Mister Lele

Mister Lele
Chapter 1: Satu


__ADS_3

Siang hari yang panas. Matahari sedang terik-teriknya saat seorang lelaki paruh baya melempar jalanya ke dalam tambak. Bau amis serta bau khas lumpur tambak tercium kuat di udara. Menyesakkan dada bagi yang tidak terbiasa mencium bau itu. Tetapi bagi Pak Daman, bau itu bagaikan nafasnya. Ah tidak, maksudku bukan bau nafas Pak Daman yang amis dan khas lumpur, itu hanya perumpamaan. Maksud yang sesungguhnya, dari tambak itulah Pak Daman menghidupi keluarganya sebagai nelayan tambak.


Jala di tebar, dengan susah payah Pak Daman menarik jala itu berharap panennya kali ini berhasil. Namun yang dia dapat hanya ikan bandeng kurus yang gagal tumbuh, mungkin kena stunsting. Pak Daman memindahkan ikan-ikan itu ke dalam tong biru, lalu mengulangi menebar jala seperti tadi.


"YaAllah, mbok yo gini dapatnya putri duyung, atau sekalian dapat ikan paus" gerutu Pak Daman.


Sesekali Pak Daman menyeka keringat di dahinya. Lupa dengan tangannya yang penuh lumpur, alhasil cemong kayak bocil yang main di comberan. Pak Daman membungkuk, jalanya nyangkut di sebatang kayu bambu reot yang menancap di tengah tambak.


Matanya menyipit saat sinar matahari menyilaukan pandangannya yang kabur. Kabur karena antara tetesan keringat yang ikut masuk ke dalam selaput mata atau karena kurang minum Aquo jadi tidak fokus.


"Eh, siapa itu?" Monolog Pak Daman.


Dari jarak sekitar empat atau lima meter, Pak Daman bisa melihat ada seorang laki-laki yang berjalan ke arahnya. Tapi tunggu, apa yang salah? Pak Daman belum bisa mengenali laki-laki itu. Semakin dekat, semakin jelas. Laki-laki itu berjalan bak model catwalk. Wajahnya terlihat dingin dan songong.


"Astaghfirullah..."


"Astaghfirullah..."


"Astaghfirullah hal adzim"


Pak Daman menutup matanya dengan dua telapak tangannya. Setelah agak dekat, ternyata pengelihatan Pak Daman tidak salah, laki-laki itu telanjang bulat. Tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Tubuhnya kotor penuh lumpur. Meski begitu Pak Daman masih bisa melihat jelas bagaimana belalai gajah milik laki-laki yang jalan bak model songong itupun terlihat klewer-klewer tak tahu diri.


Tidak bisa di biarkan! Sejenak Pak Daman lupa kalau dia bukan anak gadis yang masih perawan. Kenapa dia harus menutup mata eh. Harusnya dia pastikan sendiri, siapa laki-laki itu. Orang gila yang terjebur ke tambak kah? Atau orang mesum yang punya niat jahat menculik para gadis desa? Atau, orang yang sedang mengaktualisasikan ilmu hitam?


Tidak bisa di biarkan! (2)


Pak Daman mencampakkan jalanya, dengan langkah tergesa dia melipir mengambil kain sarung dekil miliknya.


Goshh! Goshh!


Nafas Pak Daman yang lari terengah-engah, melewati jalan setapak yang berlumpur.


Trap!


Sarung dekil bau bangkai karena sudah berbulan-bulan tidak di cuci, dia bungkuskan ke tubuh laki-laki asing itu.


"Oi, anak muda siapa namamu?"


Laki-laki asing tidak menjawab. Berkedip pun tidak. Pandangan mata laki-laki asing itu kosong. Pak Daman jadi bisa leluasa mengamati bola matanya yang berwarna hijau. Rahang yang tegas, hidung mancung menantang langit. Bisa di pastikan kulit laki-laki asing ini berwarna putih. Putih tanpa corak panu. Apalagi kadas, kurap, kutu air. Tidak, tidak ada. Beberapa detik berlalu, Pak Daman masih belum bisa menyimpulkan apa-apa. Kalau dia bule, kenapa rambutnya tidak pirang?


Apa dia termasuk bule Jawa?

__ADS_1


"Oi, saya tanya sama kamu!"


"Kamu paham saya bertanya-tanya?"


"Elahhh, budek kali ya?"


"Apa bisu?"


Tidak ada sahutan.


"Kamu bisu dan tuli?" Ulang Pak Daman serasa geregetan sendiri.


****


Sementara di belahan dunia yang lain. Seorang gadis meregangkan tangannya. Menguap dengan gaya cantik dan berkelas. Dia baru bangun tidur, sebenarnya enggan bangun karena kasur empuknya yang sangat nyaman. Terbuat dari bulu angsa premium.


Lalu dua orang pelayan wanita masuk. Membawakan satu baki penuh makanan lezat dan buah-buahan segar. Jangan lupakan segelas orange jus dan susu hangat.


"Nona, sarapan Anda"


Memang ya, kalau orang kaya itu vibesnya beda. Bangun tidur mau langsung makan minum tidak masalah. Kalau orang miskin? Duh, bisa di pastikan mulutnya bau jigong. Jalankan makan minum, menguap kecium di hidung sendiri pasti muntah.


Gadis itu membenarkan tali baju tidurnya. Lalu berjalan anggun menuju meja di mana makanan dan minuman sudah tersaji. Tirai yang tadi menutupi jendela kaca kamarnya terbuka sendiri hanya dengan satu kali deheman.


ah... mereka sangat indah...


Gadis itu mengangkat gelas berisi orange jus. Tenggorokannya terasa kering. Baru ujung gelasnya yang menempel di bibir, tapi suara teriakan seseorang sangat familiar mengganggu telinganya.


"BORA!"


Siapa yang memanggilku dengan nama jelek itu, aku benci di panggil dengan nama itu.


"BORA!!!


"Ckkk!"


"SRI BORA CANDRAWATI!!!"


"Apa kau ingin kasurmu basah karena nenek siram pakai air bekas cucian!?"


Tidak! Kasur ini belum lunas. Tagihan paylaterku baru berjalan dua bulan. Aku mencicilnya tiap bulan biar bisa tidur nyaman dan mimpi indah. Teriak Bora dalam hati.

__ADS_1


Nyawanya yang tadi melayang di negeri orang, di tarik paksa ke tanah air. Menyebalkan!


Nyaris terlambat, neneknya sungguhan sudah menenteng ember berisi air bekas cucian dan siap mengrujuknya kapan saja.


"Nenek aaaaaaiihhhhhh!"


Bora memelas. Bahkan dalam mimpi saja dia tidak di kasih kesempatan untuk meminum orange jus. Beneran haus padahal.


Pagi itu seperti hari-hari sebelumnya. Nenek Bora akan mengomelinya. Mengingatkan pasal-pasal kalau seorang gadis itu pamali bangun siang. Dari pasal rejeki yang katanya bakal di patok ayam sampai pasal susah cari jodoh.


Heran, kenapa semua ibu-ibu sampai nenek-nenek di negara berkembang ini belum juga mengubah pasal itu. Setidaknya, emmm...ayolah gunakan cara yang manis untuk membangunkan kami.


Misal, "Sayang, cucuku bangunlah nak, nenek sudah menyiapkan sertifikat tanah untukmu!"


Nenek Bora langsung menarik telinga gadis nakal itu. Bora mengaduh. Jalankan sertifikat tanah, susu hangat atau roti saja tidak ada di meja.


"Nenek, aku mau sarapan, jeee..."


"Hah, kamu kira, kamu putri raja? Untuk itu sejak subuh nenek bangunkan kamu, nasi atau makanan tidak bisa jalan sendiri nak, carilah ke warung sana, nenek tidak masak hari ini, nenek mau senam"


"Aku nggak mau nasi, Nek. Please..., aku cuma mau roti sama susu hangat"


"Hidungmu pesek nduk! Gaya banget sarapan minta roti, kayak bule, wae!"


Bora memberengut. Kenapa hidupnya terlalu gini-gini aja, padahal impiannya udah gitu-gitu.


Bora. Gadis yang ambisius ingin menjadi pengusaha, atau bahasa kerennya pengen jadi founder parfum berkelas. Punya brand sendiri dan ribuan karyawan. Ingin dipuji dan jadi percontohan. Namun sayang, pergerakannya sekarang masih terbatas di ruang dan cuan.


Sementara jadi karyawan di toko parfum refill murahan. Sampai sertifikat tanah warisan dari sang nenek dia miliki nanti. Bora si yatim piatu bertekad akan menjual tanah itu sebagai modal mendirikan pabrik parfum.


Kalau Tuhan menghendaki tentunya...


_


_


_


_


Hai, saya kembali...

__ADS_1


Tambahkan ke favorit ya gaess...


Tetaplah berkomentar meski tak berfaedah❤️🤣


__ADS_2