih terbuka. Ia pun berteriak histeris, sebelum akhirnya tak sadarkan diri.