Mihrab Cinta Kanzul Arsy

Mihrab Cinta Kanzul Arsy
Jenuh


__ADS_3

Tiga bulan setelah pernikahan azizah hatiku sudah mulai terbiasa dengan kesendirian. kini tak ada sms atau telpon pengingat yang berdering. biasanya sebelum jam sepuluh malam ada sms masuk dan mengingatkan aku untuk cepat tidur dan bangun malam.


sunyi kurasa hatiku, kulihat layar handphone ku senyap dan walpaper azizah masih menghiasi gawaiku. kunyalakan mp3 dan kudengarkan lagu nike ardila sambil memandangi foto azizah dan diriku setahun lalu saat ada di salah satu tempat pariwisata, tepatnya di kawah sangkuriang atau gunung tangkuban perahu. itu tepatnya acara family geathring, dan mungkin itulah foto terakhir kami berdua. karna saat-saat itu hubungan kami sedang hangat dan perencanaan ke pelaminan sudah sangat matang.


Suara nike Ardilla dengan lagu suara hati membuatku semakin hanyut dalam kesedihan dan aku larut dalam bayang-bayang azizah yang semakin dekat. kubasuh wajahku dan aku mulai bangkit dari tempat tidurku. aku ingin mengambil sapu dan mulai membersihkan kamarku, sambil aku mengumpulkan beberapa foto dan semua kenangan dari azizah, tekadku telah bulat aku akan membuang atau menyimpan jauh semua kenangan yang berbau tentang azizah, baik itu buku, surat-surat,foto serta rancangan pernikahan kami dan yang terakhir adalah cincin dan gelang yang ia buat khusus untukku. aku ingin mulai menata hidupku dengan lembaran hidup yang baru dan aku ingin segera menemukan pengganti azizah walau mungkin tak ada yang sesempurna azizah.


"assalamualaikum abang"


"bang...bang!!!"


elis mengetuk pintu dan terus memanggil diriku. kubuka pintu kamar


"ada apa is?"


"abang ada yang cari abang di depan" elis meninggalkan aku dengan tawa riang nya yang seolah mengejekku, aku sempat mencurigai elis namun aku tak perdulikan euis dan aku segera ke ruang tamu untuk menemui orang yang mencariku.


kulihat seorang perempuan berjilbab biru sudah duduk dan membawa kertas sambil membacanya. aku sangat penasaran dengan perempuan itu. sekilas wajahnya seperti aku kenal, namun....


"lho ini devi ya"


"eh bang ayat" jawaban pelan sambil menunduk


sekilas kulihat wajahnya sangat manis namun entah ada kepentingan apa dia datang menemuiku.


"devi sama siapa" aku melirik ke luar jendela mencari-cari orang diluar. kulihat hanya ada elis dan emak yang sedang asik menyiangi sayuran.


"devi sendiri aja ko bang, devi udah lama gak ketemu abang,habisnya abang sekarang jarang ikut pengajian remaja sih,terus devi pengen kasih surat ini ke Abang!" tangannya memberiku beberapa lembar kertas


"ini surat undangan pengajian ya?" tanyaku penasaran


"iya Abang, kalau surat yang diamplopin itu surat devi buat abang!" matanya merunduk sambil cengengesan.


aku hanya terdiam dan merasakan suatu keanehan, aku berusaha tersenyum pada devi dan mengucapkan terimkasih. tak lama devi berpamitan, sebelum pamit ia menunjukkan kerudungnya, dibagian bawah jilbabnya aku melihat beberapa kalimat "ayat". mataku terbelalak kaget memperhatikannya.


"ini devi buat khusus bang" ia tersipu malu sambil berpamitan. aku hanya terdiam di depan pintu sambil memperhatikan dirinya dari kejauhan.


Hmmmm.... aku menghela nafasku


kusimpan surat undangan dan surat devi di atas meja kamarku dan aku kembali membereskan kamarku.


kulihat elis menghampiriku dan duduk di pinggir kasurku.

__ADS_1


"abang tau nggak kalau ka devi suka sama abang?"


aku tak terlalu menghiraukan elis dan kembali merapihkan beberapa buku-buku kesyanganku. tentunya buku jalaludin rumi dan buku-buku sufi kecintaan ku.


"abang elis ngomong diantepin aja dah!" elis mengomentari sambil mencubit pinggangku


aku tertawa meledeknya dan mencoba menanggapinya dengan santai.


" terus abang harus bilang woow gitu, haha!"


"ikh abang nyebelin, abang tau nggak ka devi sampai nulis nama abang di sendalnya tau, elis sama emak ketawa tadi ngeliatnya, terus abang gak liat apa kaosnya dia dibelakang punggungnya ada nama abang gede banget " ahmad hidayat" .


"haha cie..cie abang,calon mantu pak RT" elis meledekku sambil berlalu dan mengambil sapu yang kubawa.


"lis....elis...elis...ya Allah ini anak ya" aku sempat kaget dengan cerita elis,ntah anak itu benar atau membohongiku. masa iya begitu obsesinya devi padaku. Ntahlah aku tidak terlalu tertarik pada devi, jujur saja aku takut dengan perempuan yang terlalu agresif.


aku duduk dan mencoba amplop surat devi, ntah ia menulis apa untukku.


"assalamualaikum bang ayat"


Abang ayat dengan datangnya surat ini ketangan abang, devi ingin menyampaikan beberapa hal buat abang.


1.abang devi suka banget sama abang tolong abang respon perasaan devi ya



devi tunggu abang nanti malam di warung mpo anih


devi akan marah banget kalau abang menolak dan devi akan aduin abang ke ayah.



makasih abang salam sayang devi buat abang.


kututup segera surat dari devi, kutepuk jidatku dan ku lemparkan surat devi.


"aneh banget sih, kan dia bisa sms aja kalau mau nulis begini"


"aduh...haduh...devi ..devi"


**********

__ADS_1


Pukul 15.00 wib , aku segera bersiap untuk sholat ashar dan aku ingin sholat ashar berjamaah di masjid depan rumahku. sudah lama aku tak adzan di masjid, biasanya sih jika libur kerja aku berusaha menyempatkan diri untuk adzan,sholawatan atau berdiskusi ringan dengan anak-anak remaja. tapi belakangan kerjaanku menumpuk dan aku sibuk untuk mencari tambahan penghasilan buat tambahan biaya pendidikan elis adik perempuan semata wayangku.


"mas ayat...apa kabar mas?" aku menoleh dan mencium tangan ustdz afif


"ya Allah ustdz, Alhamdulillah saya baik,ustdz sendiri bagaimana?"


"Alhamdulillah mas ayat, kapan main kerumah sudah lama lho kita gak ngobrol-ngobrol,ada buku-buku baru dirumah"


"baik ustdz insyaAllah hari ini sy lagi gak sibuk, ba'da sholat insyaAllah mampir deh" jawab ku


"oke, ditunggu ya!"


aku tersenyum dan segera adzan ashar karna waktu sudah memasuki waktu sholat ashar, kulihat orang-orang telah siap untuk melaksanakan sholat ashar berjama'ah.


setelah makan siang bersama keluarga, aku berpamitan kepada emak dan baba untuk silaturahmi ke rumah ustdz Afif, aku membawa sedikit camilan dan pergi kesana. karna jarak yang tidak terlalu jauh aku berjalan kaki menuju ke rumahnya kupikir sekalian berolahrga.


lama juga aku sudah tidak berjalan kurasakan semilir angin panas yang berhembus ditambah asap kendaraan yang melintas membuat aku semakin pengap.


"bang ayat...bang ayat..."panggil lirih tetangga depan rumahku.


"ya bu ada apa?"


"bang ayat kamu jadian ya sama nak devi, aduh kapan nikahnya nih bang?"


"maksudnya gimana ya bu?" jawabku penasaran


"aduh bang ayat mah malu-malu aja dah,enak dong dapat mertua RT"


"haaah" aku mengeryitkan dahiku.


"maaf ya bu, saya mau ke graha mas" sanggahku tak menimpali


"ealah bang ayat nih pura-pura aja,orang sekampung juga udah tau bang,lah nak devi itu kemana-mana pakai baju tulisan abang guedeee banget ko,hihi"


"maaf bu permisi ya"


aku hanya tersenyum kecut tak menimpali.hatiku terasa kecewa dan sedikit jengkel juga dengan kelakuan devi yang terlalu mengumbar.


sepanjang perjalanan aku rasanya ingin terus menggerutu, tapi aku terus beristighfar.


sepertinya tawaran Devi malam ini kubatalkan saja, aku rasanya malu, belum juga aku jadi kekasihnya dia sudah begitu bagaimana jika aku dan dia sudah ada ikatan.

__ADS_1


******"


__ADS_2