Mertua Dan Menantu

Mertua Dan Menantu
Ayo pulang


__ADS_3

Tak terasa Michelle sudah menyelesaikan operasinya. Air mata nya mengalir mendengar tangisan anaknya. Kini ia menjadi seorang ibu. Entah dari mana perasaan bahagia dan ingin melindungi timbul ketika Michelle didekap kan pada anaknya untuk melakukan IMD ( inisiasi menyusui dini). Sekarang anaknya akan dimasukkan ke dalam ruangan bayi baru lahir untuk dikumandangkan adzan oleh ayahnya. Eja datang pikir Michelle. Mungkin ada yang memberitahukan perihal ia akan melahirkan secara sectio cesarea. Apakah orang tuanya? Entahlah yang pasti ia ingin Sekai berbagi kebahagiaan bersama suaminya. Seluruh kesalahan Eja menjadi tak berarti, ia akan memaafkan Eja apapun itu. Selesai operasi, hal pertama yang dilihatnya adalah sesosok lelaki yang terlihat hampir putus asa, khawatir akan keberadaannya. Eja, ya sosok suami yang diharapkannya hadir di saat sedih dan senang, suka duka bersama kini hadir di depannya lalu segera menciumi kening nya. Tak terasa air mata pun mengalir kembali, ia masih dicintai pikirnya. Masih disayangi, masih diharapkan, ia tak perlu hal lain lagi. Yang penting kebahagiaannya dan anak nya. Ia tak bisa membayangkan anaknya tanpa kehadiran seorang ayah untuknya. Eja pun menyeka air mata Michelle dengan tangan besarnya.


“Terima kasih sayang sudah lahirkan anak kita, maafin kakak yang tak pernah mengetahui hal besar seperti ini. Lain kali harus kasih tau kakak ya sayang.” Eja menciumi bibir istrinya yang membeku dan gemetar karena efek bius yang diperolehnya.


“Iya... kak...” Michelle menjawab sambil terbata-bata. Dingin. Itulah yang dirasakannya sehabis operasi.

__ADS_1


Dua hari selama di rumah sakit Eja selalu menemani Michelle, menyuapkan makan, merawat bayi mereka, bahkan memandikan dan membersihkan tubuh istrinya yang lemah itu. Di tumpukan meja sudah banyak sekali kado dan kue bahkan ada satu bunga yang mencuri perhatian Michelle pada hari itu. Bunga berinisial kan T membuat hatinya miris, ketika semua orang bahagia, mungkin hanya Thomas lah yang sedang sendirian tak tau dengar kabar dirinya atau bayinya. Entahlah Michelle masih belum yakin apakah anaknya adalah anak dari Thomas ataukah Eja. Tetapi, melihat cinta Eja pada anak bayi nya meluluhkan hati Michelle yang penuh dengan benci dan amarah dan ia yakin anak nya adalah anak Eja bukan nya Thomas.


“Michelle, kita akan tinggal di rumah oma (read mertua Michelle). Besok kita langsung kesana.”


Michelle mengangguk an kepalanya.

__ADS_1


“Ayo kita pulang.”


Michelle tersenyum bahagia, ia sudah berpamitan dengan kedua orang tuanya kemarin. Walau berat hati, orang tua Michelle tidak bisa menolak, karena sekarang Michelle adalah tanggung jawab suaminya. Mereka juga tidak ingin membuat perselisihan antarkeluarga sehingga pak Ardi dan Bu Nita hanya bisa mendoakan kebahagiaan dan melepas anak perempuan mereka satu-satunya itu untuk dirawat oleh suami dan keluarga suaminya.


Pak Ardi dan Bu Nita hanya berpesan kepada Eja untuk selalu menjaga keharmonisan keluarga mereka berdua.

__ADS_1


Tibalah mereka di rumah yang dulu Michelle dan Eja pernah tinggal beberapa hari saja di sana. Michelle memasuki kamar, kali ini kamarnya tidak terlalu berantakan, namun masih menjadi tempat tumpukan barang-barang keponakan Eja, bouncer, baju- baju bayi, pelampung, bahkan sepeda. Tetapi yang menjadi pembeda kini di kamar Eja memiliki sebuah TV. Mungkinkah Michelle diminta untuk selalu di kamar? Tapi baguslah, ia juga tidak ingin berhubungan banyak dengan mertuanya. Michelle merasa tidak nyaman dengan seseorang yang menjelek-jelekkannya namun harus tinggal satu atap. Yah Michelle masih ingat betul ucapan Eja yang memberitahukannya kalau mamanya menganggap Michelle bukan wanita baik-baik. Michelle hampir naik pitam karenanya, Michelle tidak pernah menjual dirinya, pergi dugem, atau menggunakan obat-obat terlarang. Berani-berani nya ia berkata seperti itu kepada suaminya. Apakah mertuanya ingin agar mereka bertengkar? Michelle tak habis pikir, ia benar-benar bingung dengan kelakuan mertuanya. Pernah suatu hari, Michelle mengirimkan uang untuk mertuanya tetapi ia tolak, padahal ia tau pasti bahwa keluarga suaminya itu bukan lah berasal dari keluarga mapan. Apalagi sekarang mertuanya tidak lagi bekerja. Ia benar-benar kehabisan cara untuk mendekati mertua yang selalu menolak nya tetapi juga tidak ada niatan untuk dekat dengan nya. Bertukar kabar pun mereka tidak pernah melakukannya satu sama lain. Michelle sudah menyerah, ia tidak mengetahui selera makan mertuanya, selera berpakaian mertua nya karena Michelle selalu berpakaian tertutup, tidak menunjukkan lekuk tubuh nya. Tetapi, mertuanya berpakaian seperti anak-anak muda, terbuka, terlalu ketat, bahkan rambutnya pun berwarna merah menyala. Benar-benar selera yang bertolak belakang. Awalnya ia tidak ingin mendiskriminatif kan penampilan orang tuanya, karena Michelle menilai seseorang dengan hati dan ketulusan Bukan dengan harta atau penampilan. Akan tetapi semuanya juga terbalik dengan apa yang dirasakan mertuanya. Sebenarnya mertuanya ingin sekali menghabiskan waktu berdua dengan menantunya. Hanya saja mertuanya itu inginnya dibujuk terus, sedangkan Michelle tidak ingin memaksa. Oleh karena itu mereka yang memendam perasaan masing-masing pun tenggelam dengan pikiran masing-masing dan saling menyalahkan satu sama lain. Keduanya pun sering terlihat saling membenci satu sama lain walaupun mereka berdua mampu menutupi perasaan masing-masing. Michelle yang kesal sendiri pun mencoba berpikir dengan tenang. Ia bingung harus bagaimana lagi menyikapi mertuanya ini. Sabar. Itulah yang selalu diingat Michelle ketika ia sedang berpikir dengan tenang, lain hal nya kalau ia terburu-buru atau terbawa emosi, ia akan dengan mudah melupakan kunci utama dalam berumah tangga, yaitu sabar. Ia pun berinisiatif untuk lebih dekat dengan mertuanya kelak. Ia tidak ingin berlarut-larut dengan pertengkaran atau permusuhan yang justru banyak menguras energi dan membuat naik tensi darah. Ia mencoba berpikir langkah apa yang harus diambil untuk dekat dengan mertuanya. Hadiah. Ia pun mendapatkan ide untuk memberikan mertuanya hadiah seperti baju, tas, atau sepatu, mungkin mertuanya akan suka dan tidak lagi ngambek an apalagi sampe marah-marah. Ia ingin agar rumah tangga nya jauh dari pertengkaran apalagi pertengkaran antara menantu dan mertua. Karena baginya mertua juga tidak lain adalah orang tuanya sendiri yang sudah melahirkan suaminya, membesarkan dan mendidik suaminya dengan baik sehingga ia merasa harus menghormati ibu dari suaminya itu bahkan kalau bisa ia merasa harus menjaga dan melindungi mertuanya seperti orang tuanya yang senantiasa melindunginya dan menjaganya dari kecil hingga besar, begitu pula dengan mertuanya ya g senantiasa menjaga, melindungi suaminya dari kecil hingga besar. Ia berharap dengan memberikan hadiah kepada mertuanya maka hubungan ia dan mertuanya bisa lebih baik lagi


__ADS_2