
Minggu 16-11-995, 05:30.
Di depan rumah mereka, terlihat Emi dengan seragam lengkap, sedang bersama kedua adiknya. Sementara adik bungsu mereka yang masih berumur 5 tahun, masih tertidur lelap.
"Kalian jaga rumah, besok jangan bolos sekolah. Kalau ada apa-apa panggil saja Bibi." kata Emi kepada adik perempuan yang bernama Ema(13) dan adik laki-laki bernama Ami(9)
"Kakak, kapan akan pulang?" Tanya Ema yang berdiri tepat di depan Emi.
"Mungkin besok sore," jawab Emi sambil mengulurkan tangan kanan.
Ema segera meraih tangan itu kemudian menciumnya, di ikuti oleh Ami.
"Baiklah, sekarang kakak akan pergi, kalian jangan bertengkar" kata Emi sambil berjalan dan melambaikan tangan tanda perpisahan mereka.
Setelah itu ia menghampiri tetangga di sebelah kanan rumah mereka. Kebetulan saat itu orang yang Emi cari sedang membersihkan halaman rumah.
"Bibi, saya akan pergi untuk dua hari satu malam, untuk sementara saya titip anak-anak yah." kata Emi sambil meraih dan mencium tangan kanan adik dari almarhum ayahnya itu.
"Tentu saja, dengan senang hati. Kau juga, jaga dirimu baik-baik, jangan sampai melakukan hal yang ceroboh. Bibi do'akan semoga kamu selamat." jawab perempuan berumur 40thn itu. Ia memang sudah menganggap Emi dan adik-adiknya seperti anak sendiri.
"Terimakasih Bibi. Tenang saja, bibi tidak perlu khawatir soal itu." jawab Emi, "baiklah, aku pergi dulu." lanjutnya sambil berlalu pergi meninggalkan pekarangan rumah.
Di tengah perjalanan Emi.
Di dekat sebuah warung makan, terlihat Ayam yang sedang duduk disebuah kursi panjang. Kepalanya terlentang seperti sedang menatap langit. Sepertinya Ia memang sedang menunggu kedatangan Emi.
Emi yang melihat hal itu mulai memelankan suara dan langkah kakinya. Ia berjalan perlahan sambil memegang tali tas selempang yang ia bawa. Setelah cukup dekat ia menepuk pundak Ayam dengan cukup keras.
"Hey!! Apa yang sedang kamu pikirkan?" tegur Emi, dengan maksud mengagetkan.
Sontak hal itu berhasil membuat Ayam terkejut.
"Hey!! Apa yang kau lakukan? Kau membuatku kaget saja. Dasar gadis cebol!!" bentak Ayam, sambil memalingkan pandangan ke arah Emi.
Mendengar hal itu, Emi hanya memasang senyum di wajahnya, ia berusaha untuk tidak tertawa.
"Apa yang kau katakan hah!! Kau cuma lebih tinggi beberapa centi dari pada aku. Lagi pula, kenapa kamu melamun, apa yang sedang kau pikirkan?" ucap Emi, dengan nada sedikit menggoda.
"Tentu saja aku sedang memikirkan mu, memangnya apalagi yang bisa aku pikirkan." ejek Ayam, masih terlihat kesal.
Mendengar hal itu membuat Emi ikut merasa kesal.
"Dasar kau! berhentilah membuat lelucon seperti itu." ucapnya, sambil memukul kepala Ayam.
Dari sana mereka pun berangkat bersama.
Tidak butuh waktu lama Emi dan Ayam sampai di markas militer.
Sementara di sana Gotzen, Bayu dan semua prajurit sedang menunggu kedatangan mereka.
"Mohon maaf kapten, saya terlambat." Kata Emi yang berdiri tepat di hadapan Gozen sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa." ucap Gotzen kemudian berbalik ke arah Fogex yang berdiri di samping kirinya.
"Baiklah, untuk sementara, sampai aku dan Emi kembali, kau dan Ayam yang memimpin tempat ini!" Lanjut Gotzen sambil memegang pundak Bayu.
__ADS_1
"Siap kapten" sahut Bayu dan Ayam sambil mengangkat tangan kanan untuk memberi hormat.
Setelah itu Gotzen menaiki kereta kuda bersama Emi sebagai asisten/sekretaris, dan seorang ajudan pembawa kereta kuda. Lalu mereka pergi meninggalkan tempat itu.
*
Tiba di tengah perjalanan.
Di dalam kereta kuda Gotzen duduk menghadap ke arah belakang, ia terdiam sambil melihat keluar jendela sebelah kiri. Siku kanan juga bertumpu ke lubang jendela tersebut, melipatkan tangan untuk menyangga pipi kanannya.
Di depan Gotzen, di kursi belakang sebelah kiri, terlihat Emi yang juga menatap keluar jendela sebelah kanan. Suasana di antara mereka terlihat sunyi dan tenang.
Gotzen yang masih memikirkan kematian saudara-saudaranya. Emi yang takut salah kata. Kedua hal itu membuat mereka berbicara seperlunya.
"Dari pada aku salah bicara dan membuat suasana semakin canggung, sepertinya pemandangan yang terlihat sepanjang jalan sudah cukup untuk menemani kegalauan kapten." pikir Emi.
Pegunungan, persawahan, perkebunan, perkampungan dan hutan yang mereka lewati memang cukup indah.
Di tengah perjalanan, Gotzen memerintahkan ajudannya untuk berhenti di salah satu markas militer yang mereka lewati. Tujuannya untuk mengganti kedua kuda mereka yang sudah cukup kelelahan. Jika kuda tidak diganti, maka mereka harus berhenti cukup lama untuk mengistirahatkan kuda tersebut.
*
Setelah kesunyian yang cukup panjang diantara Emi dan Gotzen, akhirnya salah satu diantara keduanya mulai berinisiatif untuk membuka percakapan.
"Kapten, apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Emi, sambil memalingkan pandangannya ke arah Gotzen.
Hal itu berhasil membuat tatapan kosong dari manik hitam dua bola mata Gotzen mulai tersadarkan.
"Tentu saja, memangnya apa yang ingin kamu tanyakan?" jawab Gotzen, sambil membalas tatapan Emi.
"Tidak. Untuk saat ini dia tidak berniat untuk segera mengambil cuti, bahkan setelah aku menyarankan padanya untuk cuti, dia tetap tidak mau." jawab Gotzen
Mendengar hal itu, Emi menjadi penasaran dan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya lagi
"Kenapa? Apakah dia mengatakan alasannya?"
"Mungkin karena dia memang orangnya seperti itu. Kau tau sendiri bukan? jawab Gotzen
"Dia beralasan bahwa keluarganya sudah cukup untuk melakukan hal seperti itu." lanjutnya menerangkan.
Emi : "Benar juga. Tetapi, kenapa dia bisa sampai seperti itu? Bahkan untuk pernikahannya sendiri."
"Mungkin karena dia memang seperti itu. Tetapi menurutku bukan dia tidak ingin, hanya saja karena rasa disiplinnya yang terlalu besar." jawab Gotzen, dengan sedikit senyuman.
"Dia hanya meminta cuti beberapa hari setelah pernikahan." lanjutnya.
Emi : "Apa kapten mengijinkannya?"
"Tentu saja. Aku juga bilang, kalo dia bisa mengambil cuti lebih lama, selagi tidak ada hal yang benar-benar penting." tutur Gotzen.
"Syukurlah kalau begitu." sahut Emi, diikuti sebuah senyum di wajahnya.
Mereka pun terus mengobrol hal-hal yang tidak penting untuk menghibur diri mereka.
*
__ADS_1
Siang hari, setelah perjalanan yang panjang, akhirnya mereka sampai di gerbang markas militer pusat bagian utara.
Gotzen dan Emi segera turun dari kereta kuda mereka, lalu berjalan ke tempat pemeriksaan.
Setelah pemeriksaan selesai, barulah mereka diizinkan memasuki area khusus militer tersebut.
"Tuan, mari ikuti saya." sambut seorang prajurit, kemudian membawa mereka ke tempat pertemuan.
Sesampainya di sebuah ruangan dengan beberapa petinggi militer bagian utara, Gotzen dan Emi mendapati rapat sudah dimulai tanpa mereka.
Di sebuah meja persegi panjang yang sudah dikelilingi oleh para petinggi militer bagian utara, Gotzen duduk di sebuah kursi kosong yang letaknya paling sudut. Sedangkan Emi duduk di belakang Gotzen, di sebuah kursi panjang yang mengelilingi ruangan itu. Selain Emi terlihat juga para penjaga dan para asisten. Emi kemudian mengambil sebuah buku catatan, sebuah pena dan kotak tinta dari tas selempang miliknya, untuk mencatat hal-hal penting yang dibahas dalam rapat tersebut.
Menyadari akan kehadiran Gotzen, orang yang duduk paling tengah di ujung meja segera berdiri.
"Selamat datang Kapten Gotzen Reinforce!" sambut pria berambut putih itu. Ia bernama High, yang merupakan pemimpin rapat tersebut. Selain itu, ia juga merupakan Komandan tertinggi Tentara Bagian Utara.
Sambutan tersebut membuat semua orang di ruangan tersebut terdiam sejenak, sambil memalingkan pandangan ke arah Gotzen.
"Terima kasih komandan. Mohon di maafkan atas keterlambatan saya!" ucap Gotzen. Ia segera berdiri, lalu sedikit membungkukkan badan sebagai tanda hormat.
"Iya, tidak apa-apa. Silahkan duduk." ucap Komandan High.
"Yang lebih penting, bagaimana situasi di tempat mu? Apa kau mendapatkan informasi penting tentang pemberontak Divisi Ketiga dan Divisi Kedua?" sambung pria berkacamata tersebut, ia pun kembali duduk.
Mendengar itu, Emi segera berdiri.
Ia berjalan mendekati komandan High, setelah cukup dekat, kemudian Emi sedikit membungkukkan badan, lalu dengan kedua tangan menyerahkan buku yang berisi laporan yang telah ia kumpulkan.
Setelah itu Emi kembali ke tempat duduknya.
"Sejauh ini saya tidak menemukan pergerakan dari para pemberontak. Meskipun ada kejadian yang cukup besar, tapi saya belum menemukan siapa pelaku dibaliknya." ucap Gotzen sambil menundukkan kepalanya.
"Apa hanya ini yang bisa kamu dapatkan?" ucap Komandan High sambil melihat laporan yang Emi berikan.
"Yang kita butuhkan sekarang adalah informasi tentang keberadaan para pemberontak. Aku tidak peduli dengan hal lainnya." lanjut komandan High sambil menatap tajam kearah Gotzen dari balik atas kacamata yang ia pakai.
"Ini adalah laporan pertama mu setelah menjadi seorang kapten, dan ini sangat mengecewakan! Padahal di tempatmu sangat sering terjadi pemberontakan! Tapi kenapa tidak ada informasi yang bisa kau dapatkan! Padahal sebelumnya aku sempat berharap besar padamu. Seharusnya kau bisa menghargai posisi yang telah militer berikan padamu!" bentak High sambil melemparkan laporan di tangannya ke arah Gotzen.
Orang-orang di ruangan tersebut hanya terdiam, tak ada satupun yang berani memberikan pembelaan. Sebagian lagi hanya menatap sinis ke arah Gotzen. Menyalahkan Gotzen dengan situasi tidak mengenakkan di ruangan itu.
Dengan perasaan yang tidak mengenakan di hati. Gotzen segera beranjak dari tempat duduknya. Ia kemudian membungkukkan badan, menundukkan kepalanya.
"Mohon dimaafkan atas kelalaian saya Komandan. Saya akan berusaha lebih baik untuk kedepannya!" jawab Gotzen.
Emi berjalan sambil merasakan perlakuan buruk terhadap atasannya tersebut. Ia sadar, hanya bisa bersabar akan ketidakberdayaan mereka. Dengan kedua tangannya, Emi segera mengambil kembali laporan di atas meja tersebut. Sebelum berbalik ia tak lupa membungkukkan badannya.
"Baiklah! Untuk sekarang aku masih bisa memaafkanmu. Tapi tolong mulai sekarang kau harus bekerja dengan benar." sindir High sembari memalingkan pandanganya dari Gotzen.
"Sekarang lebih baik kita kembali ke pembahasan sebelumnya." lanjut High. Seperti ia dengan mudah melupakan kata-kata kasar yang baru ia keluarkan dari mulutnya.
Suasana di ruangan itu kembali menjadi ramai.
Gotzen dan Emi pun kembali duduk di tempat mereka.
Karena kejadian itu, sepanjang rapat Gotzen hanya duduk dengan tatapan menunduk tanpa berani memberikan pendapat apa-apa.
__ADS_1