
Pagi itu Michelle dan Eja tidak memadukan kasih. Suatu yang aneh bagi Michelle karena setiap pagi nya Eja pasti akan mulai memeluknya minimal. Saat itu eja masih terlelap padahal biasanya Eja bangun lebih pagi. Pagi ini pun tak ada panggilan untuk mengajak sarapan. Tapi Michelle sudah lapar dan akhirnya memutuskan untuk memasak.
Hari ini mertuanya pulang. Setelah mengantar orang tua nya pulang, eja dan Michelle kembali ke kos an mereka. Sepanjang perjalanan mereka tidak saling tegur sapa. Biasanya Michelle akan aktif sekali bermanja-manja dengan suami nya, kini ia tidak dapat melakukan itu setelah apa yang terjadi semalam.
“ kak Semalem kakak ngapain keluar tapi gak masuk kamar lama banget”
Eja melotot tak percaya apa yang dikatakan istri nya terhadapnya. Istrinya curiga. Begitu pikir Eja.
“Ke toilet, memang nya kenapa?” Eja balik bertanya agar tidak dicurigai lagi.
“Terus kenapa lama? Kakak pikir aku bodoh ya.” Giliran Michelle naik pitam tak percaya suaminya bukan ingin mengakui kesalahan dengan meminta maaf melainkan menantang nya balik.
__ADS_1
“Sakit perut, jadi lama.”
Michelle semakin tidak mempercayai apa yang dikatakan suaminya, bisa-bisanya hampir dua jam sebelum ia tertidur, eja masih belum kembali tidur di samping nya. Sakit perut? Apakah itu masuk akal? Pikir Michelle.
“Aku gak bisa kamu bodohin, yang bodoh itu kamu. Kamu kira aku gak tau kalau mama kamu kirim SMS nanyain kamu sudah tidur apa belum, dan itu hampir jam 12 malam. “
“Kamu jangan nuduh-nuduh ya, aku gak suka dituduh macem-macem. Kamu kira kamu pinter karena lulusan S2 gitu??!!” Eja menunjuk-nunjuk Michelle dengan jari telunjuknya ke arah muka Michelle.
Plak!!! Michelle terdiam.
Suaminya memukul tanpa belas kasih. Bekas tamparan itu masih tertera di pipi mulus nya Michelle.
__ADS_1
“Aku mau ceraiiii!!!!” Giliran Michelle berteriak. Lalu seketika Eja bersujud memohon ampun dan tidak menginginkan perpisahan di antara mereka.
“Kamu kenapa dek? Kenapa kamu jadi marah-marah begini??” Eja bangkit dari sujud nya lalu memeluk Michelle yang meronta-ronta
“Aku mau cerai!!! Ceraiii!!! “ Michelle berteriak sekeras-kerasnya biar semua orang mendengar kalau mereka bertengkar. Ia tak tau bagaimana cerai itu berlangsung yang penting saat ini yang dipikirkannya adalah bahwa ia tak bisa bersama lelaki itu lagi.
“Michelle tenanglah. Kakak minta maaf ya sayang, kakak gak mau kita cerai.” Eja masih terus berusaha memeluk Michelle yang meronta-ronta hingga terdiam karena lelah.
“Kakak gak ngapa-ngapain. Kakak minta maaf ya sayang, kakak gak bermaksud memukul kamu”
Tapi tetap kamu pukul kan batin Michelle sambil melotot melihat Eja. Tak lama ia pun menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Eja. Eja tak akan pernah melepaskan pelukan nya selagi Michelle belum memaafkannya.
__ADS_1
Lama Michelle berada dalam pelukan Eja akhirnya ia mengalah dan langsung tidur tak ingin banyak bicara dengan suaminya terlebih dahulu. Bagaimanapun Eja sudah melukainya walaupun eja tetap bersikeras meminta maaf padanya. Bagaimanapun ia tak menyangka Eja akan memukulnya namun tak ingin berpisah darinya. Ia pun tak ada pilihan lain selain menerima permintaan maaf suaminya, karena sebenarnya Michelle masih mencintai nya. Lama ia berpikir dalam tidurnya, ia teringat perkataan mama dan papanya. Dalam berumah tangga tentu haruslah sabar. Tidak menyikapi semua permasalahan dengan pertengkaran ataupun debat. Karena hanya akan memperuncing permasalahan dan tidak menemukan titik terang. Ia pun mencoba untuk tidak terlalu memikirkan kesalahan suaminya. Ia tau sebagai seorang istri seharusnya ia bisa lebih bersabar terhadap suami. Karena sebagai istri ia harus taat dan patuh seperti kata orang tua nya dulu. Ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tua nya apalagi bila sampai mereka bercerai. Walaupun mereka belum memiliki anak, tetapi ia tidak ingin anaklah yang menjadi sebuah alasan. Alasan untuk bertahan atau bercerai, karena ia sebagai orang tua tentulah harus melindungi anaknya. Tentunya belum memiliki anak bukan menjadikan sebuah masalah gampang untuk bercerai. Ia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suami. Baginya suami adalah seseorang yang harus menjadi panutan nya dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Oleh sebab itu, ia tidak ingin permasalahan sepele terlebih menduga-duga dengan tanpa bukti ataupun ada bukti itu tidak akan mengubah apapun pikirnya. Yang terpenting adalah ia dan suami tetap bahagia dan menjalani rumah tangga dengan akur saling menyayangi, mengasihi, melindungi, melengkapi, bukan sebaliknya saling menuduh, menyindir, berdebat, hal-hal yang tentunya menjerumuskan ke arah perceraian dan perpisahan. Baginya, pernikahan bukanlah suatu candaan. Rumah tangga bukanlah sebuah permainan. Ia sudah di fase bukan remaja apalagi anak-anak. Ia harus bisa menempatkan posisi sebagai seorang istri terlebih menjadi seorang ibu bila tiba saatnya nanti. Ia ingin rumah tangga nya utuh dan jauh dari hal-hal negatif. Ia ingin gar rumah tangga mereka penuh dengan keharmonisan tanpa adanya pertengkaran. Sabar. Ya itulah kuncinya, sabar dan perlu untuk saling percaya dan tidak mengusik yang tidak penting. Sabar dengan segala sesuatu yang tidak pasti, apalagi perasaan curiga. Ia tidak ingin dibutakan sesuatu hal yang bersifat tidak baik yang dapat membuat rumah tangga nya runtuh. Ia harus bisa menegakkan pondasi rumah tangga nya dengan kesabaran. Dan tentunya dengan doa dan harapan suaminya akan selalu berada di jalan yang benar. Dengan doa dan harapan suaminya akan bisa menjadi pemimpin dan membimbingnya ke arah yang lebih baik, menjadi seorang istri seutuhnya dan seorang ibu bila tiba saatnya. Ia pun memanjatkan doa di dalam hati. Semoga suaminya selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa, dan agar hati dan langkah kakinya selalu tertuju padanya, dan selalu di jalan yang benar. Ia pun memanjatkan doa dalam diam dalam tidurnya hingga ia terlelap pasrah dengan rencana Yang Maha Kuasa. Ia hanya bisa berdoa dan menangis dalam diam, walaupun terasa tidak mungkin, tapi ia ingin mempercayai suami dan percaya kepada Yang Maha Kuasa. Karena ini semua tidaklah bisa ia pikul sendiri, tidak mampu ia rangkul sendiri. Dengan menyerahkannya kepada Yang Maha Kuasa, ia pun tertidur lelap dengan harapan hari esok dan seterusnya ia akan bisa menjumpai sebuah perubahan ke arah yang lebih baik untuknya dan suami. Agar bisa saling mencintai, menyayangi, mengasihi, dan melengkapi satu sama lain sebagai pasangan.