Mister Lele

Mister Lele
Chapter 6: Enam


__ADS_3

Hari Minggu Pak Daman mengajak Aroof ke pasar. Rencana Pak Daman ingin membeli cangkul, karena di rasa cangkulnya sudah tumpul dan tidak nyaman lagi di gunakan.


Aroof berjalan mengekori Pak Daman. Baru pertama kali ini dia ke pasar. Tak jarang bahunya bersenggolan dengan bahu orang lain atau bahkan dengan sekerombong barang yang di bawa para pedagang. Mata Aroof terus memindai, tempat asing dan begitu banyak manusia membuat sensor di tubuhnya kalang kabut. Dadanya tiba-tiba terasa sesak.


Pak Daman tidak menyadari kondisi Aroof, laki-laki duda puluhan tahun itu terus berjalan meninggalkan Aroof yang mulai sesak nafas. Dia butuh air, setidaknya untuk membasahi kerongkongannya yang sekering gurun Sahara.


Di tengah keramaian pasar, tak ada satu orang pun yang menyadari kondisi Aroof yang sesak nafas. Aroof berjalan sempoyongan mencari sumber air. Dalam hati dia bersumpah, sekalipun itu air comberan pasti akan dia minum.


***


Di sisi pasar yang lain. Bora sedang memilih semangka untuk acara nanti sore. Neneknya yang unyu-unyu menjengkelkan, jadi tuan rumah acara arisan bulanan. Jadilah Bora yang ditugaskan berbelanja.


Bora menepuk-nepuk badan semangka yang di pilihnya. Lalu mencoba mencium baunya untuk tahu apa semangka itu manis atau tidak. Tentu saja hal itu membuat sang penjual buah mengernyitkan alis.


"Jadi pilih yang mana, Mbak?"


Bora berhenti mengendus. Sampai lubang di hidungnya jadi tiga pun sepertinya akan sulit membedakan semangka manis dari baunya.


"Hehe... yang manis kayak saya, yang mana ya Pak?"


Penjual itu turun dari sangkarnya, lalu memilihkan semangka untuk Bora. "Semangka saya itu manis-manis, jaminan manis,"


"Kalau sampai rumah tidak manis gimana, Pak?" Bora mencibir, namanya penjual dimana-mana ngomongnya ya kayak gitu.


"Besok kesini lagi, saya tidak keberatan kamu marahi"


"Ambil ini, yang tangkainya kering, bentuknya lebih bulat, dan garis-garisnya jaraknya jauh gini, ini semangka yang sudah tua, pasti manis"


Bora masih ragu, dia menerima semangka pilihan sang empu. Tangannya hampir copot karena ternyata semangka itu sangat berat.


"Duh...!" gumam Bora. Daripada pusing, mungkin ada baiknya percaya saja sama si Bapak. Toh kalau tidak manis, boleh komplain besok.


"Hmm... ya udah deh Pak, ini berapa kilo?"


"Saya timbang dulu"


Bora ingin pergi cepat-cepat dari toko buah. Pasalnya, si Bapak wajahnya menyeramkan. Galak gitu. Euhhhh!


"Sembilan kilo, 7 ons!"


Pantesan berat!


Habis menyerahkan uang semangka, Bora mikir cara bawanya. Sebelum beli semangka, dia sudah belanja kebutuhan lain. Keranjang belanjaannya udah penuh. Membayangkan berjalan sambil membawa belanjaan sebanyak ini. Duh, ingin rasanya Bora memanggil Thor Avengers, mayan untuk bantu-bantu bawa barang belanjaannya. Apalagi tadi dia parkir sepedanya di depan sana. Jauh.


Bora mendesah berat lalu membopong semangka sembilan kilo-tujuh ons dengan tangan kirinya. Sedangkan satu tangannya lagi menjinjing tas belanjaan yang tak kalah berat.


Bora kerepotan. Berjalan berduyun-duyun berharap tidak ada orang yang menyenggolnya saja sudah syukur.


BRUKkkk!!!


Harapan Bora sia-sia. Tidak hanya di senggol, dengan cepat dan tidak terprediksi oleh BMKG, tubuhnya di tabrak oleh tubuh yang lebih kekar dan tinggi menjulang.

__ADS_1


Bora terhuyung ke kiri. Semangka di gendongan terlepas dan jatuh bebas menghantam bumi. Semangka pecah, dagingnya yang merah merekah terlihat jelas, membuat Bora ingin menangis.


"Ya Tuhan!"


Sesosok laki-laki yang menabraknya malah acuh. Berjalan kayak orang mabuk di mata Bora.


"HAI, KAU!!!


"BERHENTI AKU BILANG!"


Orang-orang mulai memperhatikan Bora, kasihan pikir mereka. Pantas kalau Bora marah, orang yang menabraknya tidak ada tanggung jawabnya sama sekali.


Bora mengabaikan semangkanya yang naas. Dia berjalan cepat mengejar orang yang menabraknya. Meski dengan satu tangan yang masih kerepotan membawa tas belanjaan.


"KAU TULI!! BERHENTI AKU BILANG!!!"


Bora jengkel, dia menarik kasar baju laki-laki yang menabraknya. Hingga wajah laki-laki itu menoleh. Bora malah berjingkat kaget. Wajah yang sepertinya dia kenali. Tapi kali ini terlihat seperti zombi. Pucat, dan bola matanya jadi abu-abu, dan seperti ada retakkan di bola matanya. Bora belum pernah bertemu manusia seperti ini seumur hidupnya.


"Kau...."


"Ke-napa de--ngan mata-mu?" tanya Bora dengan bibir bergetar.


Laki-laki itu memegang dadanya, terlihat kesakitan. Bora yang tadi ingin misuh-misuh jadi urung.


Air, aku butuh air...


Bora melepaskan cengkramannya. Lalu laki-laki itu berjalan sempoyongan lagi. Menyibak orang-orang yang melewati mereka.


Bau amis seketika menyeruak. Langkah kaki laki-laki aneh di depannya semakin kalang kabut. Hingga mata laki-laki itu menemukan blung tandon air berwarna biru. Dengan nafas putus-putus, dia memasukkan kepalanya kedalam blung, lalu menyedot airnya banyak-banyak.


Mata Bora membulat sempurna. Baru ini dia melihat orang yang terlihat sangat kehausan, sampai air yang pasti amis karena di gunakan untuk cuci tangan para pedagang ikan itu pun di minum begitu saja.


Menit berikutnya, kepala laki-laki itu terangkat keluar. Rambut dan sebatas lehernya ikut basah kuyup.


Segarnya...


Tanpa sadar, dia mengibas-ngibaskan rambutnya. Sejenak, Bora lupa keanehan tadi, yang ada sekarang dia tersihir ketampanan laki-laki yang tadi menabraknya. Jenis ketampanan yang abnormal, kalau Bora bilang. Bora sampai lupa menutup mulut sangking terpesonanya.


Laki-laki itu menoleh ke arah Bora. Tatapan mata keduanya bertemu.


Bola mata itu, tadi abu-abu retak, bagaimana bisa sekarang jadi hijau dan terlihat segar.


Bora merinding. Niatnya meminta pertanggungjawaban runtuh dan memilih memutar tumit pergi.


Gadis itu, apa gadis itu melihat semuanya?


Aku harus melenyapkan gadis itu, sebelum dia semakin curiga dan membeberkan ke manusia lainnya...


***


Bora ngibrit setengah berlari. Melihat keanehan yang begitu menusuk mata dan pikirannya, membuat dia ketakutan sendiri.

__ADS_1


Peduli setan di omeli nenek! Nanti aku tinggal bilang kalau semangkanya jatuh di jalan dan terlindas truk!


Batin Bora yang mulai menyusun kebohongan. Sumpah demi parfum yang paling wangi dan paling mahal, dia ketakutan setengah mati.


Bora mengayuh sepeda miliknya. Untung saja dia cukup pintar dengan memilih menali tas belanjaan yang berat itu di kursi belakang sepedanya. Jadi dengan leluasa dia bisa ngebut.


Semakin di kayuh dengan cepat, kenapa malah Bora merasa tidak sampai-sampai ke rumah. Apa ini efek dari rasa takutnya?


Saat melewati jalan yang sepi, Bora semakin parno. Pikiran aneh bergelayut di benaknya. Apalagi dia merasa seperti ada yang mengikutinya. Namun saat menoleh, tidak ada siapapun. Horor di siang bolong.


Sungguh ini tidak lucu, saat dia ingin cepat sampai rumah, ban sepeda miliknya ikutan bercanda. Bora turun untuk memastikan. Benar saja, ban sepedanya kempes, atau mungkin malah bocor. Sungguh ini kompilasi cobaan hidup yang nyata. Jalan sepi, ketakutan, dan ban bocor.


Tiba-tiba....


Ada tangan besar yang singgah di bahunya. Bora memejamkan mata. Untuk menoleh saja dia takut.


"Please, jangan makan saya, saya belum jadi orang sukses, cita-cita saya belum tercapai..."


"Hai Bora, kamu kenapa?"


Suara itu...


Bora masih bertahan tidak menoleh. Dia gunakan ketajaman hidungnya untuk mengendus.


Ekstrim sport!


Barulah Bora menoleh setelah yakin kalau itu bau orang yang dia kenali.


"Mas Labib! Mengagetkan saja, eghh!"


Laki-laki itu tersenyum canggung seperti biasa. "Maaf... jika membuatmu kaget"


"Sepertinya ban sepeda mu bocor?"


Labib merunduk untuk memastikan. Bora setengah lega karena sekarang ada orang yang dia kenali. Sekaligus mungkin nanti dia repoti.


Tanpa mereka tahu, ada sepasang mata yang mengawasi di balik tembok tua berlumut.


_


_


_


_


Maaf ya update lama...


Ramadhan agak sibuk🤣


Halah alasan aja🤣

__ADS_1


Terimakasih yang masih setia mampir ngikutin cerita tuan lele ya🄰


__ADS_2