
“Nak Michelle ayo sarapan” mama (read : mama eja) mengetuk pintu kamar mereka.
“Iya ma” eja menjawab panggilan mama nya lalu mulai menjelajahi setiap lekuk tubuh Michelle kembali. Ia mencium, menggigit, dan menghisap leher Michelle seakan ingin merasakan setiap rasa tubuh Michelle sembari pinggulnya bergoyang. Setiap hari mereka bercinta tanpa henti seakan tak ingin pernah lepas.
Bagaimana ini pikir Michelle, mertua nya sedang mengajak nya keluar untuk makan. Lama mereka menghabiskan waktu berdua, bergulat kesana kemari, diiringi ******* dan erangan kecil dari Michelle yang semakin membuat Eja lepas kontrol.
“Kak... mama... manggil.... kita...ahhh” Michelle tak mampu lagi menahan, tubuhnya mengejang dan bergetar hebat. Astaga, ia benar-benar dibuat habis oleh suami nya, tapi ia tidak memungkiri, suaminya begitu hebat dalam urusan ranjang, ia mampu memuaskan Michelle selalu dan itu semakin membuat Michelle jatuh cinta lebih dalam.
“Chel, gimana kamu udah dapet kerja?” Mama memulai perbincangan saat Michelle dan Eja sedang makan.
__ADS_1
“Belum ma, insya Allah bakal dapet secepatnya” Michelle asal bicara, kaget karena tidak menyangka mertuanya akan bertanya hal yang sama seperti tante nya Eja, Desi. Begitu juga sepupunya Eja, semua yang ditemuinya langsung menanyakan hal itu. Bingung Michelle bagaimana menjawabnya karena ia belum berbincang lebih lanjut dengan suaminya persoalan kerja. Michelle khawatir Eja tak membolehkannya kerja. Lagian kerjanya sekarang membutuhkan sertifikasi sehingga ia layak diterima kerja di kota M. Karena kota M merupakan pusat perkantoran ternama di negara mereka, tentu saja akan mendapatkan saingan yang hebat-hebat pula.
Malam ini Eja, Michelle dan mama mertuanya tinggal di rumah tante Desi. Tante Desi sekeluarga sedang pergi menginap di kota C selama beberapa hari untuk menghadiri acara keluarga besan mereka yang sedang merayakan acara pernikahan keponakan besan.
Michelle berbaring di kamar tidur. Michelle tidak menyangka mertuanya suka jalan-jalan dan menghabiskan banyak uang belanjaan. Hanya saja yang jadi permasalahan adalah uang yang dihabiskan yaitu uang Michelle. Karena ia ingin memperlakukan mertuanya selayak orang tua nya. Tetapi ia tidak menyangka mertuanya belanja banyak barang-barang branded. Ia pun tidak ingin memikirkannya lagi.
Michelle pun menukar HP nya dengan HP eja, tidak berapa lama.
“Ja, Michelle udah tidur?” Sebuah pesan masuk dari mertuanya ke HP eja. Michelle lalu melihat jam dinding dan sudah menujukkan pukul 23.15. Ada apa malam-malam Mertuanya menghubungi anak nya. Michelle tidak ingin berpikiran yang negatif, lau Michelle menyerahkan HP tersebut ke Eja. Eja sedikit kaget tetapi dilihatnya Michelle tidak menunjukkan wajah curiga, kesal atau marah. Michelle pun langsung membalikkan badan hendak tidur.
__ADS_1
Bagaimana ini? Apa maksudnya mama mertua begitu? Ataukah mereka menyembunyikan sesuatu? Merencanakan sesuatu? Apa yang ada di antara mereka? Lagi-lagi pikiran Michelle berkecamuk. Namun ia mencoba untuk tidur dan menepis semua pikiran negatif nya. Ia benar-benar tidak menginginkan hal buruk terjadi.
Klek... suara pintu terbuka pelan namun pasti, menyisakan sedikit bunyi yang tidak ingin diketahui orang manapun, bersifat tidak mengganggu namun masih menyisakan kerahasiaan.
Deg!!! jantung Michelle berdegup kencang. Apa yang hendak dilakukan Eja tengah malam begini, mungkin sekarang sudah pukul 00.00 dini hari batin nya merana. Sakit hatinya, curiga dan berharap tidak ada hal yang penting. Ia pun menunggu saat pintu ditutup dan akan dibuka kembali. Ia tidak dapat bergerak bebas karena tidak ingin ketahuan bahwa dirinya masih belum tidur. Walaupun kondisi kamar tidak menghidupkan lampu karena mereka tidur selalu dalam keadaan lampu dimatikan.
Sudah berapa lama ini? Kenapa Eja belum kembali batin nya. Apakah mungkin ke toilet dalam waktu hampir satu jam? Memang toilet di kamar Tante Desi tidak ada. Jadi harus ke toilet belakang dekat dengan dapur.
Satu jam lebih sudah ia menunggu hingga akhirnya Michelle tertidur sambil menangis. Tak terasa air matanya mengalir deras. Ia bingung kenapa harus cemburu karena hal sepele. Ia benar-benar tak habis pikir kenapa ia harus marah dengan hal-hal yang sepele. Ia berusaha berpikir logis dan positif. Ia ingat apa yang dikatakan orang tuanya. Sabar. Ya ia harus sabar dan menunggu lalu mempercayai suaminya. Ia tidak boleh curiga atau berpikir yang negatif tentang suaminya. Karena hal itu bisa membuatnya berpikir yang lebih jelek-jelek lagi. Dan tentunya akan membuatnya bersedih hati. Dan ia akan menjadi murung dan bisa-bisa memicu pertengkaran dengan suaminya. Ia berusaha agar berpikiran yang lebih baik dan tidak termakan emosi. Ia berniat akan bertanya saja nanti ketimbang ia harus menerka-nerka hal yang belum pasti. Ia ingat pesan orang tuanya untuk saling mempercayai, dan tidak meributkan hal-hal yang tidak penting. Karena dapat memicu pertengkaran dan keretakan dalam rumah tangga. Apalagi bila sampai terjadi perceraian. Tentunya itu bukanlah hal yang diinginkan dirinya, suaminya, orang tuanya, dan semua orang. Ia bukanlah seorang istri yang baik pikirnya sehingga ia tidak memungkiri memiliki banyak kekurangan, termasuk hal-hal seperti ini. Cemburu karena hal yang tidak penting, hal yang tidak pasti. Curiga akan hal yang tidak penting, hal yang tidak pasti. Ia merasa bodoh. Ia tidak ingin kebodohannya ini menjerumuskannya ke arah yang salah apalagi sampai menuai keributan dan pertengkaran terlebih perceraian. Ia pun menggelengkan kepalanya dan segera memejamkan matanya. Ia tau bahwa hal ini sudah dibatas tidak baik, tetapi rasa penasaran dan curiga nya tetap ada. Ia pun mencoba menghela nafas berkali-kali agar emosinya menurun dan hatinya lebih tenang. Ia pun memanjatkan doa agar apa yang dikhawatirkannya, apa yang dicurigainya itu tidaklah benar. Ia tau bahwa ia tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia khawatir bila bertanya kepada suaminya justru akan menimbulkan keributan. Akhirnya ia pun menyerah dan pasrah dengan berdoa kepada Yang Maha Kuasa bahwa ia ingin agar dikuatkan jiwa dan raganya untuk menghadapi kecurigaan dan ketidakpastian juga ketidaktahuannya sehingga ia bisa lebih tegar dan bisa lebih mempercayai suaminya. Apa yang dia lihat bukanlah sebuah kesalahpahaman sehingga ia tidak akan membuat suaminya marah karena memancing keributan yang tidak pasti atau keributan akan masalah yang tidak penting. Ia berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar suaminya selalu di jalan yang benar. Agar suaminya selalu dan senantiasa dalam lindungan Yang Maha Kuasa sehingga suaminya akan selalu menjadikannya permaisuri di dalam hatinya dan tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas selain dengan istrinya sendiri. Begitu berdoa ia pun tertidur lelap
__ADS_1