
Tibalah mereka pergi ke kota M dan Michelle sangat menantikan kehidupan baru nya akan seperti apa. Saat mereka tiba alangkah terkejutnya Michelle ternyata ia tinggal di sebuah kos an dengan Eja. Mengapa bukan sebuah rumah? Kenapa sebuah kos? Apakah Eja tidak ingin kehidupan mereka lebih layak lagi? Ataukah memang begini batas kemampuan Eja. Lagi-lagi batin nya dipenuhi pertanyaan. Ia tidak bisa membayangkan akan sampai kapan tinggal di sebuah rumah kos an saja. Apakah Eja sengaja tidak akan membuat nya betah? Dilihatnya Eja tidak mempedulikannya sama sekali. Padahal Michelle membawa empat koper besar bersamanya. Michelle saja bingung akan diletakkan dimana koper-koper nya ini. Namun Michelle hanya diam. Ia tidak ingin menyinggung Eja, ia khawatir akan Tersulut emosi. Akhirnya Michelle memutuskan untuk memasak saja di dapur depan kamar mereka. Ia tidak membuka kopernya sama sekali. Bagaimana Michelle akan membuka kopernya jika lemari yang ada hanya satu dan sudah berisikan keperluan Eja semua mulai dari pakaian dalam hingga baju dan kaos kakinya. Ia ingin agar Eja yang membereskannya, atau bila Eja tidak mau, setidaknya hatinya akan lebih tenang setelah memasak.
“Ngapain sayang?” Eja bertanya dari dalam kamar.
Hmmm bagus kan Eja mulai ada inisiatif untuk bertanya, mungkin setelah ini dia akan berbaik hati untuk membereskan koper-koper milik nya pikir Michelle.
“Lagi masak nasi goreng kak, Michelle laper, kakak pasti laper juga kan?” Michelle seakan setengah berteriak, ia sengaja melakukannya agar semua orang mendengarnya. Ingin sekali ia berteriak kalau ia tidak ingin tinggal di kos an, setidaknya rumah kontrakan sudah cukup dibandingkan kos an.
“ ini kak nasi nya” Michelle masuk ke dalam kamar yang kelihatan sempit sekali dengan koper-koper besar Michelle.
“Hmmm makasi ya sayang”
“ kak kenapa kita tidak tinggal di rumah kontrakan saja?” Michelle tidak tahan ingin bertanya kepada Eja.
__ADS_1
“Kita di kos an dulu ya, uang nya belum cukup untuk keperluan seperti itu”
Apa??? Seperti itu??? Michelle berteriak dalam hati.
“Tapi kak, koper Michelle dan barang-barang Michelle mau taruh dimana???” Michelle akhirnya berani mengutarakan isi hati nya.
“Tapi kakak juga belum punya uang dek. Biaya pernikahan kita sebenarnya kakak mengutang dengan temen-temen kakak sebesar lima puluh juta.”
Deg!!!
“Kak, kita kan dapet lima puluh juta dari acara resepsi di hotel kemarin. Kenapa kakak gak pakai itu untuk melunasinya?”
“Kamu yakin boleh?” Eja mengernyitkan dahi nya.
__ADS_1
“Iya kak yakin. Pakai aja, Michelle lebih baik hidup pas-pas an daripada berhutang.”
“Baiklah kalo begitu ayok kita makan dulu baru kakak lunasin semuanya” Rja dengan lahap menyantap makanan yang telah dibuat istri sah nya tersebut.
Michelle yang kebingungan, ia bertekad akan segera mencari kerja karena kini uang mereka hanya tertinggal pada Michelle. Bukannya pelit, tetapi Michelle merasa rumah, mobil, ataupun properti lainnya merupakan tanggung jawab suami. Kini kepala nya pusing sekali setelah mendengar berita ini. Padahal sewaktu masih di kota G, Michelle saja sudah dibuat bingung sendiri mengapa uang dari hasil resepsi bisa sama dengan acara di kediaman Michelle sewaktu akad. Seharusnya acara resepsi lebih banyak lagi karena mengundang tamu yang lebih banyak. Ingin sekali ia tidak mempercayai tetapi apa daya mereka menghitung uang nya bersama-sama dengan mama Eja dan kedua kakak perempuannya. Hanya saja Michelle melihat ada buku tamu yang berbeda dengan yang ia belikan untuk acara resepsi mereka kemarin. Apakah Eja dan keluarga nya menyembunyikan sesuatu. Ataukah mereka hanya menginginkan hartanya?
Sudah hampir satu bulan pekerjaan Michelle adalah membersihkan rumah kos an mereka, menyetrika, mencuci baju dan piring. Tetapi sekali lagi ia ikhlas menjalani itu semua demi suami nya. Ia benar-benar bahagia bisa menjadi sosok istri dari lelaki impian nya. Setiap malam dan pagi mereka habiskan hari-hari dengan bercinta tanpa letih. Tetapi, baru-baru ini Eja meminta posisi bercinta yang tidak nyaman untuk Michelle. Alasannya adalah karena lelah. Padahal Michelle juga lelah bekerja membersihkan rumah mereka selama Michelle belum mendapatkan pekerjaan. Michelle sendiri tidak dapat mengatur waktu ya karena sekarang ia memiliki tugas kewajiban yang baru. Untuk memuaskan suaminya, berdandan pun Michelle sudah tidak sempat lagi. Namun, dari sekian lama ia berpikir kenapa Ia belum juga mendapatkan dua garis merah yang ia harapkan.
“Dek pagi ini mama ke kota ini. Mama tinggal di rumah tante Desi. Nanti pulang kakak ngantor kita kesana ya”
“Iya kakak sayang”
“Kakak pergi kerja dulu ya” Eja menciumi bibir istrinya kemudian pergi meninggalkan Michelle untuk bekerja.
__ADS_1
Kenapa baru sebulan sudah datang? Apakah ada pekerjaan penting? Ataukah ada hal lain? Michelle tak terlalu memikirkannya sekarang karena pekerjaan nya menumpuk dan harus ia selesaikan. Sebenarnya ia sangat ingin bekerja dan membantu suaminya itu yang seorang yatim. Tetapi ia khawatir suaminya tidak membolehkannya bekerja, tetapi alhamdulillah ternyata suaminya pun menyetujuinya untuk bekerja bahkan mendukung penuh. Begitu juga dengan mertuanya, mertuanya pun sangat mendukung ia bekerja. Ia sangat ingin meringankan beban suaminya itu sehingga suaminya tidak lah terlalu terbebani akan tanggung jawab sebagai suami yang harus menafkahi istri. Ia sebagai istri justru sangat senang membantu dan meringankan tanggung jawab suami satu-satunya itu. Rasa sayang dan cinta yang tumbuh belajar membuat dirinya untuk lebih peduli akan tanggung jawab suaminya. Ia tidak ingin jika suaminya bisa saja sakit karena pekerjaan dan beban tanggung jawab yang besar sebagai suami. Apalagi jika sudah memiliki anak, tentu kebutuhan ekonomi akan lebih banyak diperlukan, misalnya untuk beli popok bayi, susu bayi, baju anak, sampai pendidikan anak nanti. Ia tidak ingin masa depan anak nya terganggu akibat kesalahan nya tidak membantu suami mencari nafkah. Ia ingin agar keluarga nya berkecukupan sehingga masa depan anak-anaknya akan lebih cerah dan tentunya baik untuk anak-anak nya sendiri kelak. Ia benar-benar harus menempatkan diri sebagai orang tua yang harus serba bisa. Karena tanggung jawab menikah dan berumah tangga bukan hanya persoalan suami istri saja tetapi ada anak-anak yang harus diberikan pendidikan yang baik dan benar, diberikan nafkah makan dan minum nya, serta kebutuhan lain. Ia menyadari bahwa ini bukanlah hal gampang tetapi setidaknya ia harus mencoba daripada berdiam diri dan hanya memikirkan rencana-rencana yang belum pasti ke depan nya. Ia tidak ingin menjadi orang yang tidak berguna. Setidaknya ia dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri dan keluarganya.